Connect with us

bpnb sumbar

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama DPD RI Gelar Orasi Pemajuan Kebudayaan Saniangbaka – siarminang.net

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama DPD RI Gelar Orasi Pemajuan Kebudayaan Saniangbaka – Beritasumbar.com


SOLOK (siarminang.net) – Saniangbaka memiliki kekayaan dalam seni dan budaya. Nagari yang berada di X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tersebut menonjol dengan kesenian tarinya yang sering ditampilkan pada panggung nasional dan internasional.

Sebagai upaya dalam pemajuan kebudayaan di Saniangbaka, Drs Suarman (mewakili Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat / BPNB Sumbar) bersama Dra. Zusneli Zubir, M.Hum. (Peneliti Sejarah di BPNB Sumbar yang juga Ketua DPD Himpunan Wanita Karya Provinsi Sumatera Barat), dan Hj. Emma Yohanna (Anggota DPD RI) melakukan Kunjungan dan Orasi Kebudayaan di Aula Kantor Wali Nagari Saniangbaka, pada Selasa 23 Februari 2021.

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama Hj. Emma Yohanna (Anggota DPD RI) saat Kunjungan dan Orasi Kebudayaan ke Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Acara Kunjungan dan Orasi Kebudayaan tersebut dipandu oleh Viva Ria (Ketua DPC Himpunan Wanita Karya Kabupaten Solok), selaku Ketua Panitia, juga diikuti oleh ibu-ibu dari HWK Sumbar: Zahara Yunus, Mardanis, dan Dian Anggraini. Kunjungan mereka disambut oleh Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Kanagarian, Ormas Adat, Bundo Kanduang, kaum perempuan, dan stakeholder terkait lainnya yang terdapat di Kanagarian Saniangbaka, dengan Tari Galombang dan Makan Bajamba dengan sajian kuliner tradisional Nagari Saniangbaka; Rinuak, Bilih, dan Samba Pucuak Ubi Ambu-Ambu.

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama Hj. Emma Yohanna saat makan bajamba, dijamu oleh Bundo Kanduang Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021 di Saniangbaka. (Dok. Istimewa)

Dalam orasinya pada acara tersebut, Drs. Suarman yang juga Pamong Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, mensosialisasikan Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. Ia memaparkan 10 objek kebudayaan dan kebijakan strategis pelestarian dan pemajuannya. Untuk mencapai hal tersebut, upaya yang efektif perlu dilakukan, dengan mendirikan Desa / Kenagarian pemajuan kebudayaan.

Menurut Suarman, hal-hal penting yang perlu direalisasikan berkenaan dengan hal tersebut yaitu dengan melakukan inventarisasi data kekayaan budaya, didukung Ormas Adat / Komunitas pelaku budaya, Perdakab / Perkot, dan Peraturan Desa/ Nagari Tentang Pemajuan Kebudayaan. Selanjutnya mutlak diperlukan program kegiatan mengimplementasikan gerakan Desa / Nagari pemajuan kebudayaan oleh Ormas atau Komunitas, dan masyarakat.

Drs. Suarman (Pamong Kebudayaan Kemdikbud RI) saat menyampaikan orasi kebudayaan dalam kunjungan ke Nagari Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Lebih lanjut Suarman mengatakan, Pemerintah Daerah melalui lintas OPD perlu mengadakan program dan kegiatan mendukung Desa / Nagari dalam pemajuan kebudayaan. Gerakan Desa / Kanagarian untuk Pemajuan Kebudayaan merupakan salah satu kegiatan prioritas Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud pada saat ini. Hal ini ditindaklanjuti oleh Unit Pelaksana Teknis Ditjenbud tersebut seperti yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat di wilayah kerjanya, meliputi Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.

Sementata itu, Zusneli Zubir, yang juga Peneliti Ahli Madya di Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat mengimbau bundo kanduang, kaum perempuan, dan masyarakat Saniangbaka, agar mempunyai kepedulian terhadap kesejarahan dan kebudayaannya. Kedua hal tersebut berkelindan, yang dapat memartabatkan, guna memajukan dan mensejahterakan kehidupan mereka.

Dra. Zusneli Zubir, M.Hum. (Ketua DPD HWK Sumbar) saat menyampaikan orasi kebudayaan dalam kunjungan ke Nagari Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Selain itu Zusneli Zubir mengatakan, banyak hal yang dapat dipetik dari kesejarahan, di antaranya untuk mengetahui kehidupan masa lalu yang mempengaruhi kehidupan masa kini dan mendatang. Begitu pula halnya dengan kebudayaan, agar tidak dipandang kekunaan, justru harus dipahami dalam batasan tertentu, dengan melihat eksistensi dan potensinya sebagai investasi masa depan. Kebudayaan itu haluan pembangunan di segala bidang.

Zusneli Zubir mengharapkan Bundo Kanduang dan kaum perempuan Nagari Saniangbaka agar berperan aktif dan bersinergi dalam melestarikan dan memajukan 10 objek kebudayaan yang dimiliki. Sesungguhnya kebudayaan itu mewarnai seluruh dimensi kehidupan. Di sisi lain, kebudayaan yang diasas dan diwariskan leluhur berkontribusi menggerakkan perekonomian dalam mensejahterakan kehidupan masyarakatnya. Kebudayaan juga berperan menjadi magnet industri pariwisata. Semua itu dapat direalisasikan dengan cara sinergitas, dalam dukungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan stakeholder vertikal yang terkait.

Pada kesempatan yang sama, Emma Yohanna dalam orasinya menyatakan bahwa kaum perempuan Nagari Saniangbaka mempunyai peranan penting untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan warisan leluhurnya. Capaian hal ini di samping untuk ketahanan budaya, tapi juga untuk pemanfaatkan potensi budaya itu sendiri agar berdayaguna buat kehidupan masa kini dan mendatang.

Hj. Emma Yohanna (Anggota DPD RI) saat menyampaikan orasi kebudayaan dalam kunjungan ke Nagari Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Emma Yohanna juga menyampaikan, Sumber Daya Manusia Kebudayaan dari kalangan perempuan adalah kekuatan penting menentukan maju mundurnya kebudayaan. Mereka adalah pelaku bersama ninik mamak dan semua elemen terkait membangkit batang tarandam, yaitu merevitalisasi, melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan yang diwarisi untuk memiliki identitas dan jati diri, bercitra keluhuran, kemajuan, dan mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman, ditandai serba modern. Hal ini diperlukan dalam rangka menanggapi permasahan yang terjadi, antara lain: krisis budi pekerti, perekonomian, dan perubahan orientasi nilai-nilai kehidupan masyarakat, terutama pada kalangan generasi muda yang sangat memprihatinkan. Hal ini dikeluhkesahkan oleh ninik namak, bundo kanduang, dan kaum perempuan Nagari Saniangbaka.

Menanggapi hal tersebut, Emma Yohanna mengimbau masyarakat setempat agar memiliki kesadaran budaya. Sesungguhnya kehidupan berbudaya adalah haluan yang tepat dalam mengatasi permasalahan yang dikemukan oleh peserta dalam rembuk budaya yang juga digelar dalam Kunjungan dan Orasi Kebudayaan tersebut.

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama Hj. Emma Yohanna didampingi Bundo Kanduang Saniangbaka saat menyaksikan proses produksi Sulaman Benang Emas Nagari Saniangbaka. (Dok. Istimewa)

Kegiatan Kunjugan dan Orasi Kebudayaan tersebut juga diisi dengan rembuk budaya, yang direspon positif oleh para peserta acara. Mereka berkomitmen untuk menjadikan Saniangbaka sebagai Nagari Pemajuan Kebudayaan, dan optimis untuk mewujudkannya, karena Nagari Saniangbaka kaya dengan budaya, baik tak benda maupun kebendaan, juga didukung dengan potensi dari aset wisata yang mempesona.

(Muhammad Fadhli)



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

bpnb sumbar

BPNB Sumbar Sosialisasikan Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau – siarminang.net

BPNB Sumbar Sosialisasikan Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau – Beritasumbar.com


Kabupaten Solok (siarminang.net)- Nagari Koto Gadang Koto Anau yang berada di kaki Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pernah jadi daerah yang kaya dengan hasil cengkehnya. Kekayaan daerah tersebut membuat kolonial Belanda pernah berdiam di sana. Perkembangan kerajaan di Minangkabau hingga perjuangan bangsa sebelum dan awal kemerdekaan juga punya catatan tersendiri bagi daerah tersebut.

Di Koto Gadang Koto Anau banyak ditemukan peninggalan sejarah, baik berupa benda maupun tak benda. Melihat potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut, Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat (BPNB Sumbar) yang berada dibawah naungan Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melakukan ‘Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau’ pada Kamis 4 Februari 2021 dari pukul 10.00 – 17.30 WIB di Aula Kantor Wali Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok.

Jon Firman Pandu, Wakil Bupati Kabupaten Solok Periode 2021 – 2026 saat bicara di acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau tersebut dihadiri oleh  Undri, SS, M.Si (Kepala BPNB Sumbar), Drs. Suarman (Pamong Kebudayaan Kemdikbud RI), Dra. Zusneli Zubir, M.Hum (Peneliti Sejarah di BPNB Sumbar), Jon Firman Pandu (Wakil Bupati Kabupaten Solok Periode 2021 – 2026), Drs. Teguh Hidayat, M.Hum (Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat), Wardarusmen, SE. MM (Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat), Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Solok, Rilyadi Walaputra, SE (Kasi Pertanian Barenlitbang Kabupaten Solok), Kepala BAPPEDA Kabupaten Solok, Madra Indriawan (Anggota Bidang Budaya DPRD Kabupaten Solok), Edi Setiawan, A.Md. (Wali Nagari Koto Gadang Anau), Onderus Zubir Dt. Bagindo Sati (Ketua Kerapatan Adat Nagari / KAN Koto Gadang Koto Anau), Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Solok, dan Tokoh Masyarakat Koto Gadang Koto Anau. Acara dihadiri  oleh 60 orang peserta termasuk warga sekitar, berlangsung dengan tertib dan penuh antusias.

Edi Setiawan saat membuka acara tersebut mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung persiapan pemajuan kebudayaan Koto Gadang Koto Anau.

Wali Nagari Koto Gadang Anau, Edi Setiawan, A.Md. saat bicara di acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Kabid Kebudayaan Kabupaten Solok pada kata sambutannya di acara tersebut mengucapkan terimakasih kepada BPNB Sumbar karena sudah membangunkan yang ‘tertidur’ untuk pemajuan kebudayaan Koto Gadang Koto Anau.

Jon Firman Pandu mengatakan, Koto Anau Koto Gadang menjadi proyek perdana pemajuan kebudayaan. Kerjasama semua stakeholder yang ada di Kabupaten Solok sangat diharapkan untuk dapat menyukseskannya, demi kesejahteraan masyarakat.

Ketua Kerapatan Adat Nagari / KAN Koto Gadang Koto Anau, Onderus Zubir Dt. Bagindo Sati saat bicara di acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Onderus Zubir saat mengekspos Koto Gadang Koto Anau pada acara tersebut mengatakan, “Masyarakat agar membiasakan menyebut Koto Gadang, bukan Koto Anau. Sejarahnya, Koto Gadang dibesarkan oleh koto yang anam. Nagari yang punya rajo akan memiliki kebudayaan yang tinggi. Saat ini nilai-nilai budaya sudah banyak yang hilang, butuh pelestarian. Banyak kebudayaan yang telah dilanggar pada saat ini. Rumah Gadang tidak lagi menghadap Gunung Talang. Banyak ‘kiramaik’ dan tuah yang hilang sejak arah Rumahgadang dirubah. Dengan adanya pemajuan kebudayaan nagari semoga kebudayaan yang hilang dapat dikembalikan. Di Koto Anau banyak permainan rakyat yang harus dilestarikan dan dibangkitkan kembali.  Tarian juga banyak, tapi mati suri. Semoga pemajuan kebudayaan dapat diwujudkan, kami siap mendukung.”

Tokoh Masyarakat Koto Gadang Koto Anau, Adi Rahman saat bicara di acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Adi Rahman, salah seorang tokoh masyarakat yang ikut tampil mengatakan, Koto Gadang Koto Anau punya potensi pariwisata yang besar. Salah satunya di Bukit Aia Angek, di puncaknya pemandangan sangat indah, terbuka 360 derajat. Danau Singkarak kelihatan dari sana, bisa jadi spot olahraga paralayang. Kuliner tradisinya sangat banyak, rendang terlezat juga berasal dari sana, bisa tahan bertahun. Sangat bagus jika Festival Koto Anau diadakan, sebagai event tahunan. Apalagi tahun 2022 kunjungan pariwisata di Sumbar akan meningkat, imbas dari pandemi. Pemerintah harus siap memanfaatkan peluang ini.

Pamong Kebudayaan Kemdikbud RI, Drs. Suarman saat bicara di acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Sementara itu, Suarman mengatakan, “Kebudayaan adalah magnet bangsa. Bisa memakmurkan rakyat. Gerakan kebudayaan butuh sinergitas. Naskah kuno mesti diamankan, jangan sampai dijual. Karena naskah kuno sangat bernilai yang tak bisa diukur dengan uang. Naskah kuno adalah cagar budaya. Bisa dieksplor bisa menjadi muatan lokal. Naskah kuno juga adalah pembelajaran. Selain itu, bahasa daerah harus dilestarikan. Peribahasa, petuah, pidato adat, harus dicatat, agar lestari, dan dibuat standardisasinya. Kebudayaan adalah salah satu sumber APBD. Pariwisata tanpa kebudayaan, akan jatuh.”

Peniliti Sejarah di BPNB Sumbar, Dra. Zusneli, M.Hum. saat bicara di acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Zusneli Zubir yang juga putri daerah Koto Gadang Koto Anau mengatakan, “Pada tahun 2007 lalu Koto Anau pernah saya usulkan untuk menjadi desa wisata. Tapi belum memperoleh dukungan. Koto Anau adalah basis perjuangan melawan kolonial dan juga di masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Koto Anau dulunya kaya dengan hasil cengkeh, membuat Belanda tertarik. Koto Anau juga punya banyak cerita rakyat. Banyak tempat yang bisa dijadikan objek wisata, seperti Medan Bapaneh, Batu Hampa, Batu Manangih. Penanaman cengkeh perlu digalakkan kembali, dengan memberi bekal penyuluhan bagi para generasimudanya. Insyaallah, BPNB Sumbar akan melakukan inventarisasi dan penelitian pada budaya dan peninggalan-peninggalan sejarah di Koto Gadang Koto Anau pada bulan Maret 2021 nanti.”

Kepala BPCB Sumbar, Drs. Teguh Hidayat, M.Hum. saat bicara di acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Pada kesempatan yang sama Teguh Hidayat, Kepala BPCB Sumbar mengatakan bahwa gerakan desa pemajuan kebudayaan adalah salah satu kegiatan utama di Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud.

Acara pembukaan Sosialisasi Pemajuan Kebudayaan Koto Gadang Koto Anau dilanjutkan dengan makan siang bersama, menikmati kuliner tradisi di Balai Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau, dan diteruskan dengan diskusi bersama.

Para peserta acara acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan saat menikmati kuliner tradisi, Balai Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Pemindahan arah Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan dari matahari terbit ke Gunung Talang jadi salah satu bahasan yang diusulkan oleh Ketua KAN pada diskusi tersebut. Dari hasil survei, untuk memindahkan arah Istano Rajo diprediksi akan menelan biaya Rp.500 juta.

Novi Lesmana, ahli waris Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan mengatakan, “Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan pernah ditawar oleh kolektor asal Malaysia sebesar 13 Milyar Rupiah, berikut dengan peninggalan-peninggalan yang ada di dalamnya, seperti tombak, batu angkek-angkek, gong, dan lainnya. Tapi kami tidak menjualnya, apalah artinya uang jika harus kehilangan harga diri.”

“Kami mengizinkan Istano Rajo dikembalikan menghadap ke arah Gunung Talang. Tapi hati-hati membukanya, karena sebagian kayunya sudah mulai lapuk. Dan kami harap dikerjakan sampai tuntas. Dan kami juga mengizinkan bila Istano Rajo dijadikan museum,” kata Novi Lesmana.

Sementara itu, Teguh Hidayat pada tanggapannya mengatakan, “Jika Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan belum termasuk salah satu cagar budaya, maka perubahan arah bisa dilakukan. Insyaallah, dalam waktu dekat saya akan ke Jakarta, rapat di Kemdikbud, saya akan mengusulkan Koto Gadang Koto Anau jadi salah satu objek kunjungan wisata.”

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Wardarusmen, SE. saat bicara di acara Sosialisasi Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Jon Firman Pandu yang akan dilantik jadi Wakil Bupati Solok pada bulan Maret 2021 mendatang mengatakan sangat mendukung pemajuan kebudayaan di Koto Gadang Koto Anau. Wardarusmen berharap Pemerintah Kabupaten Solok berperan aktif dalam pemajuan kebudayaan di daerah tersebut.

Kepala BPNB Sumbar, Undri, SS., M.Si. saat berdiskusi di Balai Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kamis 4 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

“BPNB dan BPCB Sumbar siap mendukung pemajuan kebudayaan di Koto Gadang Koto Anau, Untuk mencapai keberhasilan kegiatan tersebut diperlukan komitmen dan aksi kerja nyata dan sinergitas stakeholder terkait, mulai dari Pemkab Solok dan jajarannya, serta masyarakat Koto Gadang Koto Anau,” kata Undri.

(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)



Sumber

Baca Selengkapnya

bpnb sumbar

Zusneli Zubir Saat Seminar BPNB Sumbar Angkat Keberadaan Kerajaan Jambu Lipo di Sijunjung – siarminang.net

Zusneli Zubir Saat Seminar BPNB Sumbar Angkat Keberadaan Kerajaan Jambu Lipo di Sijunjung – Beritasumbar.com

PADANG (siarminang.net) – Berdasarkan memori kolektif dan tradisi yang masih lestari di tengah masyarakat Kanagarian Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, terungkap, bahwa pernah berdiri Kerajaan Jambu Lipo di daerah tersebut. Dra. Zusneli Zubir, M.Hum., Ketua Tim Peneliti bersama para anggotanya: Efrianto, SS., dan Rismadona, S.Sos. melaporkan hasil kajian mereka tentang keberadaan Kerajaan Jambu Lipo pada Seminar Hasil Kajian Nilai Budaya, digelar oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat (BPNB Sumbar) pada Senin 16 – 17 November 2020 di Kyriad Bumiminang Hotel, Jalan Bundo Kanduang No. 20 – 28, Padang.

BPNB Sumbar di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia membedah 10 laporan penelitian pada seminar tersebut. Acara dibuka oleh Kepala Tata Usaha BPNB Sumbar Dra. Titit Lestari. 

Zusneli Zubir bersama Tim melaporkan hasil kajian berjudul ‘Eksistensi Tradisi Kerajaan Jambu Lipo dalam Perkembangan Masyarakat di Kabupaten Sijunjung (1980 – 2000)’, mereka tampil pertama di hari pertama seminar tersebut dari pukul 9.10 – 10.40 WIB. Kajian mereka dibedah oleh Dr. Nopriyasman, M.Hum., Ketua Pasca Sarjana Sejarah Universitas Andalas dihadapan 30 orang peserta seminar yang antusias menanggapi penelitian tersebut.

Pada seminar tersebut, Zusneli Zubir mengatakan, “Eksistensi Kerajaan Jambu Lipo hingga hari ini masih terlihat dalam tingkatan upacara, keindahan dan keagungan peninggalan-peninggalan budaya, seni yang dipagelarkan, serta lingkungan alam daerah kawasan kerajaannya. Berbagai tradisi mereka warisi secara turun temurun yang masih dilaksanakan sampai sekarang, terkait dengan keberadaan Kerajaan Jambu Lipo antara lain adalah acara: bakaua (merupakan upacara syukuran), ziarah ke kubur Rajo, dan manjalang rantau.”

“Saat ini telah terjadi perpaduan antara modernitas dan tradisionalitas, yang sejalan dengan upaya pemerintah daerah menjadikan peninggalan sejarah budaya sebagai salah satu aset berharga untuk menunjang pariwisata di daerah. Dalam konteks seperti ini, warisan budaya Kerajaan Jambu Lipo muncul sebagai andalan memakmurkan negeri. Bila dikaitkan dengan gerakan lintas keraton nusantara, maka era otonomi daerah sejalan pula dengan lahirnya wacana kembalinya para Sultan. Fenemona ini juga terjadi di Kerajaan Jambu Lipo. Jambu Lipo sebagai kerajaan baru terletak di Kenagarian Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, yang berjarak sekitar 23 km dari kota Sijunjung. Wilayah kerajaannya meliputi lima puluhan desa, koto, dan atau 12 buah nagari yang tersebar dalam lima kecamatan di dua kabupaten,” kata Zusneli Zubir.

Zusneli Zubir juga mengatakan, kemunculan dunia kerajaan sebagai salah satu identitas Minangkabau berkaitan dengan strategi harga diri Harun Al Rasyid Zein (Gubernur Sumatera Barat) dalam mengangkat kembali kebudayaan Minangkabau yang disimbolkan melalui pembangunan Istana Basa. Istana dan segala bentuk peninggalan kerajaan pada akhirnya menjadi simbol par excellence dari identitas daerah di Indonesia dalam era otonomi.

Kini lembaga raja dan kerajaan lebih berfungsi sebagai sumber informasi tentang sejarah dan atau upacara-upacara yang patut. Dalam pandangan teori integrasi, Minangkabau mempunyai kemampuan khusus mengintegrasikan antara yang lama dengan yang baru, antara Islam dengan adat, serta antara dunia raja dan penghulu. Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut maka penelitian ini dilakukan, untuk melihat sejauh mana eksistensi unsur-unsur tradisional tersebut masih bertahan di Kerajaan Jambu Lipo hari ini. Penelitian ini berada di bawah payung penelitian sejarah budaya. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan arsip dan wawancara.

Nopriyasman saat membedah hasil kajian tersebut, mengatakan ,”’Eksistensi’ suatu kata yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai keberadaan. Tentu saja yang dimaksudkan penulis adalah suatu hal yang ada dan berkembang dalam hubungan tradisi kerajaan Jambu Lipo dewasa ini, yaitu dalam kerangka perkembangan masyarakat era globalisasi. Mungkin itu pula, yang menyebabkan tim peneliti membatasi tulisannya pada tahun 1980-2000 (lihat Bab I: 5), ketika era praktik kehidupan telah “berbau” moderen dan “posmoderen”. Meskipun batasan ini, secara temporal masih kurang menunjukkan ketegasan, yang jelas tim penulis sudahmendasari cara berpikirnya pada proses perubahan waktu (change over times).”

“Kehadiran laporan penelitiannya berjudul “Eksistensi Tradisi Kerajaan Jambu Lipo dalam Perkembangan Masyarakat di Kabupaten Sijunjung 1980-2000” di pentas sejarah memberi makna bagi masyarakat, penelitian, dan dunia tulis menulis. Makna itu tidak saja bagi Kerajaan Jambu Lipo, tetapi juga bagi pemerintah yang mempunyai kepentingan tersendiri dalam memajukan kebudayaan di Sumatera Barat, khususnya Sijunjung,” kata Nopriyasman.

Nopriyasman juga mengatakan, “Laporan penelitian ini merupakan salah satu hasil upaya dari para peneliti di BPNB. Ketiganya peneliti dan penulis buku yang produktif, sehingga laporan ini pun menjadi bukti tingkat keproduktifan dari para penulisnya. Bagaimana pun Tim Peneliti sudah mengupayakan “mementaskan historisitas Budaya Kerajaan Jambu Lipo” sebagai bukti dari perkembangan peradaban di Sumatera Barat, dan Sijunjung pada khususnya. Pendekatan yang dipakai secara metodis pun berdasarkan metode sejarah, sehingga hasilnya sedapatnya juga bersifat ilmiah. Bagaimanapun, laporan penelitian karya Zusneli Zubir, Efrianto, dan Rismadona ini, terlepas dari kekuatan dan kelemahannya, menjadi penyemarak bagi kehadiran berbagai penelitian sejarah dalam bidang budaya (sejarah budaya). Karya ini tidak saja berguna dalam memberi apresiasi kepada sejarah budaya, tetapi tentunya dapat memantik diskusi dan penelitian lebih lanjut terkait dinamika dan eksistensi kerajaan di Minangkabau (Sumatera Barat).”

“Karya Zusneli Zubir, Efrianto, dan Rismadona bertolak dari ilmu Sejarah, sedikit banyaknya menambah terang informasi tentang keadaan sejarah Kerajaan Jambu Lipo. Pendekatan yang diambil pengarang memberikan petunjuk bagi kisah sejarah di sekitar praktik budaya yang pernah dan terus berlanjut dalam sejarah. Mudah-mudahan sesuai harapan penulisnya, karya mereka bermanfaat bagi pengetahuan, bermanfaat bagi pembuat kebijakan dalam mengembangkan pariwisata di tingkat lokal, dan bermanfaat bagi masyarakat dalam mengembangkan diri dalam mengolah potensi diri dan masyarakatnya. Semoga,” kata Nopriyasman.



Sumber

Baca Selengkapnya

bpnb sumbar

Suarman Sampaikan Pesan Inspiratif di Pembukaan Seminar Pelestarian Nilai Budaya – siarminang.net

Suarman Sampaikan Pesan Inspiratif di Pembukaan Seminar Pelestarian Nilai Budaya – Beritasumbar.com


PADANG (siarminang.net) – Sejarah dan budaya punya hubungan yang sangat erat dan tak dapat terpisahkan. Bertepatan dengan Hari Pahlawan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat (BPNB Sumbar) menggelar Seminar Pelestarian Nilai Budaya pada 10 – 12 November 2020 di Hotel Grand Inna Muara, Jalan Gereja No. 34, Padang.

Seminar Pelestarian Nilai Budaya tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman pada Selasa 10 November 2020 pukul 19.00 WIB dihadapan 150 orang peserta. Acara pembukaan tersebut turut dihadiri oleh utusan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, serta Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Sumatera Barat, juga oleh para budayawan dan seniman di Sumatera Barat.

Para Mahasiswa dan pelajar yang menjadi peserta seminar merupakan nominasi Lomba Kesejarahan dari Rumah yang pemenangnya akan diumumkan dalam rangkaian acara seminar tersebut.

Suarman saat memberi kata sambutannya di acara pembukaan seminar tersebut mengatakan, “Meski covid tengah melanda dunia, tapi aktivitas kebudayaan tidak harus terhenti. Lomba Kesejarahan dari Rumah dan seminar ini adalah tanggapan kita terhadap modernisasi yang dirantai dengan perkembangan teknologi, sesuai konsensus Konggres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 yang salah satunya pemanfaatan teknologi. Lomba kita adakan secara virtual.”

Suarman juga mengatakan, lomba yang diadakan BPNB Sumbar tersebut baru pada tahap pemotivasian, peminatan, dan pemahaman pemajuan kebudayaan. Tapi lebih konkritnya adalah pengayaan pengetahuan.

Kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang kita punya kontribusi yang sangat luar biasa. Kita harus berterimakasih kepada mereka, karena merekalah intelektual-intelektual kita yang memberi identitas dan jati diri kita secara turun temurun.

Lebih lanjut Suarman mengatakan, “Tidak salah UNESCO mengatakan Indonesia itu adalah negara adibudaya dunia. Indonesia negara yang sangat luas, lebih dari tujuh belas ribu pulau dan seribu seratus etnis, dengan tujuh ratusan bahasa. Kita harus cermati dan analisis apresiasi UNESCO tersebut yang menyimpan pesan, sesungguhnya masyarakat Indonesia itu jika ingin maju haruslah memanfaatkan kebudayaan, sebab kebudayaan itulah investasi masa depan kita yang sesungguhnya.”

“Jangan kita pandang lagi kebudayaan sebagai kekunaan, tapi jadikan kebudayaan itu pondasi kita menatap masa depan untuk maju bersama. Kebudayaan itu sebagai pembentuk karakter yang bermartabat, untuk mewujudkan masyarakat madani, penggerak ekonomi, demi mensejahterakan masyarakat. Terbukti dengan banyaknya putra putri Indonesia jadi terkenal di dunia lewat kebudayaan. Budaya itu juga sumber mata pencaharian,” kata Suarman.

Selain itu, Suarman juga menyampaikan pada kata sambutannya, bahwa kebudayaan itu adalah magnet pariwisata. Pariwisata tanpa kebudayaan akan jadi sulit. Suatu daerah yang tidak peduli pada kebudayaan akan alami kemunduran, daerah yang peduli pada kebudayaan akan alami kemajuan.

Seperti juga dikatakan oleh Suarman, “Problematika kebudayaan kita saat ini karena kurangnya dilakukan ekspresi kebudayaan itu dengan sungguh-sungguh. Mari kita menanamkan kebudayaan melalui nilai-nilai kesejarahan, agar kita dapat mengapresiasi kebudayaan kita sendiri. Jika tidak kita lestarikan, akan mengalami kepunahan.”

“Semoga melalui Lomba Kesejarahan dari Rumah dan Seminar Pelestarian Nilai Budaya ini dapat menumbuhkan peminatan kita pada kebudayaan dan kesejarahan,” kata Suarman.

Sementara itu, Undri, S.S, M.Si, Panitia seminar tersebut pada kata sambutannya mengatakan, “Seminar ini membahas tiga tema; menanamkan nilai ekspresi sejarah dan perkembangannya, ketahanan budaya dalam menghadapi globalisasi, dan pemajuan kebudayaan melalui ekspresi seni. Harapan kami, semoga seminar ini dapat menjadi media untuk mentransfer pengetahuan kepada seluruh peserta. Kegiatan ini tidak terlepas dari pelaksanaan amanah UU nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.”

Acara pembukaan seminar tersebut dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh semua hadirin, diselingi dengan penampilan Siswa SMK 7 Padang membawakan Tari Piriang Golek, dan penampilan Adella Salsabila, Siswa SMAN 2 Bukittinggi menyanyikan lagu Kelok 44. Para peserta mengikuti acara dengan tertib dan serius. Hariadi, MA. memandu doa bersama di penutup acara pembukaan tersebut.

(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer