Connect with us

News

8 September 2019, JSO dan JOS Bersatu Gelar Konser Akbar Monas 2019

8 September 2019, JSO dan JOS Bersatu Gelar Konser Akbar Monas 2019


JAKARTA — Simfonia Orchestra (JSO) dan Jakarta Oratorio Society (JOS) akan menggelar konser di lapangan Monas, Jakarta pada Minggu, (8/9/2019). Pagelaran seni musik ini merupakan konser musik klasik yang pertama kali dilakukan di area terbuka di Indonesia, secara khusus di ibukota Jakarta.

Ketua Panitia Konser Akbar Monas 2019 Timothy Siddik mengatakan “Konser Akbar Monas 2019, akan diselenggarakan pada 8 September 2019 nanti, Jakarta sekali lagi boleh menjadi perwakilan Indonesia di pentas dunia. Konser ini menunjukkan keragaman Indonesia, kita memiliki kekuatannya ketika bersatu Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Ketua Panitia Konser Akbar Monas 2019 Timothy Siddik, saat Jumpa Pers di Mal Grand Indonesia, Rabu, (4/9/2019).

Hadir dalam pers konferens antara lain Eunice Tong : Chorus Master Jakarta Oratorio Society (JOS), Rebecca Tong : Resident Conductor Jakarta Simfonia Orkestra (JSO), Pemain musik : Marini Widyasari (Flute), Eric Awuy (Trumpet), I Nyoman Trieswara Minartha (Perkusi), Ari Moeladi (Piano-Double Bass).

“Seni merupakan bagian terpenting dari sebuah kebudayaan. Seberapa jauh suatu masyarakat menghargai seni, setinggi itu jugalah budaya dan martabat dari masyarakat tersebut khususnya Jakarta,” ujar Timothy Siddik

Katanya, demi mendorong tumbuh kembangnya kebudayaan, banyak negara secara intens mengadakan pendidikan seni, khususnya seni musik, di ruang terbuka. Bentuk nyatanya pendidikan seni adalah konser atau festival musik di alun-alun kota, taman kota, dan tempat-tempat terbuka lainnya. Misalnya seperti pagelaran musik klasik di kota New York yang bertempat di Central Park, kota Los Angeles yang menggunakan Hollywood, masyarakat kota Berlin yang menggunakan Gendarmenmarkt dan Waldbuhne, atau Singapura di Singapore Botanic Gardens.

Lanjutnya, banyak kota penting di dunia setiap tahunnya mengadakan konser di tempat umum, yang sifatnya terbuka, dan tidak jarang, gratis. Konser-konser seperti ini biasanya dihadiri oleh ribuan hingga puluhan ribu orang.

Konser di ruang terbuka ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat awam, terutama khalayak ramai, yang belum terbiasa dengan seni murni, khususnya musik klasik, bersentuhan dengan seni tersebut.

“Melalui konser ini, bangsa kita sekali lagi membuktikan bahwa Indonesia merupakan bagian dari masyarakat dunia. Kota Jakarta sebagai tempat penyelenggaraan juga nantinya akan menjadi saksi, bahwa ibukota Negara kita memiliki posisi yang sejajar, bertaraf internasional, dan pantas bersanding dengan kotakota internasional lainnya di dunia,” tutur

“Kita berharap JSO melalui Konser Akbar Monas 2019 ini mampu membawa musik bermutu bagi rakyat Indonesia dan musik yang mempersatukan seluruh bangsa Indonesia. Jadikan kota Jakarta, kebanggaan Indonesia, bagian dari kota-kota metropolitan bertaraf internasiona,” tutur Dr. Stephen Tong.

Selain sebagai sarana pendidikan seni, musik juga merupakan bahasa universal yang tidak membedakan suku, ras, agama, ataupun perbedaan lainnya. JSO sendiri mengusung kesatuan ini dengan harmonis, di mana anggota-anggotanya terwakilkan dari segala kalangan sosial, suku, dan agama. Melalui konser musik ini, semangat Bhinneka Tunggal Ika akan terekspresikan secara nyata di mata dunia, bahwa bangsa Indonesia itu beragam, namun tetap, dan akan selalu, SATU.

“Akhir kata, mari kita sukseskan Konser Akbar Monas 2019 Jakarta Bersorak, kita tunjukkan kepada dunia bahwa budaya, martabat, dan kesatuan bangsa Indonesia akan terus kokoh,” tutupnya. (Upi)

PADANG — Sejumlah proyek pembangunan di Kota Padang baik drainase hingga pendestrian kawasan wisata di daerah itu yang…

PADANG – Kabar duka datang dari Prof. Dr. Mestika Zed, MA, guru besar sejarah di Universitas Negeri Padang dan…

PADANG — Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan soal pembangunan infrastruktur di Papua yang digenjot…

PADANG PARIAMAN – Bupati Padang Pariaman Drs. H. Ali Mukhni membuka acara MTQ Nasional ke-47 Tingkat Kabupaten Padang…

PADANG — Menyikapi pendapat Abdul Aziz Mahasiswa program doktor UIN Sunan Kalijaga Jogja yang mengajukan konsep Milk…

(function(d, s, id) {
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/id_ID/sdk.js#xfbml=1&version=v2.8&appId=1208534375853801”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));



Sumber

Berita

Aneh, BIN Kok Pakai Jubir! – Fadli Zon

Informasi Aksi Rusuh UU Ciptaker Dibuka Ke Publik, Fadli Zon: Aneh, BIN Kok Pakai Jubir!


Informasi terbaru terkait aksi rusuh tolak omnibus law UU Cipta Kerja yang diungkap Jurubicara Badan Intelejen Negara (BIN), Wawan Purwanto, menuai kontroversi.

Sebabnya, Wawan mengungkap ke publik terkait capaian kerja BIN yang diakuinya telah mengantongi nama aktor penyandang dana aksi rusuh tersebut.

Persoalan ini kemudian dikritisi pula oleh Anggota DPR Fadli Zon, yang merasa aneh dengan struktural BIN yang memiliki Jurubicara.

“Memang aneh ini BIN kok pakai jubir segala,” ujar Fadli dalam akun Twitternya, @fadlizon, Sabtu (10/10).

Lebih lanjut, Politisi Partai Gerindra ini coba membandingkan BIN dengan lembaga intelejen di negara lain. Yang mana tidak memiliki Jurubicara.

Bahkan menurutnya, segala informasi yang didapat lembaga intelejen negara lain tidak biaa diumbar ke publik. Tetapi hanya disampaikan kepada Kepala Negara.

“Setahu saya dinas intelijen asing seperti CIA Amerika Serikat, MI6 Inggris atau SVR n FSB Rusia, tak ada juru bicara,” ungkap Fadli Zon.

“Apalagi sampai mengumumkan bahan info intelijen ke publik. Lapor saja ke Presiden apa infonya,” pungkasnya

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Ini Wujud Panggilan Sejarah – Fadli Zon

Mahasiswa Turun Aksi, Fadli Zon: Ini Wujud Panggilan Sejarah


Gelombang protes menolak UU Cipta Kerja yang dilakukan elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa hingga buruh mendapatkan perhatian dari Politikus Gerindra, Fadli Zon.

Ketua BKSAP DPR RI ini mengamati jalannya aksi protes di Jakarta pada Kamis, 8 Oktober 2020 kemarin. Ratusan ribu massa menggelar aksi dari pagi hingga lanjut malam hari. Mereka menuntut UU Cipta Kerja dicabut kembali.

Fadli Zon pun menilai, aksi berjamaah di berbagai daerah ini merupakan wujud panggilan sejarah.

“Mahasiswa turun ke jalan serentak di seluruh Indonesia wujud panggilan sejarah. Menurut sy telah lahir sebuah Angkatan baru, “Gerakan Mahasiswa 2020”,” kata Fadli Zon dalam keterangannya, Jumat (9/10).

Sebagai mantan Aktivis 1998, Fadli Zon menilai aksi gerakan mahasiswa hari ini pastinya menghadapi sejumlah risiko, mulai dari sikap respresif, resesi dan kondisi pandemi.

“Di tengah represi, resesi dan pandemi, gerakan mahasiswa ini menghadapi berbagai risiko perjuangan. Mereka akan menghela sejarah,” tukas mantan Wakil Ketua DPR RI ini.

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Fadli Zon Sarankan Diterbitkan Perppu Batalkan UU Cipta kerja – Fadli Zon

fadli zon


Penolakan terhadap pengesahan Undang Undang Cipta Kerja oleh DPR pada 5 Oktober 2020, terus mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Aksi demonstrasi pun terjadi di banyak daerah, termasuk Ibu Kota.

Puncaknya pada Kamis, 8 Oktober 2020, seperti di Jakarta, aksi berakhir dengan bentrokan. Tidak hanya itu, beberapa fasilitas publik juga rusak hingga terbakar.

Melihat kondisi itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, menyarankan Presiden Joko Widodo mendengar aspirasi penolakan, dan segera mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau perppu.

“Pak @jokowi, RUU ini atas inisiatif pemerintah. Walaupun telah disahkan @DPR_RI dengan jurus kilat dan tergesa-gesa, ada baiknya dipertimbangkan aspirasi masyarakat banyak. Saran saya segera keluarkan Perppu membatalkan #OmnibusLaw,” tulis Fadli Zon dia akun Twitter @fadlizon yang dikutip VIVA, Jumat 9 Oktober 2020.

Anggota Komisi I DPR RI ini juga prihatin dengan banyaknya benturan antara polisi dan pendemo saat aksi penolakan UU Cipta Kerja. Bahkan, ia menganggap tindakan polisi sangat represif terhadap para pendemo.

“Pak Kapolri, banyak polisi brutal dalam penanganan demonstrasi di berbagai tempat. Lihat saja video yang diambil warga. Sangat tidak profesional dan menganggap demonstran sebagai musuh. Seharusnya polisi di lapangan tak boleh bawa senjata @DivHumas_polri,” tulisnya.

Selain itu, Fadli mengapresiasi para kepala daerah yang melakukan dialog dengan para buruh, mahasiswa, dan elemen masyarakat di daerahnya yang menolak UU Cipta Kerja. Dan akan menyampaikan aspirasi agar Presiden Jokowi mengeluarkan perppu.

“Kalau banyak Gubernur seperti ini, saya yakin presiden @jokowi akan mempertimbangkan keluarkan Perppu membatalkan #OmnibusLaw,” kicaunya.

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer