Connect with us

Cerpen

KERANJINGAN JADI PEJABAT – siarminang.net

KERANJINGAN JADI PEJABAT – Beritasumbar.com

“Setiap (pejabat) ketua atau sejenisnya adalah Pemimpin..
Tapi setiap Pemimpin belum tentu jadi pejabat,
Karena menjadi Pemimpin adalah amanah terberat dari-Nya,
Jadi, sebenarnya tidaklah sulit menjadi pejabat ini dan itu
Karena bisa dilatih dan berlatih dimanapun jua
Justru yang sulit itu adalah menjadi Pemimpin,
Terutama memimpin diri sendiri”

Suatu kesempatan Tan Gindo di undang sebagai narasumber materi kepemimpinan oleh para junior HMI nya dalam Latihan Kepemimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (LK-HMI) Cabang Mempawah – Kalimantan Barat, tempat dia meng-abdikan diri mendampingi program masyarakat terdampak pembangunan Terminal Internasional Kijing yang sedang berlangsung saat itu. Sebuah kesempatan yang sangat berharga dalam hidupnya sehingga pada suatu waktu kebiasaan berfikirnya kembali terjadi “mimpi apa saya bisa hadir ditengah-tengah mega project saat ini” ujar Tan Gindo dalam sebuah renungan. Padahal berkali-kali kesempatan pada saat waktu lainnya ia sudah banyak memiliki kesempatan yang sama untuk project sejenis.

Satu persatu buah dari renungan itu adalah bisa bertemu dengan banyak orang kembali, dapatkan teman baru, orang tua baru, teman baru, pengetahuan dan pengalaman baru serta banyak hal-hal menarik baru lainnya dalam hidup Tan Gindo. Salah satunya adalan dipertemukan dengan para kader HMI; sebuah organisasi yang juga pernah membesarkannya ketika masih kuliah di Universitas Negeri Padang. “Ya Allah, engakau telah perjalankan hidup ini dengan sejuta takdir dan pastinya akan banyak mendapatkan sejuta hikmah dalam hidup ini” ujar Tan Gindo membatin dan bersyukur. Sekaligus melanjutkan berbagai tugas dan tanggung jawab dengan rasa indah dan bahagia mesti sekaligus harus kembali hadapi segala rintangan dan ujian.

Sesuai undangan, siang itu Tan Gindo berangkat menuju lokasi kegiatan, bertemu dengan para juniornya yang sebelumnya belum pernah dijumpai sama sekali, jangankan kenal secara pribadi dan mendalam; namanya saja baru kali itu didengar oleh Tan Gindo. Namun tampa terlihat sebab musababnya, seperti orang yang sudah kenal lama dan tampa sedikitpun rasa curiga mereka sudah terlihat begitu akrab dan dekat. Ketika saat diskusi awal setelah berkenalan identitas mereka sudah cerita sana sini mengenai berbagai aktivitas, bertukar pendapat dan gagasan. Para junior sangat antusias bertanya dan Tan Gindo juga bersemangat untuk bercerita banyak hal; “ajaib, sungguh aneh tapi nyata, inilah kekuatan hati dan pemikiran” ujar Tan Gindo sesaat dalam pertemuan indah itu.

Baca juga “Menantang Matahari” bag. 5; Tan Gindo, apa yang engkau kau cari !?

Setelah sesaat diajak sholat lohor dan makan siang Tan Gindo kemudian dipersilahkan masuk ruang kegiatan. Ternyata kegiatan tersbut adalah agenda tindak lanjut (follow-up) dari pasca kegiatan LK-HMI yang sudah dilaksanakan sebelumnya oleh mereka, sebagai salah satu kegiatan rutin rekrutmen yang biasa dilakukan oleh para kader HMI se-Nusantara. Tidak banyak peserta memang, karena begitulah kegiatan HMI; mau banyak atau sedikit orang tak pernah dipersoalkan karena yang penting adalah melanjutkan pengkaderan dan perjuangan. “sesungguhnya sebuah perobahan dan perbaikan itu tidak pernah dimulai oleh banyak orang, tapi pasti dimulai oleh sedikit orang dan betapa banyak golongan banyak dapat ditundukkan oleh mereka yang sedikit” ujar Tan Gindo mengutip kata-kata bijak yang pernah didengar dan dipelajarinya juga melalui para senior dan guru-gurunya tedahulu.

Dalam pertemuan penuh semangat tersebut Tan Gindo diperkenalkan dengan para peserta oleh seorang moderator yang pasti sudah lebih senior ketimbang para peserta. “Bla..bla..bla” satu persatu profile Tan Gindo di informasikan oleh sang moderator penuh hikmat. Terlihat wajah-wajah para peserta dan mungkin para senior yang kala itu juga banyak mendengarkan dan menyaksikan dari jauh berdecak kagum. Terbayang oleh Tan Gindo dulunya ketika mendengar hal serupa ketika masih jadi peserta seperti mereka, ketika dibacakan profile para senior yang jadi narasumber pernah merasa kagum “luar biasa senior HMI ini, begitu banyak prestasi dan jabatannya, pernah ini dan itu menjadi orang penting dan tokoh sana sini” kenang Tan Gindo.

Inilah yang pada akhirnya memotivasi para kader HMI dimanapun berada, mereka akhirnya ingin menjadi sesuatu seperti para senior-seniornya, bisa banyak prestasi dan jabatan. Tak heran kader-kader HMI dimanapun berada selalu mendapatkan posisi penting dan strategis dimanapun ia berada, sebodoh-bodohnya kader HMI pasti jadi orang berpengaruh di kampong halamannya, menjadi tempat bertanya bagi banyak orang, menjadi rujukan pemikiran dan acuan bagi mereka yang membutuhkan. Baik secara diam-diam diketahui indetitasnya maupun terang-terangan membuka label ke-HMI-annya.

Semua terlihat berjalan alamiah saja karena mereka memang sudah dilatih dan terlatih untuk hal demikian. Begitulah dampak sebuah peng-kaderan, dimana setiap junior dapat berkesempatan di dampingi para senior dari generasi ke generasi. Selepas HMI juga bermetamorfosa dengan berbagai oraganisasi dan komunitas lainnya bahkan tak jarang mereka membuat organisasi atau komunitas sendiri. Terutama untuk bakat kepemimpinan dan perpolitikan kader HMI cukup terkenal peranannya, dapat dikatakan hampir disetiap partai di Indonesia ada kader HMI-nya bahkan tidak malu-malu menjual dirinya “saya adalah kader HMI” ujar mereka dalam setiap pertemuan. Bahkan ketika tidak perkenalkan banyak orang sudah tahu dia adalah kader HMI.

Dalam sesi pertemuan menjadi narasumber Tan Gindo akhirnya memulai pembicaraan setelah kemudian diberikan waktu dan kesempatan oleh sang moderator. Tan Gindo memulai pembicaraan dengan pengalaman kenapa dia bergabung dengan HMI setelah sedikit mukadimah dan perkenalkan diri kembali “jujur, saya masuk HMI karena sebuah sebab khusus, sebagaimana yang teman-teman dengar dalam profile saya; sedari kecil saya sudah aktiv di Pelajar Islam Indonesia (PII), waktu itu dimana ada sekretariat PII kemungkinan selalu ada HMI, tapi buka HMI Dipo seperti saya aktiv di kampus, namun HMI MPO, jadi hampir semua sejarah HMI sudah hafal dalam benak saya ” ujar Tan Gindo mengakuinya.

“Dulu orang bilang PII adalah organisasi adik-adiknya HMI ketika partai Masyumi masih ada karena memang PII, HMI dan satu lagi GPII/GPI dilahirkan oleh mereka; sebuah partai dimana awalnya seluruh organisasi-organisasi Islam besar di Indonesia sempat bersatu dalam satu barisan seperti NU, Muhammadiyah, Perti dan lain-lainya. Namun setelah terpecah dan terpilah PII, HMI dan GPII/GPI juga terpisah satu-sama lainnya seperti tak ikatan organisasi lagi selain karena satu ikatan ke-iamanan dan ke-Islaman saja” ujar Tan Gindo panjang lebar.

“Begitu dekatnya anak-anak PII dizaman HMI tempo dulunya, sehingga ketika pernah di zaman Presiden Seokarno sekitar tahun 1965 di ancam bubar oleh PKI, anak-anak PII turun kejalan-jalan membela kakak HMI” ungkap Tan Gindo penuh semangat. Melalui DN Aidit sebagai pentolan PKI mengancam pemerintahan dan dengan sangat bernafsu ingin membubarkan HMI “Aidit bilang bubarkan HMI. Jika tidak bisa, pakai sarung saja” ungkap Tan Gindo kembali. Sehingga anak-anak PII bangkit membalas “langkahi mayat kami anak-anak PII juga tuan-tuan ingin bubarkan HMI” ungkap Tan Gindo menggema dalam ruangan.

Semangat itu jualah yang menjadi semangat Tan Gindo membela kader HMI ketika masih kuliah di Universitas Negeri Padang. Ketika itu tahun 1999, riak aksi Reformasi Mei`98 baru saja bergulir dan panas-panasnya. HMI dianggap sebagai salah satu biang kerok kehancuran di era order baru oleh anak-anak kiri atau gerakan sosialis waktu itu, mereka sepertinya kabablasan dalam menilai sesuatu dan karena eforia reformasi; merasa paling bersajasa sebagai pemenang, padahal belum tentu begitu adanya sehingga kalimat “ganyang HMI di kampus-kampus santer kami dengar dikalangan anak-anak PII” ujar Tan Gindo menjelaskan.

“Meskipun demikian secara fakta saya juga tidak berani membantah beberapa hal terkait HMI karena memang atas nama HMI di zaman orde baru telah menjadi anak emasnya pak Harto, sebut saja siapa yang dibelakang partai Golkar yang dianggap partai pemerintah dan tidak pernah kalah selama pak Harto berkuasa, hadirnya KNPI dan berbagai oraganisasi-organisasi asuhan pemerintah lainnya juga dominan di isi oleh kader-kader HMI, tak jarang kami mendeangar anak-anak HMI dituduh juga sebagai perusak bangsa ini”. ujar Tan Gindo miris.

Namun tidak sesederhana itu bagi Tan Gindo dan sebagian kader PII yang sudah sekian lama bergerak lama dibawah tanah seperti adanya juga HMI MPO. Akhirnya Tan Gindo memilih ikut aktiv di HMI Dipo ketika di kampus dalam rangka ingin membela dan menghidupkan kembali HMI di Universitas Negeri Padang. “Bayang-kan saja kader HMI waktu itu banyak yang hilang tak tentu rimbanya bahkan mereka ada yang sudah jadi dosen dan pimpinan kampus-pun merasa malu dan tak berani untuk mengakui dirinya adalah HMI, belakangan setelah situasi normal dan kader HMI mulai kembali berkembang baru kembali ada mengaku-ngaku dirinya HMI, mereka yang punya alasan yang tepat bisa dimaklumi, tapi mereka yang tak jelas alasannya akhirnya dimainkan saja oleh anak-anak HMI ketika ada kegiatan” ujar Tan Gindo.

Untuk sekian kalinya Tan Gindo dalam hidup “menantang matahari”, bersama sekitar 4 orang anggota kader baru dan 4 orang senior yang hebat memulai kembali pengkaderan HMI dan berupaya mengembangkan komisariat yang dulunya pernah berjumlah banyak dan tinggal hanya beberapa orang saja dengan satu komisariat ditingkat kampus. “Salah seorang senior yang hebat sekaligus menjadi teman itu sekarang sudah menjadi anggota senat di Universitas yang sama bernama Prof. Hendri, sosok yang unik juga untuk dapat diceritakan dilain kesempatan” ujar Tan Gindo menutup ulasannya. Kelak diketahui, perjuangan 8 orang tersebut membuahkan hasil yang mengagumkan, semenjak nekat dengan memecahkan diri menjadi 3 komisariat dengan hanya dengan segelintir kader bisa berkembang menjadi 5 komisariat penuh kembali.

“Terkait HMI Dipo dan MPO Saya yakin teman-teman sudah mendapatkan informasi sebelumnya dalam materi pelatihan dasar, jika masih kurang paham silahkan nanti kembali dibaca dan dicari ulang informasinya, cari saja buku tentang HMI dan Azas Tunggal Pancasila karangan Kanda Fachry Ali, byk sudah yang menjualnya” ujar Tan Gindo menutup cerita tersebut. Kemudian Tan Gindo melanjutkan pembicaraan terkait tema yang telah diberikan sang moderator yakni tentang “Kepemimpinan” mulai dari konsep umum, konsep dasar, jenis kemimpinan dan teknik kepemimpinan yang dia ketahui dari berbagai pengalaman yang telah di dapat oleh Tan Gindo.

Menariknya Tan Gindo mengawalinya dengan teknik permainan, dalam ilmu kependidikan disebut dengan “metode game study” atau disebut dengan teknik bermain di dalam belajar. Kemudian memadukannya dengan teknik bertanya jawab dan kemudian berdiskusi serta diakhirnya dengan mengarahkan peserta pada pemahaman yang sebenarnya. Dalam memberikan materi Tan Gindo seakan dikembalikan dengan pengalaman massa lampau semenjak dari sekolah dasar dimana Tan Gindo juga sudah terkenal menjadi seorang pejabat ini dan itu.

Dimulai dari “Sang Ketua” kelas abadi, Ketua OSIS ketika di SMP, Wakil ketua OSIS semassa SMA, menjadi Karani di Pramuka, Menjadi Pengurus Dewan Ekskutif Mahasisawa, Ketua diberbagai Ormas dan spesialnya dari Sekjen WP2SosPol Universitas Negeri Padang pada tahun 2002 – 2004; sebuah posisi fonomenal yang pernah dilalui oleh Tan Gindo karena disaat itu pernah memimpin aksi besar-besaran di Universitas Negeri Padang, hingga sempat di tahan penjara selama 3 bulan kurang satu minggu karena di tuduh dalang demo dan tertuduh anarkis.

Lebih kurang 2000 massa mahasiswa termasuk para dosen dan sebagaian besar anggota senat perguruan tinggi sebagai pucuk kekuasaan tertinggi Univestas bergabung dalam sebuah aksi “Reformasi Arus Bawah UNP” untuk menolak kebijakan seorang Rektor yang dianggap semena-mena dan tidak bermoral dalam mengambil kebijakannya. Aksi tersebut berselang sekitar 5 bulan sekitar bulan Januari hingga Mei 2004 baik sebelum dan sesudah kejadian tragis tersebut.

“Sungguh sebuah peristiwa hidup yang tidak pernah terlupakan dalam hidup ini dan pasti akan sangat berharga dikemudian hari dalam hidup ini” ujar Tan Gindo mendalam, membatin. Apalagi tragisnya peristiwa tersebut disambut oleh perginya seorang ayah tercinta “Kardiman” untuk selamanya sesaat masih dalam tahanan penjara dan ia tidak bisa untuk mesholatkan dan menguburkannya secara langsung karena sebuah ke-naifan seorang sipir penjara waktu itu. Sehingga kisah Tan Gindo semakin tragis lagi dan menjadi sorotan oleh berbagai media ternama di Sumatera Barat bahkan media Nasional ketika itu.

“Bayangkan, disaat itu persiapan pemilu 2004 sedang berlangsung, sementara media-media di Sumatera Barat sibuk memberitakan kejadian tersebut di halaman depan, KPU sebagai panitia pemilihan seperti ketinggalan issue saja” ujar Tan Gindo dalam sebuah pertemuan. Kejadian tragis tersebut ditambah lagi dengan fakta bahwa Tan Gindo sudah dalam massa persiapan pernikahannya dengan calon istri, semua persiapan dapat dikatakan sudah selesai, orang-orang dikampung halaman sudah menyiapkan ini dan itu untuk sebuah acara pernikahannya. Namun akhirnya batal karena Tan Gindo harus tertahan di Penjara karena di tuduh dalang dan perbuatan anarkis.

Sebuah momen yang paling menyentuh bagi Tan Gindo dalam hidupnya dari sang calon istri waktu itu adalah “bersedia menikah di dalam penjara dengan Tan Gindo” sungguh penghargaan terbesar dalam hidup Tan Gindo yang tidak akan pernah terlupakan, perhatian dan kesediaan, bahkan kesetiaan calon istri yang kelak setelah menjadi sang Istri tercinta selalu menjadi acuan dalam berbuat dan bertindak dalam hidupnya untuk mengarungi bahtera kehidupan bersama keluarga tercinta. “Istriku engkau adalah segala-galanya bagiku” ungkap Tan Gindo mengenang dan sempat menjadi sebuah puisi dalam setiap kesulitannya…

………..

Betta, istriku tercinta…
Disaat setiap badai menyinggahiku
Disetiap rasa sulit menyapaku
Disaat batinku tersiksa
Selain Allah,
Yang teringat hanya dirimu…
Yang kuingin selalu hanya dirimu..
Yang kuimpikan hanya kehadiranmu..
Itu karena hanya engkau yang pertama
berani membuat beban itu sirna,
semua soal dalam hidupku terasa ringan
semua masalah dalam hidupku selesai sudah
Namun, ku akui….
Belum bisa berikan yang terbaik untukmu
Sesuatu yang berharga, dan hal yang sempurana
Untuk mu, cintaku dan sayangku..
Sebagai suami atau ayah dari anak-anakmu
Selain hanya sebuah tekad dan semangat membara
Bahwa aku selalau berusaha kuat – sekuat baja
Agar aku tetap kan jadi yang terbaik dalam hidupmu

……..

Dari beragam posisi yang telah diterima Tan Gindo, dari ketua satu ke ketua lainnya, dari jabatan satu ke jabatan lainnya membuat Tan Gindo banyak belajar dan akhirnya bertanya-tanya “Tan Gindo apa yang hendak kau cari dalam hidup ini, apakah jabatan ini dan itu yang sudah sekarung goni..” ujar Tan Gindo ketawa sendiri seperti orang gila. Namun jauh dari pada itu Tan Gindo kembali menelisik perjalanan demi perjalan hidupnya mulai dari belia hingga sudah berkepala 4 saat itu. Sebuah pertanyaan kunci kemudia melayang “apakah itu pemimpin, apakah setiap ketua dan jabatan ini-itu adalah pemimpin, atau setiap pemimpin hanya para pejabat?” uangkap Tan Gindo membatin.

“Lantas bagaimana dengan ketua gangster, ketua penjahat, komandan mafia, pejabat yang korupsi, pejabat yang culas dan bringas yang kebanyakan hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya saja, apa mereka pemimpin”. Dalam berbagai referensi dan pengalaman yang sudah banyak baik secara hakekat, filsafat dan kajian akademik lainnya Tan Gindo akhirnya menarik sebuah kesimpulan terutama sebagaimana yang telah diterimanya sebagai kader selama di PII, HMI dan sempat menjabat sebagai ketua GPI di Sumatera Barat. Begini uraian para senior yang dianggap juga sebagai sorang guru oleh Tan Gindo..

……………………………………

Mulai dari kepala rumah tangga, hingga soerang ketua, pejabat, komandan dan bahkan seorang presiden sekalipun dia adalah pemimpin tapi setiap pemimpin belum tentu sebagai seorang ketua atau pejabat ini-itu lainnya. Pemimpin itu lebih dalam maknanya, bahkan diri kita sendiri adalah seorang pemimpin bagi diri kita sendiri. Makanya setiap diri pasti akan diminta pertanggung jawaban dirinya nanti kehadirat Tuhan kelak di padang mahsyar. Dimana Tuhan akan mengadili semua tingkah laku kita semenjak sudah balig dan berakal.

Engkau diberikan karunia mata, karunia akal fikiran, karunia hati, karunia fisik yang sempurna semenjak engkau dilahirkan hingga dewasa oleh Allah Tuhan semesta alam. Selama hidup semua itu sudah engkau gunakan untuk apa dan bagaimana. Sebagaimana sebuah hadis shahih mengatakan “Dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW sesunggguhnya bersabda: sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya…(HR. Muslim).

Maka dari itu sedikit dan sebesar apapun yang telah kita lakukan akan diminta pertanggung jawabannya, kelak pasti akan diberikan ganjaran kebaikan dan keburukan oleh Alllah SWT. Sungguh beruntung orang yang banyak kebaikannya ketimbang keburukannya dan sungguh merugi mereka yang lebih banyak keburukannya. “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8).

Begitulah bentuk keadilan dari sang Maha Pencipta dalam berbagai firman-Nya dan begitulah akhirnya hakekat pemimpin dan kepemimpinan kemudian dalam berbagai praktik-praktinya dalam berbagai aktivitas sendi kehidupan. Sementara posisi ketua dan jabatan-jabatan lainnya di dunia ini hanya bentuk lain dari semua kepemimpinan. Dia menjadi kajian teori dan praktik dalam berbagai metode atau cara kepemimpinan. Setidaknya ada tiga model kepemimpinan dalam hidup ini menurut Psikolog Terkenal yang bernama Kurt Lewin yakni otoriter, demokrasi dan Laissez-faire

Otoriter lebih beroritentasi pada kebijakan tunggal atau mengacu pada sikap individual seseorang pemimpin tampa mempertimbangkan orang lain sama sekali, sikap “ego” sentris lebih mendominasi diri seseorang dia diperlukan disaat mengambil sikap secara pribadi dan kuwalitasnya pasti sangat ditentukan oleh sejauhmana pengalamana dan wawasan serta kondisi dan situasi seseorang belaka. Kalau model pimpinan Demokrasi adalah sikap kepemimpinan yang berusaha meng-akomodir pendapat dari orang sekitar, teman sejawat, kolega dan orang yang dimpimpinnya sendiri. Sementara Laissez-faire lebih pada menerima dan melaksanakan pendapat dan kebijakan orang lain ketimbang pendapat diri sendiri jadi lebih menekan sifat “ego” yang telah menjadi bagian dari sifat individu seseorang.

Manakah yang terbaik dari ketiga type tersebut?, menurut berbagai pengalaman dan pengetahuan sejarah ternyata tiga kepimpinan tersebut harus ada dalam setiap diri seseorang, dia bisa dipahami dan dipelajari menjadi sebuah keterampilan khusus. Karena dalam kenyataan hidup, ada saatnya seseorang harus bersikap kuat dan tegas terhadap kebijakan hidupnya, ada saatnya harus bisa berdemokrasi dan ada saatnya seseorang harus menerima pendapat orang lain. Dia harus menjadi satu paket khusus dalam diri seseorang apalagi mereka yang dapat amanah menjabat ketua ini dan itu, jabatan ini dan itu. Maka dari itu jangan di pisah-pisahkan dalam diri sendiri, semua bisa dipelajari dan latih secara khusus dalam setiap kesempatan yang ada.

Jadi, janganlah kita heran dalam hidup ini, jika ada seseorang dalam hidupnya berdinamika dan banyak hal-hal yang kadang tidak berkenan dalam diri kita. Tiga jenis sifat diatas sudah menjadi potensi masing-masing individu yang mempengaruhinya; baik genetik, latar belakang, pengetahuan dan pengalaman yang juga bervariasi. Ada diantara kita perlikunya sangat ketalungan individualis, ada diantara kita mudah bergaul dengan siapa saja ada lagi diantara kita yang sifatnya lebih sering menghindar apalagi sampai meng-asingkan dirinya sendiri dari banyak orang. Tiga type ini juga bisa menjadi landasan teori dalam sebuah pemikiran dan perilaku bahkan menjadi teori ekonomi oleh pemerintah dan pengambil kebijakan apapun dalam menjalankan agenda-agenda mereka.

Misalanya dalam teori ekonomi khususnya dari sudut materi, ideology kapitalistik sebenarnya lebih mementingkan diri sendiri atau berorientasi pada kepemilikan modal seseorang atau sekolompok orang, ideology sosialisme lebih pada menghargai modal semua orang tampa pandang bulu, dan ideology universalitas; bisa mengadopsi berbagai teori ideology dimana dalam beberapa hal mengakui milik seseorang dan menghargai milik banyak orang atau mungkin tidak peduli dengan teori-teori diatas sama sekali serta cendrung lari konsep keduniaan sehingga mencari jalan “sufi”, jalan sunyi dan hanya mengharapkan segera sebuah kematian dalam dirinya sendiri ketimbang memikirkan materi-materi dunia ini apapun jua.

Dari sekian banyak dinamika dan persoalan diatas ternyata yang paling berat bukanlah hal-hal yang diatas, namun berbalik pada kepemimpinan diri sendiri, dimana nafsu keangkara murkaan dalam diri sendirilah yang paling berbahaya dalam dalam hidup ini. Maka melawan “diri sendiri (nafsu) adalah yang paling berat dalam hidup ini” ujar berbagai pakar karifan kehidupan. Karena mustahil kita dapat merobah orang lain kalau bukan dari diri kita sendiri, sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Wajar akhirnya Allah SWT melalui Rasul-Nya mewajibkan semua kita untuk berpuasa, bahkan menurut berbagai informasi kewajiban berpuasa juga sudah ada bagi orang-orang terdahulu sebelum Islam. Maka, jangan heran dalam tradisi Budha, Hindu, Konghucu, Kritsten dan Yahudi sekalipun tradisi berpuasa juga mereka miliki. Sebagaimana pesan juga pesan Muhammad SAW-Rasul Allah “Diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda puasa merupakan perisai. Ketika seorang muslim berpuasa, ia tidak boleh mengeluarkan perkataan kasar atau meninggikan suara ketika marah. Jika ada seseorang yang menghinanya, sebaiknya ia berkata, “aku sedang berpuasa” (H.R. Muslim). Begitulah akhirnya diperlukan kempimpinan diri sendiri untuk dapat dilatih dan dijaga oleh setiap manusia.

…………….

Tan Gindo, akhirnya terkesima dengan penjelasan sang senior yang sangat menukik dalam sanubarinya dan kemudian menjadi pegangan hidup Tan Gindo selamanya dimanapun ia akan berada bahwa “setiap diri adalah pemimpin dan pemimpin akan diminta pertangung jawabannya”. Akhirnya Tan Gindo sering berguman “mari berkah kepemimpinan yang diberikan Allah ini kita hayati secara mendalam dan sewajarnya serta dengan tenang kita hadapi, mempelajarinya dari waktu ke waktu, sebagai mana sesuai dengan pepatah minang.

Rumah indak batungganai, kappa nan indak banangkodoh. Tagak indak tasundak, malenggang indak tapampeh. Kahilia jalan ka Sumani, sasimpang jalan ka Singkarak, saukua mangko manjadi, sasuai mangko takanak. Kaduo kato mufakat, sakato urang kasadonyo, elok sapaham sahakikat, santoso kito salamonyo. Olak olai rang basiang, sorak sorai rang karimbo. Rarak kalikih dek minalu, tumbuah sarumpun jo kayu kalek. Kok habih raso jo malu bak kayu lungga pangabek. Olok-olok mambao sansai, garah-garah jadi binaso. Mairikkan galah jo kaki, manjulaikan aka bakeh bagayuik, malabiahkan lantai bakeh bapinjak.

(Masyarakat atau keluarga yang tidak mempunyai pemimpin, sama halnya seumpama kapal tanpa nakhoda. Seseorang pemimpin yang punya wewenang penuh dan wibawa, Sesuatu hendaklah dengan musyawarah untuk mufakat. Satu pendapat dan satu tujuan. Satu pendapat dan satu gerak, satu tujuan akan melahirkan kesentosaan dan kebahagiaan dalam masyarakat.Suatu kebiasaan diwaktu beramai-ramai bekerja, timbul kelakar dan bergembira, untuk kegairahan dalam bekerja. Namun harus ada malu karena kalau rasa malu telah hilang dari manusia, maka manusia itu sulit untuk diarahkan kepada kebaikan, dan sulit untuk menyusun masyarakat. Perbuatan dan tingkah laku yang tidak pada tempatnya, akan membawa akibat yang merugikan. Jika seseorang yang ingin menjadikan orang lain tersalah, maka harus dengan jalan anjuran dan petunjuk yang ada.)

Bersambung ke bag. 7



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

SEBERKAS CAHAYA DI BUMI MEMPAWAH – siarminang.net

SEBERKAS CAHAYA DI BUMI MEMPAWAH – Beritasumbar.com

“Segelap apapun dunia ini, pasti ada cahaya
Tergantung bagaimana kita menerimanya
Karena kita manusia dibekali akal fikiran
Orang bijak kata; jika tak ada kayu rotanpun jadi
Maka, setelah memegang setetes ilmu & kebenaran
Gunakanlah sebaik mungkin untuk mencapai tujuan”

Pada suatu malam, sekitar bakda Isya Tan Gindo sengaja mengundang ngopian mitra pendamping di Desa Suingai Duri II Sungai Kunyit, Mempawah – Kalimantan Barat. Kegiatan ini sejak semula sudah seperti menjadi tradisi bagi Tan Gindo jika ada hal yang personal perlu dibicarakan, terumata jika ada hal yang bersifat pribadi dan spesifik terkait mengenai hal yang dianggap agak prinsipil, minimal yang bersifat motivasi terhadap mitranya. Bisa terkait langsung dengan agenda pendampingan di desa atau tidak sama sekali, apapun persoalan biasanya dapat dianggap sudah dipahami dan selesai serta tidak dibicarakan lagi di tempat lain.

Sohib mitra itu beranama Robby, berperawakan sedang, berkulit sawo matang, bermata sedang, berwajah tampan dan bertipikal santai. Ketika dilihat photo massa remajanya berambut lebat dan sedikit gaul namun seiring usia dan tanggung jawab rambutnya seperti menipis seperti seorang professor sehingga kemana-mana akhirnya sering memakai topi kesukaanya biar tak begitu terlihat orang “terkesan tidak pede-an” ujar Tan Gindo sambil sesekali kelakar. Namun tidak demikian adanya Robby, orangnya cukup optimis dan mudah bergaul serta cukup berpengalaman.

Ketika dulu pertama kami melamar dalam program ini dan sempat diwawancari, bagi Tan Gindo melihat pengalaman dan sifat gaulnya itu sudah kelihatan, apalagi sempat berjalan sana-sini bersamanya keliling Mempawah. Kemanapun pergi sepertinya tak ada yang tidak kenal Robby, apalagi dulu menurut infonya dia adalah salah satu “anak motor” ketika remaja hingga memutuskan berhenti sejak ada tabrakan berat yang menimpanya dan membuat motonya hancur. Pantas sudah Robby sudah banyak dikenal orang di Sungai Kunyit hingga pada akhirnya berkuliah ke Pontianak disebuah Perguruan Tinggi Kelautan di kota Pontianak dan lagi bertambah banyak pergaulannya.

Dalam profile-nya Robby sempat bekerja dibeberapa perusahaan hingga resain disebuah Bank. Padahal dikala itu sempat hampir naik daun dan ditawarkan jadi kepala cabang ke pulau Jawa dan Papua. Namun dia menolaknya “tak mungkin saya keluar dari Pontianak dan Kalbar, karena lebih sayang keluarga dan anak-anaknya” ujarnya Robby menegaskan. Terlihat beliau adalah type seorang sangat setia dan sayang pada keluarga serta kampungnya dan lebih pilih tidak mau jauh-jauh dari mereka. Sehingga memutuskan untuk membuat bisnis batu bata dirumah orang tuanya dan sudah terbilang lumayan sukses dijalani.

Baca juga “Menantang Matahari” bag. 6 Keranjingan Jadi Pejabat

“Kagum juga melihat Robby menjadi pengusa mandiri dan banyak pergaulan, apalagi melihat caranya berkomunisi dengan bapaknya” ungkap Tan Gindo membatin. Mereka tidak terlihat seperti bapak dan anak tapi seperti orang yang berteman saja. Tan Gindo dulu sempat merasakan hal yang sama meski itu dirasakan ketika sudah mulai kuliah dan beranjak dewasa, sayang sang Ayah begitu cepat meninggalkan Tan Gindo untuk selamanya sehingga tidak sempat menikamati massa-massa dewasa bersama sang Ayah. “Sesekali akhirnya sang Ayah datang dan berkunjung lewat mimpi jika sudah merindukan beliau dan mendo`akannya di alam kubur sana, hixs” ujar Tan Gindo bersedih.

Ketika kecil tidak demikian adanya, sang Ayah sedikit ketat dan seperti orang yang jaga jarak dan wibawa sehingga kalau sang Ayah sudah bicara Tan Gindo nyaris seperti atasan dan bawahan. Sedari dulu mungkin begitu adanya tradisi orang Minang diantara ayah dan anak, apalagi antara mamak dan ponakan “kalau mereka sudah berdeham saja, ehemmm… atau melototkan matanya, sang anak atau sebagai ponakan pasti sudah mulai tunduk dan diam ketakuatan, sambil memikirkan sesuatu ada apa gerangan; penuh sangsi dan segan” ujar Tan Gindo berkesan.

Terkait usaha batu bata yang dijalankan Robby, meski menganggap sudah aman; Robyy megakui masih banyak hal-hal yang harus dibenahi dan diperbaikinya dalam manajemen usaha. Terbukti masih banyak curhat dia mengenai persoalan-persoalan yang harus dihadapinya. Disaat wawancara dulu Tan Gindo pernah bertanya “bro, kenapa mau ambil program pendampingan ini, bagaimana dengan usahamu kedepan” ujar Tan Gindo. Dengan sangat simple Robby menjawab “usaha saya sudah bisa sedikit bisa saya tinggalkan dan ingin mencari pengalaman dan wawasan baru kedepannya” ujar Robby lugas.

Kemudian inilah yang menjadi pegangan Tan Gindo hingga akhirnya bisa melihat seberkas cahaya untuk sukses program kedepan. Besar sekali harapan Tan Gindo kepada sohib dan mitra utamanya dilapangan, berharap Robby akan menjadi pilar utama paling depan sebagai agen perubahan khususnya bagi gengerasi Sungai Kunyit di massa akan datang. “Harapan adalah pintu semangat untuk para pejuang, bak mengharapkan kematian syahid di medan perang, karena itulah manusia bisa bertahan hidup apapun rintangan dan hambatan yang akan dilalui” ungkap serorang motivator. Karena itulah akhirnya Tan Gindo kemudian menerima Robby sebagai mitra kerjanya dalam mendampi desa Sungai Duri II.

Namun Tan Gindo sadar, kalimat sederhana dan simple yang telah diucapkan Robby tidaklah sesederhana itu dalam realitasnya, pasti persoalan demi persoalan akan muncul. Mulai dari kesiapan pribadi secara mental, pengetahuan dasar, dan bagaimana menghadapi masyarakat Sungai Duri II yang juga majemuk, tentu tidaklah akan mudah. Benturan atar sesama pasti akan terjadi apalagi benturan dengan masyarakat lain disekitar desa dan Sungai Kunyit pada umumnya, baik secara emosial, pemikiran bahkan bisa saja secara fisik. “Semua akan teruji dalam proses dan perjalanannya untuk sampai pada tujuan atau justru Robby akan gugur di medan juang dan harus dimakamkan menjadi seorang pahlwan; tampa tanda jasa atau tidak sama sekali, atau bisa sukses sebagai pemenang, semua tergantung pada orangnya” ujar Tan Gindo menelisik.

Dapat dikatakan dalam pelaksanaan dilapangan Tan Gindo memberikan porsi sedikit istimewa kepada Robby ketimbang pendamping desa yang lain dan ia cukup menyadarinya. Baik dari segi strategi pengaturan kerja dan tanggung jawab serta support khusus dari Tan Gindo tidak berjalan sebagaimana kontrak yang ia tanda tangani sendiri dengan pihak RBK CFCiD Consulting. Bahkan lebih dari pada itu Tan Gindo menganggp Robby sebagai seorang sahabat tempat berbagi fikiran dan perasaan negative sedikitpun, dilapangan juga Tan Gindo tidak mengangap Robby anak buah tapi mitra kerja bahkan diminta jadi pimpinan. “Bro di RBK mungkin saya atasanmu tapi di desa kamu adalah atasanku, jika kamu suruh diam saya akan diam tapi jika kamu suruh bergerak saya akan bergerak” ujar Tan Gindo sesekali ketawa berkelakar.

Barangkali sudah menjadi pengalaman Tan Gindo bahwa apa yang sudah direncanakan dalam setiap kali program belum tentu dapat berjalan mudah sebagaimana mestinya, bahkan tak jarang ternyata lebih besar muatan kerjanya yang akan terjadi dilapangan. Sebagaimana adanya di desa  Sungai Duri II yang sedang di dampingi, bisa dikatakan 2 x lipat dari rencana program harus bisa dilaksanakan tampa mengurangi arti sebuah amanah. Apalagi bagi Tan Gindo “kerja bukan hanya sekedar gaji-uang, tapi apa yang dikerjakan harus dapat bermakna dan lebih bermanfaat, agar dapat keberkahan” ungkap Tan Gindo dalam pertemuan ngopian tersebut dengan mitranya Robby.

Ini jugalah barangkali sebagian besar para tokoh-tokoh penting di Sungai Duri II, terutama Kepala Desa yang juga dapat memberikan kepercayaan kepada Tan Gindo, apalagi program yang sedang dijalankan memang atas lembaga independen, bukan langsung dibawah unit perusahaan besar sebesar PT. Pelindo II yang sedang menjalankan proses pembangunan disekitar Sungai Kunyit-Mempawah. Sehingga program-program yang dijalankan Tan Gindo dapat dukungan kuat dari pihak dan desa, para tokoh dan pengurus forum desa yang telah dibentuk dalam kerangka program CFCiD Counsulting.

Beruntung lagi Tan Gindo mendapatkan dukungan kuat dari salah seorang tokoh berpengaruh di Sungai Duri II yang kemudian seperti menjadi bapak sendiri, apalagi tinggal dekat bersama beliau tak jauh dari rumah intinya di Kelapa 4 Sungai Duri II. Namanya Bapak Syarif, sebagian besar tokoh-tokoh Sungai Kunyit pasti tahu siapa beliau, namun masyarakat biasa mungkin masih ada yang belum mengetahuinya. Bahkan sebagian tentang identitas beliau memang sengaja tidak dikedepankan sebagai sebab ada hal yang mulia dan kerendahan diri beliau ditengah-tengah masyarakat.

Bertemu pak Syarief juga seperti bertemu guru baru dalam kehidupan, teringat ketika di awal berjumpa dengan beliau di saat bertamu kerumahnya, beliau seperti orang yang sudah lama bersua dalam hidup Tan Gindo dan penuh ke-ajaiban. Bahkan keanehan tersebut belum bisa sepenuhnya dipahami dan dimengerti betul oleh Tan Gindo, sesaat sehabis perkenalan nama dan berbicara panjang lebar sebelum diminta masuk keruang tamu, dengan santainya beliau berucap “apa yang hendak kau cari, jawabannya ada disini” ujar beliau polos tampa beban, melayang seperti ucapakan guru tarikah. Sontak Tan Gindo kaget, ada apa gerangan kenapa beliau berucap demikian.

Setelah masuk keurang tamu, barulah Tan Gindo sedikit tersadar beliau bukanlah orang sembarangan dan bukan tidak punya alasan untuk berucap demikian. Disebuah sudut dinding utama ruang tamu beliau, berjejer foto para Habaib yang pernah Tan Gindo lihat semenjak dari Lamongan Jawa Timur lalu ketika masih merantau 2014 silam. Ketika itu Tan Gindo baru saja mengenal dan bersentuhan dengan para Habaib di Nusantara, bahkan setelah mendapatkan informasi dari para Habib yang ada Tan Gindo pernah berdoa membatin “ya Allah, dimanapun aku berada dan kemanapun aku pergi, pertemukanlah aku dengan jiran-jiran Nabi Muhammad SAW, Rasul-Mu pembawa rahmat bagi seluruh alam, Allahumma Sholli ala Muhammad”.

Semenjak itu Tan Gindo selalu seperti berpindah dari satu Habaib ke Habaib lainnya sehingga seperti selalu mendapatkan cahaya; petunjuk atau jalan dari Allah untuk dipertemukan kembali dengan orang-orang berdarah mulia dan masih mengalir dalam tubuh sesorang bersama doa-doa Rasulullah. “Aku tinggalkan dua perkara yang sangat berharga pada kalian, yang pertama adalah kitab Allah, yang kedua adalah Ahlul Baitku (riwayat Imam Muslim)”. Keanehan tersebut kembali menguat ketika ditanya lagi oleh Tan Gindo kenapa beliau berucap demikian dan beliaupun mengatakan “entahlah, mulut sayapun meluncur tak sengaja, seperti ada dorongan yang menyuruh saya untuk mengucapkannya tampa berfikir” ungkap beliau seperti orang keheranan juga.

Kalau melihat fisik beliau Tan Gindo langsung ingat Ayahnya “Kardiman”; berbadan pendek kekar, gagah dan bersahaja namun mudah akrab dengan siapapun, bedanya Ayah Kardiman agak pendiam dan tidak banyak berbicara baik dilingkungan keluarga dan dimasyarakat. Barangkali karena Pak Syarief disamping sebagai salah seorang Wakil Ketua Badan Permusayaratan di desa Sungai Duri II beliau juga seorang pegawai negeri sipil di dinas pendidikan Kabupaten Bengkayang, sehingga sudah terbiasa mengahadapi orang banyak.

Kalau diluar forum beliau terlihat biasa-biasa saja, namun kalau sudah dalam forum resmi jangan coba-coba dengan beliau, bahasa dan kata-kata beliau mengalir seperti singa dipadang pasir, hal tersebut sudah sering Tan Gindo perhatihan dan hampir semua orang di desa mengetahuinya. Kalau sudah benar adanya dia akan bela habis-habisan untuk mendukung, kalau salah juga tak tanggung-tanggung dilibasnya, sehingga banyak yang tak berani berhadapan dengan beliau “face to face” apalagi di depan forum manapun.

Bahkan kalau beliau mau sesatu mungkin segala urusan di tingkat pemerintahan bisa bak “pencet tombol enter saja, jika diperlukan” ujarnya Tan Gindo mengutip dengan nada meninggi. Itu karena beliau memang telah banyak membantu meringankan masalah para aparatur pemerintahan dan membantu menyelamatkan warga ketika mengalami berbagai kesulitan ditingkat desa dan pemerintahan di Mempawah, apalagi banyak sohib-sohib seperjuangan beliau serta jaringan lainnya di Kabupaten tersbut. Salah satu prestasi beliau, semasa musim pemilu lalu pernah berhasil menyelamatkan dapil pemilihan umum di Kecamatan Sungai Kunyit sebagai ketua PPK dengan aman dan lancar tampa masalah yang berarti serta bikin puas banyak pihak.

Pada akhirnya pendampingan yang dilakukan Tan Gindo bersama tim lainnya diketahui juga oleh masyarakat umum bahwa program pendampingan yang sedang dijalankan merupakan salah satu support yang berasal dari PT. Pelindo II yang sedang berusaha keras meneruskan pembangunannya yang terbengkalai, terkendala oleh berbagai sebab sosial-politik serta jadi pergunjingan kritis warga. Dimana ketika sesaat sebelum dan sesudah masuk pendampingan pembangunan pelabuhan internasional Kijing ini masih jadi pembicaraan paling panas, aksi demonstrasi dan tuntutan warga masih sering terjadi khususnya berasal dari persatuan masyarakat nelayan. Mereka masih menuntut ganti rugi atas lahan laut yang sudah tidak aman dan nyaman lagi digunakan, padahal segala urusan tersebut sudah dianggap selesai oleh perusahaan dan pemerintahan setempat.

“Syukur, kehadiran saya tidak dikait-kaitkan secara langsung dengan situasi kusut yang masih terjadi ditengah-tengah masyarakat” ujar Tan Gindo dalam sebuah diskusi khusus. Semua agenda dilapangan dapat diselesaikan dengan baik dan cepat oleh Tan Gindo bahkan bisa buka kulit dan langsung kelihatan isi. Meskipun demikian masih ada beberapa orang tokoh yang masih dirasa menyimpan kecurigaan; sampai-sampai ada yang berkata “program ini hanya pengobat luka dan sekedar permen dikala pahit lidah” ujar tokoh tersebut di ruang publik. Namun, tokoh tersebut masih memberikan pandangan positif  bahwa memang “yang paling penting adalah kesadaran masyarakat, apakah butuh perbaikan dan kesiapan dalam menghadapi perkembangan hari ini” ujarnya meng-arifi.

Bagi Tan Gindo, persoalan proses pembangunan yang sedang dihadapi masyarakat terkait perusahaan, pemeritahan dan siapapun yang punya kepentingan atas project besar yang di depan mata; tidaklah terlalu sulit dan berat karena sudah begitu porsi dan kenyataannya dan harus di hadapi. Yang terberat adalah bagaimana membangun kesadaran setiap orang mulai dari mitra pendamping, para dampingan, para tokoh, aparatur pemerintahan hingga masyarakat luasnya lainnya untuk dapat melihat dan memotret dampak atau sebab-akibat yang akan terjadi dimasa depan dan bagaimana menyiapkan diri untuk mengantisipasinya jika semua hal terjadi.

Tan Gindo sudah membayangkan bagaimana perusahaan serupa telah berjalan lama di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Sunda Kelapa yang ternama itu; jadi apa dan bagaimana masyarakatnya, bagaimana aktivitas perusahaan dan pemerintahan setempat dalam mengelola semua kegiatan bisnis di wilayah mereka. Berbagai kemungkinan pasti akan terjadi disuatu hari nanti, kebetulan Tan Gindo sendiri memang sudah merasakan dua tempat pelabuhan tersebut ketika sempat merantau ke Surabaya 2014 lalu dan terakhir sempat tinggal di Kampung Bandan Jakarta Utara 2019 dimana keduanya merupakan wilayah inti dari garapan perusahaan PT. Pelindo tersebut.

“Ya Allah, apakah mereka benar-benar sudah tahu apa yang sedang mereka hadapi hari ini dan di massa akan datang, atau kalaupun sudah tahu apakah mereka sudah mengerti dan siap untuk menghadapinya” ujar Tan Gindo suatu waktu merenung. Terutama para pemuda dan generasi yang hari ini yang akan jadi pelanjut perjuangan massa depan di negeri Mempawah – negeri bertuah “dimanakah pemuda-pemudi Sungai Kunyit ini, kemanakah mereka dan apa yang telah mereka persiapkan” ujar Tan Gindo bimbang.

Ternyata pada bulan pertama menjadi pendamping desa dan semenjak ikut terjun melakukan penelitian sosial hal ini telah menjadi pemikiran dan kerisauan Tan Gindo sehingga sempat melahirkan sebuah puisi dan wall facebook-nya; kebetulan dari pusat gegara saat itu sedang terjadi polemik politik yang mengatas namakan dirinya “Kita adalah Indonesia dan Kami selamatkan Indonesia”

…………………

JEJAK MEMPAWAH

Dibawah terik mentari
Beratapkan langit
Berteman burung-burung laut
Dihamparan bumi Mempawah
Kala itu…
Hawa panas mulai berdatangan
Jejak langkah pertemuan dan perpisahan
Seiring dengan naik-turunnya degupan jantung
Begitu sesak oleh nafas-nafas pencari karunia
Kelak, pasti tersisa rasa takjub dan keheranan
Diantara mereka; sebuah metropolis akan hadir
Ditengah kusutnya perkampungan.
Siapa tanggap akan dapat
Siapa cermat akan siap
Siapa lengah akan disikat
Sipa lupa akan kehilangan
Barangkali jejak itu bisa terhapus dari negeri ini
Namun, asa dan rasa akan terasa nyeri dalam penyesalan
Bumi Mempawah juga bagian dari Kami & Kita
Yang sedang dirundung kegalauan dalam ruang kebangsaan;
Rebut berebut tahta dan kehormatan, sementara…
Tak lama lagi semua akan begeser dengan senyap
Bahkan lenyap…
Semua pasti kan terjadi jika tak pernah dimengerti
Kehilangan pundi-pundi sejati di negeri ini
Maka, bukalah matamu wahai anak bangsa
& bersiaplah…

Kuasa dan dilema masyarakat, perusahaan dan pemerintahan di Kabupaten Mempawah adalah matahari baru yang akan dihadapi Tan Gindo dalam pengabdiannya sebagai seorang yang di anggap ahli pemberdayaan, profesi yang sedang digelutinya. Sekali lagi Tan Gindo dalam hidupnya merasa akan “menantang matahari” baru disamping matahari-matahari lain yang selama ini telah dihadapinya. Salah dalam menghadapinya akan hangus terbakar, pandai menghadapinya akan selamat dan bermanfaat.

Melalui berbagai pengalaman massa lalu yang lebih kurang telah 15 tahun dijalaninya bagi Tan Gindo tentu menjadi hal yang semakin menarik dan menantang hidupnya. Biasanya hanya perlu menghadapi satu matahari, sekarang akan menghadapi beragam matahari dalam satu tempat, waktu dan kesempatan. Tampa ragu akhirnya Tan Gindo meyakinkan diri “insya Allah pasti saya bisa menghadapinya, jangankan dicaci, dihina, dicecar, dikerjain atau selevel dari itu oleh berbagai orang dan kepentingan, di ancam dibunuhpun ; saya sudah pernah melaluinya” ujar Tan Gindo dengan tatapan yakin dan membangkitkan diri.

“Hidup adalah perjuangan dan hari ini perjuangan saya adalah di bumi Mempawah, jika ini adalah sebuah pertempuran maka saya adalah pasukan sekaligus bisa jadi panglimanya, hidup mulia atau mati syahid” ujar Tan Gindo penuh ghairah sambil mengenang sejarah massa lalunya penuh optimis. “Seandainya ini adalah sebuah kegelapan saya masih punya sebuah lilin yang telah dibawa semenjak massa lampau, sementara seberkas cahaya dibumi Mempawah masih terlihat-menyebar luas untuk dimanfaatkan” ujar Tan Gindo puitis.

Begitulah Tan Gindo memadukan inspirasi dan motivasi hidupnya dalam pengabdian di Mempawah dimalam ngopian bersama mitranya Robby sembari bercerita tentang massa lalu satu persatu agar dapat saling memahami kelemahan dan kelibahan antara sesama tim kerja. “Saya masih seperti dulu, Tan Gindo belum merasa berubah untuk sebuah prinsip dan perjuangan yang telah dilalui semenjak kecil, remaja, hingga dibangku perkuliahan menjadi tokoh dianggap fonomenal bahkan dibilang sinting oleh sebagian sahabat dan sanak saudara kampong sana” ujar Tan Gindo tersenyum simpul.

Sembari banyak menyimpan rasa dan harapan sambil berdoa pada Allah yang kuasa “ya Allah inilah jalan hidup yang telah engkau amanahkan padaku, maka berikanlah aku kekuatan, taufik dan ridha-Mu agar semua jadi keberkahan serta ampunan-Mu jika aku berlebihan” ujar Tan Gindo penuh khidmat. Sambil mengutip sebuah pituah nenek moyang dari ranah Minang;

“Karano indak mambao galah, mananti takadia kasamonyo, mudarat mufaat tak dikana, alamaik binaso kasudahannyo. Kalau ketek dibari namo, urang gadang dibari gala, nak tapek adaik jo limbago, faham adaik nak nyato bana. Mancaliak tuah ka nan manang, maliek contoh ka nan sudah, manuladan ka nan baik. Sakalam kalam hari sabuah bintang bacahayo juo. tabujua lalu tabalintang patah, adat lamo pusako usang bak baro api dipagang juo”

(Senantiasalah kita dalam hidup bergaul memikirkan mudarat dan mamfaat, agar sentosa hidup bersama. Kalau tidak dipikirkan alamat hidup akan sengsara. Kalau dapat mendalami ajaran adat-budaya kita akan mendapatkan mutiara yang berharga didalamnya yang berguna untuk hidup bergaul dalam masyarakat. Selalulah kita melihat hasil yang baik dan dapat pula kita laksanakan hal yang positif. Tidak seluruh orang keluar dari garis kebenaran, sekurang-kurangnya satu orang ada yang menegakkannya, ketika kebenaran sudah terima menjadi pegangan apapun resikonya harus dipegang dengan teguh pendirian)

Bersambung ke Bag. 8



Sumber

Baca Selengkapnya

Cerpen

SEKOLAH MERDEKA-KU (2) – siarminang.net

SEKOLAH MERDEKA-KU (1) – Beritasumbar.com

“Diri kita bukan hanya milik sendiri, tapi juga orang terdekat,
bahkan, darah orang tua dan sanak saudara kita mengalir dalam nadi,
namun ingat, ada teman-sahabat dan orang lain disekeliling kita
yang mampu juga dapat merobah diri kita apa adanya, bahkan melebihi impian
guna mencapai hakekat sejati; menjadi manusia merdeka”

Tan Gindo; PII Mencerahkan hidupku
Ketika berkuliah, Tan Gindo sedikit berbeda dalam proses belajar, perilaku “tukar tidur” mengalami perubahan, mungkin suasana perkuliahan sudah menggunakan metodelogi yang berbeda ketimbang sekolah menengah atas, 80% sudah banyak melakukan poroses belajar berdiskusi, meski di saat situasi serupa penyakit tukar tidurnya kambuh lagi. Semangat Tan Gindo dalam perkuliahan lumayan tinggi juga karena sempat parkir dalam pendidikan formal selama satu tahun sehingga merasa sudah banyak ketinggalan ketimbang teman-teman sejawatnya di sekolah menengah atas dan ingin meninggalkan ketertinggalan yang ada.

Hampir setiap sesi perkuliahan, terutama ketika proses diskusi berlangsung dominasi Tan Gindo sangat terlihat. Banyak sahabat satu tingkat yang cukup mengandalkan Tan Gindo ketika sudah berdiskusi, “mungkin Tan Gindo bisa menanggapi apa yang sedang kita bahas” ujar teman-teman selalu sehingga nama Tan Gindo sering diandalkan dalam berdiskusi dan akhirnya dikenal oleh berbagai teman bahkan para dosen. Rata-rata mereka juga sangat senang dengan kehadiran Tan Gindo, tak jarang ketika Tan Gindo ada tidak hadir dalam perkuliahan terutama dalam sesi diskusi para dosen merasa ada yang kurang, “Tan Gindo mana ya, kok tidak ada dikelas, bagaimana kabar beritanya..?” ujar sang dosen.

Kemampuan Tan Gindo dalam berdiskusi dan beretorika tidak timbul begitu saja, tapi sudah melalui proses yang cukup panjang. Mulai dari kebiasaan menjadi “sang ketua” sejak sekolah dasar, sebagai “ketua dan wakil ketua OSIS dan Kepramukaan” semenjak Sekolah Menengah Pertama dan Atas, apa lagi semenjak mengikuti “basic training” di Pelajar Islam Indoesia; sebuah model belajar yang dikembangkan untuk kader-kader pemula di ormas tersebut, disanalah Tan Gindo menjadi terlatih dalam melakukan proses diskusi. Barangkali inilah menyebabkan Tan Gindo memilki gaya berfikir dan metode belajar yang berbeda dengan teman-temannya yang lainnya.

Baca juga “Menantang Matahari” bag. 4-a: Tan Gindo; Perasaan Terjajah

Tan Gindo sering merasa tidak puas dengan sistem pendidikan yang ada dalam sekolah formal terutama ketika sekolah menengah pertama dan atas. Tak jarang Tan Gindo menggerutu dan kesal, “dasar, pendidikan macam apa yang ada ini, kita seperti hanya terpenjara, ini adalah pendidikan kaum tertindas” ujar Tan Gindo dalam sebuah diskusi kritis. Terlihat jelas Tan Gindo mengagumi pendidikan yang men”cerahkan”kan dengan teknik menggali potensi para siswa. Kemudian hari makna pencerahan ini disematkan pada anak ke-2 Tan Gindo bernama Muhammad Raushan Fikri.

Sampai akhirnya Tan Gindo menemukan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya terkait proses pendidikan alaternatif yang dilaluinya. Menjadi kader Pelatihan Pelajar Islam Indonesia (PII) dengan mengikuti pendidikan dasar (Basic Training) di tahun 1992, Pelatihan tingkat menengah (Mental Trainning) di tahun 1995 dan akhirnya dapat menyelesaikan pelatihan tingkat akhir (Advance Training) di tahun 1999. Bahkan digenapkan dengan sempat mengikuti Latihan Kepemimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (LK-HMI) Cabang Padang, ketika diperguruan tinggi dan Syakafah Kepemimpinan Gerakan Pemuda Islam (GPI) ketika dulu pernah menjabat.

Dalam pelatihan tersebut Tan Gindo mendapatkan suasana belajar yang baru dan unik dari para senior, dalam pelatihan mereka sering panggil “Kanda Instruktur” saja. Terkesan antar guru dan siswa tidak ada batasnya, mereka seperti hanya seorang sahabat berbagi dalam ruangan kelas, teman cerita dan bergembira melalui berbagai teknik permainan dan tak jarang berdiskusi lepas secara kritis. Namun diam-diam secara terstruktur para peserta mampu mereka giring seperti orang yang merdeka, mereka yang belum punya motivasi menemukan semangat diri, apalagi mereka yang sudah memiliki dasar keberanian akan semakin percaya diri dalam menjalani cita-cita hidupnya.

Para Instruktur PII sering sebut metode belajar secara “andragogy” yakni sebuah konsep belajar orang dewasa yang dapat menggali berbagai potensi siswa lebih jauh melalui teknik diskuis diskusi, elaborasi, studi kasus, teknik dinamika berkelompok dan berbagai metode sejenisnya. Sakingnya merasa merdekanya tak jarang para peserta setiap setelah mengikuti pelatihan seperti tentara yang habis dibasis dimedan latihan tempur, baik keberanian mereka dalam berfikir, kesiapan mental, sikap dan berkomunikasi semakin vokal dan tajam. Seandainya memang situasi memang dihadapkan untuk berperang, boleh dikata dengan hanya teriakan “Takbir” anak-anak PII tak pernah panjang berfikir untuk mengorbankan jiwa dan raganya untuk mati dimedan juang.

Terlihat jelas, pengaruh training PII sangat berbekas sekali pada Tan Gindo. Padahal Tan Gindo mengikuti kegiatan PII “masih terbilang kecil dan belum massanya” ujar seorang kakak Instruktur Tan Gindo pada suatu ketika. Ketika itu Tan Gindo masih kelas 1 SMP, tepatnya pada liburan semester ketika mau naik kelas 2 dtahun 1997. Percaya diri Tan Gindo yang sudah ada sejak sekolah dasar semakin menguat, barangkali itulah yang menghantarkan Tan Gindo juga bisa semakin berani menjadi Ketua OSIS kelak dan menjadi pimpinan organisasi lainnya. Setidaknya ada 5 organisasi baik intra dan ekstra sekolah digelutinya dan begitu juga ketika telah berkuliah di Universitas.

Kemampuan beradaptasi dengan berbagai orang cukup cepat, teman malah para guru sangat mudah didapatkan oleh Tan Gindo serta dapat melewati jabatan-jabatan organisasi dengan baik ketimbang siswa seumuran. Dalam setiap pertemuan bahkan dalam sesi belajar Tan Gindo sudah bisa sedikit membaca arah pikiran dan perkataan seseorang bahkan sering menjadi menilai keberadaan seseorang bahkan seseorang guru dalam kelas. Dalam sebuah anekdok kajian metodelogi sering anak-anak aktivis PII berkelakar “jika seorang guru masuk kelas, anak-anak PII sudah bisa menebak apa dan bagaimana kelebihan dan kemampuan seorang guru dalam mengajar..ha.ha.ha” ujar salah seorang aktivis PII dengan logat sedikit meninggi, sambil tertawa senang.

Begitulah adanya sehingga anak-anak PII dapat dengan mudah hadir dalam setiap momen pelajaran dengan baik bahkan ada juga yang nakal “mengerjai” seorang guru sehingga bikin sang guru kalang kabut dalam menghadapi proses belajar mengajar di kelas. Karena anak-anak PII disamping terbiasa terlatih berdiskusi dan bertanya dengan baik juga banyak yang keranjingan membaca banyak buku referensi, biasa belajar sendiri sebelum belajar dalam kelas atau perkuliahan sehingga ketika belajar atau berdiskusi seperti orang yang sudah siap tempur dengan bahan-bahan yang diperlukan.

Berbeda dengan kebanyakan teman sejawat ketika berdiskusi banyak terasa kaku dan bisa ditebak arah pertanyaanya, “waduh, gimana nih diskusi kok seperti anak sekolah dasar saja, pertanyaan yang ada malah sudah ada jawabannya dalam buku, baca sajalah bro…” ujar Tan Gindo membatin dan terkesan meninggi. Banyak kesan bahwa para teman sejawatnya bertanya seperti orang yang ambil “kacung baru cari muka saja” celetuk Tan Gindo kesal.

Bahkan ketika perkuliahan tambah begitu terlihat minornya dengan memaksa mahasiswa untuk bertanya dan menanggapi “ibu/bapak akan beri nilai tinggi pada mereka yang aktiv dalam belajar apalagi diskusi ya…” ujar para dosen. Akhirnya banyak diantara mereka seperti memaksakan kehendak dalam bertanya, hampir setiap tanggapan dan pertanyaan seperti hampa saja dan tidak bermakna selain hanya karena ingin mendapatkan nilai A dan B saja dalam setiap akhir semester. “uff..begitu membosankan juga diskusi dalam perkuliahan ini jikan berdiskusi” ujar Tan Gindo dalam sebuah curhatnya pada salah seorang seniornya di PII

Suatu hari, ada sesi menarik dalam sebuah diskusi terkait mata kuliah umum, saat itu seorang dosen membahas tema tentang “Metodelogi Pembelajaran”. Sang desen ketika itu dengan begitu percaya dirinya menyampaikan tentang metode pendidikan “andragogy” sebagaimana yang juga pernah dinikmati Tan Gindo semenjak kecil. Seperti biasa diskusi berjalan alot dengan berbagai tanggapan dan pertnyaan yang mulai begitu membosankan Tan Gindo. Kemudian sang dosen berceramah habis setelah mengupas berbagai konsep, hal itu membuat Tan Gindo tak bisa lagi menahan diri begitu lama dan berusaha menghentikan khotbah sang dosen.

“Izin menanggapi bu” ujar Tan Gindo menyetop pembicaraan sang dosen. Sejenak sang dosen terdiam dan seperti mengarifi Tan Gindo, kemudian memberikan kesempatan untuk berbicara panjang lebar terkait konsep dan teori yang telah ia rasakan dan pelajari selama ini di PII, akhirnya terjadilah adu argument yang begitu sengit antar Tan Gindo dengan sang Dosen. Awalnya berjalan baik namun akhirnya menegangkan. Suasana tersebut terjadi cukup lama juga sehingga lebih dari separu waktu perkuliahan habis karena hanya perdebatan mereka berdua di dalam kelas.

Sementara mahasiswa yang lain tak berani menjadi penengah apalagi menyanggah, malah plongak plongok saja kian kemari mendengar perdebatan mereka karena memeng rata-rata tak pernah memahami apa itu konsep yang sedang dibicarakan dan dapat dipastikan tak pernah mendengar apalagi membaca berbagai istilah referensi yang telah Tan Gindo ketengahkan. Jika adapaun dapat dipastikan tidak berani mendukung Tan Gindo atau sang dosen karena tidak memiliki keberanian sama sekali untuk begitu.

Karena memang sang dosen tidak mau mengalah dan Tan Gindo juga begitu ngotot mempertahankan berbagai argumennya dengan baik, sang dosen akhirnya merasa kewalahan dan mungkin merasa dipermalukan juga ditengah-tengah mahasiswa yang jumlahnya cukup banyak. Lebih kurang tiga kali lipat dari jumlah mahasiswa yang kuliah dikelas jurusan sendiri. Karena kelas umum memang diperuntukkan bagi semua jurusan yang ada di universitas; disitulah Tan Gindo banyak bertemu teman-teman baru dari berbagai kalangan. Disamping juga aktivis kampus, juga tersohor dalam berbagai perkuliahan yang ada sehingga Tan Gindo sempat terkenal dikarenakan karakter berani seperti itu, tak kenal takut menghadapi lawan bicara.

Setelah sesi perkuliahan kala itu, setiap masuk dalam ruang kelas dalam mata kuliah itu Tan Gindo juga merasa berasalah sekaligus juga kejenuhan. Tan Gindo akhirnya banyak mengikuti alur perkuliahan apa adanya tampa lagi banyak berkomentar, bahkan sudah sering meninggalkan ruangan perkuliahan. Tak heran pada sesi penilaian mata pelajaran Tan Gindo akhirnya terpaksa ikhlas dan puas menerima nilai C saja dari sang dosen dengan umpatan “haram bagi saya perbaiki nilai C pada perkuliahan ini, karena akan menjadi kenangan tersendiri” ujar Tan Gindo penuh kesal.

Benar adanya, sesekali dikemudian hari ketika Tan Gindo melihat ijazah S1 nya dengan distribusi nilai yang ada dari sekian mata perkuliahan pasti selalu teringat kisah tersebut apalagi nilai C yang ia terima tersebut terletak sangat mencolok diantara nilai A & B di dalamnya. Nilai C itu hanya bak orang kesepian, terselib diantara nilai-nilai lainnya “menyedihkan sekali” ujarnya tersenyum sungging, mengenang. Padahal kalau diambil lagi pada semester berikutnya dan dengan dosen lainnya Tan Gindo masih punya kesempatan lagi untuk dapat meperbaikinya jika diinginkan.

Begitulah salah satu gaya belajar Tan Gindo di dalam kelas, perkuliahan dan dalam berbagai kegiatan lainnya, suka “menantang matahari” khususnya dalam berdiskusi. Seperti kuda yang berlari kencang, singa yang garang mengitari hutan atau bagai elang yang terbang kian kemari di alam bebas, namun tetap kembali ke sarangya. Jauh dari rasa takut dan keragu-raguan dalam berbicara dan berkomunikasi. “salah ya salah, benar ya benar dan saya akan mempertahankannya atau meminta maaf jika diperlukan” ujar Tan Gindo mengungkapkan.

Disisi lain, Tan Gindo sadar sebagaimana manusia biasa juga memilki kesalahan dan keterbatasan baik dari cara berkomunikasi, referensi dan sebagainya, namun seperti rasa malu atau sungkan Tan Gindo mengakuinya dan meminta maaf serta beritikat memperbaiki atau mencari lagi hal-hal yang belum diketahuinya di depan publik “oke, saya mohon maaf jika salah, saya akan memperbaikinya, mempelajarinya kembali dan atau membaca ulang apa yang semestinya” ujar Tan Gindo dalam berbagai kesempatan ketika kalah atau salah dalam berdiskusi. Sikap ini semakin membuat teman atau siapapun lawan bicara Tan Gindo semakin segan dan sekaligus juga memakluminya saja.

“Pelajar Islam Indonesia telah me-merdeka-kan saya” ujar Tan Gindo dalam sebuah diskusi terkait Pendidikan di Indonesia. “Sementara Pendidikan di Indensia telah menjadikan kita dalam sebuah penjara, rata-rata para siswa banyak yang terkoptasi, terpasung dan tertekan, tak bisa bekerja dengan pilihannya, jikapun bisa menyelesaikan pendidikan banyak yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk dan memberikan sumbangsih dalam menyelesaikan persoalan bangsa, kalaupun sukses banyak dengan cara yang culas, menipu dan menggunakan cara-cara yang kurang patut dan tepat” Ujar Tan Gindo dalam diskusi tersebut.

Coba perhatikan model pendidikan kita “terkesan memberikan kebebasan dan keleluasaan dalam berfikir, berbuat atau bertindak. Namun kebanyakan seperti topeng saja, kita masih ragu-ragu dan takut untuk bersikap atau berbuat karena ada ancaman laten yang menghantui kita; takut guru atau dosen kita sakit hati dan mendapatkan nilai jelek, tidak siap dikritik dan mengkritik siapapun, atau kalaupun ingin bertanya atau menanggapi banyak hanya sekedar sermonial saja untuk sebuah harapan atau kepentingan sesuatu baik bersifat material atau keterdekatan saja agar dikatakan hebat, cukup tahu dan bisa atau parahnya ingin dikenal banyak orang, padahal apa yang diucapkan sering akal-akalan tampa memahami atau mengerti apa yang sebenarnya sedang dicari” kritis Tan Gindo melanjutkan.

Dalam sebuah pendidikan ke-instrukturan pembahasan tentang metodelogi pendidikan ini pernah dikupas oleh seorang senior dengan sangat tuntas; begini uraiananya…

………….

Seorang tokoh pendidikan radikal Poulo Friere dalam bukunya “The Pedagogis Of Opperessed” (Pendidikan Kaum Tertindas) pernah berkata “inilah pendidikan gaya bank, sebuah pendidikan yang mengibaratkan seseorang yang belajar seperti menabung dan mengharapkan imbalan atau bunga kembali, atau pendidikan gelas kosong; sebuah pendidikan yang mengibaratkan siswa atau mahasiswa seperti wadah kosong yang hanya siap di isi”.

Sementara dalam konsep ilahi diyakini setiap manusia semenjak dia lahir dan berkembang sudah memiliki nilai dan makna kehidupan itu sendiri meski sebatas umur dan perjalan hidupnya, termasuk dalam hal perbedaan kemampuan dan kebebasan untuk memilih serta mengembangkan minat dan bakatnya.

Sebagai adanya manusia, seseorang pasti memiliki motivasi, pengertian dan pemahaman terhadap kondisi lingkungannya dan tugas guru atau dosen hanya bagaimana mencarikan jalan dari ketidaktahuan atau kebuntuan siswa dalam memecahkan berbagai persoalan hidup, bukan kemudian berusaha mewarnai seorang siswa agar harus mengikuti kemauan diri seorang guru.

Padahal apapun saja yang akan dipelajari jika kunci-kunci rahasia kehidupan dapat diberikan wujudnya maka dengan sendiri mereka akan berusaha mencari kunci-kunci tersebut untuk mendapatkan dan menggunakannya sendiri untuk membuka sesuatu baik ilmu pengetahuan, keterampilan dan berbagai keperluan hidup lainnya. Sehingga ketika seorang siswa terbentur pasti dia akan berusaha menyelesaikannya sendiri dengan caranya masing-masing sesuai dengan kemampuannya.

Sebaliknya, jika di anggap seperti gelas kosong kosong ketika dia terus di isi, dapat dipastikan cepat atau lambat dia akan penuh dan tumpah serta kemudian tidak bermanfaat. Kejenuhan, kebosanan, malas dan merasa serba cukup, dianggap semua sudah cukup diketahui dan tidak lagi untuk mempelajarinya lebih jauh dan mendalam. Sementara ketika dibutuhkan atau dimanfaatkan tidak tahu bagaimana menggunakannya secara baik untuk menjawab segala kemungkinan hidup.

Begitu juga dengan pendidikan gaya bank, seseorang hanya dianggap sekedar menabung pengetahuan dan pengalaman saja serta berharap hanya mendapatkan persentase bunga (keuntungan) yang sekedarnya saja dan ditagih hanya pada waktu yang telah ditentukan, sehingga banyak pengetahuan dan pengelaman tidak bisa dikembangkan secara baik dalam menghadapi berbagai kenyataan hidup. Sikap ego sentris secara tidak sadar menghidap dalam diri seseorang, kemudian menjadi kanker kehidupan padahal banyak hal dalam kehidupan harus dihadapi dan disikapi bukan hanya sekedar menjadi tontonan belaka.

Hubungan seorang guru dan siswa, layaknya bukan seperti atasan dan bawahan atau seperti nasabah dan karyawan bank yang dipisahkan hanya kepentingan sesaat belaka apalagi main perintah dan paksa, kalau tidak sesuai dengan kinerja kemudian dimarahi dan dipecat. Mestinya antara guru dan siswa dia adalah seperti sahabat kehidupan, tempat dimana setiap siswa harus bisa menjadi tempat berbagi, bercerita dan mengahadapi berbagai persoalan kehidupan.

Khususnya lagi dalam hal bersikap dan bertindak, sorang guru harus bisa membentuk seroang anak berkarakter “merdeka”; punya mental baja, kuat dalam berfikir, berani dalam bertindak dan kritis terhadap segala sesuatu yang sedang dihadapinya, bukan sebaliknya lari sebagai sorang pengecut “bak lari di medan juang”. 

Tantangan bangsa kita hari ini semakin terang, kita jujur melihat kenyataan bangsa kita hari ini, memang sudah merdeka secara fisik namun banyak bersepakat mengatakan terjajah secara ekonomi dan pemikiran berbagai persoalan muncul tak terperkirakan. Kita butuh generasi yang siap menghadapi kenyataan untuk dapat merobah situasi bukan sebaliknya larut dalam kondisi kacau atau bahkan “ikut latah menjadi penjaja gaya baru”, tegasnya.

Semenjak orde pemerintahan; kolusi, korupsi, nepotisme merebak, kejahatan dan demonstrasi muncul silih berganti, konflik sosial, ras dan agama serta lainnya tak dapat terhindarkan. Serangan dari luar bangsa juga sangat dirasakan meski bukan dalam bentuk senjata api atau pertempuran fisik tapi masuk melalui penguasaan modal, issue terorisme, issue moralisme dan penguasaan teknologi disegala bidang.

Jelas musuh Indonesia sudah bermetamorfose dalam bentuk yang berbeda; gaya berfikir asal bapak senang, mementingkan dan menyelamatkan diri sendiri harus segera ditinggalkan; semua harus keluar dari sikap keterkungkungan dan menjadi orang tercerahkan; “ya, kita mesti menjadi orang yang merdeka; dengan demikian belajarlah disekolah yang merdeka, belajarlah dengan orang-orang merdeka dan berfikirlah secara merdeka yang sebenarnya” agar bisa memanfaatkan aset bangsa Indonesia yang kaya ini, semuanya adalah milik kita, bukan milik mereka diluar sana.

“Sungguahlah kokoh adat Minang, mambuek adat jo limbago, malangnyo panjajah datang, rusaklah adat dibueknyo, siriah lah pulang kagagang, pinang lah suruik katampuaknyo. Karih baliak kasaruangnyo, baju tasaruang ka nan punyo, ameh pulang katambangnyo, Kiniko coraklah barubah, alam mardeka lah tabantang, sadang manggali kasajarah, usahokan galian dek basamo. Dibilang kato nan ampek, partamo kato pusako, sanang hati santoso tampek, disinan ado raso mardeka”

(Walaupun adat istiadat kita kokoh, system pendidikan bagus pada awalnya, semua sudah hancur karena pernah dijajah dan sudah berubah, padahal semua sudah direbut melalui perjuangan yang panjang dan merdeka; saat ini pada dasarnya sudah kembali menjadi milik kita, namun  tugas bersama untuk mengisi kemerdekaan melalui berbagai sumber dan sejarah massa lampau, dengan bepegang teguh pada tradisi dan memanfaatkan kebebasan saat ini disitulah kemerdekaan itu dapat diraih)

Baca berikutnya, bagian ke-5



Sumber

Baca Selengkapnya

Cerpen

SEKOLAH MERDEKA-KU (1) – siarminang.net

SEKOLAH MERDEKA-KU (1) – Beritasumbar.com


“Ketika ruh ditiupkan sang Khalik dalam Rahim ibumu dan diterima,
Sebuah modal hidup; mata, mulut, hati dan fikiran dan lainnya sudah tersedia
Namun, kenapa engkau penjarakan, merdeka-kanlah ia,
Agar kamu tidak menjadi budak belian dunia ini..”

Tan Gindo; Merasa terjajah

Pagi menjelang siang, seperti biasa Tan Gindu sudah duduk dibangku kerja dan sebuah meja yang khusus dipinjamkan warga desa buatnya di Posko forum desa Kelapa 4 Sui. Duri II Mempawah dimana ia bertugas. Meski sudah mulai tua, suasana tempat kerjanya seperti masih muda dulu, terlihat berantakan sekali, kertas kerja berserakan dimana-mana, ada gelas kopi bekas, asbak rokok dengan setumpuk puntung yang belum diberes-berekan juga sejak semalam, piring bekas, aqua gelas kosong, dan buku-buku bacaan yang seperti habis berkelahi diatas meja, sementara Tan Gindo seperti tak ambil pusing.

Terkesan masih jorok sekali, bahkan ia sendiri suka kesal dan marah sendiri “dasar sudah tua bangka masih suka jorok, kapan tobatnya kau Tan Gindo..hix” bergumam mengukur diri sendiri. Beberapa waktu kemudian dengan santainya Tan Gindo menekan tobol on loptop baru nya, “eng..ing enng” kemudian loptop loading hingga hidup sempurna. Terlihat Tan Gindo otak-atik loptop mencari-cari sesuatu dalam file dan folder kerjanya.

Sebuah aplikasi Winamp meluncur di depan loptop dan sudah terlihat list lagu kesukaanya “na.na.na…teng, teng..teeng.”, ternyata sebuah tembang berjudul It`My Life dari Bon-Jovi. Rupanya Tan Gindo juga pencandu music barat khususnya Bon-Jovi, kepalanya goyang kiri-kanan dan kanan, dengan sesekali memukul ringan meja kerjanya ketika reff music mulai tinggi bersemangat sambil teriakan kecil “Its.. My Life…..” iringannya suara menggema. Untung saja tidak ada orang yang memperhatikan dari luar ruang kerja, jika ya pasti akan bilang “sepertinya di siang bolong ini Tan Gindo sudah kerasukan..ha.ha.ha”.

Terlihat wajah penuh gembira dengan senyuman lebar dibibirnya, Tan Gindo lebih terlihat berghairah hari itu. Bagi pecandu atau maniak musik atau lagu apapaun mungkin sebagian hanya sempat ngambil hiburannya, tapi tidak untuk Tan Gindo karena kemanapun dan apapun ia melangkah pasti selalu mencoba memahami apa yang sedang dinikmati dan apa yang sedang dilakukannya. Otaknya seperti seorang robot pemikir, ada-ada saja yang jadi bahasannya seperti orang kurang kerjaan. Termasuk nyanyian Bon-Jovi “It` My Life” yang artinya lebih kurang “Inilah jalan hidupku”, sambil berfikir “apapun yang terjadi, mau kemana kedepannya saya akan selalu nikmtai saja jalan hidup ini dengan ikhlas dan senang” ujar Tan Gindo penuh santai, membatin.

Baca juga “Menantang Matahari” bagian 3; Cudin Sahabat Yang Unik

Kebiasaan berfikir dan ingin memahami banyak hal membuat gaya berkomunikasi Tan Gindo lumayan unik ketika masih aktiv dibangku sekolah, kuliah, LSM dan lain-lainnya. Tan Gindo ini sering membuat pertanyaan atau pernyataan yang malah mendominasi, kadang mendebatkan apa saja sesuka hatinya, bahkan sering buat moderator atau pembawa acara kesal dan tidak beri kesempatan pada Tan Gindo berbicara “bentar Tan Gindo berikan kesempatan dulu pada orang lain, jangan se enak kamu saja” ujar meoderator tegas.

Kalau sudah dibatasi, apapun dan bagaimapun Tan Gindo sering akhirnya diam-diam saja di sebuah forum atau kegiatan dan tak pernah bertanya lagi. Membiarkan sebuah diskusi itu mengalir tampa peduli bagaimana hasilnya, tapi Tan Gindo tetap ikuti alur diskusi sampai selesai tampa beban pikiran lain, tampa peduli kemana akhirnya hasil diskui. Sambil diam-diam curi ilmu, data dan informasi yang dibutuhkan saja dan bergumam dalam hati “pusing amat, amat saja gak pusing, suka hatilah mau apa dibicarakan, penting tak penting saya pikirkan, yang jelas saya ingin banyak dapatkan sesuatu berharga sekecil apapun informasi, pengalaman dan pengetahuan agar kehadiran di forum ini tetap bermanfaat” ujarnya mengobati diri sendiri.

Baik ketika sekolah dan perkuliahan Tan Gindo juga sering juga begitu, kalau sudah dalam sesi diskusi Tan Gindo sangat bersemangat, tapi kalau sudah sesi ceramah dan banyak mendengar Tan Gindo akhirnya sering tertidur diruang kelas. Sewaktu di SMA dulu situasinya agak sedikit parah, perilaku tidur menjadi masalah tersendiri, kebetulan Tan Gindo adalah siswa kelas IPA 2 SMUN 2 Kota Payakumbuh, dulunya dikenal dengan SMA 3 Payakumbuh; sebuah sekolah Favorit di Kota itu, hampir rata-rata yang masuk sekolah disana adalah anak-anak hebat dari SMP lain. Makanya kalau di SMA Tan Gindo sudah jarang dapat juara, lawan tandingnya berat-berat dan harus akui terima kekalahan. Namun jika dilihat nilai raport semesteran, masih cukup lumayanlah,rata-rata diatas poin 7, 8 atau 9.

Belakangan Tan Gindo menyadari semua itu juga bukan karena orang lain, ada faktor puberitas, sering ketinggalan pelajaran, ada faktor kebiasaan belajar yang jelek dan ada juga dapat perhatian yang lebih menarik dari pada belajar yang “teks book”. Maklumlah, mungkin karena pelajaran IPA memang lebih banyak begitu, konsep dan teori ini dan itu, sehingga banyak para guru yang terjebak dengan metode ceramah. Akhirnya hampir disetiap pelajaran Tan Gindo sering tertidur, kadang dalam posisi kepala diatas meja menghadap kedepan, kekiri dan kekanan, bahkan sering tertidur dalam posisi duduk, untung saja Tan Gindo bukan type orang tidur ngorokan, kalau ya pasti akan sering dibully teman-teman, ha.ha.ha

Suatu hari, dikelas yang sama kebetulan Tan Gindo punya kawan sebangku yang unik lagi, namanya Dirius; teman yang cukup asyik dan nyentrik. Dia lebih ganteng dan pintar ketimbang Tan Gindo, secara fisik dan perawakannya memang nyaris sempurna, berkulit putih bersih, mudah akrab, ramah dan suka senyum. Setiap dia ketawa sangat menarik perhatian orang lain, Dirus jelas bukan lawan yang sebanding dengan Tan Gindo untuk takaran tersebut karena Dirus sempat masuk sampul majalah Coverboy dari Jakarta. Sehingga sambil kelakar sering kami panggil Dirus “Sang Kompor-boy”  

Tan Gindo sangat merasa minder kalau dekat-dekat Dirus diluar kelas, karena dia sering didekati dan diperebutkan oeh para cewek-cewek cantik disekolah. Makanya Tan Gindo jarang bermain-main bersamanya ketika jam Istirahat dengan Dirus, apalagi kalau ada acara teman-teman disekolah Tan Gindo hanya jadi pelengkap penderita saja.”Ogah main diluar bersama dirus, saya hanya jadi kambing congek, kalau saya ikutan mana ada cowok-cewek yang mendekat, mereka hanya acuhkan saya, lebih baik saya cari teman yang lain saja” pikir Tan Gindo menghindar.

Anehnya, kebiasaan tiduran mereka dikelas adalah sama, entah karena ketularan atau memang guru wali kelas sengaja mengelompokkan demikian. “dasar tukang tidur dikelas, biar tidur bareng saja sekalian..ha.ha.ha” begitu persangkaan Tan Gindo. Dalam kelakar mereka berdua sering punya idiom yang sama kalau sudah mulai ada guru mata pelajaran banyak yang suka ceramah dan yang membosankan “bro, siap-siap ambil posisi..he.he.he” ujar Dirus sumringah. Hebatnya meskipun suka tidur dalam kelas, pelajaran sekolahnya banyak yang bisa dia kerjakan sendiri, sementara Tan Gindo terpaksa selalu mendesak Dirus untuk mengajarkannya kembali bahkan sering pergi dan tidur kerumahnya untuk membuat tugas sekolah.

Suatu Ketika, mereka sempat dipindahkan ke meja paling depan, pas di depan meja tugas guru kelas. Hari itu kelas ada pelajaran biologi, guru itu suaranya memang pelan seperti hembusan dan alunanan musik merdu bak membuai banyak orang dalam mengajar dan suka sekali berceramah namun agak sedikit mudah marah kalau tersinggung. Perawakan ibu guru tersebut berbadan pendek kecil, berkaca mata besar, tidak memakai jilbab sehingga terlihat rambut setengah ikalnya sampai diatas bahu dan sedikit kelihat unik dengan mempunyai dua gigi besar dibagian atas seperti “Miki Mouse” alias ibuk “Mancik (Tikus)” kata para siswa mengungkapkannya, serba kebetulan nama beliau juga ibu Ros dan diplesetkan dengan sebutan ibu Mos.

Seandainya ibu Mos tau dan mendengar ucapan tersebut, beliau sangat teringgung dan langsung dengan muka merah, memanggil siswa yang bersangkutan dengan memasang rasa marah, tak jarang di omelin di depan orang banyak. “tidak sopan dan hormat, kamu sudah dapat dikatakan anak durhaka…coba ingat olehmu si Malin Kundang, kena kutuk jadi batu, banyak kehilangan keberkahan ilmu kamu, tau..!” ujar buk Mos pitam. Si siswa yang punya dasar penakut tentu pucat basi, sementara kalau siswa yang dasar nakal tentu ketawa terpingkal-pingkal kalau sudah jauh dari ibu Mos.

“Ya Allah ampuni kami yang sudah tidak menghormati para guru, maafkan dan ampuni lah kesalahan-kesalahan mereka..”ungkap bathin Tan Gindo kelak. Terutama ketika Tan Gindo dapat ganjaran juga pada saat telah mencoba menjadi seorang guru di SMP Raudhatul Jannah Payakumbuh; dimana Tan Gindo pernah mengabdi. “betapa sulit menghadapi perilaku para siswa, di dalam system pendidikan formal kita saat ini, satu sisi para guru dikejar target mata pelajaran, disisi lain para siswa memiliki kemampuan dan motivasi yang sangat bervariatif, lain kepala lain isinya, lain perangainya” ujar Tan Gindo sesekali kesal.

Karena Ibu Mos suka selalu berikan pelajaran dengan berceramah, sementara pelajarannya penuh terori dan konsep-konsep berat mereka berdua akhirnya kembali tertidur pulas dikelas meski sudah berada di paling depan, padahal mereka sudah berusaha untuk tidak tidur lagi dalam kelas bahkan mencoba pasang strategi “bro, kita saling bantu ya, kalau saya sudah mulai ngantuk cubit donk, begitu juga sebaliknya; deal? “ucapkan Tan Gindo menawarkan solusi. Tampa basi-basi Dirus berucap “oke, bro siiiiip” ujarnya Dirus semangat.

Namun apa dikata, karena memang berdua dasar tukang tidur, akhirnya mereka sama-sama tertidur dan tentu tak ada yang mencoba untuk menegur untuk saling cubit. Seketika itu, akhirnya ibu guru Biologi tersebut membiarkan mereka sebentar dan menjadikan mereka seperti mainan. Beliau berhenti sejenak mengajar kemudian sengaja berdiri pas di depan meja mereka berdua, bak menunggu mangsa yang siap ditangkap ibu guru bersikap diam dan perhatikan mereka sekitar beberapa menit, tentu mata para siswa langsung melihat kepada mereka berdua dan merobah suasana kelas menjadi tegang. Karena sudah pasti akan terjadi peristiwa menarik, anehnya tak ada siswa yang tertawa karena rata-rata memeng takut pada ibu Mos tersebut (terhening)

“Doaaar….” Guru tersebut langsung memukul meja diatas mereka dan tentu mereka berdua terperanjak tegang, detak jantung Tan Gindo berdebar kenjang seperti orang yang harus dilarikan ke rumah sakit, untung saja tidak jantungan “astagfirullah… “ ujar Tan Gindo, begitu juga Dirus kaget bukan kepalang dan mereka saling memandang tegang, tapi Dirus sedikit cengengsan saja sambil berucap “waduh, tertidur lagi..” ujar Dirus sambil mengusap matanya dan tersenyum. Si guru akhirnya ceramahin mereka didepan kelas “dasar anak malas, kerjanya cuma tiduran dikelas, ngapain kalian berdua semalam, begadang ya…, sudah dipindah kedepan masih bisa tidur…” ujar guru dengan muka menakutkan.

Dalam diam dan tegang Tan Gindo menggurutu “kami ini anak baik-baik buk, patuh dan tidak biasa keluar rumah, jangan bicara sembarangan.”ujar Tan Gindo menyembunyikan kekesalnnya. Begitulah hari-hari mereka dikelas sehingga mereka dapat sebutan siswa “tukang tidur”. Padahal bukan sepenuhnya demikian, ketika ada pelajaran menarik dan bisa mencerahkan kepala mereka, mereka masih tetap bisa terjaga dan tidak pernah ketiduran, tapi kalau sudah banyak berceramah atau pelajaran yang terasa agak mudah diserap mereka bisa mengikutinya atau ada guru yang menarik cara menyampaikannya meski pelajarannya berat. Apalagi kalau ada guru yang suka melucu sambil belajar dikelas tampa mengangkan dapat dipastikan mereka berdua tetap bugar dalam belajar.

Bersambung dalam cerita berikutnya; Sekolah Merdeka-ku (2)



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer