Connect with us

Politik

Wakapolda Lakukan Peletakan Batu pertama Pembangunan Lapangan Tembak Dan Panahan – siarminang.net

Wakapolda Lakukan Peletakan Batu pertama Pembangunan Lapangan Tembak Dan Panahan – Beritasumbar.com

Sijunjung, siarminang.net,-Waka Kapolda Sumbar Brigjen Edi Mardianto SIK, MSi, melakukan Ground Breaking pembangunan lapangan Tembak dan Panahan Kabupaten Sijunjung bertaraf nasional di komplek Kantor DPRD Sijunjung di Kandang Baru, Kamis (11/2).

Dengan peletakan batu pertama pembangunan lapangan Tembak dan Panahan ini, Kedepannya, akan lahir atlit-atlit Tembak dan Panahan dari Kabupaten Sijunjung. Untuk itu, tolong rawat dan manfaatkan lapangan ini sebaik- baiknya. Jangan sampai di abaikan arena yang telah dibangun dengan biaya yang besar ini.

Bagi Polri dan TNI di pergunakan untuk melatih kemahiran dalam menembak sasaran.Dengan sering berlatih, akan semakin tepat dalam membidik titik sasaran tembak. Kemudian lingkungan yang indah oleh tumbuhnya pohon- pohon yang rindang supaya dipertahankan. Jangan sampai pohon disekeliling lapangan tembak dan panahan ini ditebangi, pesan Waka Polda.

Membangun lebih gampang dari pada merawat dan memanfaatkan sarana yang sudah berdiri dengan kokoh dan indah. Untuk jajaran Polri, TNI serta masyarakat yang hobi menembak dan Panahan untuk memanfaatkan sarana yang dimiliki ini semaksimal mungkin. Olahh raga menembak dan Panahan merupakan olah raga yang membutuhkan konsentrasi, sabar dan ketekunan dalam berlatih, kata Edi Mardianto.

Bupati Sijunjung yang diwakili Sekdakab Zefnihan dalam kesempatan itu mengatakan, pembangunan Lapangan Tembak dan Panahan ini, diharapkan akan lahir atlit Tembak dan Panahan yang bisa mengharumkan nama Ranah Lansek Manih di kancah olah raga Sumatera Barat.
Kepala Dinas PUPR Sijunjung Budi Syafarman dalam laporannya menyampaikan, lapangan ini dibangun di atas areal sekitar 1,6 hektar. Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan lapangan Tembak dan Panahan ini sampai selesai sekitar 4,5 milyar. Untuk tahun ini tersedia dana sebesar 1 milyar yang pergunakan untuk pembangunan awal. Pekerjaannya akan selesai pada tahun anggaran APBD 2022 nanti.

Adapun sarana yang mau dibangun nantinya, pertama lapangan Tembak dan Panahan, gedung, tempat parkir dan taman disekitar lapangan ini, jelas Budi.(*)



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

bpnb sumbar

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama DPD RI Gelar Orasi Pemajuan Kebudayaan Saniangbaka – siarminang.net

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama DPD RI Gelar Orasi Pemajuan Kebudayaan Saniangbaka – Beritasumbar.com


SOLOK (siarminang.net) – Saniangbaka memiliki kekayaan dalam seni dan budaya. Nagari yang berada di X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tersebut menonjol dengan kesenian tarinya yang sering ditampilkan pada panggung nasional dan internasional.

Sebagai upaya dalam pemajuan kebudayaan di Saniangbaka, Drs Suarman (mewakili Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat / BPNB Sumbar) bersama Dra. Zusneli Zubir, M.Hum. (Peneliti Sejarah di BPNB Sumbar yang juga Ketua DPD Himpunan Wanita Karya Provinsi Sumatera Barat), dan Hj. Emma Yohanna (Anggota DPD RI) melakukan Kunjungan dan Orasi Kebudayaan di Aula Kantor Wali Nagari Saniangbaka, pada Selasa 23 Februari 2021.

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama Hj. Emma Yohanna (Anggota DPD RI) saat Kunjungan dan Orasi Kebudayaan ke Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Acara Kunjungan dan Orasi Kebudayaan tersebut dipandu oleh Viva Ria (Ketua DPC Himpunan Wanita Karya Kabupaten Solok), selaku Ketua Panitia, juga diikuti oleh ibu-ibu dari HWK Sumbar: Zahara Yunus, Mardanis, dan Dian Anggraini. Kunjungan mereka disambut oleh Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Kanagarian, Ormas Adat, Bundo Kanduang, kaum perempuan, dan stakeholder terkait lainnya yang terdapat di Kanagarian Saniangbaka, dengan Tari Galombang dan Makan Bajamba dengan sajian kuliner tradisional Nagari Saniangbaka; Rinuak, Bilih, dan Samba Pucuak Ubi Ambu-Ambu.

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama Hj. Emma Yohanna saat makan bajamba, dijamu oleh Bundo Kanduang Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021 di Saniangbaka. (Dok. Istimewa)

Dalam orasinya pada acara tersebut, Drs. Suarman yang juga Pamong Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, mensosialisasikan Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. Ia memaparkan 10 objek kebudayaan dan kebijakan strategis pelestarian dan pemajuannya. Untuk mencapai hal tersebut, upaya yang efektif perlu dilakukan, dengan mendirikan Desa / Kenagarian pemajuan kebudayaan.

Menurut Suarman, hal-hal penting yang perlu direalisasikan berkenaan dengan hal tersebut yaitu dengan melakukan inventarisasi data kekayaan budaya, didukung Ormas Adat / Komunitas pelaku budaya, Perdakab / Perkot, dan Peraturan Desa/ Nagari Tentang Pemajuan Kebudayaan. Selanjutnya mutlak diperlukan program kegiatan mengimplementasikan gerakan Desa / Nagari pemajuan kebudayaan oleh Ormas atau Komunitas, dan masyarakat.

Drs. Suarman (Pamong Kebudayaan Kemdikbud RI) saat menyampaikan orasi kebudayaan dalam kunjungan ke Nagari Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Lebih lanjut Suarman mengatakan, Pemerintah Daerah melalui lintas OPD perlu mengadakan program dan kegiatan mendukung Desa / Nagari dalam pemajuan kebudayaan. Gerakan Desa / Kanagarian untuk Pemajuan Kebudayaan merupakan salah satu kegiatan prioritas Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud pada saat ini. Hal ini ditindaklanjuti oleh Unit Pelaksana Teknis Ditjenbud tersebut seperti yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat di wilayah kerjanya, meliputi Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.

Sementata itu, Zusneli Zubir, yang juga Peneliti Ahli Madya di Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat mengimbau bundo kanduang, kaum perempuan, dan masyarakat Saniangbaka, agar mempunyai kepedulian terhadap kesejarahan dan kebudayaannya. Kedua hal tersebut berkelindan, yang dapat memartabatkan, guna memajukan dan mensejahterakan kehidupan mereka.

Dra. Zusneli Zubir, M.Hum. (Ketua DPD HWK Sumbar) saat menyampaikan orasi kebudayaan dalam kunjungan ke Nagari Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Selain itu Zusneli Zubir mengatakan, banyak hal yang dapat dipetik dari kesejarahan, di antaranya untuk mengetahui kehidupan masa lalu yang mempengaruhi kehidupan masa kini dan mendatang. Begitu pula halnya dengan kebudayaan, agar tidak dipandang kekunaan, justru harus dipahami dalam batasan tertentu, dengan melihat eksistensi dan potensinya sebagai investasi masa depan. Kebudayaan itu haluan pembangunan di segala bidang.

Zusneli Zubir mengharapkan Bundo Kanduang dan kaum perempuan Nagari Saniangbaka agar berperan aktif dan bersinergi dalam melestarikan dan memajukan 10 objek kebudayaan yang dimiliki. Sesungguhnya kebudayaan itu mewarnai seluruh dimensi kehidupan. Di sisi lain, kebudayaan yang diasas dan diwariskan leluhur berkontribusi menggerakkan perekonomian dalam mensejahterakan kehidupan masyarakatnya. Kebudayaan juga berperan menjadi magnet industri pariwisata. Semua itu dapat direalisasikan dengan cara sinergitas, dalam dukungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan stakeholder vertikal yang terkait.

Pada kesempatan yang sama, Emma Yohanna dalam orasinya menyatakan bahwa kaum perempuan Nagari Saniangbaka mempunyai peranan penting untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan warisan leluhurnya. Capaian hal ini di samping untuk ketahanan budaya, tapi juga untuk pemanfaatkan potensi budaya itu sendiri agar berdayaguna buat kehidupan masa kini dan mendatang.

Hj. Emma Yohanna (Anggota DPD RI) saat menyampaikan orasi kebudayaan dalam kunjungan ke Nagari Saniangbaka, Selasa 23 Februari 2021. (Dok. Istimewa)

Emma Yohanna juga menyampaikan, Sumber Daya Manusia Kebudayaan dari kalangan perempuan adalah kekuatan penting menentukan maju mundurnya kebudayaan. Mereka adalah pelaku bersama ninik mamak dan semua elemen terkait membangkit batang tarandam, yaitu merevitalisasi, melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan yang diwarisi untuk memiliki identitas dan jati diri, bercitra keluhuran, kemajuan, dan mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman, ditandai serba modern. Hal ini diperlukan dalam rangka menanggapi permasahan yang terjadi, antara lain: krisis budi pekerti, perekonomian, dan perubahan orientasi nilai-nilai kehidupan masyarakat, terutama pada kalangan generasi muda yang sangat memprihatinkan. Hal ini dikeluhkesahkan oleh ninik namak, bundo kanduang, dan kaum perempuan Nagari Saniangbaka.

Menanggapi hal tersebut, Emma Yohanna mengimbau masyarakat setempat agar memiliki kesadaran budaya. Sesungguhnya kehidupan berbudaya adalah haluan yang tepat dalam mengatasi permasalahan yang dikemukan oleh peserta dalam rembuk budaya yang juga digelar dalam Kunjungan dan Orasi Kebudayaan tersebut.

BPNB Sumbar dan HWK Sumbar bersama Hj. Emma Yohanna didampingi Bundo Kanduang Saniangbaka saat menyaksikan proses produksi Sulaman Benang Emas Nagari Saniangbaka. (Dok. Istimewa)

Kegiatan Kunjugan dan Orasi Kebudayaan tersebut juga diisi dengan rembuk budaya, yang direspon positif oleh para peserta acara. Mereka berkomitmen untuk menjadikan Saniangbaka sebagai Nagari Pemajuan Kebudayaan, dan optimis untuk mewujudkannya, karena Nagari Saniangbaka kaya dengan budaya, baik tak benda maupun kebendaan, juga didukung dengan potensi dari aset wisata yang mempesona.

(Muhammad Fadhli)



Sumber

Baca Selengkapnya

beritasumbar

Kawasan Lembah Harau Kembali Terbakar, Diduga Pelaku Kemah Lupa Matikan Api Unggun – siarminang.net

Kawasan Lembah Harau Kembali Terbakar, Diduga Pelaku Kemah Lupa Matikan Api Unggun – Beritasumbar.com

Sarilamak, siarminang.net – Kawasan Wisata Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota Kembali mengalami mengalami kebakaran pada Selasa siang, namun berhasil dipadamkan oleh petugas.

“Pada kebakaran hutan pertama, kami sudah melakukan pemadaman selama tiga hari dan telah padam. Namun, api kembali hidup pada Selasa (23/2) malam dan Alhamdulillah tadi sekitar pukul 11.00 Wib sudah berhasil dipadamkan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Limapuluh Kota Jhoni Amir didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik Rahmadinol, Rabu.

Ia mengatakan penyebab kebakaran itu diduga karena adanya kelompok masyarakat yang berkemah dan membuat api unggun namun lupa memadamkan ketika meninggalkan kawasan tersebut.

“Tapi yang jelas saat ini penyebab kebakaran masih diselidiki oleh pihak berwenang. Apakah memang karena adanya orang yang membuat api unggun atau memang ada yang sengaja untuk membuka lahan baru,” ungkapnya.

Hutan lindung yang terbakar merupakan titik di sekitar lokasi hutan lindung yang sempat terbakar pada 12 Februari 2021.

Total lahan yang terbakar di lokasi tersebut termasuk dengan kebakaran hutan pertama tersebut berjumlah sekitar tujuh hektare. Proses pemadaman memang sedikit kesulitan karena lokasi kebakaran yang sulit dijangkau.

Lokasi kebakaran terdapat di bukit berbatu dengan ketinggian 785 meter dengan kemiringan 95 derajat. Pemadaman juga dipermudah karena adanya alat pemadaman portabel dari kehutanan provinsi sepanjang 500 meter.

“Lokasi kebakaran hutan ini juga jauh dari jalan. Sehingga akses ke lokasi itu susah. Terlebih setelah padam api kembali hidup karena banyaknya ranting dan kayu yang mudah kembali terbakar,” ujarnya.

Agar tidak ada penyebaran api yang lebih luas ketika kembali terbakar, tim gabungan telah membuat gorong-gorong di sekitar lokasi.

Menurutnya bahwa di Kabupaten Limapuluh Kota terdapat beberapa kecamatan yang memang rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

“Pangkalan, Kapur IX, Harau, Suliki, Gunung Emas, Bukit Barisan, Lareh Sago Halaban dan Luhak. Sehingga masyarakat memang harus berhati-hati dengan api ketika berada di hutan terlebih di cuaca panas saat ini,” ujarnya.

Tim gabungan yang ikut pemadaman kebakaran itu terdiri dari BPBD, TNI, Polri, UPT KPHL, Dinas Pemadam Kebakaran dan masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota. (Asa)



Sumber

Baca Selengkapnya

hmi

BANGKITKAN KESADARAN !!! – siarminang.net

BANGKITKAN KESADARAN !!! – Beritasumbar.com

“Dunia pasti berobah dan Kiamat pasti kan terjadi jua
Kebangkitan dan keruntuhan sebuah bangsa pasti silih berganti
Begitu juga bergulir para penguasa, atas nama jabatan dan harta
Jumlah manusia akan bertambah dan berkembnag, begitu juga dengan pemikirannya
Namun sebuah perubahan tak akan dimulai dari banyak orang
Hanya mereka yang golongan sedikitlah, orang-orang beruntung”

Pagi itu Tan Gindo agak sedikit terlambat bangun pagi karena sedikit begadang semalam karena banyak pekerjaan pendapingannya yang menumpuk dan harus dikerjakan. Ketimbang desa lain bagindo bersyukur dapat peluang kerjasama yang baik antar tokoh, dampingan dan pemerintahan desa setepat, meski konsekuensinya harus sedikit kerja ekstra untuk sebuah tujuan dan cita-cita. Sampai-sampai Tan Gindo berfikir mitra kerjanya Robby tidak akan siap menghadapi gelombang kegiatan yang akan berlangsung semakin membesar pada tiga bulan kedepan. “Kami harus bisa, kita pasti bisa berbuat lebih baik dan akan usahakan target minimal dapat tercapai” ujar Tan Gindo membatin.

Seperti biasa Tan Gindo mulai berfikir keras bagaimana membuat sebuah rumusan dan strategi meramu program dengan sumber daya manusia yang terbatas “bak panglima yang mempersiapkan diri dimedan tempur, berfikir keras agar bagaimana tidak ada satupun pasukannya yang menjadi korban dan gugur di medan juang, semua harus selamat dan berhasil memenangkan pertempuran”. Dari sekian sumber daya manusia yang terserap dalam program “gak masuk akal, jika gagal semuanya; setidaknya 60% keberhasilan bisa diraih” ujar Tan Gindo membatin.

Sejurus demi jurus kemudian seperti untaian kata melayang-layang dalam benak Tan Gindo, jauh ke massa lalu kemudian melompat lagi dari pengalaman ke pengalaman yang telah dilalui hingga menghantarkan Tan Gindo ditempat pengabdian pendampingan yang sedang dia lalui. Teringat awal mula ketika Tan Gindo tercerahkan semasa masih belia, ketika pertama kali menjadi kader Pelajar Islam Indonesia (PII) ketika masih di sekolah menengah pertama, dimana ketika anak-anak seusianya masih sedang asyik bermain dan masih banyak yang belum berfikir sesuatu tentang dirinya dimassa depan. Sungguh tidak masuk akal memang anak sebelia itu sudah bisa mendapatkan pencerahan luar biasa dari lingkungan yang tidak terduga.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 7; Seberkas Cahaya Di Bumi Mempawah

Barangkali itulah salah satu kelebihan pengkaderan PII yang, bisa mencerahkan para pelajar ketika masih usia dini, rata-rata mereka menjadi kader-kader militan dan tangguh serta bermental baja serta bisa hidup dengan semangat ideologisasi yang kuat dan berani hingga dewasa. Tak heran rata-rata anak PII kritis dan sangat vokal dimanapun dia berada bahkan saking kuatnya akhirnya juga terkesan sangat individualis. Ketika masih dibawah tanah ada idiom yang sering dipakai dalam pengkaderan “tandang ke gelanggang meski seorang, student to day leader tomorrow (jika dibutuhkan akan maju sendirian di medan juang tampa berharap bantuan siapapun, pelajar hari ini adalah pemimpin massa depan)” sambil di ucapkan teriak takbir penuh semangat dalam setiap pelatihan.

Idiom tersebut jadi motto anak-anak PII dimanapun dia berada dalam sebuah kegiatan organisasi dan aktivitas hidupnya. Dia tidak mudah tergantung bersama siapapun, dia selalu sanggup menerima tantangan apapun bahkan jiak diminta mati di medan tempur mereka seolah-olah siap menghadapi tantangan. Bahkan Jendral Sudirman sebagai salah seorang Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang pertama ketika itu masih bernama masih bernama TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sangat mempercayai laskar Brigade anak-anak PII yang tergabung dalam “Laskar Tentara Pelajar”.

Tak heran dulu dimassa itu anak-anak PII adalah salah satu organisasi yang disegani dan ditakuti oleh anak-anak kiri dan menjadi salah satu organisasi Islam yang menjadi target “ganyang” atau dibubarkan oleh gerakan komunis. Apalagi ketika itu gerakan komunis telah merasa dekat dan menguasai pemerintahan Indonesia di era bung Karno yang dikenal juga dengan gagasan yang memadukan berbagai pandangan dan aliran kebangsaan terutama Nasionalisme, Agama & Komunisme. Kemudian dikenal dengan gagasan Nasakom dan menjadi ciri khas era Demokrasi Terpimpin yang berlangsung pada 1959 hingga 1965. Akhirnya Tan Gindo membuka kembali lembaran sejara PII yang begitu dalam dari massa terang dan kelam; seperti terasing di negeri sendiri.

………………………….

PII didirikan di kota perjuangan Yogyakarta pada tanggal 4 Mei 1947. Para pendirinya adalah Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji. Salah satu faktor pendorong terbentuknya PII adalah dualisme sistem pendidikan di kalangan umat Islam Indonesia yang merupakan warisan kolonialisme Belanda, yakni pondok pesantren dan sekolah umum.

Masing-masing (baik ponpes maupun sekolah umum) dinilai memiliki orientasi yang berbeda. Pondok pesantren berorientasi ke akhirat sementara sekolah umum berorientasi ke dunia. Akibatnya pelajar Islam juga terbelah menjadi dua kekuatan yang satu sama lain saling menjatuhkan. Santri pondok pesantren menganggap sekolah umum merupakan sistem pendidikan orang kafir karena produk kolonial Belanda. Hal ini membuat para santri menjuluki pelajar sekolah umum de-ngan “pelajar kafir”. Sementara pelajar sekolah umum menilai santri pondok pesantren kolot dan tradisional; mereka menjulukinya dengan sebutan “santri kolot” atau santri “teklekan”.

Pada masa itu sebenarnya sudah ada organisasi pelajar, yakni Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Namun organisasi tersebut dinilai belum bisa menampung aspirasi santri pondok pesantren. Merenungi kondisi tersebut, pada tanggal 25 Februari 1947 ketika Yoesdi Ghozali sedang beri’tikaf di Masjid Besar Kauman Yogyakarta, terlintas dalam pikirannya, gagasan untuk membentuk suatu organisasi bagi para pelajar Islam yang dapat mewadahi segenap lapisan pelajar Islam. Gagasan terse-but kemudian disampaikan dalam pertemuan di gedung SMP Negeri 2 Secodining-ratan, Yogyakarta. Kawan-kawannya yang hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain: Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji, dan semua yang hadir kemudian sepakat untuk mendirikan organisasi pelajar Islam.

Hasil kesepakatan tersebut kemudian disampaikan Yoesdi Ghozali dalam Kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), 30 Maret-1April 1947. Karena banyak peserta kongres yang menyetujui gagasan tersebut, maka kongres kemudian memutuskan melepas GPII Bagian Pelajar untuk bergabung dengan organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk. Utusan kongres GPII yang kembali ke daerah-daerah juga diminta untuk memudahkan berdirinya organisasi khusus pelajar Islam di daerah masing-masing.

Menindaklanjuti keputusan kongres, pada Ahad, 4 Mei 1947, diadakanlah pertemuan di kantor GPII, Jalan Margomulyo 8 Yogyakarta. Pertemuan itu dihadiri Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani dan Amien Syahri mewakili Bagian Pelajar GPII yang siap dilebur di organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk, Ibrahim Zarkasji, Yahya Ubeid dari Persatuan Pelajar Islam Surakarta (PPIS), Multazam dan Shawabi dari Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERKISEM) Surakarta serta Dida Gursida dan Supomo NA dari Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) Yogyakarta. Rapat yang dipimpin oleh Yoesdi Ghozali itu kemudian memutuskan berdirinya PII tepat pada pukul 10.00, 4 Mei 1947. Untuk memperingati momen pembentukan PII, maka setiap tanggal 4 Mei di-peringati sebagai Hari Bangkit PII (HARBA PII).

Hal ini karena hari itu dianggap sebagai momen kebangkitan dari gagasan yang sebelumnya sudah terakumulasi, sehingga tidak digunakan istilah hari lahir atau hari ulang tahun. Semula tujuan lahirnya PII adalah, “Kesempurnaan pendidikan dan pengajaran bagi seluruh anggotanya.” Dalam Kongres I PII, 14-16 Juli 1947 di Solo tujuan tersebut diperluas menjadi “Kesempurnaan pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan Islam bagi Republik Indonesia.” Akhirnya tujuan tersebut semakin universal dengan perubahan lagi pada Kongres VII tahun 1958 di Palembang menjadi “Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia.” Rumusan tujuan PII hasil Kongres VII tersebut yang digunakan sampai sekarang ini sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) PII Bab IV pasal 4.

Tugas Pokok, Fungsi dan Usaha Pelajar Islam Indonesia mempunyai tugas pokok melaksanakan pelatihan, taklim dan kursus bagi para pelajar Islam guna menumbuhkan kader umat dan kader bangsa yang berkepribadian muslim, cendekia dan memiliki jiwa kepemimpinan (AD Bab V Pasal 5). Sementara itu, organisasi ini berfungsi sebagai wadah pembinaan kepribadian muslim, penghantar sukses studi, sarana berlatih dan alat perjuangan bagi pelajar Islam (AD Pasal 6). Untuk mewujudkan tujuannya, PII bergerak secara independen di bidang pen-didikan, kebudayaan dan dakwah.

Adapun usaha yang dilakukan PII –sesuai dengan Bab VI Pasal 7, adalah :

  1. Mendidik anggotanya untuk menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
  2. Mengembangkan kecerdasan, kreativitas, ketrampilan, minat dan bakat anggo-tanya.
  3. Mendidik anggotanya untuk memiliki dan memelihara jiwa independen/mandiri dan kesanggupan berdiri sendiri tanpa ketergantungan kepada orang lain.
  4. Membina mental dan menumbuhkan apresiasi keilmuan serta kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi anggotanya.
  5. Membina anggota menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dan cakap dalam mengelola arus informasi global dunia serta menangkal dampak negatif produk-produk budaya asing dan arus informasi global tersebut.
  6. Membantu dalam pemenuhan minat dan kebutuhan serta mengatasi problematika pelajar.
  7. Menyelenggarakan kegiatan sosial untuk kepentingan Islam dan umat Islam, serta umat manusia pada umumnya.
  8. Menumbuhkembangkan semangat dan kemampuan anggota untuk menguasai, memanfaatkan serta mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan umat manusia.
  9. Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan anggota untuk memahami, mengkaji, mengapresiasi dan melaksanakan ajaran serta tuntunan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
  10. Mencetak kader-kader pemimpin yang memiliki pandangan hidup Islami, keluasan pandangan dunia global dan kepribadian muslim dalam segala bidang kehidupan.

Ketika berdirinya PII, muncul reaksi dari IPI yang menilai kehadiran PII bisa menimbulkan perpecahan di kalangan pelajar. Untuk menghindari terjadinya konflik, diadakanlah pertemuan PII dengan IPI pada tanggal 9 Juni 1947 di Gedung Asrama Teknik Jalan Malioboro, Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut kemudian ditandatangani Piagam Malioboro oleh Sekjen PB IPI Busono Wiwoho dan Sekjen PB PII Ibrahim Zarkasji. Salah satu butir penting dari piagam tersebut adalah hak hidup PII oleh IPI. Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan piagam tersebut maka dimana ada IPI akan didirikan PII. Saat itu IPI sudah ada di hampir seluruh wilayah Indonesia yanga da sekolah menengahnya.

Para pelajar Islam yang menjadi anggota IPI pun ikut membantu berdirinya PII. Sebaliknya PII bersedia bekerja sama dengan IPI dalam masalah yang bisa dikerjakan bersama dan bersifat nasional. Dalam perjalanan selanjutnya perkembangan PII ternyata jauh lebih pesat dari IPI. Hal itu ditunjang dengan bergabungnya organisasi-organisasi pelajar Islam lokal ke tubuh PII. Selain PPII (Yogyakarta), PPIS dan PERKISEM (Surakarta) yang ikut mendirikan PII, pada saat penyelenggaraan Kongres I PII, 14-16 Juli di Solo, Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PERPINDO) dari Aceh juga memfusikan diri ke dalam tubuh PII.

Perkembangan anggota semakin pesat pada tahun 1960-an setelah Masyumi (1960) dan GPII (1963) dibubarkan oleh pemerintah. Hal itu mendorong PII membuat penafsiran sendiri terhadap kata pelajar. Kalau sebelumnya pelajar adalah mereka yang di pesantren dan sekolah, kemudian diperluas menjadi minal mahdi ilal lahdi (dari ayunan sampai ke liang lahat), sesuai dengan hadits nabi tentang perintah mencari ilmu. Sehingga PII juga menjadi penampung aspirasi mantan-mantan anggota Masyumi dan GPII.

Jumlah anggota PII mulai menyusut di tahun 1980-an seiring dengan menguatnya nuansa politis dalam aktifitas PII, sementara pemerintah saat itu justru berkesan tengah mendepolitisir umat Islam. Puncak dari penyusutan itu adalah ketika PII tidak mau menyesuaikan diri dengan UU Keormasan yang disahkan 17 Juni 1985 dan mulai diberlakukan 17 Juni 1987. Akibatnya kemudian Mendagri mengeluarkan SK Mendagri No. 120/1987 tertanggal 10 Desember 1987 yang menganggap PII telah membubarkan diri dan selanjutnya melarang kegiatan yang mengatasnamakan PII.

Ketika SK itu keluar, menurut Ketua Umum PB PII saat itu Chalidin Yacobs, jumlah anggota PII mencapai 4 juta orang. Namun delapan tahun kemudian, 1995, jumlah anggota PII aktif sepertinya tidak mencapai 100.000 orang. Meski demikian, PII tidak pernah mati. Sadar penyusutan anggota tidak bisa dibiarkan begitu saja, maka ihtiar untuk bangkit kembali pun dicanangkan.

Momentumnya adalah pada Muktamar Nasional XX PII tahun 1995 di Cisalopa, Bogor. Setelah melalui perdebatan sengit, diputuskan PII akan melakukan reformalisasi dengan melakukan registrasi ke Depdagri. Sejak itu jumlah anggota PII kembali terdongkrak. Hanya karena sistem administrasi yang belum rapi sesuai standard administrasi sebuah organisasi formal, jumlah secara pasti seluruh anggota PII belum bisa diketahui. Untuk penataan kembali administrasi keanggotaan PII, maka ditentukan persyaratan keanggotaan di PII yang meliputi anggota tunas, anggota muda, anggota biasa, anggota luar biasa dan anggota kehormatan.

Anggota tunas, mereka yang duduk dijenjang pendidikan dasar (SD/MI), anggota muda, mereka yang duduk di jenjang pendidikan menengah pertama (SLTP/MTs), anggota biasa, mereka yang duduk di jenjang pendidikan menengah atas (SMU/SMK/MA), anggota luar biasa warga negara asing yang sedang belajar di Indonesia atau sebaliknya, dan anggota kehormatan adalah mereka yang memiliki jasa terhadap PII. Masa keanggotaan PII akan berakhir secara otomatis, bila yang bersangkutan telah dua tahun menyelesaikan pendidikan formalnya

…………………..

Begitulah Tan Gindo kembali merenung memikirkan persoalan-persoalan pendampingan yang dia sedang hadapi ditengah-tengah masyarakat. “Berdasarkan fakta sejarah tak mungkin saya akan berharap pada banyak orang, hanya Allah jualah tempat bersandar dan harapan” ungkap Tan Gindo kembali membatin. “Jangankan seorang Tan Gindo, seorang Rasul saja tugasnya hanya mengingatkan dan memberikan jalan kebaikan, sementara segala taufik dan hidayah itu adalah hak Allah semata” ungkap Tan Gindo merenung, berhikmah.

“Sebesar apapun masalah masyarakat di depan mata, sekuat apapun modal perusahaan yang sedang mengucurkan dananya, sehebat apapun politik pemerintahan saat ini berkuasa, semua hanya sementara, jika Allah berkehendak cepat atau lambat semua akan musnah ditelan massa; begitulah hukum Allah berlaku” pikir Tan Gindo penuh hikmah. Tinggal bagaimana daya dan upaya atau ikhtiar manusia dalam memperbaiki kualitas dirinya.

“Harapan perbaikan dan perubahan saya akan tumpangkan pada generasi-generasi muda Mempawah, mereka mau apa dan kemana, tugas saya hanya membuka pandangan dan cakra walau mereka untuk bisa siap menghadapi massa depan” ujar Tan Gindo meyakin dirinya. Seperti kata orang-orang bijak “betapa banyak mereka yang berjumlah banyak dapat dikalahkan oleh sekelompok orang yang berjumlah sedikit tapi bisa berbaris rapi dalam berjuang”. Seperti yang yang terjadi dalam perang Badr, salah satu pertempuran yang paling fonomenal dalam perkembangan Islam di muka bumi dan Allah membuktikan janji-nya.

Perang Badar merupakan pertempuran besar (ghazwah) pertama antara umat Islam dan musuh-musuhnya. Momen ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Total 313 orang Muslim melawan 1.000 orang Quraisy yang memiliki persenjataan lengkap, keahlian militer, dan pengalaman bertempur. Nyatalah bahwa secara kuantitas, para pemeluk tauhid tidak unggul. Akan tetapi, mereka justru memperoleh kemenangan besar berkat pertolongan dari sisi Allah SWT. Hanya orang-orang terpilih dan berkualitaslah yang akan menjadi pemenang, dapat dikatakan itu sudah menjadi Sunnatullah-hukum Allah yang tidak terbantahkan.

Persoalannya hari ini, “siapakan yang terpilih dalam program pendampingan saya ini” ujar Tan Gindo kembali menukilkan strateginya. Semua pemetaan harus dilakukan “kita tak butuh banyak orang, tapi butuh mereka yang memiliki kemauan” ujar Tan Gindo menegaskan. “Bak seorang pendaki gunung; dia sudah tahu untuk mencapai puncak pendakian harus menghadapi tanjakan, jurang, semak belukar, binatang buas dan segala sesuatu yang ada di dalam hutan serta ditengah pegunungan, mereka yang punya tekad yang kuat setapak demi setapak akan sampai pada titik puncak, sementara mereka yang tidak kuat akan kembali turun dari lagi dipertengahan jalan” ungkap Tan Gindo meyakinkan dirinya.

“Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua bayang-bayang maso. Dimano kain kabaju, diguntiang indaklah sadang, lah takanak mangko diungkai, dimano nagari namuah maju, Adat sajati nanlah hilang, dahan jo rantiang nan dipakai. Maliang cilok taluang dinding, tikam bunuah padang badarah. Ibo di adat katagiliang turuikkan putaran roda. Nan mudo pambimbiang dunia, nan capek kaki ringan tangan, acang-acang dalam nagari, Talantuang dek kanaik, ta taruang dek ka turun, sakali aia gadang sakali tapiang barubah, Tuah nagari dek nan tuo, rami nagari dek na mudo. Ta kalang dek nan rami, bajalan sajo jo badang surang, iduik baraka mati baiman”

(Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia. Kamajuan suatu negri di Minangkabau atau dimanapun juga, tidak akan dapat dicapai dengan baik jika ajaran Adat diamalkan tidak sepenuh hati, atau tinggal sebutan. Kebudayaan asli jangan sampai hilang, sesuaikan diri dan aturan adat beradat serta istiadat dengan kemajuan. Pemuda harapan bangsa ditangan pemuda terletak maju mundurnya bangsa dimasa depan. Hati-hatilah apa yang akan menimpa kita dimassa akan datang karena perubahan zaman pasti akan terjadi, jika terhambat karena orang banyak maka mulailah dengan diri sendiri karena hidup dikarunia akal dan keyakinan terhadap kebenaran)

Bersambung ke bag. 9



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer