Connect with us

News

Waspada Demam Berdarah Pasca Mudik Lebaran

Waspada Demam Berdarah Pasca Mudik Lebaran

[ad_1]

dr. Hardisman, MHID, PhD

Oleh: dr. Hardisman, MHID, PhD

Hari Raya Idil Fitri 1 Syawal 1439 Hijriyah tahun ini jatuh bertepatan pada tanggal 15 Juni 2018. Tanggal 15 Juni setiap tahunnya sejak 2012 disepakati dan diperingati sebagai hari Demam Berdarah Dengue (DBD) se ASEAN.

Peringatan ini dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan akan adanya risiko DBD yang selalu mengancam. Sehingga diharapkan menjadi kewaspadaan bersama bagi pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan, dan yang lebih penting lagi bagi masyarakat. Ditengah hiruk-pikuk dan kesibukan mudik dan berlebaran, tentunya banyak masyarakat yang lupa akan kewaspadaan ini.

Ancaman Risiko DBD

Secara Nasional, sebagaimana yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan dalam Infodatin DBD, kasus penyakit ini tercatat lebih dari 126.000 pertahun, atau dengan angka kasus sebanyak 49,5/100.000 penduduk.

Angka kematiannya mendekati 1%, yang pada tahun 2015 dilaporkan ada 1.229 kasus. Bahkan Bali sebagai daerah dengan kasus DBD tertinggi mencapai 208,7/1000.000 penduduk.

Sedangkan Sumatera Barat 69,15/100.000 penduduk, maka dengan jumlah penduduk 4,8 juta jiwa lebih, ada 3.300 lebih kasus DBD setiap tahunnya dengan estimasi meninggal 30 jiwa.

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh infeksi virus dengue (DEN1, DEN2, DEN3 dan DEN4), dengan masa inkubasi antara 3 sampai 14 hari.

Bila gejala klinis telah muncul, infeksi dengue menimbulkan gejala Demam Dengue (DD) yang relatif ringan, dan dapat terjadi Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan gejala berat. Bahkan DBD juga dapat berkembang menjadi syok dengan disertai hilangnya kesadaran.

Gejala awal dimulai dari adanya demam terus menerus selama tiga hari hingga seminggu yang sisertai nyeri otot dan sendi. Selanjutnya di dalam tubuh akan terjadi penurunan trombosit yang berperan dalam hemostasis atau faktor pembekuan, sehingga terjadi pendarahan.

Bersamaan dengan itu, juga terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga dapat terjadi perpindahan cairan ka jaringan di luar pembuluh. Bila gangguan seperti ini sangat berat, akan terjadi penurunan tekanan darah, dan jika berlanjut inilah yang dapat menimbulkan syok.

Pasien yang sudah mengalami DBD atau syok, tapi tidak dikompensasi denga pemberian cairan (rehidrasi) yang optimal, maka inilah yang mengancam kematian.

Kasus-kasus kematian biasanya lebih banyak terjadi pada anak-anak, selain karena gejala lebih berat, juga karena usaha rehidrasi dengan memberikan minum atau pemberian infus lebih sulit dilakukan.

Oleh karena beratnya risiko dan konsekuensi dari infeksi dengue maka seyogyanya perlu dilakukan upaya pencegahannya sebelum semua itu terjadi. Maka setiap masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan upaya-upaya pencegahan tersebut dengan memperbaiki kondisi lingkungan.

Tingkatkan Kewaspadaan Risiko

Bulan Juni adalah waktu dimana tingginya kasus penyakit DD atau DBD secara nasional. Kondisi ini dipengaruhi oleh pertukaran musim tahunan, yang biasanya pada akhir Februari hingga Mei terjadi curah hujan yang tinggi.

Kondisi ini akan diikuti dengan peningkatan genangan air, sehingga juga terjadi peningkatan perindukan dan perkembangbiakan nyamuk yang menjadi vector (penular) penyakit DBD tersebut. Meskipun tahun ini terjadi perubahan tingkat dan pola hujan, namun sesekali juga muncul hujan yang cukup deras.

Virus dengue berkembang dalam tubuh nyamuk Aedes Spp, khususnya Aedes aegypti dan Aedes albopictus di Indonesia. Namuk Aedes Spp dapat bertahan hidup selama dua minggu atau sampai 3 bulan.

Sedangkan perkembangbiakannya dari telur, lavra, hingga sampai menjadi nyamuk dewasa dengan suhu tropis dan lembab hanya butuh 10 hari.

Waktu perkembangbiakan yang cepat ini tentunya terjadi disaat akhir-akhir musim hujan. Artinya, dalam waktu 10 hari telur tersebut sudah siap pula menggigit dan berkembangbiak.

Nyamuk dewasa betina tersebut sudah siap bertelur selama masa hidupnya, setiap tiga hari sampai satu minggu, dengan jumlah telur mencapai 200-400 butir setiap kalinya.

Dapat dibayangkan, dengan usia pendekpun selama 1,5 minggu, seekor nyamuk betina dapat bertelur hingga 1.200 butir, apalagi jika umurnya mencapai tiga bulan.

Untuk bertelur dan berkembang biak ini, nyamuk membutuhkan air jernih yang tergenang. Sehingga inilah yang mesti menjadi perhatian dalam mengurangi perkembangbiakan nyamuk.

Nyamuk dewasa juga membutuhkan darah untuk perkembangan telur dalam tubuhnya, sehingga ia menggigit dan menghisap darah mamalia atau manusia. Dalam mencari darah mamalia, nyamuk dapat terbang menempuh jarak 400-500 meter.

Masalahnya, dalam saluran cerna tubuh nyamuk tersebut juga hidup dan berkembang biak virus dengue, sehingga ketika ia menggigit, virus tersebutpun ikut berpindah atau terjadinya infeksi virus.

Sehingga untuk memberantas dan kewaspadaan terhadap DBD adalah kewaspadaan terhadap perkembangbiakan dan gigitan nyamuk.

Para pemudik telah meninggalkan rumahnya hingga waktu seminggu atau lebih. Rumah yang ditinggalkan tentu tidak ada yang membersihkan lingungan dan pekarangannya selama itu.

Dengan memahami waktu dan pola perkembangbiakan nyamuk Aedes spp, membersihkan rumah yang intens sebelum mudik tidak bisa manjadi jaminan bahwa rumah itu bebas dari risiko saat kembali nanti.

Pekarangan rumah yang tidak dibersihkan selama seminggu atau lebih, maka sudah ribuan telur dan jentik nyamuk yang berkembang. Oleh karena itu, bagi para pemudik yang telah kembali lagi ke rumahnya, perlu membersihkan segera pekarangan rumahnya, dengan fokus terhadap adanya genangan air di pada plastik-plastik bekas, dedaunan, dan tempat-tempat lainnya. (*)

*/ dr.Hardisman, MHID, PhD; Ketua Program Pascasarjana Kesmas Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK-Unand), Padang. Email: [email protected]

Editor/Sumber: Reza s.

TANAH DATAR – Telah menjadi tradisi dalam bulan Suci Ramadhan, berbagai organisasi, kelompok, Syarikat, Komunitas atau…

PADANG – PW Aisyiyah Sumbar akan menggelar musyawarah pimpinan Wilayah Aisyiyah (Musypinwil) 1 pada tanggal 7-8 Juli…

Oleh: dr. Hardisman, MHID, PhD

Ramadhan tahun 1439 Hijriah ini tinggal empat hari lagi. Tak terasa begitu cepat…

PARIAMAN – 230 orang petugas kebersihan Kota Pariaman menerima zakat dari BAZNAS Kota Pariaman sebesar dua ratus ribu…

JAKARTA – Untuk tahun 2019 Tanah Objek Reformasi Agraria (TORA) di Sumatera Barat target penyelesaian seluas 70.785, 75…



[ad_2]

Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Pemborosan dalam Reformasi Birokrasi – Fadli Zon

Fadli Zon Usul Provinsi Sumbar Ganti Nama Jadi Minangkabau

[ad_1]

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai keputusan Presiden Jokowi yang menetapkan regulasi terkait sejumlah posisi wakil menteri aneh. Termasuk dengan hadirnya Perpres Nomor 62 Tahun 2021 yang mengatur soal Wamendikbudristek.

Fadli menilai upaya yang dilakukan Jokowi termasuk pemborosan. Apalagi jika regulasi tersebut demi mengakomodir pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan jabatan.

“Kalau menurut saya agak aneh, ya. Banyak sekali wakil-wakil menteri padahal wakil-wakil menteri itu, kan, mestinya dibatasi hanya memang kementerian yang membutuhkan saja,” kata Fadli, Senin (2/8).

“Jumlah menteri, kan, sudah dibatasi dengan UU yaitu 34 menteri. Jadi wakil menteri itu, ya, bukan menteri. Jadi, ya, kalau menurut saya ini pemborosan di dalam perbaikan institusi kita atau reformasi birokrasi kita terlalu banyak,” tambahnya.

Dia lantas menyinggung soal keinginan Jokowi untuk melakukan perampingan birokrasi. Sehingga hadirnya regulasi yang mengatur soal posisi wakil menteri ini malah semakin tak konsisten.

“Dulu, kan, Pak Jokowi ingin ada perampingan, tapi ini semakin melebar. Ada wamen, ada stafsus, dan segala macam gitu, ya. Ini menurut saya jelas pemborosan uang negara. Kalau menurut saya ini lebih banyak pada akomodasi politik gitu, ya,” katanya.

Sejauh ini, posisi wamen di sejumlah kementerian dianggap tak perlu. Sebab ada pejabat eselon yang bisa membantu tugas-tugas seorang menteri.

“Ada menurut saya, kan, ada dirjen, ada direktur, dan sebagainya. Perangkat begitu besar jadi mestinya bagaimana institusi ini dibuat benar gitu, dibuat rapi, dan benar,” ujarnya.

Bagi Fadli, keputusan untuk mengakomodir pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan jabatan bisa merusak birokrasi yang ada di Indonesia.

“Itulah kesan yang muncul di masyarakat dan itu menurut saya akan merusak birokrasi, merusak reformasi birokrasi, merusak tatanan yang sudah ada,” pungkasnya.

Saat ini sudah ada 14 wamen yang ada di kementerian Jokowi. Sementara itu, Jokowi sudah meneken perpres yang memutuskan ada wamen di 5 kementerian lain. Tapi, hingga saat ini, posisi wamen di 5 kementerian itu belum diisi.

Sumber

[ad_2]

Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Kita Tunggu Sampai Sore! – Fadli Zon

Sumbangan Rp 2T Akidio Tio Muara Kebohongan? Fadli Zon: Kita Tunggu Sampai Sore!

[ad_1]

Nama Akidi Tio belakangan menjadi topik perbincangan hangat masyarakat Republik Indonesia usai keluarga besar dan ahli warisnya mengklaim akan menyumbangkan dana senilai Rp 2 Triliun untuk membantu warga yang terdampak Covid-19 dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Pada awal isu tersebut berkembang, banyak tanggapan positif dari masyarakat mengingat nilai yang akan disumbangkan cukup fantastis. Namun belakangan, sejumlah pihak termasuk politisi Fadli Zon menduga dan menilai jika kabar tersebut hanya isapan jempol

Melansir akun twitter pribadinya @Fadlizon, politisi Partai Gerindra itu memposting sebuah unggahan yang isinya merujuk pada artikel Kompas dengan judul ‘Akidi Tio, Rp 2 Triliun, dan Pelecehan Akal Sehat Para Pejabat’ disertai caption yang cukup menohok.

“Hari masih pagi, mari kita tunggu sampai Senin sore nanti apakah masuk sumbangan Rp 2T. Kalau masuk berarti ini semacam mukjizat. Kalau ternyata bohong, bisa dikenakan pasal-pasal di UU No.1 tahun 1946,” cuit Fadli Zon, Senin (2/8/2021).

Keraguan Fadli akan kabar tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, dari sumber artikel yang ditulis oleh Hamid Awaluddin yang Fadli cantumkan dalam cuitannya, disebutkan bahwa sosok Akidi Tio tidak memiliki jejak yang jelas sebagai seorang pengusaha.

Bahkan dalam sejumlah isu sebelumnya, terkait dugaan harta, janji investasi, dan bualan sumbangan menghebohkan dalam tulisan mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarusia tersebut, seluruhnya bermuara pada kebohongan.

Suarapakar.com - Sumbangan Rp 2T Akidi Tio

Meski tulisan artikel itu masih sebatas opini, namun sangat layak dipertanyakan apakah Akidi Tio memang memiliki kekayaan fantastis sebanyak itu sehingga mampu menyumbangkan dana senilai Rp 2 Triliun untuk bantuan PPKM?

Senada namun tak sama dengan Fadli Zon, Menkopolhukam Mahfud MD meeminta semua pihak untuk menanggapi kabar tersebut dengan positif dan berharap dapat terealisasi.

“Ini perspektif dari Hamid Awaluddin ttg sumbangan Rp 2 T dari Akidi Tio. Bagus, agar kita tunggu realisasinya dgn rasional,” tulis Mahfud di Twitter, Senin (2/8/2021).

Namun demikian, ia juga memberikan pengakuan jika sebelumnya pernah membuat tulisan terkait pihak yang meminta fasilitas dari Negara untuk mencari harta karun yang nantinya akan disumbangkan kembali ke Negara. Adapun pada faktanya, kabar tersebut tak dapat di validasi.

“Sy jg prnh menulis ada orng2 yg minta difasilitasi utk menggali harta karun dll yg akan disumbangkan ke negara. Tp tak bs divalidasi,” beber Mahfud lagi.

Sebelumnya, keluarga dan ahli waris Akidi Tio disebutkan akan menyumbang Rp 2 triliun untuk penanganan COVID. Sumbangan itu sendiri telah diterima secara simbolis oleh Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Eko Indra Heri pada Senin (26/7/2021).

Kabarnya uang sumbangan senilai Rp 2 Triliun itu akan masuk pada Senin (2/8/2021). Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi baik dari Polda Sumsel maupun pihak keluarga Akidi Tio.

Sumber

[ad_2]

Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Fadli Zon Koreksi Baliho Puan Maharani, Disebut Tidak Sesuai dengan KBBI – Fadli Zon

Fadli Zon Koreksi Baliho Puan Maharani, Disebut Tidak Sesuai dengan KBBI

[ad_1]

Politikus Partai Gerindra Fadli Zon memberikan koreksi terhadap baliho Ketua DPR RI Puan Maharani yang bertebaran di berbagai penjuru Indonesia.

Fadli mengoreksi penulisan diksi yang terdapat dalam narasi di baliho Puan yang menurutnya terdapat kesalahan.

“Mari gunakan bahasa Indonesia yg baik dan benar apalagi dlm bentuk baliho besar yg terpampang ke seantero negeri,” kata Fadli dalam cuitan di Twitter, Senin, 2 Agustus 2021.

Adapun Fadli memberikan koreksi terhadap penulisan kata ‘kebhinnekaan’ yang menurutnya tidak sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yg benar itu ‘kebinekaan’ bukan ‘kebhinnekaan’. Tapi kelihatannya semua baliho sdh dipajang. Sekedar koreksi,” tulis Fadli.

Lebih lanjut ia menjelaskan makna dari ‘Kebinekaan’ sesuai dengan koreksinya terhadap baliho Puan Maharani.

“‘Kebinekaan’ artinya keberagaman, berbeda-beda. Harusnya bukan keberagaman (perbedaan) yg ditonjolkan, tp persatuan dlm keberagaman itu,” lanjutnya.

“Unity in diversity, ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dlm serat ‘Kakawin Sutasoma’ karya Mpu Tantular. Jd jgn kita kepakkan sayap perbedaan, tapi persatuan.” jelasnya.

Seperti diketahui, baliho-baliho raksasa Puan Maharani bertebaran di berbagai penjuru Indonesia beberapa waktu belakangan dan kini semakin bertambah jumlahnya.

Berkaitan itu, pihak PDIP sebelumnya sudah mengungkapkan alasan baliho dan billboard Puan dipasang di berbagai tempat di Indonesia.

Menurut Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Hendrawan mengatakan bahwa pemasangan baliho Puan adalah bentuk kegembiraan karena putri Megawati Soekarnoputri itu adalah perempuan pertama yang memimpin DPR.

“Ini ekspresi kegembiraan karena Mbak PM (Puan Maharani) adalah perempuan pertama Ketua DPR dari 23 ketua DPR dalam sejarah RI. Tagline-nya macam-macam. Ada yang berkaitan dengan imbauan perkuatan gotong royong menghadapi pandemi, penguatan semangat kebangsaan, dan dorongan optimisme menghadapi masa depan,” ujar Hendrawan.

Sumber

[ad_2]

Sumber

Baca Selengkapnya

Populer