Connect with us

News

MUI Sumbar Dukung Seruan Tak Gunakan Salam Semua Agama, Ini Kata Buya Gusrizal Gazahar

MUI Sumbar Dukung Seruan Tak Gunakan Salam Semua Agama, Ini Kata Buya Gusrizal Gazahar


Minggu, 10 November 2019 – 21:54:36 WIB – 12561

Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa (Foto: dok. Istimewa)

PADANG — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Gusrizal mendukung seruan dan himbauan MUI Jatim agar umat Islam terutama para pejabat tidak menggunakan salam semua agama.

Ketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Gusrizal Dt. Palimo Basa mengingatkan agar umat lain tidak menggunakan salam umat Islam sebagai pembuka pembicaraan mereka.

“Bagi kaum muslimin, salam bukanlah semata pembuka pidato atau pembukaan pembicaraan,” ujarnya kepada MinangkabauNews, Minggu, (10/11/2019).

Menurutnya, salam merupakan doa keselamatan dan rahmat untuk orang yang diberikan salam. “Doa atau permohonan, haram hukumnya dimintakan kepada selain Allah swt. Itulah yang ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Iyyaka nabudu wa iyyaka nastain (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan),” terangnya.

Lanjutnya, memintakan rahmat dan keselamatan tentu berlandaskan pula kepada keyakinan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak mendapatkan rahmat dan keselamatan tersebut.

“Jadi dalam ucapan salam, ada aqidah dan ada ibadah. Keduanya tidaklah boleh ditundukkan pada inklusifitas toleransi antar umat beragama. Lakum diinukum wa liiyya diin (untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku) merupakan ketentuan muthlak yang harus dipakai dalam masalah ini,” tuturnya.

Himbauan ini memang patut sekali ditujukan lebih khusus kepada para pejabat.

Menduduki jabatan tinggi, belum tentu menjamin seseorang faham secara mendalam bagaimana cara beragama.

Karena itu, semestinya sikap keberagamaan tidaklah ditauladani dari seseorang hanya dengan melihat jabatan yang dia sandang.

Namun apa hendak dikata, kondisi umat hari ini begitu mudah terpengaruh oleh cara-cara yang dilakukan oleh mereka yang berkuasa.

Ditambah lagi dengan sikap menjilat dan asal bapak senang, cenderung membuat “bawahan” ikut-ikutan dengan cara-cara “atasan” walaupun keliru.

“Dengan alasan di atas, patut sekali para pejabat menyadari bahwa cara-cara yang mereka lakukan bisa membawa kepada kesesatan dalam bentuk pluralisme agama.

Hal itu bisa masuk dalam kategori “pemimpin jahil yang sesat dan menyesatkan”. Semoga himbauan “agar tidak menggunakan salam pembuka seluruh agama” tersebut dipatuhi,” imbuhnya.

Buya Gusrizal Gazahar mengingatkan para pemimpin negeri ini, janganlah menjadi pemula dalam kesalahan. Dengarkanlah peringatan Nabi saw, “siapa saja yang menjadi pembuka jalan keburukan, akan memikul dosa perbuataannya dan perbuatan orang-orang yang mengikutinya”. Allahu yahdii man yasyaa ila shiraathim mustaqiim. (RI)

Editor/Sumber: Rahmat Ilahi (Rijoe)

Tag: metro,padang,reliji,sumatra-barat

Edarkan Sabu 57,5 gram, DS Warga Bengkalis Dikerangkeng Jeruji Besi

Edarkan Sabu 57,5 gram, DS Warga Bengkalis Dikerangkeng Jeruji Besi

BENGKALIS — Diduga edarkan sabu, tim opsnal Reskrim Polsek Mandau menangkap pria berinisial DS pengedar sabu 57.9 gram…

TdS 2019: Jesse Ewart Pertahankan Yellow Jersey di Etape 2 Pasaman-Bukittinggi

TdS 2019: Jesse Ewart Pertahankan Yellow Jersey di Etape 2 Pasaman-Bukittinggi

BUKITTINGGI — Kegiatan tahunan Tour de Singkarak (TdS) kini memasuki yang ke 11 di tahun 2019, Kota Bukittinggi pada…

Pelaku UMKM Kota Padang Panjang Dapat Pelatihan Kewirausahaan

Pelaku UMKM Kota Padang Panjang Dapat Pelatihan Kewirausahaan

PADANG PANJANG –Sebanyak 50 pelaku UMKM Padang Panjang mendapat pelatihan kewirausahaan di Aula Hotel Pangeran Padang…

Kepala BNPB Kunjungi Monumen Merpati Perdamaian yang Terancam Abrasi

Kepala BNPB Kunjungi Monumen Merpati Perdamaian yang Terancam Abrasi

PADANG — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen (TNI) Doni Monardo mengunjungi Monumen Merpati…

Tingkatkan Sarana dan Prasarana Dengan Baik, SMKN 1 Sutera Pessel Terus Berbenah

Tingkatkan Sarana dan Prasarana Dengan Baik, SMKN 1 Sutera Pessel Terus Berbenah

PESISIR SELATAN — Sekolah Menengah kejuruan (SMK) Negeri 1 Sutera Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) terus berbenah,…

(function(d, s, id) {
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/id_ID/sdk.js#xfbml=1&version=v2.8&appId=1208534375853801”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));



Sumber

Berita

Aneh, BIN Kok Pakai Jubir! – Fadli Zon

Informasi Aksi Rusuh UU Ciptaker Dibuka Ke Publik, Fadli Zon: Aneh, BIN Kok Pakai Jubir!


Informasi terbaru terkait aksi rusuh tolak omnibus law UU Cipta Kerja yang diungkap Jurubicara Badan Intelejen Negara (BIN), Wawan Purwanto, menuai kontroversi.

Sebabnya, Wawan mengungkap ke publik terkait capaian kerja BIN yang diakuinya telah mengantongi nama aktor penyandang dana aksi rusuh tersebut.

Persoalan ini kemudian dikritisi pula oleh Anggota DPR Fadli Zon, yang merasa aneh dengan struktural BIN yang memiliki Jurubicara.

“Memang aneh ini BIN kok pakai jubir segala,” ujar Fadli dalam akun Twitternya, @fadlizon, Sabtu (10/10).

Lebih lanjut, Politisi Partai Gerindra ini coba membandingkan BIN dengan lembaga intelejen di negara lain. Yang mana tidak memiliki Jurubicara.

Bahkan menurutnya, segala informasi yang didapat lembaga intelejen negara lain tidak biaa diumbar ke publik. Tetapi hanya disampaikan kepada Kepala Negara.

“Setahu saya dinas intelijen asing seperti CIA Amerika Serikat, MI6 Inggris atau SVR n FSB Rusia, tak ada juru bicara,” ungkap Fadli Zon.

“Apalagi sampai mengumumkan bahan info intelijen ke publik. Lapor saja ke Presiden apa infonya,” pungkasnya

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Ini Wujud Panggilan Sejarah – Fadli Zon

Mahasiswa Turun Aksi, Fadli Zon: Ini Wujud Panggilan Sejarah


Gelombang protes menolak UU Cipta Kerja yang dilakukan elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa hingga buruh mendapatkan perhatian dari Politikus Gerindra, Fadli Zon.

Ketua BKSAP DPR RI ini mengamati jalannya aksi protes di Jakarta pada Kamis, 8 Oktober 2020 kemarin. Ratusan ribu massa menggelar aksi dari pagi hingga lanjut malam hari. Mereka menuntut UU Cipta Kerja dicabut kembali.

Fadli Zon pun menilai, aksi berjamaah di berbagai daerah ini merupakan wujud panggilan sejarah.

“Mahasiswa turun ke jalan serentak di seluruh Indonesia wujud panggilan sejarah. Menurut sy telah lahir sebuah Angkatan baru, “Gerakan Mahasiswa 2020”,” kata Fadli Zon dalam keterangannya, Jumat (9/10).

Sebagai mantan Aktivis 1998, Fadli Zon menilai aksi gerakan mahasiswa hari ini pastinya menghadapi sejumlah risiko, mulai dari sikap respresif, resesi dan kondisi pandemi.

“Di tengah represi, resesi dan pandemi, gerakan mahasiswa ini menghadapi berbagai risiko perjuangan. Mereka akan menghela sejarah,” tukas mantan Wakil Ketua DPR RI ini.

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Fadli Zon Sarankan Diterbitkan Perppu Batalkan UU Cipta kerja – Fadli Zon

fadli zon


Penolakan terhadap pengesahan Undang Undang Cipta Kerja oleh DPR pada 5 Oktober 2020, terus mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Aksi demonstrasi pun terjadi di banyak daerah, termasuk Ibu Kota.

Puncaknya pada Kamis, 8 Oktober 2020, seperti di Jakarta, aksi berakhir dengan bentrokan. Tidak hanya itu, beberapa fasilitas publik juga rusak hingga terbakar.

Melihat kondisi itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, menyarankan Presiden Joko Widodo mendengar aspirasi penolakan, dan segera mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau perppu.

“Pak @jokowi, RUU ini atas inisiatif pemerintah. Walaupun telah disahkan @DPR_RI dengan jurus kilat dan tergesa-gesa, ada baiknya dipertimbangkan aspirasi masyarakat banyak. Saran saya segera keluarkan Perppu membatalkan #OmnibusLaw,” tulis Fadli Zon dia akun Twitter @fadlizon yang dikutip VIVA, Jumat 9 Oktober 2020.

Anggota Komisi I DPR RI ini juga prihatin dengan banyaknya benturan antara polisi dan pendemo saat aksi penolakan UU Cipta Kerja. Bahkan, ia menganggap tindakan polisi sangat represif terhadap para pendemo.

“Pak Kapolri, banyak polisi brutal dalam penanganan demonstrasi di berbagai tempat. Lihat saja video yang diambil warga. Sangat tidak profesional dan menganggap demonstran sebagai musuh. Seharusnya polisi di lapangan tak boleh bawa senjata @DivHumas_polri,” tulisnya.

Selain itu, Fadli mengapresiasi para kepala daerah yang melakukan dialog dengan para buruh, mahasiswa, dan elemen masyarakat di daerahnya yang menolak UU Cipta Kerja. Dan akan menyampaikan aspirasi agar Presiden Jokowi mengeluarkan perppu.

“Kalau banyak Gubernur seperti ini, saya yakin presiden @jokowi akan mempertimbangkan keluarkan Perppu membatalkan #OmnibusLaw,” kicaunya.

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer