Connect with us

News

Tren Menjadi Pengemis Menjelang Lebaran

Tren Menjadi Pengemis Menjelang Lebaran


Oleh: Yudia Falentina, A.Md.

Bulan Ramadan merupakan bulan dimana segala amal perbuatan umat muslim dilipat gandakan oleh Allah SWT. Ramadan adalah bulan berkah, karena bisa mendapatkan rezeki berlimpah.

Saat Ramadan tiba, para pengemis berbondong-bondong menuju kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bogor dan kota besar lainnya. Mereka berdatangan dari berbagai wilayah dengan usia beragam, ada yang masih bayi, sekolah dasar, ada juga yang sudah tua renda. Berharap mendapatkan belas kasihan dari para penderma.

Fenomena banjirnya pengemis saat Ramadan cukup meresahkan berbagai pihak. Di Jakarta misalnya, lonjakan pengemis hampir terjadi setiap tahun.

Banyaknya pengemis di jalanan memicu berbagai permasalahan dan tindakan kriminal lainnya, sebut saja masalah penipuan, perampokan, pelecehan seksual, dan kemacetan.

Telah sering diadakan razia terhadap para gepeng ini, namun tidak membuat efek jera bagi mereka. Bahkan ada pula yang sudah sering razia, tapi tetap kembali ke pekerjaannya semula.

Berbagai alasan membuat mereka menadahkan tangan, salah satunya dengan mengemis dapat banyak uang.

Dalam sehari bisa terkumpul Rp.100.000-Rp.200.000 pada hari biasa, jika dikalikan satu bulan mereka bisa meraup hasil Rp. 6.000.000. Jumlah yang besar, bahkan mengalahkan gaji pokok ASN golongan empat.

Menjelang Lebaran hasilnya pun meningkat berkali lipat, bisa membeli berkarung-karung ketupat. Mengemis merupakan pekerjaan yang mudah dilakukan, cukup bermodal pakaian lusuh dan kotak yang kumal mereka mampu mengumpulkan uang ratusan ribu rupiah per harinya.

Mereka tidak perlu sekolah tinggi dan kerja keras buat mendapatkan rupiah, wajar saja mereka enggan berhenti dari pekerjaan ini.

Akar Permasalahan Maraknya Pengemis di Jalanan

Maraknya pengemis pada bulan Ramadan merupakan kasus yang berulang. Berbagai cara pencegahan telah dilakukan, tapi usaha tersebut tidak mempan. Karena itu mencari akar permasalahan kudu penting dilakukan.

Penerapan sistem Kapitalistik di negara kita merupakan faktor penyebab utama permasalahan di negeri ini, termasuk soal pengemis.

Dalam dunia kapitalis yang berkuasa adalah yang punya modal, sehingga masyarakat tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi kebutuhannya. Siapa yang punya uang dialah yang menguasai pasar, sumber-sumber penghidupan seperti air, tanah dan barang-barang kebutuhan pokok.

Masyarakat yang tidak punya uang hanya bisa gigit jari, untuk berbisnis tidak punya nyali karena tidak ada yang membekingi. Susah memenuhi biaya hidup sehari-hari, apalagi kuliah sampai ke perguruan tinggi. Tidak percaya, tanya aja sama pak haji. Hihi.

Selain itu sikap menjauhkan agama dari kehidupan juga jadi pemicu permasalahan. Agama hanya dipakai ketika beribadah, tapi jauh dari agama ketika berada ditengah-tengah kehidupan.

Ini pula yang terjadi pada para pengemis, ada yang terpaksa mengemis karena memang fakir miskin dan jadi dan ada pula yang menjadikan ladang bisnis.

Bagi fakir miskin, memang tugas kita meringankan beban mereka. Namun mengemis sebagai ladang bisnis, membawa mereka pada sikap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan simpati penderma. Ada yang berpura-pura cacat, korengan, buta, hamil tua, memanfaatkan balita dan cara-cara tercela lainnya. Tindakan seperti ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Solusi permasalahan

Islam mempunyai solusi yang ampuh dan mampu menjawab sampai keakar masalah. Dalam islam kekayaan alam yang memiliki deposit sangat besar tidak boleh dimiliki secara pribadi maupun keluarga. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “manusia bersekutu dalam (memanfaatkan) tiga hal, yaitu air, padang gembalaan, dan api (energi)” (HR. Abu Daud. no 3479).

Kekayaan alam seperti hadis diatas tidak boleh dikuasai oleh seorang saja (privatisasi), harus dikuasai oleh negara dan didistribusikan secara merata pada seluruh rakyat indonesia. Tapi yang ada saat ini, justru yang menguasai hayat hidup orang banyak seperti penguasaan air minum, emas, sumber energi, dll telah dikelola oleh asing, negara indonesia hanya dapat beberapa persen saja, bagaimana rakyat mau sejahtera?.

Perbuatan pengemis (meminta-minta) adalah terlarang dalam Islam. “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api. Terserah padanya, apakah ia akan mengumpulkannya sedikit atau memperbanyaknya.” (HR. Muslim no. 1041).

Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya.” (HR. Bukhari No. 1474 dan Muslim no. 1040).

Sesungguhnya meminta-minta adalah topeng yang dikenakan pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa.” (HR. At Tirmidzi no. 681).

Ulama membolehkan mengemis jika dalam keadaan darurat, dan memakruhkan mengemis bagi orang yang mampu bekerja. Mengemis hukumnya makruh dengan tiga syarat yakni tidak menghinakan dirinya, tidak memaksa jika meminta dan tidak menimbulkan gangguan kepada penderma. Jika salah satu syarat diatas tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram menurut ulama.

Islam juga mengajarkan untuk menjaga Izzah dan Iffah. Izzah merupakan harga diri yang tinggi seorang muslim yang membuatnya tidak mau merendahkan diri hanya demi rupiah. Sedangkan Iffah merupakan rasa malu dalam taqwa termasuk rasa malu untuk meminta-minta.

Indonesia sebagai pemeluk Islam terbesar di dunia sudah saatnya kembali memperdalam nilai-nilai Islam bukan justru meninggalkan agama.

Kita lihat saat ini buah dari penjauhan nilai-nilai Islam dari kehidupan semakin memperparah keadaan. Yang miskin umat islam. Yang jorok umat islam. Yang dicap teroris umat islam. Yang bodoh umat islam. Dan posisi yang tidak mengenakkan lainnya.

Islam sebagai rahmatan lil alamin, mampu menjawab semua permasalahan manusia, dengan syarat manusia mau tunduk dan patuh kepadaNya. Termasuk dalam penanggulangan pengemis, islam adalah solusi yang tepat, agar mereka tidak kembali ditangkap aparat. Wallahu alam bishawab. (*)


Penulis adalah Penyuluh Kehutanan PNS Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, dengan wilayah kerja di Kabupaten Solok Selatan dan Anggota grup menulis di beberapa komunitas menulis. Email: [email protected], Telp: 081363879196

Editor/Sumber: Reza s.

PADANG – Di bulan suci Ramadhan 1439 H, GO-JEK, penyedia layanan on-demand berbasis aplikasi terbesar di Indonesia,…

PADANG PANJANG – Untuk memastikan keamanan dan kelancaran di ruas jalan yang akan dilalui pemudik, Dirlantas Polda…

PARIAMAN – Toyota Kijang Club Indonesia (TKCI) Pariaman lakukan kegiatan bakti sosial di bulan Ramadhan dengan berbagi…

TANAH DATAR – Pemuka adat, tokoh masyarakat, dan pemuda-pemudi Nagari Pariangan Menyambut kepulangan perantau nagari…

TANAH DATAR – Jelang lebaran tahun ini, jajaran Sat Reskrim Narkoba Polres Tanah Datar kembali berhasil membekuk…





Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Pertimbangkan Aspirasi Rakyat! – Fadli Zon

Massa Desak Jokowi Bentuk TGPF, Fadli Zon: Pertimbangkan Aspirasi Rakyat!


Politikus Partai Gerindra Fadli Zon mendesak Presiden Joko Widodo untuk mempertimbangkan aspirasi masyarakat.

Fadli Zon meminta agar Jokowi membentuk Tim Gabungan Pencarian Fakta (TGPF) terkait kasus penembakan enam laskar FPI.

Hal itu dia sampaikan melalui akun Twitter @Fadlizon, Sabtu (19/12/2020) dini hari. Dia menanggapi sebuah artikel tentang massa yang mendesak Jokowi untuk segera membentuk tim independen pencari fakta kasus FPI.

Menurut dia, Jokowi perlu mempertimbangkan aspirasi masyarakat untuk kasus penembakan enam laskar FPI.

Pak Jokowi, mohon dipertimbangkan aspirasi masyarakat untuk dibentuknya TGPF kasus penembakan 6 anggota FPI,” cuitnya, dikutip Suara.com.

Fadli Zon menyebut pembentukan TGPF menjadi jalan tengah agar masyarakat dapat percaya bahwa keadilan masih ada.

“TGPF independen adalah jalan tengah agar masyarakat masih percaya bahwa jalan keadilan itu masih ada,” tukasnya.

Perlu diketahui, massa melakukan aksi 1812 pada (18/12/2020). Aksi tersebut dilakukan untuk menuntut penuntasan kasus penembakan enam laskar FPI.

Selain itu, dalam aksi tersebut massa meminta pembebasan Habib Rizieq Shihab yang tengah ditahan Polda Metro Jaya.

Saya menyarankan kepada Bapak Presiden agar segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang terdiri dari berbagai kalangan elemen bangsa,” ujar Fadli Zon dalam kanal Youtube Fadli Zon Official.

Dia mengatakan anggota TGPF berasal dari komnas HAM, aktivis HAM, perwakilan ulama seperti Majelis Ulama Indonesia atau ormas-ormas islam lain.

Sebab, menurut Fadli, kasus ini perlu diusut tuntas agar masyarakat tidak kehilangan rasa percaya terhadap hukum di Indonesia.

“Publik di-trushed ketidakpercayaan pada hukum. Karena hukum seperti yang sudah klise dan berulang-ulang kita katakan selalu tajam kepada yang dianggap sebagai lawan-lawan politik dan tidak pernah hukum itu berjalan atau tumpul kepada mereka yang dianggap sebagai pro pemerintah,” tuturnya.

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Bagaimana Caranya Mencari ‘Keadilan’? – Fadli Zon

Fadli Zon Sebut Ideologi Komunis Ganas dan Kejam


Anggota DPR RI, Fadli Zon menyindir Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD terkait 6 Laskar FPI ditembak mati polisi.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu mempertanyakan cara mencari keadilan atas kematian 6 Laskar FPI di tangan polisi.

Awalnya Mahfud MD melalui akun Twitter miliknya menyebut bahwa memahami keadilan itu sulit untuk dilakukan.

Mahfud MD pun mengambil contoh pada sebuah kasus yang terjadi pada Fahri Hamzah melawan PKS.

Saat Mahkamah Agung (MA) menyatakan Fahri Hamzah menang Rp 30 miliar dari PKS, Fahri menyebut ada keadilan di Indonesia.

Namun, ketika kemenangan Rp30 miliar dibatalkan oleh Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung, pastinya malah gantian politisi PKS Hidayat Nur Wahid menyebut putusan MA adil.

Cuitan tersebut lah yang pada akhirnya menuai banyak komentar dari publik, termasuk salah satunya memdapatkan komentar dari Fadli Zon yang mengaitkan keadilan tersebut dengan kasus kematian 6 Laskar FPI yang baru-baru ini terjadi.

Fadli Zon mempertanyakan cara mencari keadilan dalam kasus kematian enam anak buah Rizieq Shihab itu.

“Bagaimana caranya mencari ‘keadilan’ bagi enam anggota FPI yang dibunuh polisi?” kata Fadli Zon dalam akun Twitter-nya.

Tak hanya itu saja, bahkan Fadli Zon juga menyindir dengan adanya peluang merealisasikan sila kedua Pancasila yang berbunyi ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’.

“Ada peluang merealisasikan ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’?” ujar Fadli Zon.

Diketahui, sebanyak 6 Laskar FPI tewas dalam aksi penembakan di Jalan Tol Jakarta – Cikampek, pada Senin 7 Desember 2020.

Dan kemudian keenam anggota FPI yang tewas ditembak mati itu, jenazahnya telah dimakamkan pada Rabu 9 Desember pagi.

Yang mana pada saat itu lima jenazah dimakamkan di Megamendung, kabupaten Bogor, yakni Andi Oktiawan (33), Faiz Ahmad Syukur (22), Ahmad Sofiyan alias Ambon (26), Muhammad Suci Khadavi (21), dan Reza (20).

Dan sementara satu jenazah lainnya yakni Luthfil Hakim (25) dimakamkan di Cengkareng, Jakarta Barat.

Menurut kepolisian, insiden tersebut berawal saat anggota polisi tengah menyelidiki informasi adanya rencana pengarahan massa jelang pemeriksaan Rizieq terkait kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan.

Sehingga Pihak Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan mengikuti kelompok yang diduga simpatisan Rizieq.

Selanjutnya, ada dua kendaraan yang ditumpangi kelompok simpatisan Rizieq memepet kendaraan milik anggota kepolisian.

Diduga mereka sempat menembak ke arah kendaraan milik anggota polisi. Hingga akhirnya, kejadian itu membuat anggota polisi di lapangan mengambil tindakan tegas terukur.

Namun, kronologi dari kepolisian tersebut berbeda dengan kronologi versi FPI. FPI justru menuding polisi yang lebih dulu memepet mereka

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Tak Ada Terorisme Dalam Islam – Fadli Zon

Sambut Curhatan Fahri Soal Harga Tes Corona, Fadli Zon: Peluang di Tengah Kesempitan


Mantan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon melontarkan kontra narasi atas wacana Terorisme yang cenderung dihubungkan dengan Islam.

Ia ungkap pendapatnya melalui laman twitter @fadlizon pada Jum’at tanggal 18 – Desember 2020.

Fadli menanggapi pernyataan polisi dalam sebuah pemberitaan yang mengungkap Jaringan Terorisme Jama’ah Islamiah.

Keterangan didalamnya memuat tentang pergerakan Jaringan Terorisme Jama’ah Islamiah (JI) yang telah menyebar di 20.067 kotak amal ke beberapa wilayah di Indonesia.

Ia tidak segan-segan menegaskan bahwa tidak ada di dalam ajaran Agama Islam itu mengenalkan tentang terorisme.

“Tak ada terorisme dalam Islam,” tegasnya.

Sebelumnya Fadli menyentil pewacanaan tentang terorisme menggunakan diksi yang unik yaitu jualan terorisme tak habis-habis.

“Jualan terorisme tak habis2,” katanya.

Pada cuitannya singkat tak lupa dia menyertakan hastag Lawan Islamofobia.

” #LawanIslamofobia,” tulisnya.

Postingan Fadli Zon dalam lamantwitternya mendapatkan 2.085 Likes dan 488 Retwitt dari Netizen.

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer