Connect with us

Dunia

Mesir Menemukan 27 Sarkofagus Berusia Lebih Dari 2.500 Tahun, Temuan Terbesar Tahun Ini. – siarminang.net

Mesir Menemukan 27 Sarkofagus Berusia Lebih Dari 2.500 Tahun, Temuan Terbesar Tahun Ini. – Beritasumbar.com


Mesir kemarin mengumumkan telah menemukan harta karun kuno berupa 27 sarkofagus dalam keadaan utuh. Penemuan ini diklaim sebagai yang terbesar tahun ini.

Sarkofagus yang sudah dibuka di lokasi temuan itu diyakini milik para pejabat tinggi dari Periode Akhir dan periode Ptolemeus Mesir kuno.

Dilansir Malay Mail, Sabtu (14/11), harta karun tersebut ditemukan di sebuah lubang penguburan di kedalaman 12 meter di kuburan Saqqara, selatan Kairo.

Para arkeolog menyatakan mereka membuka salah satu dari peti mati dan melihat mumi yang dibungkus dengan kain kafan dan dihiasi dengan gambar hieroglif dengan warna yang sangat cerah.

Menteri Purbakala dan Pariwisata Khaled al-Anany menyatakan, penggalian di Saqqara masih berlangsung dan harta karun tersebut akan didistribusikan ke beberapa museum di Mesir termasuk Museum Agung Mesir yang belum dibuka di dataran tinggi Giza.

Penemuan lain di pemakaman yang luas itu diharapkan akan diumumkan dalam beberapa pekan mendatang.

Mesir berharap penemuan ini akan mendorong pariwisata yang selama ini mengalami banyak kerugian sejak Musim Semi Arab tahun 2011 hingga pandemi virus corona saat ini.

sumber: reuters



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BMKG

Gempa Magnitudo 7 Guncang Turki, BMKG Analisa Gempa Tektonik – siarminang.net

Gempa Magnitudo 7 Guncang Turki, BMKG Analisa Gempa Tektonik – Beritasumbar.com

Turki,  www.siarminang.net– Gempa berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang Provinsi Izmir, Turki pada Jumat (30/10). Hanya saja badan bencana Pemerintah Turki AFAD melaporkan kekuatan gempa yang lebih rendah yakni magnitudo 6,6 di kedalaman 16,5 km.

Gempa tersebut berpusat di Laut Aegean itu terasa hingga Athena (ibu kota Yunani) dan Istanbul (salah satu kota terbesar di Turki).

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut gempa itu berkekuatan M 7, sedangkan Pusat Seismologi Eropa-Mediterania mengatakan, gempa berkekuatan 6,9 magnitudo dengan pusat gempa 13 km timur laut pulau Samos Yunani.

Akibat guncangan, masyarakat Kota Izmir berhamburan ke jalan saat gempa melanda.

Keterangan Menteri Kesehatan Turki Fahrettin Koca lewat media sosial Twitter, bahwasanya gempa tersebut menyebabkan 4 orang yang tewas, 120 lainnya luka-luka. Pemerintah setempat lansuang mengerahkan 38 ambulance, 2 helikopter ambulance, dan 35 staf medis ke Izmir.

Gempa Tektonik

Sementara itu,  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan analisa tentang gempa bumi dan tsunami di Turki merupakan gempa tektonik dengan kedalaman 10 km di dasar laut.

“Hari Jumat, 30 Oktober 2020 pukul 18.51.26 WIB wilayah Kepulauan Dodecanese, Yunani diguncang gempa tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter dengan magnitudo Mw=7,1. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 37.89 LU dan 26,84 BT, berlokasi di laut pada jarak 17 km arah barat laut Samos, Yunani pada kedalaman 10 km,” ucap Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, dalam keterangannya, Jumat (30/10).

Gempat tersebut dirasakan hingga di Turki, Yunani, Bulgaria, dan Mekodina Utara. Tak hanya itu, gempa ini mengakibatkan tsunami di beberapa lokasi. “Guncangan gempabumi ini dirasakan di negara Turki, Yunani, Bulgaria dan Makedonia Utara. Gempabumi ini menimbulkan tsunami lokal yang tercatat di stasiun-stasiun tide gauge di Yunani, yaitu stasiun Syros ±8 cm, Kos ±7 cm, Plomari ±5 cm dan Kos Marina ±4 cm, sedangkan stasiun tide gauge di Turki tidak ada data,” katanya. (CNBCI,KMPS, DTK)



Sumber

Baca Selengkapnya

biden

2016 Hillary Ungguli Survey, Buntutnya Tumbang – siarminang.net

2016 Hillary Ungguli Survey, Buntutnya Tumbang – Beritasumbar.com

Dalam sejumlah jajak pendapat di Amerika Serikat (AS) jelang presidential election (Pemilihan Presiden) sang petahana Donald Trump masih tertinggal 8 bahkan 9 poin dari saingan beratnya mantan vice president era Barrack Obama yakni Joe Biden asal Delaware.

Menurut pakar politik internasional Jerry Massie, kedua capres baik Donald Trump dari Partai Republik dan Joe Biden (Demokrat) terus menarik simpati publik lewat kampanye ada yang tertutup adapula kampanye digelar secara virtual.

“Saya prediksi nasib Biden akan berakhir tragis seperti Hillary Clinton 2016 silam. Kendati menang popular votes selisih 2 juta suara, Clinton mendapat 63.964.956, sementara Presiden AS terpilih Donald Trump hanya 62.139.188 suara toh, Hillary kalah juga di fase penentuan yakni electoral college,” kata peneliti politik Amerika ini.

Hasil akhir 2016 lalu kata Jerry, Trump unggul 306 electoral college dan Hillary hanya meraih 232. Dia berhasil unggul saat electoral votes di daerah battleground state atau swing state yakni Michigan (16), Wisconsin (10) dan Pennyslavania (20).

Barangkali kata dia, banyak yang belum tahu beberapa tahun silam mantan Menlu AS ini 6 kali dibantu Trump. Bahkan Trump pernah berafiliasi dengan Demokrat dan hampir saja di calonkan sebagai presiden beberapa tahun silam.

“Medsos salah satu kunci kemenangan Trump ada 2016 lalu, pasalnya followers-nya cukup besar yakni 60 juta pengikut,” tutur dia.

Selain itu ucapnya faktor internal Trump, hal yang membuat banyak pihak tidak siap dengan kemenangan si pria oranye adalah poling-poling prediktif yang kebanyakan menunjuk Hillary akan menang pilpres

“Poling sebelum pemungutan suara dari Economist/YouGov, Bloomberg, IBD, ABC, Fox News, Monmouth, CBS News, dan Reuters mememenangkan Hillary menang dengan selisih 1 sampai 6 persen. Sedangkan poling yang memenangkan raja real estate ini hanya LA Times yang menggungulkan Trump pada angka 5 persen,” kata Direktur Political and Public Policy (P3S) Ini.

Oleh karena itu, dia mengingatkan saat Situsweb milik jurnalis data kawakan Nate Silver, Fivethirtyeight.com, mencatatkan probabilitas Hillary Clinton untuk menang ada pada angka 71,4 persen. Probabilitas Trump? Hanya 28,6 persen saja. Untuk popular vote, Hillary diperkirakan akan menang dengan selisih 3,6 persen dari Trump. Pada electoral vote, diperkirakan Hillay bakal menang dengan angka 302 lawan 235.

Sama persis saat ini ujar Jerry, yang mana semua lembaga survey menjagokan Biden. Hanya Rasmussen yang menempatkan Trump unggul 1 poin. Sedangkan YouGove +9, USC +7, Reuters +9, Hill +6, News Fox +5, JTN/RMG +5, CNBC +6, Mounmouth +7 semua bagi kemenangan Biden.

Jerry pun menyebut, salah satu pakar David Schultz, Profesor Departemen Ilmu Politik dan Departemen Studi Hukum di Universitas Hamline mengatakan, hasil survei secara nasional sejatinya tidak terlalu berpengaruh pada hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat AS. Lantaran yang penting 270 electoral College yang bisa memenangkan kandidat capres.



Sumber

Baca Selengkapnya

Dunia

Berdalih Karantina COVID-19, Migran Afrika Dibiarkan ‘Membusuk’ di Pusat Penahanan Arab Saudi ~ Beritasumbar

Berdalih Karantina COVID-19, Migran Afrika Dibiarkan 'Membusuk' di Pusat Penahanan Arab Saudi ~ Beritasumbar


Salah satu negara terkaya di dunia, Arab Saudi, menahan ratusan bahkan ribuan Migran Afrika dalam kondisi mengenaskan. Penahanan ini berdalih sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran COVID-19. Mirisnya, kondisinya mirip kamp-kamp budak Libya, menurut hasil investigasi The Sunday Telegraph.

Dari foto ponsel yang dikirim ke surat kabar itu, terlihat belasan pria kurus yang tak berdaya akibat panasnya Arab berbaring dalam jejeran yang rapat di kamar kecil dengan jendela berjeruji. Salah satu foto menunjukkan sesuatu yang tampak seperti mayat terbungkus selimut ungu dan putih di tengah-tengah mereka. Mereka mengatakan itu adalah jasad seorang Migran yang meninggal karena sengatan panas, sedangkan lainnya tak mendapat cukup makanan dan air untuk bertahan hidup.

Foto lainnya yang terlalu sadis untuk dipublikasikan menunjukkan seorang pemuda Afrika tergantung di jeruji jendela. Remaja itu bunuh diri karena putus asa, menurut teman-temannya. Banyak dari mereka telah ditahan sejak April.

Sambil menunjukkan bekas luka di punggung, mereka mengklaim telah dipukuli penjaga dan menerima pelecehan rasial.

“Di dalam sini sangat mengerikan. Kami diperlakukan seperti binatang dan dipukuli setiap hari. Jika kira-kira tak ada jalan keluar, saya ingin bunuh diri. Yang lainnya sudah. Satu-satunya kejahatan saya adalah meninggalkan negara saya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Tapi mereka memukuli kami dengan cambuk dan kabel listrik, seolah-olah kami pembunuh,” ungkap Abebe (nama samaran), seorang Ethiopia yang telah ditahan selama lebih dari 4 bulan.

Foto dan kesaksian ini memancing amarah kalangan aktivis HAM, apalagi protes global Black Lives Matter marak belakangan ini.

The Sunday Telegraph

“Foto-foto dari pusat penahanan di Arab Saudi menunjukkan otoritas di sana menempatkan para Migran Tanduk Afrika dalam kondisi jorok, penuh sesak, dan tak manusiawi, tanpa memperhatikan keselamatan atau martabat mereka,” kata Adam Coogle, wakil direktur Human Rights Watch di Timur Tengah.

Menurut Coogle, pusat-pusat penahanan kumuh di selatan Arab Saudi itu jauh dari standar internasional.

“Untuk negara sekaya Arab Saudi, tak ada alasan untuk menahan Migran dalam kondisi menyedihkan seperti itu,” tambahnya.

Arab Saudi yang kaya minyak telah lama mengeksploitasi buruh Migran dari Afrika dan Asia. Pada Juni 2019, 20 persen dari populasi di negara Teluk itu adalah pekerja asing yang berjumlah 6,6 juta orang. Sebagian besar berupah rendah dan memeras fisik.

Para Migran kebanyakan bekerja di sektor konstruksi dan pekerjaan rumah tangga yang tidak suka dilakukan sendiri oleh warga negara Saudi. Kebanyakan berasal dari Asia Selatan, tetapi tak sedikit yang datang dari Tanduk Afrika.

Selama dekade terakhir, puluhan ribu anak muda Ethiopia hijrah ke sana dan kerap dibantu agen perekrutan dan perdagangan manusia untuk keluar dari kemiskinan di kampung halaman. Sayangnya, tak hanya terperangkap akibat pandemi, mereka juga terdampak ‘Saudisasi’ tenaga kerja, sebuah kebijakan yang diperkenalkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Kesaksian yang dikumpulkan The Sunday Telegraph langsung dari para Migran soal kondisi yang mereka hadapi saat ini sangat mengerikan.

“Banyak tahanan yang bunuh diri atau menderita penyakit mental akibat menjalani hidup seperti ini selama 5 bulan. Para penjaga mengejek kami, mereka mengatakan ‘pemerintah Anda tak peduli, jadi apa yang harus kami lakukan pada Anda?’,” kata salah satu tahanan.

Yang lainnya menceritakan seorang anak lelaki yang masih berumur sekitar 16 tahun gantung diri bulan lalu. Penjaga membuang mayatnya seolah-olah itu sampah.

Ketika pandemi melanda di bulan Maret, pemerintah Arab Saudi khawatir para Migran akan menjadi penyebar virus. Hampir 3 ribu warga Ethiopia dideportasi oleh dinas keamanan Arab Saudi dalam 10 hari pertama di bulan April. Menurut sebuah memo PBB yang bocor, 200 ribu lainnya akan menyusul. Deportasi itu lantas dimoratorium setelah ada tekanan internasional terhadap Riyadh.

The Sunday Telegraph

Dari temuan The Sunday Telegraph, mereka yang tak jadi dideportasi dibiarkan membusuk di pusat penahanan yang penuh penyakit.

“COVID-19? Siapa peduli? Ada banyak penyakit di sini. Semua orang sakit di sini,” kata seorang tahanan yang terkurung sejak Maret.

Sebuah cuplikan video yang diselundupkan ke layar menunjukkan sejumlah ruangan tertutup kotoran dari toilet jongkok yang meluap.

“Toiletnya mampet. Kami mencoba melancarkannya, tetapi tak bisa. Jadi kami hidup dalam kotoran ini, kami tidur di dalamnya juga,” seru seorang pria Ethiopia.

Sunday Telegraph mampu menemukan geolokasi 2 pusat penahanan ini. Salah satunya di Al Shumaisi, dekat kota suci Makkah, sedangkan satunya lagi di Jazan, kota pelabuhan dekat Yaman. Diyakini ada penahanan lain yang menampung ribuan orang Ethiopia.

Para Migran di tiap pusat penahanan mengaku setiap ruangan dihuni ratusan orang. Beberapa Migran mengatakan telah ditangkap dari rumah mereka di berbagai kota Arab Saudi. Sementara itu, lainnya adalah pengungsi Afrika dari Yaman yang dilanda perang.

“Arab Saudi, negara kaya, telah lama menahan Migran tak berdokumen, termasuk dari Tanduk Afrika, dalam kondisi yang begitu padat, tak sehat, dan mengerikan. Tak heran para Migran trauma atau sakit. Wajar jika mempertanyakan apakah otoritas Arab Saudi sengaja mengondisikan penahanan seperti ini untuk menghukum para Migran,” pungkas Coogle.

The Sunday Telegraph telah menghubungi Kedutaan Arab Saudi di London, tetapi mereka belum berkomentar. Perwakilan dari pemerintah Ethiopia di Timur Tengah pun tak berhasil dihubungi. (dikutip dari: akurat.co / Citra Puspitaningrum)



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer