Connect with us

kabupaten Solok

Mahyeldi Dukung Pemajuan Kebudayaan Koto Gadang Koto Anau untuk Jadi Destinasi Wisata Dunia – siarminang.net

Mahyeldi Dukung Pemajuan Kebudayaan Koto Gadang Koto Anau untuk Jadi Destinasi Wisata Dunia – Beritasumbar.com

Kabupaten Solok, siarminang.net– Peninggalan sejarah memiliki potensi besar bagi kemakmuran masyarakatnya. Jika tidak dijadikan cagar budaya, keberadaannya akan mengalami kepunahan. Menyikapi hal tersebut, Dra. Zusneli Zubir, M.Hum, Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat (BPNB Sumbar) memprakarsai Penyusunan Grand Design Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau yang digelar pada 3 – 4 April 2021 di Depan Balai Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kabupaten Solok, Kecamatan Lembang Jaya, Provinsi Sumatera Barat.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah saat membuka acara tersebut mengatakan masyarakat Minangkabau dengan ketinggian budayanya dikenal dengan semangat gotong royong yang dituangkan dalam falsafah ‘adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah’. Syarak mangato adat mamakai. Di Sumatera Barat, menyatu antara budaya dengan nilai-nilai agama, yaitu Islam. Inilah kekhasan yang dimiliki oleh masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat. Dan kekhasan ini perlu diwariskan dan ditransformasikan”.

Seperti juga disampaikan Mahyeldi, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memprogramkan Kawasan Gunung Talang, Kabupaten Solok untuk menjadi objek wisata destinasi nasional dan internasional. Koto Gadang Koto Anau sebagai salah satu nagari yang berada di Kawasan Gunung Talang sebaiknya memanfaatkan kesempatan ini guna berbenah dan juga meningkatkan sumber daya manusianya agar memiliki daya tarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan tersebut. Karena itu, Pemprov Sumbar sangat mendukung pemajuan kebudayaan di Nagari Koto Gadang Koto Anau.

Mahyeldi juga mengatakan, satu-satunya daerah di dunia yang bisa kita melihat secara sekaligus empat danau, empat gunung, air panas dan dingin secara berdampingan, dan keunikannya yang lain, hanya ada di Kabupaten Solok.

Pemerintah Kanagarian Koto Gadang Koto Anau bertindak sebagai panitia penyelenggara acara tersebut, didukung oleh ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, tokoh masyarakat, bundo kanduang, Ikatan Keluarga Koto Gadang Koto Anau (IKKA) Kota Padang, dan masyarakat setempat. Selain Gubernur Mahyeldi, acara juga dihadiri oleh Mulyadi Marcos, SE., MM. (Plh. Bupati Solok), Nasripul Romika, S.Sos. (Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok), Drs. Aprimas, MM. (mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat), Derliati, S.Sn, M.Pd. (mewakili Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Barat), Wardarusmen, SE., MM. (Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat), Dra. Zusneli Zubir (Peneliti di BPNB Sumbar), Drs. Teguh Hidayat, M. Hum (Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat – BPCB Sumbar), Dr. I Ketut Wiranyana (Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara), Aminulatif, SE., M.Pd. (Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat), dan Herianto, S.E. (Kasi Sejarah, Museum, dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Solok).

Selain itu juga dihadiri oleh Madra, SE, SH. (Anggota DPRD Kabupaten Solok),  Jon Firman Pandu (Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Solok Periode 2021 – 2026), Camat Lembang Jaya, Prof. Dr. Tafdil Husni, SE., MBA. (Rektor Universitas Bung Hatta), Drs. Yoserizal, M.Sia. (Dosen FISIP UNAND), Onderus Zubir Dt. Bagindo Sati (Ketua Kerapatan Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau), Novi Lesmana (ahli waris Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan), Dra. Usjunaida (Ketua Bundo Kanduang Nagari Koto Gadang Koto Anau), Lilik Supardi, SE. (Ketua IKKA Padang), Edi Setiawan, A.md (Walinagari Koto Gadang Koto Anau), dan lainnya.

Zusneli Zubir, Peneliti senior sejarah dan Ketua Kelompok Kerja Sejarah yang juga putri daerah Nagari Koto Gadang Koto Anau pada kata sambutannya mengatakan bahwa Koto Gadang Koto Anau adalah salah satu nagari tertua di Sumatera Barat, dapat dibuktikan dari peninggalan sejarah yang ada. Di Koto Anau bisa kita temui batu telapak kaki. Batu tersebut sama seperti batu yang ada di peninggalan Kerajaan Tarumanegara, Bogor. Selain itu juga ada Batu Balkon, masyarakat setempat menyebutnya Batu Congkak, juga ada Batu Megalit, semua memiliki banyak makna dan cerita untuk pelajaran bagi kita.

“Koto Anau juga memiliki kerajaan, bernama Kerajaan Koto Anau. Jika sebuah daerah memiliki sebuah kerajaan, tentu jadi pertanda memiliki budaya yang cukup tinggi. Baik pada bidang adat istiadat, kuliner, pakaian, sangat banyak ditemui di Koto Anau untuk kita gali. Kekayaan tersebut bisa menjadi magnet wisata. Karena itu, semua yang hadir di acara ini agar dapat ikut menyusun grand design pemajuan kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, karena keinginan kita tersebut dapat diwujudkan jika dilakukan secara bersama-sama, demi kemajuan Koto Gadang Koto Anau,” kata Zusneli Zubir.

Pada kesempatan yang sama, Jon Firman Pandu, Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Solok mengatakan, Kabupaten Solok mempersiapkan Pemajuan Kebudayaan, yang saat ini dilakukan di Nagari Koto Gadang Koto Anau. Ia berharap program ini didukung secara bersama-sama dari para pemuda-pemudi, stakeholder Nagari Koto Gadang Koto Anau, dengan bergandeng tangan memanfaatkan kesempatan sebagai pilot project pemajuan kebudayaan.

Acara pembukaan Penyusunan Grand Design Pemajuan Kebudayaan dan Peninjauan Objek Sejarah dan Budaya Koto Gadang Koto Anau Kabupaten Solok tersebut dimeriahkan dengan penampilan para generasi muda Koto Gadang Koto Anau membawakan Tari Piring, Tari Ambek-Ambek, Tari Mancak, dan silat. Kedatangan para tamu undangan diarak dari Kantor Walinagari hingga ke lokasi acara tersebut dengan permainan Momong dan Talempong, alat musik tradisi Koto Gadang Koto Anau, serta  disambut dengan Tari Galombang.

Setelah acara tersebut dibuka oleh Gubernur Mahyeldi, acara dilanjutkan dengan makan bajamba di Balai Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau, dengan sajian kuliner tradisi milik daerah tersebut, yaitu: Palai Ayam, Palai Pensi, Dendeng Bakuah, Gulai Dadah, Karupuak Jangek, Lamang Sarikayo, dan lainnya.

Usai makan bajamba, acara diteruskan dengan diskusi bersama untuk penyusunan grand design pemajuan kebudayaan, dilakukan di ruangan yang sama.

Diskusi tersebut dibuka dengan doa bersama. Untuk memulai diskusi, Zusneli Zubir mengatakan bahwa beberapa peninggalan sejarah di Koto Gadang Koto Anau sudah ada yang dihancurkan, disemen, dirusak, akibat dari ketidaktahuan masyarakat pada benda-benda bersejarah milik daerahnya yang sangat bernilai.

Teguh Hidayat, Kepala BPCB Sumbar menanggapi, 10 objek pemajuan budaya harus diiventarisasi dengan baik. Cagar budaya hanya menumpang saja. Di Koto Gadang Koto Anau masih banyak objek yang diduga sebagai cagar budaya, tapi kuncinya adalah sertifikasinya sebagai cagar budaya yang harus segera diajukan. Jika ada objek peninggalan sejarah yang dirusak, bila bukan cagar budaya, tidak ada regulasi yang bisa ditetapkan hukumnya.

Teguh Hidayat menyarankan kepada Pemerintah Nagari Koto Gadang Koto Anau agar membentuk Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk mendata objek peninggalan sejarah agar diajukan sebagai cagar budaya.

“Apakah betul objek yang mengalami pengrusakan yang disebut oleh Ibu Zusneli Zubir termasuk cagar budaya? TACB Kabupaten Solok perlu untuk menilai objek-objek yang diduga sebagai peninggalan sejarah. Secara pribadi saya mengatakan, Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan pantas jadi cagar budaya,” kata Teguh Hidayat.

Ketut Wiranyana, Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara dengan wilayah kerja 5 provinsi di Sumatera menegaskan, berbicara grand design berarti berbicara program. Langkahnya, Pemerintah Kabupaten Solok membuat TACB untuk mencatat semua peninggalan sejarah di Koto Anau Koto Gadang, baik benda maupun tak benda. Setelah tahu potensi yang dimiliki, lalu prioritaskan mana yang bisa dilakukan terlebih dahulu, karena tidak mungkin semuanya untuk dilakukan secara bersamaan. Dari data tersebut lakukanlah pembenahan terhadap objek tersebut.

Herianto, Kasi Sejarah, Museum, dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Solok mengatakan sudah mendata objek-objek peninggalan sejarah di Kabupaten Solok, baik benda maupun tak benda. Tapi TACB belum dibentuk. Untuk Koto Gadang Koto Anau belum dilakukan pendataan atau inventarisasi. Rencananya, April 2021 akan dilakukan.

Ketut Wiranyana menegaskan, Dinas Kebudayaan Kabupaten Solok seharusnya membuat TACB terlebih dahulu, setelah itu baru melakukan pencatatan peninggalan sejarah. Karena TACB tersebut yang akan diakui dalam mendata dan mengajukan objek peninggalan sejarah yang layak diajukan sebagai cagar budaya.

“Bila data peninggalan sejarah tidak ada, Dana Alokasi Khusus dari pemerintah tentu tidak bisa turun,” kata Ketut Wiranyana.

Sementara itu, Aminulatif, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat menyampaikan bahwa di antara 10 pemajuan kebudayaan dan cagar budaya, tradisi lisan, ritus, dan permainan rakyat punya kaitan erat dengan program kerja Balai Bahasa. Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat sangat mendukung pemajuan kebudayaan Koto Gadang Koto Anau untuk menjadi kampung budaya, banyak tradisi lisan, manuskrip, dan bahasa di Koto Anau berkaitan dengan program kerja Balai Bahasa. Ia berharap rencana Gubernur Mahyeldi untuk menjadikan Koto Gadang Koto Anau sebagai salah satu destinasi wisata nasional dan internasional di Kabupaten Solok dapat terwujud.

Aprisman, dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Solok mengatakan instansinya akan menilai objek peninggalan sejarah yang layak untuk disertifikasi yang berdampak baik bagi perekonomian masyarakat.

Wardarusmen, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat pada diskusi tersebut mengharapkan aksi dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Solok untuk segera membentuk TACB, agar objek-objek peninggalan sejarah di Koto Gadang Koto Anau segera ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Bupati, dan disertifikasi.

Seperti dijelaskan Teguh Hidayat, semua pekerjaan harus dimulai dengan adanya data. Bicara cagar budaya Koto Anau, artinya berbicara data peninggalan sejarah di Koto Anau. Data peninggalan sejarah sangat diperlukan, terlepas dari benar atau salahnya. 

“TACB dibentuk oleh Kabupaten Solok, bila ada kendala deskripsi bisa minta bantuan data pada BPCB Sumbar dan Balai Arkeologi Sumut,” jelas Teguh Hidayat.

Lebih lanjut Teguh Hidayat menjelaskan, TACB adalah sekolompok orang yang punya kompetensi di bidang kebudayaan, khususnya cagar budaya, yang ditunjuk oleh Bupati. Mereka adalah orang-orang yang diberi kewenangan untuk mengajukan, menaikperingkatkan suatu cagar budaya. Dalam 30 hari Bupati harus segera menetapkannya sesuai dengan kajian dalam penilaian. Ketika suatu objek peninggalan sejarah telah ditetapkan sebagai cagar budaya, akan memperoleh perlindungan hukum sebagai sebuah cagar budaya.

Ketut Wiranyana juga menegaskan, “Walinagari harus memeriksa ulang data cagar budaya yang masuk, jangan sampai ada yang ketinggalan, lalu nilai cagar mana yang akan menjadi prioritasnya.”

Herianto memberitahu kepada para peserta diskusi tersebut bahwa dari 44 cagar budaya di Kabupaten Solok yang telah didata, 10 sudah disetujui sebagai cagar budaya. Sebelum pandemi Covid-19, TACB sudah dibentuk, tapi belum disetujui.

Edi Setiawan, Walinagari Koto Gadang Koto Anau menanggapi, bahwa menhir di Koto Anau masih sangat banyak, tapi belum digali lebih dalam. Pemerintah Kanagarian sudah membukukan data peninggalan di Koto Anau, dan nanti akan diserahkan kepada Dinas Kebudayaan Kabupaten Solok.

Saat menutup diskusi tersebut, Zusneli Zubir mengatakan, BPNB Sumbar akan melakukan penelitian dan inventarisasi peninggalan sejarah di Nagari Koto Gadang Koto Anau. Ia berharap, semoga Dinas Kebudayaan Kabupaten Solok dapat melakukan percepatan dalam membentuk TACB, agar dapat bergerak bersama-sama.

Rangkaian acara Penyusunan Grand Design Pemajuan Kebudayaan Koto Gadang Koto Anau tersebut ditutup dengan kunjungan para peserta diskusi ke beberapa objek peninggalan sejarah di daerah tersebut, yaitu Surau Anjuang, Makam Keramat Datuk Ketemenggungan, dan Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan.

(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kabupaten Solok

Angin Puting Beliung Porak Porandakan 8 Rumah Warga di Jorong Sianggai-Anggai – siarminang.net

Angin Puting Beliung Porak Porandakan 8 Rumah Warga di Jorong Sianggai-Anggai – Beritasumbar.com

Kabupaten Solok ,siarminang.net,– Angin puting beliung menerjang rumah warga di Jorong Sianggai-anggai, Nagari Sarik Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada sore hari Jum’at (09 April 2021).

Sekitar pukul 16 sore saat warga baru kembali dari bekerja di sawah dan ladang, tiba-tiba angin puting beliung menerbangkan atap-atap rumah warga dan pepohonan sekitarnya. “Musibah ini mengakibatkan 8 rumah warga rusak parah dan pohon-pohon sekitarnya banyak yang tumbang” ungkap Maulana, salah seorang warga yang melihat kejadian tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, terlihat beberapa rumah yang atapnya sudah berserakan di tanah, dan tidak lagi layak untuk ditempati. Beberapa pohon tumbang juga menimpa rumah tersebut.

Maulana juga mengungkapkan bahwa warga yang rumahnya terdampak untuk sementara mengungsi dulu ke rumah saudara mereka atau rumah lain yang terdekat. “Saat ini rumah mereka belum bisa ditempati lagi, sementara mereka mengungsi dulu ke rumah saudara atau rumah lain yang terdekat” ungkapnya.

“Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kejadian ini, dan mereka yang tertimpa musibah bersabar menerimanya” ungkap Ulia salah seorang warga lainnya.

Sementara ini Kepala Jorong Sianggai-anggai belum memberikan keterangan lebih lanjut tentang musibah tersebut. (FS)



Sumber

Baca Selengkapnya

kabupaten Solok

Pembelajaran Tatap Muka di SDN 09 Lubuk Tareh pada Masa Pandemi – siarminang.net

Pembelajaran Tatap Muka di SDN 09 Lubuk Tareh pada Masa Pandemi – Beritasumbar.com

Oleh: Zulfadri
Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam IAIN Batusangkar

Kabupaten Solok,siarminang.net,-SDN 09 Lubuk tareh terletak di jorong Lubuk Tareh kenagarian Garabak Data kecamatan Tigo Lurah Kabupaten Solok. Lokasi Sekolah ini sangat jauh dari pusat kota solok bahkan untuk sampai ke sekolah ini harus melewati Kabupaten Dharmasraya terlebih dahulu.

Selama masa pandemi COVID- 19 ini SDN 09 Lubuk Tareh tetap melasksanakan belajar tatap muka atas keputusan kepala sekolah Rusima karna terkendela banyak hal sekolah ini tidak bisa menjalankan proses pembelajaran daring. Sekolah tatap muka ini dilaksanakan mulai dari hari senin sampai pada hari jum’at dan pada hari sabtu diliburkan. Sekolah tatap muka ini dilaksanakan pada terjadinya awal COVID- 19 dan dilaksanakan sampai pada saat sekarang ini dan selama ini terlaksana dengan baik seperti biasanya.

Pembelajaran tatap muka ini harus tetap diberlansungkan karna di lubuk tareh tidak bisa untuk melakukan belajar secara daring. Seandainya pembelajaran daring harus dilaksanakan, ada beberapa faktor yang sangat menjadi kendala utama jika pembelajaran daring harus dilaksanakan di SD 09 Lubuk Tareh ini diantaranya yaitu tidak adanya akses internet.

Untuk mendapatkan jaringan internet mereka harus pergi ke kampung sebelah melewati jalan yang kurang memadai apalagi bila hari hujan jalan akan susah untuk dilewati. Ekonomi masyarakat disini rata- rata menengah kebawah . Anak- anak mereka yang masih sekolah SD tidak dibelikan handphone karena tidak begitu dibutuhkan.

Jika pembelajaran daring tetap dilaksanakan di SDN 09 Lubuk Tareh ini mungkin sangat banyak siswa dan siswi yang tidak mengikuti pembelajaran daring tersebut. Dan mungkin saja ada dari mereka yang berhenti sekolah sampai sekolah tatap muka dilaksanakan kembali.

Dan bagi siswa dan siswi yang mencoba untuk menyesuaikan dengan pembelajaran daring mereka akan pergi ke kampung sebelah tiap hari mulai dari hari senin sampai jum’at. Jika musim penghujan mereka tidak akan bisa mengikuti belajar daring karena lokasinya agak sedikit jauh dan jalan yang tidak memadai. Juga sering kali terjadi  ketika musim penghujan jaringan akan jelek dan bahkan hilang.

Maka Pembelajaran tatap muka ini harus dilaksanakan namun tidak secara bebas saja tapi juga memperhatikan protokol kesehatan sebagaimana yang di tetapkan pemerintah seperti jaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker. Namun untuk penggunaan masker masih kurang terlaksana secara maksimal. Dan sebelum memasuki kelas semua suhu siswa dan siswi di cek terlebih dahulu setelah itu baru diperbolehkan untuk memasuki kelas. Jika ada siswa dan siswi yang suhu tubuhnya tinggi maka harus di cek lebih lanjut ke bidan desa ataupun kerumah sakit.

Tidak memakai masker di kawasan sekolah ini tidak begitu menjadi masalah karena SDN 09 Lubuk Tareh terletak di daerah perkampungan yang sangat jauh dari pusat perkotaan dan penduduk di kampung ini juga sangat jarang sekali keluar dari kampung tersebut. Karena itu banyak siswa yang tidak memakai masker. Bukan berarti siswa dan siswi di sini tidak peduli terhadap arahan pemerintah tentang protokol kesehatan. Setiap orang yang baru datang dari perkotaan di kampung ini juga harus karantina selama 14 hari dirumah dan kesehatannya selalu di cek setiap hari. Hal ini membuktikan kewaspadaan masyarakat terhadap COVID- 19.

Pada tahun 2021 ini kalau pemerintah masih belum mengizinkan untuk sekolah tatap muka secara keseluruhan SDN 09 Lubuk Tareh akan tetap melanjutkan sekolah tatap muka seperti biasa. Karena walau bagaimanapun di sekolah ini memang belum bisa untuk menerapkan sistem belajar secara daring. Untuk belajar daring ini sangat memerlukan jaringan yang bagus sementara itu di Lubuk Tareh ini jaringan untuk menelepon saja susah apalagi untuk internet yang memerlukan jaringan bagus.

Pembelajaran tatap muka ini berjalan lebih  efektif di bandingkan dengan pembelajaran daring. Pembelajaran tatap muka juga lebih mudah dimengerti oleh siswa dibandingkan pembelajaran daring yang terkendala oleh banyak hal seperti:

  1. Handphone tidak ada
  2. Ada handphone tapi jadul
  3. Akses internet yang susah/ tidak memadai
  4. Tidak mengerti dengan Internet
  5. Tidak mempunyai paket Internet
  6. Dll



Sumber

Baca Selengkapnya

bundo kanduang

Kunjungan Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka Kabupaten Solok ke Padang Disambut Orasi Kebudayaan – siarminang.net

Kunjungan Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka Kabupaten Solok ke Padang Disambut Orasi Kebudayaan – Beritasumbar.com


PADANG (siarminang.net) – Pariwisata dapat didayagunakan sebagai salah satu media dalam pelestarian nilai-nilai budaya. Para pegiat kebudayaan di Sumatera Barat mengimplementasikannya saat Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka Kabupaten Solok melakukan kunjungan ke Padang, Rabu (23/12/2020).

Kedatangan Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka tersebut disambut orasi kebudayaan, bertajuk ‘Sinergitas Pelestarian dan Pemajuan Kebudayaan Minangkabau’ yang digelar di Aula Gedung Museum Adityawarman, Jalan Diponegoro No. 10 Padang. 

Narasumber dan moderator orasi budaya menyambut Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka Kabupaten Solok saat berkunjung ke Padang. (Dok. Istimewa)

Orasi kebudayaan tersebut menghadirkan empat Narasumber: Hj. Emma Yohanna (Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia), Dra. Fahyu Yeretti, SE (Plh Kepala Museum Adityawarman Sumatera Barat), Drs. Suarman (Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat), dan Dra. Zusneli Zubir, M.Hum (Ahli Peneliti Madya BPNB Sumbar), dimoderatori oleh Viva Ria (Ketua DPC Himpunan Wanita Karya Kota Solok).

Selain diikuti oleh 80 orang dari Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka yang melakukan kunjungan, orasi budaya yang berlangsung dari pukul 09.30 – 12.00 WIB tersebut juga dihadiri oleh tokoh-tokoh Saniangbaka; Ery Mefri (Koreografer), Abel Tasman (Budayawan / mantan Anggota DPRD RI), dan lainnya. 

Dra. Zusneli Zubir, M.Hum. saat menyampaikan orasi budaya kepada Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka Kabupaten Solok ketika berkunjung ke Padang. (Dok. Istimewa)

Zusneli Zubir ketika kami wawancarai saat acara berlangsung mengatakan, “Tujuan awal Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka ke Padang untuk kunjungan wisata. Namun kami ingin kunjungan ini jadi kesempatan bagi mereka untuk lebih memperkaya wawasan tentang kebudayaan melalui acara orasi budaya yang kami prakarsai ini.”

“Kami ingin masyarakat makin memahami, produk kebudayaan tidak hanya berupa kesenian tari, musik, dan lagu. Akan tetapi, banyak produk kebudayaan lainnya yang harus kita lestarikan, seperti pidato adat, kuliner, pakaian tradisi, permainan rakyat, dan lainnya. Tugas kita bersama menjaganya agar tidak punah,” kata Zusneli Zubir yang juga Ketua DPD HWK Sumbar Periode 2019 – 2024.

Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka Kabupaten Solok bersama para Narasumber orasi budaya di Padang. (Dok. Istimewa)

Zusneli Zubir juga mengatakan, “Kunjungan Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka ke Padang jadi momen berharga untuk mengingatkan kepada seluruh bundo kanduang di Sumatera Barat tentang peranan penting perempuan Minangkabau dalam pelestarian nilai-nilai budaya.”

Emma Yohanna pada orasi budaya tersebut berbicara kebijakan Pemerintah tentang kebudayaan. Emma Yohanna selama ini jadi salah seorang tokoh Sumatera Barat yang aktif menyalurkan aspirasi masyarakat Sumatera Barat ke Tingkat Pusat, terutama terkait pelestarian nilai-nilai budaya. Suarman pada orasi budayanya menguraikan tentang 10 Pemajuan Kebudayaan.

BPNB Sumbar beri cenderamata untuk Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka Kabupaten Solok yang mengikuti orasi budaya. (Dok. Istimewa)

Sementara itu, Fahyu Yeretti pada orasi budayanya mengatakan, “Keberadaan museum bukan hanya untuk pelajar dan mahasiswa saja, tapi untuk semua kalangan. Peninggalan benda-benda bersejarah menyimpan nilai-nilai kebudayaan yang sarat dengan filosofi, diwariskan oleh para leluhur pada setiap generasi secara berkelanjutan untuk melahirkan kepribadian dan tatanan kehidupan masyarakat yang baik serta berkarakter.”

Seusai acara orasi kebudayaan tersebut, Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka disuguhi pameran koleksi tetap Museum  Adityawarman dan pameran temporal yang bertemakan Surau. BPNB Sumbar ikut menggelar pameran pada acara tersebut, mengangkat hasil-hasil kajian sejarah kebudayaan Minangkabau, dikoordinatori oleh Undri, SS., M.Si, Ahli Peneliti Madya BPNB Sumbar.

Suasana orasi budaya menyambut Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka Kabupaten Solok saat berkunjung ke Padang. (Dok. Istimewa)

Viva Ria, Koordinator kunjungan Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka pada kesempatan yang sama mengatakan, “Kami tidak menyangka kunjungan komunitas kami ke Padang disambut dengan kegiatan edukasi, sehingga jadi memperluas wawasan kami tentang kebudayaan Minangkabau. Kampung halaman kami Nagari Saniangbaka kaya dengan produk-produk kebudayaan, dan juga memiliki tokoh-tokoh pelestari kebudayaan yang tidak hanya berkiprah secara nasional, tapi juga di tingkat internasional, dalam upaya mengenalkan daerah kami.”

“Kami ingin kegiatan hari ini tak hanya sampai di sini saja, perhatian pemerintah sangat kami harapkan untuk mendukung program-program eksplorasi kebudayaan yang ada di Saniangbaka. Semoga suatu saat kita dapat menggelar event Festival Saniangbaka, ajang tahunan untuk lebih mengenalkan produk-produk kebudayaan yang dimiliki, sebagai salah satu jalan dalam pelestarian budaya yang bernilai ekonomis, demi mensejahterakan masyarakatnya,” kata Viva Ria.

Makan bersama saat Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka Kabupaten Solok saat berkunjung ke Padang. (Dok. Istimewa)

Kunjungan Komunitas Bundo Kanduang Saniangbaka ke Museum Adityawarman tersebut ditutup dengan acara makan bersama, menikmati masakan tradisi Minangkabau yang disajikan di atas daun pisang, mereka duduk pada tikar yang dibentang di pelataran taman Museum Adityawarman.

(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer