Connect with us

Kolom & Opini

TAN GINDO; APA YANG ENGKAU CARI !? – siarminang.net

TAN GINDO; APA YANG ENGKAU CARI !? – Beritasumbar.com

“Mereka-dia yang berjasa dalam hidupmu,
semua yang tersedia dalam jagat raya
Sekecil apapun itu, sifat dan ragam bentuknya
Semua adalah ayat-ayat Tuhan yang berjalan
Berbagai peristiwa adalah bentuk kasih sayang-Nya
Maka sadarilah, Dia sedang menulis sesuatu dalam qalbumu
dengarkan, renungkan dan laksanakanlah semua hikmah
Agar jalan hidupmu bisa selamat”.

Seperti biasa, benturan-benturan dalam kehidupan kembali dilalui, “ternyata tambah umur, tambah tanggung jawab, tambah besar hambatan dan rintangan yang akan dihadapi” ujar Tan Gindo mebatin. Begitu juga dalam proses pendampingan di Mempawah – Kalimantan Barat yang sedang dilalui. Mulai dari persoalan internal bahkan eksternal silih berganti muncul pulang dan pergi bak angin lalu. Kadang hanya sekedar angin sepoi-sepoi, kadang seperti badai bak tak bermusim. “Yah, inilah fakta kehidupan, sehingga ada yang mengatakan hidup adalah masalah, masalah adalah kehidupan; kita harus bisa akrab dengannya sehingga tak perlu lari dari masalah” ungkap Tan Gindo setiap ada kesempatan bicara dalam berbagai pertemuan.

Tak jarang kata “galau” juga kadang terjadi, karena berbagai masalah beda bentuk beda kalibernya, yang ringan-ringan dan biasa dihadapi mungkin hanya dengan bisa tersenyum saja menyelesaikannya, jika sudah berat baru perlu perenungan dan pemikiran. Kalau sudah berat sekali baru butuh tempat untuk kembali, salah satunya terkait keummatan yang jadi impian dedari kecil sejak dikader di Pelajar Islam Indonesia (PII) untuk sebuah perjuangan hidup. Kala itu baru pertanyaan klasik sering kembali dipertanyakan “Tan Gindo, apa yang hendak engkai cari, bagaimana dan apa yang harus engkau lakukan..”begitu sebuah pertanyaan renungan sering dilakukan.

Sebuah pandangan hidup mulai kembali dikupas kemudian akan menjadi obat penawar rindu dan sakitnya sebuah pemikiran; serba kebetulan ada saja momentum untuk kembali berfikir lurus, bak sebuah taufik dan hiadayah biasanya kembali hadir dalam ruang-ruang bathin Tan Gindo; “Sungguh besar karunia Allah yang selalu beri petunjuknya pada hambanya yang lemah..” ujar Tan Gindo berdoa,bersyukur.

Baca juga “Menantang Matahari” bag. 4-b; Sekolah Merdeka-ku (2)

Suatu hari, tim pendamping Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah mengagendakan sebuah kunjungan kesebuah Masjid Sukse di Kota Pontianak bagi para pengurus masjid (DKM) di Sungai Kunyit; sebuah Masjid yang sudah sangat terkenal, “jangankan di Indonesia diluar negeripun sudah punya nama; muslim Australia, Malaysia, Korea, Amarika, Timur Tengah dan lain sebagainya” ujar seorang narasumber. Kegiatan ini merupakan sebuah kegiatan inspirasi dan inisiasi Tim RBK CFCiD Counsulting-PMLI Pelindo secara khusus; boleh dikata tidak masuk dalam Kerangka Kerja yang telah tersedia. Namun tim RBK menganggap kegiatan ini sangat penting untuk di adakan, “ini adalah agenda massa depan untuk generasi Islam dimassa akan datang” ujar salah seorang pendamping Kunyit Laut bernama Rama.

“Ustadz Rama” begitu Tan Gindo sering memanggilanya; bukan tak ada maksud Tan Gindo memanggil teman sejawat pendampingnya dengan panggilan “Ustadz”, atau mungkin sebagian orang mengangap itu panggilan ejekan. Namun tidak begitu bagi Tan Gindo, panggilan tersebut merupakan panggilang terhormat bagi seorang saudara se-iman dalam Islam. Artinya adalah “seorang guru” bagi seseorang murid pengajian atau seorang yang di muliyakan dalam posisi ilmu pengetahuan agama, “untuk persoalan DKM bagi saya ustadz Rama adalah orang yang tepat jadi pioneer” ujar Tan Gindo diplomatis dalam sebuah pertemuan.

Ustadz Rama, berperawakan sedang, berbadan lumayan berisi dibandingkan Tan Gindo, berkulit sawo matang, berambut lujur dan tebal sehingga dari jauh terliat sedikit ikal, kalau menatap matanya selalu bernuansa optimis. Beliau adalah pendamping yang rajin ke Masjid dan membangun silahturahimi dengan para tokoh penting di Sungai Kunyit Laut; boleh dikata jam terbangnya menemui para tokoh jauh melampaui Tan Gindo. Sehingga setiap ada kelakar dalam group WhatsApp pendamping sering jadi bahan kelakar “pendamping rama selalu tak kelihatan, sering pergi keluar dan pulang lebih lama, sepertinya lagi keliling kampong.ha.ha.ha” ujar para pendamping.

Ungkapan kelakar itu sering di keluarkan oleh Kang Sukma; pendamping Sungai Limau sembari tidak lupa mengirimkan sebuah rekaman photo ketika stadz Rama pulang pergi dari asramanya. Kebetulan Kang Sukma memang memilih tinggal satu rumah dengan stadz Rama karena jarak antar Sungai Limau dan Kunyit Laut cukup sangat dekat. Apalagi asaramanya cukup mengasyikkan bagi Kang Sukma karena disamping cukup lengkapnya fasilitas, juga berada dilantai 2 dan dengang cukup ruang terbuka diatasnya, bahkan depannya ada sebuah “parit” yang cukup dalam dan selalu digenangi air serta banyak ikannya.

Saking banyaknya ada beberapa jenih ikan seperti gabus, nila dan sepat muncul sesekali ke permukaan bak mengejek Kang Sukma setiap pagi dan sore “weeak, coba pancing saya kalau bisa..” ungkap Kang Sukma suatu ketika. Anehnya memang demikian, dengan sedikit memodalkannya dengan sebuah “joran” yang bagus dan umpan yang bervariatif. Sungguh, memang sulit ikan-ikan tersebut di dapat, bahkan seperti tak berminat makan umpan, hingga akhirnya dengan penasaran untuk mendapatkannya Kang Sukma terpaksa membeli pancing yang ada “jalanya”. Sembari menggerutu kang Sukma berkata “modar, rasain pakai pancing jala, biar tak tangkapi satu persatu..ha.ha.ha,” ujar kang Sukma merasa puas.

“Tak da kayu rotanpun jadi, tak ada kayu jenjangpun di keeping (kapiang)”, begitulah daya sebuah akal, apalagi bagi seorang agen pemberdayaan seperti Kang Sukma. Mau masalah besar, sedang ataupun kecil semua pasti ada jalan dan cara untuk menyelesaikannya. Kang Sukma; berasal dari Banten, orang Sunda kata orang, makanya sering dipanggil “si Akang”, kadang Tan Gindo sering panggil juga “Ustadz” sebagai kata kelakar lain, karena juga merasa harus banyak ambil ilmu dari beliau.

Pengalaman beliau sudah sampai ke Papua sana, Propinsi paling ujung di Indonesia yang masih fonomenal kondisinya hingga hari ini, sementara Tan Gindo masih belum pernah sama sekali. “ya, merasa jauhlah ketimbang pengalaman Kang Sukam”; ujar Tan Gindo dalam sebuah kesempatan diskusi. Bertubuh tegap, kulit sao matang dan juga gagah sebagaimana lelaki Sunda pada umumnya. Karakterinya cukup santai dan tenang jika berhadapan dengan siapapun.

Cukup pantas dan sebanding bagi Kang Sukma berhadapan dengan warga Sungai Limau yang terkenal aktiv, vokal dan kritis. Seandainya Tan Gindo jadi pendamping disana “mungkin warga Sungai Limau akan selalu perang tanding dengan saya..ha.ha.ha” ujar Tan Gindo dalam sebuah diskusi kritis terkait pendampingan masyarakat. Tan Gindo yakin si akang Sukma bisa hadapi banyak persoalan yang belakangan sering terjadi dan memuncak dalam proses pendampingannya. “ini hanya masalah waktu dan kesempatan saja” uangkap Tan Gindo sedikit mendukung dan menghibur.

Gagasan studi banding untuk pengurus DKM sebenarnya sudah di mulai oleh sadaura Andi pendamping desa Bundung Laut. Beliau seorang anak muda asli Pontianak yang sengaja di rekrut RBK CFCiD dan PMLI Pelindo. Meskipun berusia paling muda diantara kami, pengalaman beliaupun sudah mempuni terutama dalam pendampingan bidang pertanian, beliau memang tamatan Pertanian disebuah Univertsitas ternama di Pontianak dan beberapa kali ikut riset dan pendampingan bidang pertanian. Disamping sebagai Fasilitator Desa beliau sudah bergerak dalam Hidroponik dan bisnis keluarga yang dilaksanakannya. Sungguh anak muda yang produktif dan energik.

Anaknya ramah, berbadan sedang dan bugar karena mungkin sering berolah raga dan menjaga kesehatan dengan baik. Beliau juga taat beribadah dan ternyata juga seorang guru mengaji. Teman-teman gerakan sebut sebagai seorang murabi atau “guru Liqa” dalam sebuah organisasi ke-islaman di Pontianak. Jelas beliau adalah seorang anak muda yang punya prinsip yang kuat dan percaya diri, mudah akrab dan mudah menyesuaikan diri dengan siapa saja.

Tan Gindo sering memergoki Andi sedang memimbing sebuah liqa berbasis online dikamarnya selepas sholat magrib dan isya sewaktu pernah serumah. Hal ini mungkin dikarena kesibukan beliau dilapangan dan juga semenjak issue Covid-19 memang kegiatan berbasis online menjadi andalan banyak aktivis untuk melanjutkan kegiatan apapaun bersama rekan-sahabat dimana saja. “Mantraaps…ternyata guru liqa juga ni yeee…” ujar Tan Gindo celetuk dalam suatu kesempatan. Akhinya sohib Andi sering juga disebut Ustadz oleh Tan Gindo, tampa basa basi, karena jelas belajar dengan yang lebih kecil bukan masalah, apalagi dia banyak ilmu dan wawasannya. Terbukti sudah zaman sekarang, apa yang tidak bisa dilakukan, sungguh banyak cara untuk berbuat jika kita inginkan.

Demkianlah saudara Andi, ternyata sudah duluan membawa DKM di desanya untuk pergi ke Masjid Munzalan secara diam-diam sehingga dalam kegiatan yang dirancang bersama DKM Bundung Laut sehingga memang tak ikut lagi dalam kegiatan bersama. Melalui beliau gagasan ini kemudian muncul dan di dorong oleh pihak RBK dan kemudian terlaksanalah agenda khusus bagi DKM se-Sungai Kunyit tersebut. “Anak muda yang ternyata punya tekat yang kuat untuk perjuangan agama” ujar Tan Gindo membatin. Soal Agama mungkin jelas Tan Gindo belum tandingan Andi rekan pendampingnya muda itu.

Sebenarnya ada satu lagi rekan pendamping yang sempat tidak ikut dalam kegiatan tersebut, kebetulan seorang perempuan tangguh namanya Aulia; gadis berjiblab, berjiwa aktivis, sedikit hitam manis dan menyenangkan juga. Beliau berdarah Surabaya dan akhir tahun Desember 2020 baru saja menikah. “wajarlah, si Mbak semangat untuk bisa sering cuti kerja, kan masih dalam asyik bulan muda madu, nantikan hapenya matikan saja kalau sudah dirumah ya mbak, jangan lupa hapus pesan chatnya di WA, ntar bisa perang dunia dirumah…ha.ha.ha.” ungkap Tan Gindo berkelar dalam suatu pertemuan.

Maklumlah Tan Gindo sering merasa bercanda tak karuan jika di group chatting bersama para dampingan di lapangan, takut nanti kena tegur oleh suaminya yang baru saja berusia sekitar dua bulanan itu. “saya ini playboy cap kambing, dan suka gangguin cewek-cewek cantik dan idaman…ha.ha.ha” ungkap Tan Gindo ketawa terpingkal-pingkal ketika dalam sebuah diskusi canda. Perangai jorok yang satu ini, diakui memang pernah jadi sorotan teman-teman aktivis semenjak di kampus dan PII semassa kuliah dulu. Tak salah akhirnya ada yang mengatakan Tan Gindo “playboy cap kambing” ujar teman aktivis berkelakar.

Dalam keyakinan Tan Gindo sebagai “arek-arek Suroboyo” jelas Aulia bukan perempuan dan aktivis sembarangan juga, kebetulan Tan Gindo pernah dulu selama lebih kurang dua tahun berdomisili di Darmo Surabaya. Ketika itu Tan Gindo sebenarnya sedang menenami sang istri tercinta berkuliah S.2 di Universitas Negeri Surabaya sekaligus berkesempatan dapat mengabdi di salah satu lembaga zakat nasional ternama; YDSF Surabaya. Sungguh menjadi pengalaman luar biasa bersentuhan dengan “arek-arek Suroboyo” kota perjuangan, kota metropolitan, kota penuh semangat yang sering menjadi rujukan nasional. Anak-anak mudanya terkenal kreatif dan dinamis yang terkenal dengan “guyup-nya”, suka berkumpul dan menyatu dalam berbagai komunitas hobby dan profesi.

Dalam rantau yang singkat tersebut Tan Gindo pernah membayangkan betapa para tokoh-tokoh nasioanal yang kemudian bisa lahir, hadir dan berkembang sampai ketingkat Nasional atau pusat Negara banyak berasal dari sana. Setidaknya pernah parkir dan singgah di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Sebagai salah satu pengagum Tan Malaka saja misalnya, Tan Gindo cukup bisa menghayati bagaimana Tan Malaka dulu bisa berdealektika dan berbaur dengan masyarakat Jawa Timur hingga akhirnya beliau kabarnya harus berakhir tragis di Ledok, Selopanggung, Kec. Semen, Kediri, Jawa Timur dengan makam tampa nama.

Begitulah sebuah pengalaman hidup banyak orang, teman dan siapapun yang Tan Gindo temui. Berbagai gaya, corak dan ragam pemikiran dalam menjalani kehidupan yang cukup variatif Tan Gindo rasakan. Semuanya menyatu berkulindan membentuk pandangan hidup berbagai model dan pengalaman orang, apalagi bertemu dengan mereka yang memiliki ragam potensi dan keahlian. Apapun itu, akhirnya menjadi referensi dan pengalaman berharga dalam menjalankan kehidupan, dalam sebuah renungan Tan Gindo sering bersyukur “terimakasih ya Allah, saya dipertemukan dengan orang-orang hebat dan berpengalaman, semua adalah karunia-Mu” ungkap Tan Gindo membatin.

Kemudian, bagaimana dengan Tan Gindo sendiri..!, dengan latar belakang yang juga panjang, lika liku serta dinamika hidup yang bergam telah dilalui; apalagi semenjak menjadi kader Pelajara Islam Indonesia (PII) semenjek kecil silam tentu menjadi perhatian menarik banyak orang dan teman. Ada yang selalu mendukung Tan Gindo ada juga yang selalu menyesali sikap Tan Gindo yang selalu suka “menantang matahari”. Perilaku yang suka menantang arus, keras dan seperti tidak mau mengalah apalagi hal-hal yang dianggap prinsip dalam hidup Tan Gindo.

Pernah suatu ketika, Tan Gindo bersua dengan sebuah teman lama dan sekaligus dianggap tim kerjanya disebuah media berita ternama di Sumatera Barat. Kebetulan Tan Gindo juga di minta oleh teman lamanya ini mensupport kegiatannya di media tersebut karena di anggap punya kemampuan dalam hal media,”ya, semacam wartawan-waratawanan lah “ ucap Tan Gindo pada salah seorang teman. Tak tanggung-tanggung Tan Gindo juga dianggkat menjadi teman redaktur, melalui sebuah SK khusus dan punya kartu keanggotan khusus layaknya waratawan media pada umumnya. Meski terkesan hanya sekedar numpang saja bagi sebagian teman lainnya.

Namanya Zaldi, meski perperawakan agak pendek sedikit ketimbang Tan Gindo, namun bertubuh besar besar, tegap dan cukup gagah namun agak sedikit berkulit gelap. Teman-teman di Pramuka dulu pernah mengejek beliau dulu “Zaldi berkulit sedikit hangus..ha.ha.ha” ujar teman ketawa. Beliau termasuk sohib yang unik juga bagi Tan Gindo, tak bakalan ada teman yang menyangka kalau Zaldi bisa memiliki media ternama juga di Sumatera Barat. Karena beliau dulu tak terlihat punya bakat menulis, beliau juga termasuk salah satu teman gaul-nya si-Cudin; sahabat yang unik. Jiwa kenakalannya mungkin sebelas-dua belas saja.

Suatu kesempatan, Tan Gindo yang baru saja pulang dari rantau di DKI Jakarta karena terkepit issue Covid-19 sekitar pertengahan tahun 2020 lalu. Tan Gindo dan Zaldi bertemu dalam sebuah warung coffee di Kota Payakumbuh. Selaksa, Tan Gindo bercerita bagaimana kartu wartawan yang telah diberikan Zaldi rupanya sangat berjasa menyelematkan perjalannya, dapat menjadi senjata ampuh untuk pulang kampung ke Kota Payakumbuh; kampung kelahiran dan dimana Tan Gindo dibesarkan bersama sohib-sohib kecilnya yang lain. “Bro, gegara kartu wartawan inilah saya bisa berselancar dalam perjalanan pulang, kalau bukan karena kartu ini, mungkin saya kesulitan dalam berbagai urusan dan pemeriksaan” ujang Tan Gindo bersemangat.

Akhirnya Zaldi dan Tan Gindo yang sudah lama tidak bersua, namun sering kontak-kontakan karena urusan media berbincang perkara issue Covid-19 yang sudah tidak masuk akal dalam perjalanan bangsa Indonesia. Diskusinya sengit dan “bakatuntang” alias mengkritisi banyak sebab akibat terkait masalah covid-19. Disana terlihat bagaimana gaya dan wawasan Zaldi yang saat itu jauh daripada dahulu ketika bertemu masih kecil. Zaldi kini sudah seperti wartawan hebat pada umumnya, mampu mengkritisi banyak hal dan percaya diri dalam menyampaikan berbagai argementasinya.

Entah, kenapa pembicaraan mereka akhirnya mengerucut dalam hal pribadi, sebagai seorang sahabat tentu hal ini sudah lumrah. Dimana saling mengingatkan dan berwasiat dengan sabar, Zaldi berceletuk “kalau sudah seperti sekarang, mau apa dan kemana lagi kamu Tan Gindo, apakah masih terus melalang buana bak elang terbang, sementara anak dan istrimu selalu ditinggal” ujar Zaldi menesehati. Tan Gindo kemudian menjawab santai “Zaldi, seandainya saya bisa memilih saya tidak akan meninggalkan mereka, dan kapan perlu jika terpaksa saya pergi akan dibawa kemana saya pergi..hix” ujar Tan Gindo sedikit curhat, sedih. “Siapa orang yang mau melalui keluarga, istri dan anak-anaknya, binatang saja tidak mau meninggalkan sarang dan anaknya apalagi kita manusia” ujar Tan Gindo menegaskan.

“Kalau begitu, sudahilah kerja lapukmu, umur sudah kepala empat, ekormu sudah mau 7 apa lagi yang hedak kamu cari” ujar Zaldi sedikit kesal. Kemudian, karena mulai merasa terdesak, Tan Gindo akhirnya mencoba mengalihkan perhatian, meneguk gelas kopi yang sudah sejak awal dipesan sambil celetuk “bro, jika saya berhenti, ketahuilah mungkin kamu tidak akan bisa meminum kopi denganku lagi untuk selamanya” ujar Tan Gindo lugas dan tegas. Terlihat begitu menyakinkan sahabat hebatnya itu, akhirnya Zaldi hanya terdiam sambil tersenyum simpul.

Cerita yang singkat itu, sedikit menggambarkan romantika kehiupan Tan Gindo dalam menyikapi nasib dan perjalannya hidupnya. Kemudian, kembali pada perjalanan DKM se-Sungai Kunyit yang sudah dijalani bersama para pendamping di Mempawah. Dalam sebuah diskusi kritis di Masjid Munzalan dimana studi banding dilakukan, Tan Gindo lagi-lagi mendapatkan penegasan diri dalam pandangan hidupnya. Seorang ketua Masjid Munzalan dalam uraian yang panjang tentang apa dan mengapa Masjid tersebut bisa sukses dalam memberdayakan, membangun manajemen dan peradaban melalaui sebuah Masjid.

Sebenarnya, cerita mengenai keberhasilan sebuah Masjid melakukan kegiatan pemberdaayaan bagi Tan Gindo sudah tidak hal yang baru lagi karena dulu semasa masih aktiv di YDSF Surabaya sempat bersentuhan dengan Masjid Jogokariya-Jogya; sebuah Masjid yang juga berhasil membangun gerakan yang hampir sama dengan Masjid Muzalan di Pontianak ini. Kala itu Tan Gindo diamanahi melakukan supervisi membuka cabanga YDSF di Kota Yogyakarta sebagai sebuah modal agar YDSF dapat memenuhi persyaratan sebagai salah satu Lemabaga Zakat ditingkat Nasional. Karena ini lah Tan Gindo juga dianggap berpengalaman dan kemudian hari sempat diterima oleh BAZNAS Pusat menjadi salah satu staf senior dibidang verifikasi dan sertifikasi lembaga zakat ditingkat Nasional.

Panggilan salah seorang ketua pengurus Masjid Muzalan itu adalah “Ustadz Ben”, berperawakan tinggi semampai, berbada tegap, bermata besar dan penuh tatapan optimis. Beliau mengaku lebih banyak aktiv juga di dunia luar, bisnis dan semacam itu ketimbang belajar pondokan. Namun menurut cerita yang didengar ternyata beliau juga tamatan pondok pesantren Gontor, sebuah pondok posantren terbesar dan ternama di Jawa Timur.

Tentu saja bukan orang sembarangan juga dalam hal keislaman dan pengetahuan umum lainnya. Gontor terkenal dengan anak-anak hebat dan mempuni dalam berbagai bidang agama dan pengatahuan umum; bisa dikata disanalah banyak cendikiawan muda lahir dan menjadi tokoh-tokoh gerakan nasional, sebagaimana Ustadz Bakhtiar Nasir yang dulu sempat memimpin aksi 212 yang teranama itu misalnya dan berbagai tokoh lainnya di Indonesia. Dalam sharing diskusi tersebut Ustadz Ben berbicara panjang lebar…

…………

Islam bagi kami bukanlah religion sebagaimana ungkapan banyak orang dan sebagian ulama, bagi kami Islam adalah jalan hidup dan hidup itu sendiri. Islam itu rahmatan lilalamin “rahmat bagi semesta alam”; jadi Islam lebih dari defenisi yang dikembangkan oleh barat. Islam jauh berada diatas agama-agama yang telah telah di claim mereka, jadi Islam bukanlah agama seperti yang dikira-kirakan mereka. Kehadiran Rasullah bagi seluruh ummat manusia, baik mereka yang Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Konhucu dan agam lainya itu.

Islam juga tidak memandang etnis, suku bangsa, warna kulit dan bahasa. Maka dari itu Islam harus menjadi contoh dan panutan, kita harus buktikan sebagaimana firman Allah bahwa “kita adalah ummat terbaik dimuka bumi ini, kita harus jadi contoh tauladan, kita harus bisa berdamai dengan siapapun, membantu siapapun dan dalam bentuk apapun”. Maka dari itu Islam harus menjadi “Why of Life” atau jalan hidup, kapan perlu seluruh jiwa dan raga, keluarga dan siapa serta apa saja yang kita milki untuk Islam, untuk melaksanakan perintah Allah.

Pada hakekanya seluruh yang kita miliki tidak akan pernah dibawa mati, hanya keimanan dan keyakinan atau amalan kita saja yang akan menjadi sandaran dan pegangan kita diakhir kelak. Makanya kita mati hanya membawa selembar kain kafan saja, tak lebih dari pada itu. Hal yang bisa kita lakukan hanya mewarisi ilmu, pengetahuan dan pengalaman serta keturunan kita untuk untuk berbuat lebih terhadap Islam melalui seluruh ajakan dan syariah yang telah diberikan kita melalui Al-quran dan Hadist Rasulullah. Jadi mari kita perbanyak berbuat untuk Allah, massa depan hanya karena Allah dan tidak lebih daripada itu.

Salah satu memulai untuk berbuat adalah Masjid ini, dimana dulu Rasululllah memulai berjuang dimuka bumi ini diawal mulanya. Masjid bukan hanya tempat ritual belaka tapi adalah pusat dari segala peradaban, melalui Masjid inilah semua kegiatan kita bersumber bukan ditempat-tempat lain, Masjid adalah kantor kita, bahkan di Masjid inilah Rasulullah dulu juga menentukan dan mengatur perang, apalagi kegiatan ekonomi keummatan dan lain sebagainya. Makanya masjid-masjid kami namakan “Baitullah” atau rumah Allah, bukan hanya Makkah saja yang menjadi rumah Allah, itu hanya symbol pemersatu ummat Islam di dunia, sementara diamana ada Masjid, disitu juga merupakan “rumah Allah”

Setinggi-tinggi apapun pangkat, jabatan dan kekayaan semua kita hamba Allah pasti akan mencium lantai Masjid ini, sama semuanya tampa berbeda. Yang ada hanya ada seorang imam atau pemimpin pada barisan terdepan, sementara kita semua hanyalah makmum yang tidak bisa melanggar semua aturan imam yang ada didepan. Jika tidak, maka sholat (sebagai sarana symbol ketaatan) pada Allah secara berjamaah telah dianggap batal dan kita hanya dapat bagian pahala terkecil dalam dunia ini. Makanya siapapun pemimpin didepan kita harus patuh dan taat dan tidak boleh membangkang padanya selagi tidak melanggar aturan-aturan Allah.

Dengan demikian, itulah yang akan membuat Islam itu punya “ghizzah” atau kewibawaan, kita tidak boleh tunduk pada orang dan makhluk lain selain Allah dan imam kita terutama tuntutan Rasulullah, hanya dengan itulah Islam itu bangkit dari keterpurukan.

Kita tidak perlu berhutang kepada siapapun, kita malah harus jadi solusi bagi siapapun, kita punya potensi ekonomi untuk dapat menghidupkan ummat Islam diamana mana, bahkan ummat non Islampun dapat merasakan betapa kehadiran dapat bermanfaat. Jadi tak perlu kita mengharapkan bantuan selain kepada Allah, kapan perlu pemerintah, pejabat, politikus atau siapapun yang membutuhkan kita yang memberikan mereka fasilitas dan hadiah tak perlu berharap bantuan-bantuan mereka.

……….

Demikian sharing Ustada Ben yang menggetarkan suasana masjid yang sejuk, tenang dan adem tersebut. Hampir semua peserta studi banding terdiam, dan dengan mata yang terbelalak tajam mendengarkan uraian tersebut. “inilah pemikiran yang sudah lama saya selalu dipertahankan” ujar Tan Gindo membathin. Ilmu dan wawasan ini jugalah yang telah diterima Tan Gindo semenjak aktivisi PII ketika masih di usia belia, tertanam menghujam jauh kepermukaan alam sadar.

Namun, Tan Gindo akui, apa yang dilakukan selama ini masih jauh dari harapan, Islam masih hanya sebatas agama ritual belaka, atau jikapun sudah merasa melaksanakan hal tersebut masih hanya sekedar “spirit” atau semangat saja. Belum pada tataran impelementasi secara mendasar. Setidaknya baru sekedar sebuah cita-cita hidup yang terpendam sejak berpuluh tahun lamanya “Islam is Why of Life”; Islam sebagai sebuah pandangan dan jalan hidup. Begitu jualah pesan pituah Minang yang tertancap sejak dari kampung halaman:

“Kato panghulu manyalasai, kato alim kato hakikat, talamun patuik kito kakeh, lahia jo bathin nak saikek.. Naiaklah dari janjang, turunlah dari tango, Adat bersandikan syarak, syarak basandikan Kitabullah, syarak mangato adat nan mamakai, Kato adaik pahamnyo aman, malangkapi rukun dengan syarat, kalau elok pegang padoman, santoso dunia jo akhirat”

(Perlu penggalian adat dan agama Islam secara mendalam , sehingga lahir dan bathin dapat sesuai. Selalulah berbuat sesuai aturan dan undang-undang yang berlaku, menurut norma yang telah ada. Adat berpedoman pada syariat, syariat berpedoman pada alquran, syarita menyampaikan dan adat yang melaksanakan. Ajaran adat dan agama Islam kalau benar-benar diamalkan, menjamin keselamatan dunia akhirat)

Bersambung ke bag. 6



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom & Opini

CURHAT NYI BLORO; RATU LAUT KIJING – siarminang.net

CURHAT NYI BLORO; RATU LAUT KIJING – Beritasumbar.com

“Berani karena benar, takut karena salah,
Rajin pangkal pandai (pintar), bisa karena biasa,
Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin,
Maka pelajarilah sebab musababnya itu,
& berharaplah takdir bisa lebih baik
Agar menjadi sebuah karunia”

Suatu pagi menjelang siang, Tan Gindo punya agenda mengundang panitia pelatihan vokasi menjahit yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat ketika dalam survey dan disepakati oleh lima forum desa terdampak di cafe Asbuy langggannya. Sebagai pendamping, RBK dan PMLI Pelindo sebagai sponsor kegiatan hanya mencoba sebagai fasilitasi kegiatan. Sebelumnya, tercatat dalam laporan sudah berlangsung beberapa kegiatan seperti pelatihan IT dan Media, Pelatihan Boga, Sablon dan Pertanian; namun mendapat tanggapan negative dari beberapa masyarakat dampingan, tokoh penting di forum desa dan aparatur lainnya.

Cukup panas informasi ini di kepala Tan Gindo ketika ada masalah kegiatan tersebut tidak sesuai harapan, bahkan sebagian masyarakat dampingan ada yang berniat membatalkan kegiatan yang sudah disusun bersama. “Lucu, kegiatan ini sudah disurvey menjadi kebutuhan dan disepakati bersama, kok jadi masalah, ada apa ini?” ungkap Tan Gindo bertanya-tanya. Persoalan ini kemudian sempat jadi pembahasan alot dalam rapat manajemen di RBK sehingga acara nya dibilang kegiatan “ecek-ecek” dan menganggap acara ini tampa Pelindo-pun bisa diadakan oleh pihak desa dan oleh masyarakat lain.

“Benarkah demikian adanya, apa persamaanya dan apa perbedaannya, sehingga bisa disbanding-bandingkan dengan begitu mudah?” ujar Tan Gindo melontarkan pertanyaan dalam sebuah diskusi kritis. Kemudian menjadi pembahasan internal tim pendamping dan pihak manajemen RBK. “Jangan-jangan ada sesatu yang tidak pas pada tempatnya atau karena sebuah kebiasaan yang sudah terjadi, ketika ada pelatihan yang sama juga tidak begitu terasa manfaatnya bagi masyarakat dampingan” ungkap Tan Gindo lebih lanjut.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 8; Bangkitkan Kesadaran !

Hasil diskusi kemudian menyimpulkan bahwa untuk kegiatan berikutnya harus pertimbangkan kembali banyak hal, termasuk urusan remeh temeh yang tidak boleh di anggap enteng. Seperti kata orang bijak “betapa banyak orang dijalanan mudah jatuh oleh kerikil yang halus, ketimbang batu besar yang terang dimatanya” ungkap Tan Gindo merenung. Maka dari itu dalam pelaksanaan pelatihan vokasi menjahit yang akan segera dilaksanakan termasuk pelatihan-pelatihan berikutnya berharap ada sedikit perbaikan, kebetulan Tan Gindo dapat jatah sebagai koordinator kegiatan kala itu “harus bisa lebih antusias, nih…” ujarnya penuh harap.

Rapat evaluasi kali ini dilakukan untuk mempertimbangkan dan mensepakati kegiatan tetap bisa berlangsung atau harus diundur kembali. Yang jelas semua orang atau berbagai pihak terkait sangat berharap tetap bisa berlanjut karena sebelum ini lebih kurang dua bulan sudah tertunda-tunda pelaksanaanya, “sungguh sebuah kesabaran yang tidak sedikit” ujar para pendamping sesekali menggerutu.

Begitu juga masyarakat dampingan dan pihak manajemen RBK sendiri. Padahal kegiatan tersebut sudah sangat biasa dilakukan di tengah-tengah masyarakat apalagi bagi PMLI yang dikenal sebagai sebuah pusat pelatihan penyiapan Sumber Daya Manusia untuk pelabuhan. Semua orang apalagi pejabat penting mungkin sudah mengetahui sekali sepak terjangnya PMLI, “masak pelatihan yang beginian saja bisa repot urusannya, aneh” ujar Tan Gindo sedikit kesal.

Sejuruh demi sejuruh evaluasi persiapan kegiatan kemudian berlangsung, dengan semangat bersama bak pasukan perang siap bertempur Tan Gindo membicarakan segala kemungkinan.”Man-teman mari kita lihat bagaimana skenario dan strategi kegiatan kedepan, apa yang menjadi kendala, apa yang dibutuhkan agar kegiatan tetap berlangsung dan tidak terundur-undur lagi pelaksanaanya” ujar Tan Gindo membuka rapat kali itu.

Fokus pembahasan tetap pada tugas dan tanggung jawab diberikan, “mari kita lakukan pada batas tanggung jawab yang dimiliki, urusan yang kecil-kecil dalam pelatihan kali ini mari kita selesaikan, urusan yang besar-besar itu kita serahkan pada RBK dan PMLI sebagai atasan kita” ujar Tan Gindo tegas. “Sebagai pelaksana teknis dan ujung tombak di masyarakat tentu kita harus siap dengan segala resiko, kalau gagal pasti kita yang menanggung akibatnya, kalau berhasil jangan berharap dapat nama” ujar Tan Gindo memberikan tantangan pada tim pelaksana.

Berdasarkan berbagai pengalaman yang dilalui, Tan Gindo berupaya menggiring tim pelaksana bagaimana memanfaatkan potensi dan kekuatan yang ada agar tetap menjadi lebih baik. Tan Gindo yang juga ternyata suka menonton film Kungfu Cina ternama itu, mencoba membuat ilustrasi ”Ibarat jurus Tai Chi Master, mari kita serap energy alam yang disekitar kita sebaik mungkin ketika sudah menjadi kekuatan besar kita akan lempar kepada lawan (masalah) yang ada didepan mata kita dengan cantik, agar semua terpental, doaaaar…ha.ha.ha” ujar Tan Gindo tertawa sambil serius.

Demikian rapat evaluasi finalisasi tersebut selesai tak begitu lama, meski dipertangahan diskusi sebagian tim harus segera berangkat ke Pontianak untuk segera menyelesaikan kebutuhan peralatan kegiatan yang sudah mendesak. Namun rapat tetap berlangsung baik dan lancar, “Alhamdulillah, tim ini luar biasa sekali, jika masih dalam semangat yang sama; insya Allah acara bisa dilakukan dengan sukses” ujar Tan Gindo membatin. Begitu lah harapan ditumpangkan, semoga menjadi pengalaman terbaru kembali untuk menjawab berbagai persoalan yang dianggap remeh temeh oleh berbagai orang dan tokoh.

Selepas menutup rapat Tan Gindo bersama beberapa orang tim santai sejenak menghabiskan konsumsi rapat yang masih tesisa sambil berbincang santai dan bergembira. Seorang ibu panita lokal bernama Leni jadi topik gurauan Tan Gindo, diperkirakan masih berumur 35-an, cukup cantik, karena berjiblab jadi tidak bisa melihat warna kulit yang sebenarnya, hanya terlihat seperti sedikit kuning langsat, mungkin karena pengalaman dan bergaulan ibu Leni cukup mudah akrab dalam pertemuan tersebut. Namun ketika dilihat nama di WhatsApp-nya terlihat ber-inisial “Nyai”, sambil pura-pura bertanya “Nama ibu sebenarnya siapa sih, kok berinisal Nyai?” ujar Tan Gindo memancing pertanyaan. Ibu tersebut menjawab “orang-orang memanggil saya nyai karena dapat suami orang Subang Jawa Barat, padahal saya orang asli Kijing-Mempawah” ujarnya lugas.

“Lha sejauh itu dapat suami, dapat dari mana, apa dulu pernah nyasar atau gimana?” ujar Tan Gindo cengengesan, bergurau “Bukan pak, dulu saya pernah merantau yang sama dengan suami ketika di Malaysia, kami kerja dalam satu pabrik, kebetulan si Akang dulu sering berjumpa dan bertemu dengan saya dalam bertugas, jadi tik tok begitulah” ujar si Nyai tersenyum mengingat nostalgianya. Tan Gindo kemudian melanjutkan pertanyaan lebih mendalam dan mengupas pengalaman nostalgianya si Nyai tersebut. “Lho, udah bisa sukses dan ketemua jodoh di rantau kok malah pulang, kenapa?” ujar Tan Gindo. “Ya, begitulah pak e, tidak mudah hidup dirantau dan tak semudah di inginkan, jadi kita putuskan berkembang dikampung sajalah, sayang karena tak ada modal juga akhirnya sulit berkembang” ujar Nyai setengah curhat.

Tan Gindo akhirnya ketawa-ketiwi mendengar curhatan si-Nyai, sambil celoteh “Nah ini menarik lagi untuk kita bahas, dapat kita kasih judul kisah Nyai si Ratu Kijing” ungkap Tan Gindo kelakar. Tiba-tiba ada teman di sebelah Tan Gindo kebetulan beliau admin pendamping Sungai Kunyit Dalam, namanya Adit; ganteng, berambut sedikit ikal, bertubuh jangkung dan berwajah serius tapi suka juga bercanda, kemudian menyalib pembicaraan “tanggung pak, bikin saja si Nyai Blorong Ratu Laut Kijing” ujarnya terpingkal-pingkal. “Okeh, sepakat kita buat kisahnya dengan “Nyi Bloro; Ratu Laut Kijing”, karena cinta dan harapannya tertumpang di Memapawah khususnya daerah Kijing kita nisabahkan saja” ungkap Tan Gindo bertambah semangat dan kembali bersama ketawa-ketiwi.

Seperti kebiasaanya Tan Gindo bercanda dalam hal ini bukan sekedar bercanda saja, tapi ada maksud dan tujuan untuk membongkar masalahnya karena curhatan si Nyai hanya satu dari fakta keluhan masyarakat yang telah ditemui di sepanjang desa. Sejuruh kemudian Tan Gindo melanjutkan pertanyaan menusuk “modal apa yang Nyai butuhkan, bukannya sudah banyak pengalaman di rantau dan sudah bisa membuat usaha kecil-kecilan seperti menjahit itu” ujar Tan Gindo mendesak. “Modal uang lah pak, tampa uang mana mungkin kita bisa bergerak saat ini, kalau adapun tidak cukup” ungkap si Nyai menjawab serius. Kemudian Tan Gindo kembali bertanya mendesak “apakah uang adalah masalah utama, ada masalah lain yang kira-kira harus dibenahi dulu?’ ujar Tan Gindo tersenyum.

Si Nyai akhirnya menjawab agak separuh ragu, “ya ngak jugalah pak, masih ada yang mesti saya pelajari, mungkin saja belum punya ilmu dalam membuat pola desain pakaian, sehingga belum sanggup dan berani membuat baju sendiri, yang bisa hari ini hanya tukang tambal baju saja dengan upah secukupnya dan tergantung pesanan” ujar si-Nyai. “Nah kan jelas, bukan hanya persoalan uang ternyata, pengakuan ini yang penting” ujar Tan Gindo kembali tersenyum. Kemudian Tan Gindo mengulas beberapa contoh kejadian dan tuntutan masyarakat dampingan yang serupa dengan pertanyaan si Nyai. “Tapi ini tidak sama dengan kasus Nyai ya.., agak bedalah, Nyai Leni; wanita hebat” ujar Tan Gindo mengelak. Karena Nyi Leni sudah ada muatan kesadarannya dan ingin belajar lebih jauh sehingga sudah sering aktif dalam kegiatan forum desanya.

……….

“Rata-rata masyarakat umumnya memang berkeluh tentang masalah yang sama bahkan ada yang ngotot dalam menghadapi masalah hari ini dan malah dikait-kaitkan langsung dengan kehadiran Pelindo II, padahal jauh hari sebelum kehadiran Pelindo II sebenarnya masyarakat sudah mengalami hal yang serupa, masih sulit untuk berkembang dan tak kunjung dapat maju dengan baik, bahkan berbagai kesempatan dan bantuan modal serta berbagai pelatihan sudah banyak dilakukan; namun tak juga berobah nasibnya” ungkap Tan Gindo tegas. “Anehnya tiba-tiba Pelindo II menjadi tumbal atau si-kambing hitam atas segala persaoalan hari ini, jadi kita terkesan tidak adil juga menghakimi kehadiran perusahaan ini, justru harusnya kehadiran perusahaan harus bisa kita jadikan peluang” Ungkap Tan Gindo kembali menimpal pembicaraanya.

“Bin salabin ala kadabra” begitulah sebuah kejadian, peristiwa dan masalah sangat mudah dilempar dan digelindingkan di depan publik dan menjadi pembicaraan panas ditengah-tengan masayarakat tampa bisa menyelami masalahnya lebih jauh. ”Apakah kita yang tidak siap menghadapi kenyataan, apakah pemerintahan yang sudah semena-mena, atau perusahaan yang dengan kuasa modal bisa jual beli kebijakan untuk kepentingan usahanya?” ujar Tan Gindo melempar pertanyaan. Beberapa pertanyaan diatas jelas menjadi sebuah tantangan bahkan ancaman baru jika kita uraikan sebab akibatnya. Bak “menantang matahari”, siapa tidak siap akan hangus terbakar, siapa bisa memanfaatkannya akan dapat keberkahan.

Kemudian Tan Gindo bertambah ber api-api menjelaskan temuan dan keanehan dilapangan, dimana setiap bantuan yang diberikan banyak terbentur dan kegagalan. Bahkan sebagian masyarakat menolak akan bantuan yang bersifat kelompok. “Saya pesimis dengan kegiatan dan bantuan kelompok karena belum ada yang berhasil dan yakin masyarakat tidak mau” ujar Tan Gindo mengutip pembicaraan seorang tokoh yang sedikit terlihat ngotot. Waktu itu Tan Gindo sempat sedikit emosional juga mendengar ucapanitu dan berbalik bertanya “maaf bapak, coba sebutkan satu contoh bantuan yang bersifat pribadi juga berhasil” ujar Tan Gindo penasaran. Pertanyaan tersebut juga tak mampu dijawab oleh tokoh tersebut, karena faktanya juga begitu fatal lagi yang ditemukan.

Persoalan aneka bantuan dan support pihak luar, desa dan manapun sepertinya semakin diperparah oleh system yang juga telah berkembang. Terutama dari pihak pemerintah sendiri, betapa banyak bantuan modal dan dampingan yang telah diberikan selama ini tak kunjung ada kepuasan dan mengalami kebuntuan. Program sudah berjalan, proyek sudah menghabiskan dana ratusan bahkan miliaran tapi sedikitpun tidak dirasakan manfaatnya, malah masalah baru yang kemudian muncul. Banyak masalah akhirnya juga diredam dan tidak ada penyelesaian sama sekali, kemudian yang gampang tertuduh lagi-lagi adalah pada kesiapan masyarakat. “Tak jarang akhirnya pemerintah setempat terutama kepala desa yang lama terkesan hanya bisa mengotori piring dan melemparkan kepada kepala desa pengganti yang baru untuk cuci piring” ujar Tan Gindo kesal dalam sebuah pertemuan.

Menurut pandangan Tan Gindo, apapun yang direncanakan, sekecil apapun dan bagaimana-pun sebuah kegiatan harus dapat berarti dan bermakna dapat dilakukan. Terkait kehadiran pembangunan Pelindo II banyak masyarakat dampingan yang menuntut lebih jauh dari proses pendampingan ini; yang dilihat hanya sekedar materi belaka bahkan seolah-olah dengan uang, bantuan modal yang cukup atau ganti rugi saja semua persoalan selesai. Padahal ketika ada modal uang berapapun jumlahnya jika tidak terkelola secara baik dan benar semua banyak yang hancur dan berkhir sia-sia belaka.

Pernah terucap oleh Tan Gindo kepada beberapa orang, masyarakat dampingan bahkan tokoh pending desa “maaf, dalam program pendampingan saat ini uang tidaklah sangat berarti bahkan kecil bagi pihak perusahaan, berapapun nanti yang kita butuhkan cepat atau lambat pasti akan bisa terpenuhi dan terfikirkan, persoalannya adalah seberapa mampu kita pertanggung jawabkan kegiatan ini dengan baik secara prosedur dan tata kelolanya; bayangkan saja uang yang baru kita kelola dalam hitungan jutaan saja sudah menjadi biang keributan dan merusak mental masyarakat; apalagi sudah terhitung ratusan dan miliaran juta; apa yang akan terjadi” ujar Tan Gindo berikan logika sederhananya.

“Sebagai orang yang sedikit berpengalaman, saya berani mengatakan ketika kita semua belum bisa dipercaya orang, pemodal atau siapapun secara publik; jangan harap mereka mau membantu kita untuk dapat berkembang” ujar Tan Gindo kembali tegaskan. “Maka dari itu dengan peluang kegiatan hari ini sekecil apapun modalnya kita harus mampu buktikan bahwa kita mampu kelola kegiatan ini dengan baik dan benar bahkan jauh lebih bermanfaat, ketika berhasil berarti untuk urusan berikutnya kita dapat dipercaya lagi bahkan siap untuk mengurus dana sebesar apapun, mari kita bantah bahwa masyarakat bukan makhluk bodoh yang tidak mampu kelola uang bantuan dan modal besar manapun, kelak suatu hari” ujar Tan Gindo berucap lebih semangat.

Sikap positif ini lah yang dikembangkan oleh Tan Gindo selama dilapangan, karena menurut hematnya persoalan masyarakat kita bukan pada persoalan kebutuhan modal uang atau materi belaka tapi lebih pada keterampilan dan sikap bagai mana memperbaiki tata kelola. “Coba kita perhatikan bukan hanya di desa-desa kita, hampir semua desa di Indonesia yang pernah kami jalani saat ini tata kelolanya hancur, padahal setiap tahun dana yang dikucurkan tidak lah sedikit, rata-rata hampir 2 Milyar tiap tahunnya tapi sudah berapa desa-desa yang berhasil dalam menata diri dalam pembangunan” ujar Tan Gindo membuka pengetahuan pada berbagai momen kesempatan diskusi.

Dalam sebuah diskusi pengurus forum desa Tan Gindo juga pernah membandingkan persoalan materi, uang dan hutang dalam berbagai kegiatan atau usaha masyarakat dengan system pemberdayaan Masjid Munzalan-Pontianak ketika beberapa hari lalu pernah mendampingi pengurus masjid (DKM) se-Sungai Kunyit. “Betapa sebenarnya untuk sebuah modal pembangunan sebenarnya kitapun, bangsa ini sebenarnya tak perlu berhutang ke negera manapun, seperti ummat Islam misalnya punya potensi Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf, begitu juga ummat agama lainnya juga punya system ekonomi keummatan tersendiri” ujar Tan Gindo membuka wawasan.

“Bayangkan, melalui kekuatan ummat atau masyarakat sebuah Masjid Muzalan dapat menggerakkan ekonomi hingga 9 milyar tiap bulannya dengan berbagai cabang kegiatan ekonomi, bahkan sekarang sedang membangun gedung berlantai 6, murni tampa hutang dan pinajaman bank atau pengusaha manapun” ujar Tan Gindo menginformasikan keberhasilan pemberdayaan Masjid tersebut. Lantas bagaimana kondisi kebanyakan masyarakat kita hari ini, yang setiap saat mengeluhkan “sedikit-sedikit mengeluh tak ada modal uang untuk bergerak, bahkan sedikit sedikit doyan berhutang, sedikit-sedikit hanya menuntut ini dan itu untuk dapat berbuat dan berkembang” ujar Tan Gindo membuat sindiran.

“Maka dari itu mari kita belajar kembali melihat potensi diri dan belajar pada mereka yang sudah berhasil untuk mandiri dan maju dengan kaki sendiri” ujar Tan Gindo. Sepertinya ditengah-tengah masyarakat sudah menyebar penyakit sebuah ketergantungan bahkan tidak mengenali lagi potensi yang adalam dirinya sendiri, cendrung hanya banyak menuntut sejenih bantuan-bantuan apalagi yang bersifat modal tunai tampa ada pendampingan yang terukur.

Parahnya hampir setiap kegiatan desa atau dimanapun banyak kejadian kalau tidak ada “amplop” semua tidak akan dapat berjalan bahkan sebagian besar mau terlibat mengikuti kegiatan apapaun hanya memang karena sebuah amplop tersebut ketimbang kesempatan ilmu yang telah diraihnya. Apalagi selama issue Covid-19 bantuan-bantuan tunai seperti itu hampir 80% sudah menghabiskan anggaran-anggaran desa dimanapun di Indonesia,” pestalah dengan uang-uang pembagian” ujar Tan Gindo kembali terkesan sinis.

………………

Begitulah masyarakat Indonesia akhirnya menjadi masyarakat yang “naif’ dalam kehidupan sehari-hari. “Akan seperti apa masyarakat generasi Indonesia dimassa akan datang” ujar Tan Gindo menggerutu. Parahnya Negara Indonesia juga terkesan doyan berhutang, terkasan boros dalam anggaran bahkan tak sedikit berita kebocoran tingkat tinggi terjadi dari pusat pemerintahan “masyarakat sibuk mengurus uang amplop dan recehan sementara para pejabat dan penguasa yang lain sibuk merampok uang rakyat dengan uang trilliunan dan jarang serius diproses serta tak kapok-kapoknya” ungkap Tan Gindo tambah sinis lagi dalam sebuah diskusi kritis.

Demikian akhirnya curhat “Nyi Bloro” berujung pada terbongkarnya borok bangsa kita-Indonesia. “Hari ini kita mesti bersedih, namun tak ada jalan lain bagi kita berpangku tangan terutama pada generasi muda, kita harus bangkit setapak demi setapak untuk negeri ini, agar semua bisa diperbaiki, minimal untuk diri kita sendiri dan dimulai dari lingkungan terkecil, maka mari belajar dari mereka yang sudah berpengalaman, dari segala kegagalan dan nilai-nilai luhur massa lalu bangsa ini; sampai tuntas setuntas-tuntasnya dan jangan sekedarnya saja jika ingin merobah sesuatu” ujar Tan Gindo menutup sebuah pembicaraan penuh makna, teringat pituah ranah Minang;

“Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi. Kalau tali kaia panjang sajangka, lauik dalam usah didugo, Pandai karano batanyo, tahu karano baguru. Sadang baguru kapalang aja, lai bak bungo kambang tak jadi. Kunun kok dapek dek mandangga, indak dalam dihalusi”.

Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi. Kalau pengetahuan baru sedikit jangan dicoba mengurus pekerjaan yang sulit namun kerjakan apa yang bisa dilakukan. Pengetahuan dan pengalaman diperoleh karena belajar dan banyak bertanya kepada orang yang tahu. Setiap menuntut pengetahuan jangan putus ditengah atau harus mendalam, dan kurang mamfaatnya jika hanya dengan mendengarkan saja, lebih baik belajar untuk melakukan sesuatu secara sungguh-sungguh.

Bersambung ke bag. 10



Sumber

Baca Selengkapnya

hmi

BANGKITKAN KESADARAN !!! – siarminang.net

BANGKITKAN KESADARAN !!! – Beritasumbar.com

“Dunia pasti berobah dan Kiamat pasti kan terjadi jua
Kebangkitan dan keruntuhan sebuah bangsa pasti silih berganti
Begitu juga bergulir para penguasa, atas nama jabatan dan harta
Jumlah manusia akan bertambah dan berkembnag, begitu juga dengan pemikirannya
Namun sebuah perubahan tak akan dimulai dari banyak orang
Hanya mereka yang golongan sedikitlah, orang-orang beruntung”

Pagi itu Tan Gindo agak sedikit terlambat bangun pagi karena sedikit begadang semalam karena banyak pekerjaan pendapingannya yang menumpuk dan harus dikerjakan. Ketimbang desa lain bagindo bersyukur dapat peluang kerjasama yang baik antar tokoh, dampingan dan pemerintahan desa setepat, meski konsekuensinya harus sedikit kerja ekstra untuk sebuah tujuan dan cita-cita. Sampai-sampai Tan Gindo berfikir mitra kerjanya Robby tidak akan siap menghadapi gelombang kegiatan yang akan berlangsung semakin membesar pada tiga bulan kedepan. “Kami harus bisa, kita pasti bisa berbuat lebih baik dan akan usahakan target minimal dapat tercapai” ujar Tan Gindo membatin.

Seperti biasa Tan Gindo mulai berfikir keras bagaimana membuat sebuah rumusan dan strategi meramu program dengan sumber daya manusia yang terbatas “bak panglima yang mempersiapkan diri dimedan tempur, berfikir keras agar bagaimana tidak ada satupun pasukannya yang menjadi korban dan gugur di medan juang, semua harus selamat dan berhasil memenangkan pertempuran”. Dari sekian sumber daya manusia yang terserap dalam program “gak masuk akal, jika gagal semuanya; setidaknya 60% keberhasilan bisa diraih” ujar Tan Gindo membatin.

Sejurus demi jurus kemudian seperti untaian kata melayang-layang dalam benak Tan Gindo, jauh ke massa lalu kemudian melompat lagi dari pengalaman ke pengalaman yang telah dilalui hingga menghantarkan Tan Gindo ditempat pengabdian pendampingan yang sedang dia lalui. Teringat awal mula ketika Tan Gindo tercerahkan semasa masih belia, ketika pertama kali menjadi kader Pelajar Islam Indonesia (PII) ketika masih di sekolah menengah pertama, dimana ketika anak-anak seusianya masih sedang asyik bermain dan masih banyak yang belum berfikir sesuatu tentang dirinya dimassa depan. Sungguh tidak masuk akal memang anak sebelia itu sudah bisa mendapatkan pencerahan luar biasa dari lingkungan yang tidak terduga.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 7; Seberkas Cahaya Di Bumi Mempawah

Barangkali itulah salah satu kelebihan pengkaderan PII yang, bisa mencerahkan para pelajar ketika masih usia dini, rata-rata mereka menjadi kader-kader militan dan tangguh serta bermental baja serta bisa hidup dengan semangat ideologisasi yang kuat dan berani hingga dewasa. Tak heran rata-rata anak PII kritis dan sangat vokal dimanapun dia berada bahkan saking kuatnya akhirnya juga terkesan sangat individualis. Ketika masih dibawah tanah ada idiom yang sering dipakai dalam pengkaderan “tandang ke gelanggang meski seorang, student to day leader tomorrow (jika dibutuhkan akan maju sendirian di medan juang tampa berharap bantuan siapapun, pelajar hari ini adalah pemimpin massa depan)” sambil di ucapkan teriak takbir penuh semangat dalam setiap pelatihan.

Idiom tersebut jadi motto anak-anak PII dimanapun dia berada dalam sebuah kegiatan organisasi dan aktivitas hidupnya. Dia tidak mudah tergantung bersama siapapun, dia selalu sanggup menerima tantangan apapun bahkan jiak diminta mati di medan tempur mereka seolah-olah siap menghadapi tantangan. Bahkan Jendral Sudirman sebagai salah seorang Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang pertama ketika itu masih bernama masih bernama TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sangat mempercayai laskar Brigade anak-anak PII yang tergabung dalam “Laskar Tentara Pelajar”.

Tak heran dulu dimassa itu anak-anak PII adalah salah satu organisasi yang disegani dan ditakuti oleh anak-anak kiri dan menjadi salah satu organisasi Islam yang menjadi target “ganyang” atau dibubarkan oleh gerakan komunis. Apalagi ketika itu gerakan komunis telah merasa dekat dan menguasai pemerintahan Indonesia di era bung Karno yang dikenal juga dengan gagasan yang memadukan berbagai pandangan dan aliran kebangsaan terutama Nasionalisme, Agama & Komunisme. Kemudian dikenal dengan gagasan Nasakom dan menjadi ciri khas era Demokrasi Terpimpin yang berlangsung pada 1959 hingga 1965. Akhirnya Tan Gindo membuka kembali lembaran sejara PII yang begitu dalam dari massa terang dan kelam; seperti terasing di negeri sendiri.

………………………….

PII didirikan di kota perjuangan Yogyakarta pada tanggal 4 Mei 1947. Para pendirinya adalah Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji. Salah satu faktor pendorong terbentuknya PII adalah dualisme sistem pendidikan di kalangan umat Islam Indonesia yang merupakan warisan kolonialisme Belanda, yakni pondok pesantren dan sekolah umum.

Masing-masing (baik ponpes maupun sekolah umum) dinilai memiliki orientasi yang berbeda. Pondok pesantren berorientasi ke akhirat sementara sekolah umum berorientasi ke dunia. Akibatnya pelajar Islam juga terbelah menjadi dua kekuatan yang satu sama lain saling menjatuhkan. Santri pondok pesantren menganggap sekolah umum merupakan sistem pendidikan orang kafir karena produk kolonial Belanda. Hal ini membuat para santri menjuluki pelajar sekolah umum de-ngan “pelajar kafir”. Sementara pelajar sekolah umum menilai santri pondok pesantren kolot dan tradisional; mereka menjulukinya dengan sebutan “santri kolot” atau santri “teklekan”.

Pada masa itu sebenarnya sudah ada organisasi pelajar, yakni Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Namun organisasi tersebut dinilai belum bisa menampung aspirasi santri pondok pesantren. Merenungi kondisi tersebut, pada tanggal 25 Februari 1947 ketika Yoesdi Ghozali sedang beri’tikaf di Masjid Besar Kauman Yogyakarta, terlintas dalam pikirannya, gagasan untuk membentuk suatu organisasi bagi para pelajar Islam yang dapat mewadahi segenap lapisan pelajar Islam. Gagasan terse-but kemudian disampaikan dalam pertemuan di gedung SMP Negeri 2 Secodining-ratan, Yogyakarta. Kawan-kawannya yang hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain: Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji, dan semua yang hadir kemudian sepakat untuk mendirikan organisasi pelajar Islam.

Hasil kesepakatan tersebut kemudian disampaikan Yoesdi Ghozali dalam Kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), 30 Maret-1April 1947. Karena banyak peserta kongres yang menyetujui gagasan tersebut, maka kongres kemudian memutuskan melepas GPII Bagian Pelajar untuk bergabung dengan organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk. Utusan kongres GPII yang kembali ke daerah-daerah juga diminta untuk memudahkan berdirinya organisasi khusus pelajar Islam di daerah masing-masing.

Menindaklanjuti keputusan kongres, pada Ahad, 4 Mei 1947, diadakanlah pertemuan di kantor GPII, Jalan Margomulyo 8 Yogyakarta. Pertemuan itu dihadiri Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani dan Amien Syahri mewakili Bagian Pelajar GPII yang siap dilebur di organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk, Ibrahim Zarkasji, Yahya Ubeid dari Persatuan Pelajar Islam Surakarta (PPIS), Multazam dan Shawabi dari Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERKISEM) Surakarta serta Dida Gursida dan Supomo NA dari Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) Yogyakarta. Rapat yang dipimpin oleh Yoesdi Ghozali itu kemudian memutuskan berdirinya PII tepat pada pukul 10.00, 4 Mei 1947. Untuk memperingati momen pembentukan PII, maka setiap tanggal 4 Mei di-peringati sebagai Hari Bangkit PII (HARBA PII).

Hal ini karena hari itu dianggap sebagai momen kebangkitan dari gagasan yang sebelumnya sudah terakumulasi, sehingga tidak digunakan istilah hari lahir atau hari ulang tahun. Semula tujuan lahirnya PII adalah, “Kesempurnaan pendidikan dan pengajaran bagi seluruh anggotanya.” Dalam Kongres I PII, 14-16 Juli 1947 di Solo tujuan tersebut diperluas menjadi “Kesempurnaan pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan Islam bagi Republik Indonesia.” Akhirnya tujuan tersebut semakin universal dengan perubahan lagi pada Kongres VII tahun 1958 di Palembang menjadi “Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia.” Rumusan tujuan PII hasil Kongres VII tersebut yang digunakan sampai sekarang ini sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) PII Bab IV pasal 4.

Tugas Pokok, Fungsi dan Usaha Pelajar Islam Indonesia mempunyai tugas pokok melaksanakan pelatihan, taklim dan kursus bagi para pelajar Islam guna menumbuhkan kader umat dan kader bangsa yang berkepribadian muslim, cendekia dan memiliki jiwa kepemimpinan (AD Bab V Pasal 5). Sementara itu, organisasi ini berfungsi sebagai wadah pembinaan kepribadian muslim, penghantar sukses studi, sarana berlatih dan alat perjuangan bagi pelajar Islam (AD Pasal 6). Untuk mewujudkan tujuannya, PII bergerak secara independen di bidang pen-didikan, kebudayaan dan dakwah.

Adapun usaha yang dilakukan PII –sesuai dengan Bab VI Pasal 7, adalah :

  1. Mendidik anggotanya untuk menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
  2. Mengembangkan kecerdasan, kreativitas, ketrampilan, minat dan bakat anggo-tanya.
  3. Mendidik anggotanya untuk memiliki dan memelihara jiwa independen/mandiri dan kesanggupan berdiri sendiri tanpa ketergantungan kepada orang lain.
  4. Membina mental dan menumbuhkan apresiasi keilmuan serta kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi anggotanya.
  5. Membina anggota menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dan cakap dalam mengelola arus informasi global dunia serta menangkal dampak negatif produk-produk budaya asing dan arus informasi global tersebut.
  6. Membantu dalam pemenuhan minat dan kebutuhan serta mengatasi problematika pelajar.
  7. Menyelenggarakan kegiatan sosial untuk kepentingan Islam dan umat Islam, serta umat manusia pada umumnya.
  8. Menumbuhkembangkan semangat dan kemampuan anggota untuk menguasai, memanfaatkan serta mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan umat manusia.
  9. Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan anggota untuk memahami, mengkaji, mengapresiasi dan melaksanakan ajaran serta tuntunan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
  10. Mencetak kader-kader pemimpin yang memiliki pandangan hidup Islami, keluasan pandangan dunia global dan kepribadian muslim dalam segala bidang kehidupan.

Ketika berdirinya PII, muncul reaksi dari IPI yang menilai kehadiran PII bisa menimbulkan perpecahan di kalangan pelajar. Untuk menghindari terjadinya konflik, diadakanlah pertemuan PII dengan IPI pada tanggal 9 Juni 1947 di Gedung Asrama Teknik Jalan Malioboro, Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut kemudian ditandatangani Piagam Malioboro oleh Sekjen PB IPI Busono Wiwoho dan Sekjen PB PII Ibrahim Zarkasji. Salah satu butir penting dari piagam tersebut adalah hak hidup PII oleh IPI. Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan piagam tersebut maka dimana ada IPI akan didirikan PII. Saat itu IPI sudah ada di hampir seluruh wilayah Indonesia yanga da sekolah menengahnya.

Para pelajar Islam yang menjadi anggota IPI pun ikut membantu berdirinya PII. Sebaliknya PII bersedia bekerja sama dengan IPI dalam masalah yang bisa dikerjakan bersama dan bersifat nasional. Dalam perjalanan selanjutnya perkembangan PII ternyata jauh lebih pesat dari IPI. Hal itu ditunjang dengan bergabungnya organisasi-organisasi pelajar Islam lokal ke tubuh PII. Selain PPII (Yogyakarta), PPIS dan PERKISEM (Surakarta) yang ikut mendirikan PII, pada saat penyelenggaraan Kongres I PII, 14-16 Juli di Solo, Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PERPINDO) dari Aceh juga memfusikan diri ke dalam tubuh PII.

Perkembangan anggota semakin pesat pada tahun 1960-an setelah Masyumi (1960) dan GPII (1963) dibubarkan oleh pemerintah. Hal itu mendorong PII membuat penafsiran sendiri terhadap kata pelajar. Kalau sebelumnya pelajar adalah mereka yang di pesantren dan sekolah, kemudian diperluas menjadi minal mahdi ilal lahdi (dari ayunan sampai ke liang lahat), sesuai dengan hadits nabi tentang perintah mencari ilmu. Sehingga PII juga menjadi penampung aspirasi mantan-mantan anggota Masyumi dan GPII.

Jumlah anggota PII mulai menyusut di tahun 1980-an seiring dengan menguatnya nuansa politis dalam aktifitas PII, sementara pemerintah saat itu justru berkesan tengah mendepolitisir umat Islam. Puncak dari penyusutan itu adalah ketika PII tidak mau menyesuaikan diri dengan UU Keormasan yang disahkan 17 Juni 1985 dan mulai diberlakukan 17 Juni 1987. Akibatnya kemudian Mendagri mengeluarkan SK Mendagri No. 120/1987 tertanggal 10 Desember 1987 yang menganggap PII telah membubarkan diri dan selanjutnya melarang kegiatan yang mengatasnamakan PII.

Ketika SK itu keluar, menurut Ketua Umum PB PII saat itu Chalidin Yacobs, jumlah anggota PII mencapai 4 juta orang. Namun delapan tahun kemudian, 1995, jumlah anggota PII aktif sepertinya tidak mencapai 100.000 orang. Meski demikian, PII tidak pernah mati. Sadar penyusutan anggota tidak bisa dibiarkan begitu saja, maka ihtiar untuk bangkit kembali pun dicanangkan.

Momentumnya adalah pada Muktamar Nasional XX PII tahun 1995 di Cisalopa, Bogor. Setelah melalui perdebatan sengit, diputuskan PII akan melakukan reformalisasi dengan melakukan registrasi ke Depdagri. Sejak itu jumlah anggota PII kembali terdongkrak. Hanya karena sistem administrasi yang belum rapi sesuai standard administrasi sebuah organisasi formal, jumlah secara pasti seluruh anggota PII belum bisa diketahui. Untuk penataan kembali administrasi keanggotaan PII, maka ditentukan persyaratan keanggotaan di PII yang meliputi anggota tunas, anggota muda, anggota biasa, anggota luar biasa dan anggota kehormatan.

Anggota tunas, mereka yang duduk dijenjang pendidikan dasar (SD/MI), anggota muda, mereka yang duduk di jenjang pendidikan menengah pertama (SLTP/MTs), anggota biasa, mereka yang duduk di jenjang pendidikan menengah atas (SMU/SMK/MA), anggota luar biasa warga negara asing yang sedang belajar di Indonesia atau sebaliknya, dan anggota kehormatan adalah mereka yang memiliki jasa terhadap PII. Masa keanggotaan PII akan berakhir secara otomatis, bila yang bersangkutan telah dua tahun menyelesaikan pendidikan formalnya

…………………..

Begitulah Tan Gindo kembali merenung memikirkan persoalan-persoalan pendampingan yang dia sedang hadapi ditengah-tengah masyarakat. “Berdasarkan fakta sejarah tak mungkin saya akan berharap pada banyak orang, hanya Allah jualah tempat bersandar dan harapan” ungkap Tan Gindo kembali membatin. “Jangankan seorang Tan Gindo, seorang Rasul saja tugasnya hanya mengingatkan dan memberikan jalan kebaikan, sementara segala taufik dan hidayah itu adalah hak Allah semata” ungkap Tan Gindo merenung, berhikmah.

“Sebesar apapun masalah masyarakat di depan mata, sekuat apapun modal perusahaan yang sedang mengucurkan dananya, sehebat apapun politik pemerintahan saat ini berkuasa, semua hanya sementara, jika Allah berkehendak cepat atau lambat semua akan musnah ditelan massa; begitulah hukum Allah berlaku” pikir Tan Gindo penuh hikmah. Tinggal bagaimana daya dan upaya atau ikhtiar manusia dalam memperbaiki kualitas dirinya.

“Harapan perbaikan dan perubahan saya akan tumpangkan pada generasi-generasi muda Mempawah, mereka mau apa dan kemana, tugas saya hanya membuka pandangan dan cakra walau mereka untuk bisa siap menghadapi massa depan” ujar Tan Gindo meyakin dirinya. Seperti kata orang-orang bijak “betapa banyak mereka yang berjumlah banyak dapat dikalahkan oleh sekelompok orang yang berjumlah sedikit tapi bisa berbaris rapi dalam berjuang”. Seperti yang yang terjadi dalam perang Badr, salah satu pertempuran yang paling fonomenal dalam perkembangan Islam di muka bumi dan Allah membuktikan janji-nya.

Perang Badar merupakan pertempuran besar (ghazwah) pertama antara umat Islam dan musuh-musuhnya. Momen ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Total 313 orang Muslim melawan 1.000 orang Quraisy yang memiliki persenjataan lengkap, keahlian militer, dan pengalaman bertempur. Nyatalah bahwa secara kuantitas, para pemeluk tauhid tidak unggul. Akan tetapi, mereka justru memperoleh kemenangan besar berkat pertolongan dari sisi Allah SWT. Hanya orang-orang terpilih dan berkualitaslah yang akan menjadi pemenang, dapat dikatakan itu sudah menjadi Sunnatullah-hukum Allah yang tidak terbantahkan.

Persoalannya hari ini, “siapakan yang terpilih dalam program pendampingan saya ini” ujar Tan Gindo kembali menukilkan strateginya. Semua pemetaan harus dilakukan “kita tak butuh banyak orang, tapi butuh mereka yang memiliki kemauan” ujar Tan Gindo menegaskan. “Bak seorang pendaki gunung; dia sudah tahu untuk mencapai puncak pendakian harus menghadapi tanjakan, jurang, semak belukar, binatang buas dan segala sesuatu yang ada di dalam hutan serta ditengah pegunungan, mereka yang punya tekad yang kuat setapak demi setapak akan sampai pada titik puncak, sementara mereka yang tidak kuat akan kembali turun dari lagi dipertengahan jalan” ungkap Tan Gindo meyakinkan dirinya.

“Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua bayang-bayang maso. Dimano kain kabaju, diguntiang indaklah sadang, lah takanak mangko diungkai, dimano nagari namuah maju, Adat sajati nanlah hilang, dahan jo rantiang nan dipakai. Maliang cilok taluang dinding, tikam bunuah padang badarah. Ibo di adat katagiliang turuikkan putaran roda. Nan mudo pambimbiang dunia, nan capek kaki ringan tangan, acang-acang dalam nagari, Talantuang dek kanaik, ta taruang dek ka turun, sakali aia gadang sakali tapiang barubah, Tuah nagari dek nan tuo, rami nagari dek na mudo. Ta kalang dek nan rami, bajalan sajo jo badang surang, iduik baraka mati baiman”

(Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia. Kamajuan suatu negri di Minangkabau atau dimanapun juga, tidak akan dapat dicapai dengan baik jika ajaran Adat diamalkan tidak sepenuh hati, atau tinggal sebutan. Kebudayaan asli jangan sampai hilang, sesuaikan diri dan aturan adat beradat serta istiadat dengan kemajuan. Pemuda harapan bangsa ditangan pemuda terletak maju mundurnya bangsa dimasa depan. Hati-hatilah apa yang akan menimpa kita dimassa akan datang karena perubahan zaman pasti akan terjadi, jika terhambat karena orang banyak maka mulailah dengan diri sendiri karena hidup dikarunia akal dan keyakinan terhadap kebenaran)

Bersambung ke bag. 9



Sumber

Baca Selengkapnya

Cerpen

SEBERKAS CAHAYA DI BUMI MEMPAWAH – siarminang.net

SEBERKAS CAHAYA DI BUMI MEMPAWAH – Beritasumbar.com

“Segelap apapun dunia ini, pasti ada cahaya
Tergantung bagaimana kita menerimanya
Karena kita manusia dibekali akal fikiran
Orang bijak kata; jika tak ada kayu rotanpun jadi
Maka, setelah memegang setetes ilmu & kebenaran
Gunakanlah sebaik mungkin untuk mencapai tujuan”

Pada suatu malam, sekitar bakda Isya Tan Gindo sengaja mengundang ngopian mitra pendamping di Desa Suingai Duri II Sungai Kunyit, Mempawah – Kalimantan Barat. Kegiatan ini sejak semula sudah seperti menjadi tradisi bagi Tan Gindo jika ada hal yang personal perlu dibicarakan, terumata jika ada hal yang bersifat pribadi dan spesifik terkait mengenai hal yang dianggap agak prinsipil, minimal yang bersifat motivasi terhadap mitranya. Bisa terkait langsung dengan agenda pendampingan di desa atau tidak sama sekali, apapun persoalan biasanya dapat dianggap sudah dipahami dan selesai serta tidak dibicarakan lagi di tempat lain.

Sohib mitra itu beranama Robby, berperawakan sedang, berkulit sawo matang, bermata sedang, berwajah tampan dan bertipikal santai. Ketika dilihat photo massa remajanya berambut lebat dan sedikit gaul namun seiring usia dan tanggung jawab rambutnya seperti menipis seperti seorang professor sehingga kemana-mana akhirnya sering memakai topi kesukaanya biar tak begitu terlihat orang “terkesan tidak pede-an” ujar Tan Gindo sambil sesekali kelakar. Namun tidak demikian adanya Robby, orangnya cukup optimis dan mudah bergaul serta cukup berpengalaman.

Ketika dulu pertama kami melamar dalam program ini dan sempat diwawancari, bagi Tan Gindo melihat pengalaman dan sifat gaulnya itu sudah kelihatan, apalagi sempat berjalan sana-sini bersamanya keliling Mempawah. Kemanapun pergi sepertinya tak ada yang tidak kenal Robby, apalagi dulu menurut infonya dia adalah salah satu “anak motor” ketika remaja hingga memutuskan berhenti sejak ada tabrakan berat yang menimpanya dan membuat motonya hancur. Pantas sudah Robby sudah banyak dikenal orang di Sungai Kunyit hingga pada akhirnya berkuliah ke Pontianak disebuah Perguruan Tinggi Kelautan di kota Pontianak dan lagi bertambah banyak pergaulannya.

Dalam profile-nya Robby sempat bekerja dibeberapa perusahaan hingga resain disebuah Bank. Padahal dikala itu sempat hampir naik daun dan ditawarkan jadi kepala cabang ke pulau Jawa dan Papua. Namun dia menolaknya “tak mungkin saya keluar dari Pontianak dan Kalbar, karena lebih sayang keluarga dan anak-anaknya” ujarnya Robby menegaskan. Terlihat beliau adalah type seorang sangat setia dan sayang pada keluarga serta kampungnya dan lebih pilih tidak mau jauh-jauh dari mereka. Sehingga memutuskan untuk membuat bisnis batu bata dirumah orang tuanya dan sudah terbilang lumayan sukses dijalani.

Baca juga “Menantang Matahari” bag. 6 Keranjingan Jadi Pejabat

“Kagum juga melihat Robby menjadi pengusa mandiri dan banyak pergaulan, apalagi melihat caranya berkomunisi dengan bapaknya” ungkap Tan Gindo membatin. Mereka tidak terlihat seperti bapak dan anak tapi seperti orang yang berteman saja. Tan Gindo dulu sempat merasakan hal yang sama meski itu dirasakan ketika sudah mulai kuliah dan beranjak dewasa, sayang sang Ayah begitu cepat meninggalkan Tan Gindo untuk selamanya sehingga tidak sempat menikamati massa-massa dewasa bersama sang Ayah. “Sesekali akhirnya sang Ayah datang dan berkunjung lewat mimpi jika sudah merindukan beliau dan mendo`akannya di alam kubur sana, hixs” ujar Tan Gindo bersedih.

Ketika kecil tidak demikian adanya, sang Ayah sedikit ketat dan seperti orang yang jaga jarak dan wibawa sehingga kalau sang Ayah sudah bicara Tan Gindo nyaris seperti atasan dan bawahan. Sedari dulu mungkin begitu adanya tradisi orang Minang diantara ayah dan anak, apalagi antara mamak dan ponakan “kalau mereka sudah berdeham saja, ehemmm… atau melototkan matanya, sang anak atau sebagai ponakan pasti sudah mulai tunduk dan diam ketakuatan, sambil memikirkan sesuatu ada apa gerangan; penuh sangsi dan segan” ujar Tan Gindo berkesan.

Terkait usaha batu bata yang dijalankan Robby, meski menganggap sudah aman; Robyy megakui masih banyak hal-hal yang harus dibenahi dan diperbaikinya dalam manajemen usaha. Terbukti masih banyak curhat dia mengenai persoalan-persoalan yang harus dihadapinya. Disaat wawancara dulu Tan Gindo pernah bertanya “bro, kenapa mau ambil program pendampingan ini, bagaimana dengan usahamu kedepan” ujar Tan Gindo. Dengan sangat simple Robby menjawab “usaha saya sudah bisa sedikit bisa saya tinggalkan dan ingin mencari pengalaman dan wawasan baru kedepannya” ujar Robby lugas.

Kemudian inilah yang menjadi pegangan Tan Gindo hingga akhirnya bisa melihat seberkas cahaya untuk sukses program kedepan. Besar sekali harapan Tan Gindo kepada sohib dan mitra utamanya dilapangan, berharap Robby akan menjadi pilar utama paling depan sebagai agen perubahan khususnya bagi gengerasi Sungai Kunyit di massa akan datang. “Harapan adalah pintu semangat untuk para pejuang, bak mengharapkan kematian syahid di medan perang, karena itulah manusia bisa bertahan hidup apapun rintangan dan hambatan yang akan dilalui” ungkap serorang motivator. Karena itulah akhirnya Tan Gindo kemudian menerima Robby sebagai mitra kerjanya dalam mendampi desa Sungai Duri II.

Namun Tan Gindo sadar, kalimat sederhana dan simple yang telah diucapkan Robby tidaklah sesederhana itu dalam realitasnya, pasti persoalan demi persoalan akan muncul. Mulai dari kesiapan pribadi secara mental, pengetahuan dasar, dan bagaimana menghadapi masyarakat Sungai Duri II yang juga majemuk, tentu tidaklah akan mudah. Benturan atar sesama pasti akan terjadi apalagi benturan dengan masyarakat lain disekitar desa dan Sungai Kunyit pada umumnya, baik secara emosial, pemikiran bahkan bisa saja secara fisik. “Semua akan teruji dalam proses dan perjalanannya untuk sampai pada tujuan atau justru Robby akan gugur di medan juang dan harus dimakamkan menjadi seorang pahlwan; tampa tanda jasa atau tidak sama sekali, atau bisa sukses sebagai pemenang, semua tergantung pada orangnya” ujar Tan Gindo menelisik.

Dapat dikatakan dalam pelaksanaan dilapangan Tan Gindo memberikan porsi sedikit istimewa kepada Robby ketimbang pendamping desa yang lain dan ia cukup menyadarinya. Baik dari segi strategi pengaturan kerja dan tanggung jawab serta support khusus dari Tan Gindo tidak berjalan sebagaimana kontrak yang ia tanda tangani sendiri dengan pihak RBK CFCiD Consulting. Bahkan lebih dari pada itu Tan Gindo menganggp Robby sebagai seorang sahabat tempat berbagi fikiran dan perasaan negative sedikitpun, dilapangan juga Tan Gindo tidak mengangap Robby anak buah tapi mitra kerja bahkan diminta jadi pimpinan. “Bro di RBK mungkin saya atasanmu tapi di desa kamu adalah atasanku, jika kamu suruh diam saya akan diam tapi jika kamu suruh bergerak saya akan bergerak” ujar Tan Gindo sesekali ketawa berkelakar.

Barangkali sudah menjadi pengalaman Tan Gindo bahwa apa yang sudah direncanakan dalam setiap kali program belum tentu dapat berjalan mudah sebagaimana mestinya, bahkan tak jarang ternyata lebih besar muatan kerjanya yang akan terjadi dilapangan. Sebagaimana adanya di desa  Sungai Duri II yang sedang di dampingi, bisa dikatakan 2 x lipat dari rencana program harus bisa dilaksanakan tampa mengurangi arti sebuah amanah. Apalagi bagi Tan Gindo “kerja bukan hanya sekedar gaji-uang, tapi apa yang dikerjakan harus dapat bermakna dan lebih bermanfaat, agar dapat keberkahan” ungkap Tan Gindo dalam pertemuan ngopian tersebut dengan mitranya Robby.

Ini jugalah barangkali sebagian besar para tokoh-tokoh penting di Sungai Duri II, terutama Kepala Desa yang juga dapat memberikan kepercayaan kepada Tan Gindo, apalagi program yang sedang dijalankan memang atas lembaga independen, bukan langsung dibawah unit perusahaan besar sebesar PT. Pelindo II yang sedang menjalankan proses pembangunan disekitar Sungai Kunyit-Mempawah. Sehingga program-program yang dijalankan Tan Gindo dapat dukungan kuat dari pihak dan desa, para tokoh dan pengurus forum desa yang telah dibentuk dalam kerangka program CFCiD Counsulting.

Beruntung lagi Tan Gindo mendapatkan dukungan kuat dari salah seorang tokoh berpengaruh di Sungai Duri II yang kemudian seperti menjadi bapak sendiri, apalagi tinggal dekat bersama beliau tak jauh dari rumah intinya di Kelapa 4 Sungai Duri II. Namanya Bapak Syarif, sebagian besar tokoh-tokoh Sungai Kunyit pasti tahu siapa beliau, namun masyarakat biasa mungkin masih ada yang belum mengetahuinya. Bahkan sebagian tentang identitas beliau memang sengaja tidak dikedepankan sebagai sebab ada hal yang mulia dan kerendahan diri beliau ditengah-tengah masyarakat.

Bertemu pak Syarief juga seperti bertemu guru baru dalam kehidupan, teringat ketika di awal berjumpa dengan beliau di saat bertamu kerumahnya, beliau seperti orang yang sudah lama bersua dalam hidup Tan Gindo dan penuh ke-ajaiban. Bahkan keanehan tersebut belum bisa sepenuhnya dipahami dan dimengerti betul oleh Tan Gindo, sesaat sehabis perkenalan nama dan berbicara panjang lebar sebelum diminta masuk keruang tamu, dengan santainya beliau berucap “apa yang hendak kau cari, jawabannya ada disini” ujar beliau polos tampa beban, melayang seperti ucapakan guru tarikah. Sontak Tan Gindo kaget, ada apa gerangan kenapa beliau berucap demikian.

Setelah masuk keurang tamu, barulah Tan Gindo sedikit tersadar beliau bukanlah orang sembarangan dan bukan tidak punya alasan untuk berucap demikian. Disebuah sudut dinding utama ruang tamu beliau, berjejer foto para Habaib yang pernah Tan Gindo lihat semenjak dari Lamongan Jawa Timur lalu ketika masih merantau 2014 silam. Ketika itu Tan Gindo baru saja mengenal dan bersentuhan dengan para Habaib di Nusantara, bahkan setelah mendapatkan informasi dari para Habib yang ada Tan Gindo pernah berdoa membatin “ya Allah, dimanapun aku berada dan kemanapun aku pergi, pertemukanlah aku dengan jiran-jiran Nabi Muhammad SAW, Rasul-Mu pembawa rahmat bagi seluruh alam, Allahumma Sholli ala Muhammad”.

Semenjak itu Tan Gindo selalu seperti berpindah dari satu Habaib ke Habaib lainnya sehingga seperti selalu mendapatkan cahaya; petunjuk atau jalan dari Allah untuk dipertemukan kembali dengan orang-orang berdarah mulia dan masih mengalir dalam tubuh sesorang bersama doa-doa Rasulullah. “Aku tinggalkan dua perkara yang sangat berharga pada kalian, yang pertama adalah kitab Allah, yang kedua adalah Ahlul Baitku (riwayat Imam Muslim)”. Keanehan tersebut kembali menguat ketika ditanya lagi oleh Tan Gindo kenapa beliau berucap demikian dan beliaupun mengatakan “entahlah, mulut sayapun meluncur tak sengaja, seperti ada dorongan yang menyuruh saya untuk mengucapkannya tampa berfikir” ungkap beliau seperti orang keheranan juga.

Kalau melihat fisik beliau Tan Gindo langsung ingat Ayahnya “Kardiman”; berbadan pendek kekar, gagah dan bersahaja namun mudah akrab dengan siapapun, bedanya Ayah Kardiman agak pendiam dan tidak banyak berbicara baik dilingkungan keluarga dan dimasyarakat. Barangkali karena Pak Syarief disamping sebagai salah seorang Wakil Ketua Badan Permusayaratan di desa Sungai Duri II beliau juga seorang pegawai negeri sipil di dinas pendidikan Kabupaten Bengkayang, sehingga sudah terbiasa mengahadapi orang banyak.

Kalau diluar forum beliau terlihat biasa-biasa saja, namun kalau sudah dalam forum resmi jangan coba-coba dengan beliau, bahasa dan kata-kata beliau mengalir seperti singa dipadang pasir, hal tersebut sudah sering Tan Gindo perhatihan dan hampir semua orang di desa mengetahuinya. Kalau sudah benar adanya dia akan bela habis-habisan untuk mendukung, kalau salah juga tak tanggung-tanggung dilibasnya, sehingga banyak yang tak berani berhadapan dengan beliau “face to face” apalagi di depan forum manapun.

Bahkan kalau beliau mau sesatu mungkin segala urusan di tingkat pemerintahan bisa bak “pencet tombol enter saja, jika diperlukan” ujarnya Tan Gindo mengutip dengan nada meninggi. Itu karena beliau memang telah banyak membantu meringankan masalah para aparatur pemerintahan dan membantu menyelamatkan warga ketika mengalami berbagai kesulitan ditingkat desa dan pemerintahan di Mempawah, apalagi banyak sohib-sohib seperjuangan beliau serta jaringan lainnya di Kabupaten tersbut. Salah satu prestasi beliau, semasa musim pemilu lalu pernah berhasil menyelamatkan dapil pemilihan umum di Kecamatan Sungai Kunyit sebagai ketua PPK dengan aman dan lancar tampa masalah yang berarti serta bikin puas banyak pihak.

Pada akhirnya pendampingan yang dilakukan Tan Gindo bersama tim lainnya diketahui juga oleh masyarakat umum bahwa program pendampingan yang sedang dijalankan merupakan salah satu support yang berasal dari PT. Pelindo II yang sedang berusaha keras meneruskan pembangunannya yang terbengkalai, terkendala oleh berbagai sebab sosial-politik serta jadi pergunjingan kritis warga. Dimana ketika sesaat sebelum dan sesudah masuk pendampingan pembangunan pelabuhan internasional Kijing ini masih jadi pembicaraan paling panas, aksi demonstrasi dan tuntutan warga masih sering terjadi khususnya berasal dari persatuan masyarakat nelayan. Mereka masih menuntut ganti rugi atas lahan laut yang sudah tidak aman dan nyaman lagi digunakan, padahal segala urusan tersebut sudah dianggap selesai oleh perusahaan dan pemerintahan setempat.

“Syukur, kehadiran saya tidak dikait-kaitkan secara langsung dengan situasi kusut yang masih terjadi ditengah-tengah masyarakat” ujar Tan Gindo dalam sebuah diskusi khusus. Semua agenda dilapangan dapat diselesaikan dengan baik dan cepat oleh Tan Gindo bahkan bisa buka kulit dan langsung kelihatan isi. Meskipun demikian masih ada beberapa orang tokoh yang masih dirasa menyimpan kecurigaan; sampai-sampai ada yang berkata “program ini hanya pengobat luka dan sekedar permen dikala pahit lidah” ujar tokoh tersebut di ruang publik. Namun, tokoh tersebut masih memberikan pandangan positif  bahwa memang “yang paling penting adalah kesadaran masyarakat, apakah butuh perbaikan dan kesiapan dalam menghadapi perkembangan hari ini” ujarnya meng-arifi.

Bagi Tan Gindo, persoalan proses pembangunan yang sedang dihadapi masyarakat terkait perusahaan, pemeritahan dan siapapun yang punya kepentingan atas project besar yang di depan mata; tidaklah terlalu sulit dan berat karena sudah begitu porsi dan kenyataannya dan harus di hadapi. Yang terberat adalah bagaimana membangun kesadaran setiap orang mulai dari mitra pendamping, para dampingan, para tokoh, aparatur pemerintahan hingga masyarakat luasnya lainnya untuk dapat melihat dan memotret dampak atau sebab-akibat yang akan terjadi dimasa depan dan bagaimana menyiapkan diri untuk mengantisipasinya jika semua hal terjadi.

Tan Gindo sudah membayangkan bagaimana perusahaan serupa telah berjalan lama di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Sunda Kelapa yang ternama itu; jadi apa dan bagaimana masyarakatnya, bagaimana aktivitas perusahaan dan pemerintahan setempat dalam mengelola semua kegiatan bisnis di wilayah mereka. Berbagai kemungkinan pasti akan terjadi disuatu hari nanti, kebetulan Tan Gindo sendiri memang sudah merasakan dua tempat pelabuhan tersebut ketika sempat merantau ke Surabaya 2014 lalu dan terakhir sempat tinggal di Kampung Bandan Jakarta Utara 2019 dimana keduanya merupakan wilayah inti dari garapan perusahaan PT. Pelindo tersebut.

“Ya Allah, apakah mereka benar-benar sudah tahu apa yang sedang mereka hadapi hari ini dan di massa akan datang, atau kalaupun sudah tahu apakah mereka sudah mengerti dan siap untuk menghadapinya” ujar Tan Gindo suatu waktu merenung. Terutama para pemuda dan generasi yang hari ini yang akan jadi pelanjut perjuangan massa depan di negeri Mempawah – negeri bertuah “dimanakah pemuda-pemudi Sungai Kunyit ini, kemanakah mereka dan apa yang telah mereka persiapkan” ujar Tan Gindo bimbang.

Ternyata pada bulan pertama menjadi pendamping desa dan semenjak ikut terjun melakukan penelitian sosial hal ini telah menjadi pemikiran dan kerisauan Tan Gindo sehingga sempat melahirkan sebuah puisi dan wall facebook-nya; kebetulan dari pusat gegara saat itu sedang terjadi polemik politik yang mengatas namakan dirinya “Kita adalah Indonesia dan Kami selamatkan Indonesia”

…………………

JEJAK MEMPAWAH

Dibawah terik mentari
Beratapkan langit
Berteman burung-burung laut
Dihamparan bumi Mempawah
Kala itu…
Hawa panas mulai berdatangan
Jejak langkah pertemuan dan perpisahan
Seiring dengan naik-turunnya degupan jantung
Begitu sesak oleh nafas-nafas pencari karunia
Kelak, pasti tersisa rasa takjub dan keheranan
Diantara mereka; sebuah metropolis akan hadir
Ditengah kusutnya perkampungan.
Siapa tanggap akan dapat
Siapa cermat akan siap
Siapa lengah akan disikat
Sipa lupa akan kehilangan
Barangkali jejak itu bisa terhapus dari negeri ini
Namun, asa dan rasa akan terasa nyeri dalam penyesalan
Bumi Mempawah juga bagian dari Kami & Kita
Yang sedang dirundung kegalauan dalam ruang kebangsaan;
Rebut berebut tahta dan kehormatan, sementara…
Tak lama lagi semua akan begeser dengan senyap
Bahkan lenyap…
Semua pasti kan terjadi jika tak pernah dimengerti
Kehilangan pundi-pundi sejati di negeri ini
Maka, bukalah matamu wahai anak bangsa
& bersiaplah…

Kuasa dan dilema masyarakat, perusahaan dan pemerintahan di Kabupaten Mempawah adalah matahari baru yang akan dihadapi Tan Gindo dalam pengabdiannya sebagai seorang yang di anggap ahli pemberdayaan, profesi yang sedang digelutinya. Sekali lagi Tan Gindo dalam hidupnya merasa akan “menantang matahari” baru disamping matahari-matahari lain yang selama ini telah dihadapinya. Salah dalam menghadapinya akan hangus terbakar, pandai menghadapinya akan selamat dan bermanfaat.

Melalui berbagai pengalaman massa lalu yang lebih kurang telah 15 tahun dijalaninya bagi Tan Gindo tentu menjadi hal yang semakin menarik dan menantang hidupnya. Biasanya hanya perlu menghadapi satu matahari, sekarang akan menghadapi beragam matahari dalam satu tempat, waktu dan kesempatan. Tampa ragu akhirnya Tan Gindo meyakinkan diri “insya Allah pasti saya bisa menghadapinya, jangankan dicaci, dihina, dicecar, dikerjain atau selevel dari itu oleh berbagai orang dan kepentingan, di ancam dibunuhpun ; saya sudah pernah melaluinya” ujar Tan Gindo dengan tatapan yakin dan membangkitkan diri.

“Hidup adalah perjuangan dan hari ini perjuangan saya adalah di bumi Mempawah, jika ini adalah sebuah pertempuran maka saya adalah pasukan sekaligus bisa jadi panglimanya, hidup mulia atau mati syahid” ujar Tan Gindo penuh ghairah sambil mengenang sejarah massa lalunya penuh optimis. “Seandainya ini adalah sebuah kegelapan saya masih punya sebuah lilin yang telah dibawa semenjak massa lampau, sementara seberkas cahaya dibumi Mempawah masih terlihat-menyebar luas untuk dimanfaatkan” ujar Tan Gindo puitis.

Begitulah Tan Gindo memadukan inspirasi dan motivasi hidupnya dalam pengabdian di Mempawah dimalam ngopian bersama mitranya Robby sembari bercerita tentang massa lalu satu persatu agar dapat saling memahami kelemahan dan kelibahan antara sesama tim kerja. “Saya masih seperti dulu, Tan Gindo belum merasa berubah untuk sebuah prinsip dan perjuangan yang telah dilalui semenjak kecil, remaja, hingga dibangku perkuliahan menjadi tokoh dianggap fonomenal bahkan dibilang sinting oleh sebagian sahabat dan sanak saudara kampong sana” ujar Tan Gindo tersenyum simpul.

Sembari banyak menyimpan rasa dan harapan sambil berdoa pada Allah yang kuasa “ya Allah inilah jalan hidup yang telah engkau amanahkan padaku, maka berikanlah aku kekuatan, taufik dan ridha-Mu agar semua jadi keberkahan serta ampunan-Mu jika aku berlebihan” ujar Tan Gindo penuh khidmat. Sambil mengutip sebuah pituah nenek moyang dari ranah Minang;

“Karano indak mambao galah, mananti takadia kasamonyo, mudarat mufaat tak dikana, alamaik binaso kasudahannyo. Kalau ketek dibari namo, urang gadang dibari gala, nak tapek adaik jo limbago, faham adaik nak nyato bana. Mancaliak tuah ka nan manang, maliek contoh ka nan sudah, manuladan ka nan baik. Sakalam kalam hari sabuah bintang bacahayo juo. tabujua lalu tabalintang patah, adat lamo pusako usang bak baro api dipagang juo”

(Senantiasalah kita dalam hidup bergaul memikirkan mudarat dan mamfaat, agar sentosa hidup bersama. Kalau tidak dipikirkan alamat hidup akan sengsara. Kalau dapat mendalami ajaran adat-budaya kita akan mendapatkan mutiara yang berharga didalamnya yang berguna untuk hidup bergaul dalam masyarakat. Selalulah kita melihat hasil yang baik dan dapat pula kita laksanakan hal yang positif. Tidak seluruh orang keluar dari garis kebenaran, sekurang-kurangnya satu orang ada yang menegakkannya, ketika kebenaran sudah terima menjadi pegangan apapun resikonya harus dipegang dengan teguh pendirian)

Bersambung ke Bag. 8



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer