Connect with us

headline

Ziarah Alam Minangkabau

Bagian I: Ziarah ke Masa Lalu

Penulis: Hazan Gozali

Masa Kejayaan

Jika Indonesia dibentangkan dari Aceh hingga Papua, maka Sumatera Barat adalah Provinsi yang menyumbangkan paling banyak tokoh penting di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Republik Indonesia ini dibariskan berdasarkan sumbangan tokoh-tokoh politik, pers, sastra, agama dan budaya, maka tidak kurang 100 nama tokoh di masa kemerdekaan mengalir darah Minang didalam tubuhnya. Diperas lagi menjadi deretan pahlawan nasional, ada 16 nama tokoh Minang didalamnya. Bahkan jika Republik Indonesia tinggal terdiri dari dua nama, “atas nama bangsa Indonesia” dalam teks Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka salah satunya adalah putra Minang, Mohammad Hatta.

Siapa yang tidak kenal dengan Tan Malaka, penulis buku Naar de Republik, yang menjadi pondasi pokok pemikiran Bung Karno menuju Indonesia Merdeka. Partai Murba yang dibangunnya, ikut mati bersamanya. Peran penting Tan Malaka dalam membentuk karakter kemerdekaan Bangsa Indonesia dapat kita baca melalui karya-karya yang ditulisnya dalam situasi darurat. Wajar kemudian Sutan Ibrahim, Datum Sutan Malaka, putra kelahiran Nagari Pandan Gadang, Lima Puluh Kota itu, menjadi tokoh yang paling dicari Belanda untuk diasingkan.

Siapa juga yang tak mengenal Haji Agus Salim, keahliannya dalam mengolah bahasa, membawa nama beliau menjadi tokoh diplomat yang paling menentukan pengakuan Internasional terhadap kemerdekaan Indonesia. Misi diplomatik yang dipimpinnya, dalam waktu singkat mampu membawa pulang pengakuan negara-negara Arab dan Eropa terhadap kemerdekaan Indonesia. Tanpa Pengakuan resmi yang dikumpulkannya, kemerdekaan Indonesia hanya akan menjadi pengakuan sepihak, yang tidak akan pernah diterima menjadi negeri berdaulat dan merdeka. Putra asli kelahiran Koto Gadang, Agam – Sumbar ini juga tercatat menggantikan seorang tokoh besar pendiri bangsa, HOS Tjokroaminoto sebagai Pemimpun Sarekat Islam. Lahir dengan nama Mashudul Haq (pembela kebenaran), Haji Agus Salim dalam dunia diplomasi internasional dikenal dengan sapaan The Grand Old Man, orang tua dengan segala kebesarannya, namanya bagaikan bintang, berkilau dilangit kemerdekaan Indonesia.

Deretan nama lain tidak kalah penting sumbangan dan perannya dalam mendirikan negara bansa Indonesia. Sebut saja Sutan Sjahrir, Mohammad Yamin, Mohammad Natsir, Buya Hamka, AK Gani, Bagindo Asiz Chan, Abdoel Halim, Abdoel Muis dll. merupakan benih yang lahir dan tumbuh dalam tradisi dan dinamika masyarakat Minang. Sebagian besar jasad mereka tidak diizinkan Allah untuk kembali ke tanah Minang, nama dan kisah mereka menjadi milik bangsa dan dunia. Adat Nagari menyumbangkan benih terbaik kepada Negeri.

Masa Kemunduran

Lalu mengapa kemunduran terjadi? Titik baliknya ketika Sumbar menjadi salah satu titik api pemberontakan yang harus dipadamkan oleh Soekarno. PRRI Permesta adalah bentuk protes terhadap pemerintahan Soekarno yang telah melantik dirinya sebagai Presiden seumur hidup. Konflik ditubuh angkatan bersenjata itu akhirnya mengorbankan masa depan Tanah Minang. Minangkabau mengalami kemunduran budaya, adat nagari tidak lagi dipegang, nama-nama bayi diganti agar tidak berbau Minang. Tubuh yang tadinya tegak karena dipenuhi kemuliaan ilmu dan kehormatan adat, harus membungkuk didepan pos-pos penjagaan militer.

Eksodus orang-orang Minang meninggalkan tanahnya demi mencari tanah-tanah baru, terjadi dalam jumlah besar. Mereka merantau karena tak kuat menyaksikan adat pusaka mereka dirampas. Masyarakat Minang sudah mati saat itu. Masyarakat yang dipisahkan dari tradisi adatnya bagaikan gelombang yang tak menemukan pantai. Mengapung mengikuti kemana arah angin membawanya.

Ziarah ke Masa Kini

Minangkabau yang utuh adalah wilayah adat (Alam), Ilmu Pengetahuan, Adat, Islam dan Rantau. Empat unsur ini menyatu dan mendorong gerak maju masyarakat Minang dibanding daerah lainnya. Terutama masa-masa perjuangan kemerdekaan.

Tentu tidak hendak menyalahkan generasi sekarang yang hidup dalam dunia yang sama sekali berbeda. Namun tentu juga menjadi alasan untuk tidak melakukan pemugaran aset sosial Minangkabau. Zaman sudah berganti, demokrasi memberi ruang yang sangat luas bagi masyarakat Minang untuk mendirikan kembali tiang-tiang kebudayaan dan sistem sosialnya.

Di bidang sosial dan agama, tokoh Minang yang namanya kini dianggap sebagai Guru Bangsa adalah Buya Syafii Maarif. Kiprahnya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, buah pikiran, perkataan dan tindakannya membawa namanya selalu menjadi Sang Pencerah dalam banyak kekalutan nasional. Lalu bagaimana dengan bidang politik?

Jika dulu ada nama Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Bung Hatta yang juga ikut mendirikan PNI meski pada akhirnya mendirikan Partai Gerakan Demokrasi Islam Indonesia (GDII), juga nama Tan Malaka yang mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan terakhir mendirikan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (MURBA). Setelah gagal dalam percobaan revolusi melawan Belanda, PKI tumbuh kembali bahkan menjadi Partai terbesar ketiga ditangan Ketua CC DN Aidit. Banyak nama besar lainnya, intinya pollitik dan kehidupan partai politik dari spektrum kanan hingga kiri, seakan disemai oleh tangan dan taman pikiran putra Minangkabau.

Zaman berganti, reformasi membawa Indonesia ke era demokrasi dan desentralisasi. Masa dimana harusnya, seluruh komponen masyarakat Sumbar bisa segera kembali merajut identitasnya. Namun politik mungkin menyisakan trauma lebih panjang. Paling tidak, kiprah anak-anak Minang di kancah politik saat ini menjadi sangat minim. Kalaupun ada lebih banyak sebagai pengikut atau followers. Sebagai pengikut, mereka jarang melahirkan gagasan dan teladan. Sangat jauh dibandingkan pendahulu-pendahulunya yang tidak hanya terlibat sebagai pemain, namun mendirikan, memulai, menggerakkan, menginspirasi, dan meletakkan gagasan dan keteladanan dalam politik Indonesia.

Lanjutan

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#dipecat

Beredar SK, Sekda Pessel Erizon Dipecat

Beredar SK, Sekda Pessel Erizon Dipecat


PADANG – Beredar Surat Keputusan (SK) pemberhentian Sekretaris Daerah Pesisir Selatan Erizon, Selasa (12/1) siang. Surat tersebut beredar luas di media sosial.

Juru Bicara Gubernur Sumbar, Jasman Rizal dihubungi membenarkan adanya suarat SK pemberhentian Sekdakab Pessel di media sosial. Namun, dirinya tidak dapat memastikan kabsahan kabar tersebut.

“Saya dengar iya, tapi saya cek dulu ya, kalau suratnya malah sudah beredar di WAG tapi itu bukan rujukan,”katanya dihubungi.

Berdasarkan informasi diperoleh Singgalang, pemberhentian Sekdakab Pessel, Erizon dinilai melanggar disiplin pegawai. Erizon dikabarkan tidak netral pada pemilihan Kepala Daerah yang baru saja usai digelar di Pesisir Selatan pada Desember 2020.

“Memang ada informasinya begitu,”sebut sumber Singgalang di Pemprov Sumbar.

Plt. Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sumbar, Fitrianti dihubungi mengaku tidak tahu dengan informasi tersebut. Disebutkannya, untuk pemberhentian Sekda kabupaten/kota tidak ada melibatkan Pemprov Sumbar. Semua menjadi kewenangan penuh kepala daerah.

“Tidak ada kewenangan kita,”sebutnya.

Menurutnya, jika seorang sekda diberhentikan bisa dilakukan sendiri oleh kepala daerah. Kecuali untuk mengangkat sekda baru karena pergantian, baru melibatkan Pemprov Sumbar.

Sementara pemberhentian itu boleh dilakukan kepala daerah. Karena memang kewenangan kepala daerah. “Kalau memang ada yang dilanggar bisa saja diberhentikan,”ujarnya.

Dari surat pemberhentian Sekdakab Pessel Erizon yang beredar tersebut tertulis keputusan diambil berdasarkan surat dari Surat Plt Inspektur Provinsi Sumbar atas nama Gubernur Sumbar Nomor:700/0002/Insp.SAU/2021 tanggal 08 Januari 2021 dan pasal 27 Ayat (1) dan Pasal 27 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang disiplin pegawai negeri sipil.

Atas dasar itu, terhtung tanggal 12 Januari 2021 sampai dengan ditetapkan keputusan lebih lanjut, membebaskan sementara dari tugas dan jabatan Sekdakab Pessel, kepada Erizon.(104)

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘{your-app-id}’,
cookie : true,
xfbml : true,
version : ‘{api-version}’
});

FB.AppEvents.logPageView();

};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));



Sumber

Baca Selengkapnya

#citra

Citra dan Reputasi

Citra dan Reputasi


Oleh: Khairul Jasmi

Ada menteri rasa walikota ada gubernur rasa presiden, ada yang batal jadi gubernur, ada yang menang, tapi masih tergaing-gaing. Ini antara lain, menyangkut reputasi. Ada yang memburansang, idolanya dikritik, ada yang tak punya idola. Ada pula artis bercerai, dia yang menangis. Dan ada agama diperalat untuk citra. Ini terjebak dengan caranya sendiri, ibarat sedang melangkah, tersangkut tali.

Citra adalah urusan prestise, popularitas, reputasi, harga diri dan jenjang untuk naik. Pada gilirannya untuk uang. Belakangan di sebagian tempat citra sudah berlebihan, berbau politik dan merusak image. Semua itu untuk urusan kita sama kita, horizontal.

Banyak orang baik, oleh karyanya, terbangun citra baik dan kemudian ia disanjung. Ia tak mau atau malah suka. Pada saat yang sama, ada pihak sedang membangun citra dengan manipulasi untuk keperluan pribadi. Bahkan untuk mengalihkan isu. Dimaksudkan untuk jaim, alias jaga image atau jawi, jaga wibawa. Bahasa lain disebut munafik.

Maka pada tahun yang belum jauh ke belakang misalnya, ada UN. Sekolah-sekolah berlomba menjadi yang terbaik, akhirnya khalayak tahu, kunci jawaban dibagi. Demi citra sekolah demi citra kepala daerah. Mas Menteri kemudian menghapus UN tersebut. Membagi kunci jawaban, untuk nama baik sekolah, merupakan upaya membangun citra yang masif dan buruk. Tapi, itu terjadi. Sekarang sudah tidak. Beban guru sudah berkurang, sekaligus mengurangi sakit kepala para pendidik itu. Juga mengurangi rasa takut.

Sebenarnya citra atau mirip-mirip apa yang disebut “mantagi,” akan hadir sendirinya tanpa mesti dipaksakan. Walau begitu, kecap tetap nomor satu. Saya mungkin juga Anda tanpa sadar, atau sadar, acap membanggakan diri. “Ko ndak mambangga-bangga-an diri doh yo.” Dimulai dengan kata itu. Maksudnya, beginilah saya, hebatkan!
Konsep membanggakan diri, berlaku umum untuk produk. Obat nyamuk, sabun mandi, minyak rambut,lisptik, motor, mobil, atap, cat, meja, pakaian dalam serta segala bentuk produk memang mesti membanggakan diri. Bahwa saya nomor satu. Jika tak begitu, calon konsumen, sulit akan tertarik. Yang sudah jadi pelanggan, bisa lari. Maka perlu iklan. Mengiklankan diri. Bayar!
Para calon segala calon juga perlu, asal tak berlebihan, sebab kalau berlebihan, bisa berdampak buruk. Dalam dunia pasar yang ganas, karena promosi yang hebat, ada produk yang tidak laku dan perlahan ditarik dari peredaran.
Calon kepala daerah dan legislatif, banyak yang tak laku dan hilang dari peredaran, bisa karena sebab berlebihan promosinya, bisa kekurangan promosi, bisa pula karena calon konsumen sudah tahu, kualitas kurang bagus. Atau biaya promosi minim.
Apapun itu, tak ada yang buruk. Yang buruk pikiran sendiri. Utak wak surang nan bakasiak, maka apa yang dilihat jadi buruk saja. Knalpot motor orang yang besar bunyinya bikin naik darah, apalagi bini orang berbonceng empuk sore hari, motornya berjalan lambat-lambat pula. Maka jadilah suami yang lurus. Jangan jaim, seorang yang citranya baik. Tapi iya juga kalau yang ini, sok citra, baik, alim, tapi kemudian terbukti suka egois. Preet.Ha ha ha.

Tiap kita boleh melakukan apa saja, asal baik. Buruk juga boleh jika telinga tebal, mau mendengar gunjing orang dan mau masuk penjara, bahkan neraka. Gunjing buruk tentang orang lain tidak baik, tapi hati senang saja kalau bergunjing. Kadang juga demi citra.

Citra adalah beban berat senggulung batu. Mahal. Citra seberat gunung, seringan kapas, kalau terpikul dengan yang benar. Setelah ini, saksikan sajalah orang membangun citranya sendiri. Tak usah menangis kalau artis bercerai, tapi risaulah kalau citra politik kian buruk, karena akan membuat negeri ini buruk.

Kesukaaan banyak orang hari ini, menyamakan pemerintah dengan bangsa. Maka ia caci pemerintah, ia caci bangsanya sendiri. Ini bukan citra tapi kurang liburan. Sebelum liburan cek dulu bansos, sudah datang belum? ***

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘{your-app-id}’,
cookie : true,
xfbml : true,
version : ‘{api-version}’
});

FB.AppEvents.logPageView();

};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));



Sumber

Baca Selengkapnya

#fpi

“Pak Prabowo” Trending Topic, Ini yang Dibahas

Penyebab Prabowo Was-was Anies-Sandi Menangkan Pilkada Jakarta


JAKARTA – “Pak Prabowo“, Warganet terus memanggilnya melalui tulisan di media sosial twitter, Sabtu (2/1). Bahasan “Pak Prabowo” menjadi trending topic.

Beragam komentar mewarnai bahasan tersebut. Mulai dari masalah Habib Rizieq Shihab (HRS) dan organisasinya Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab (FPI), hingga kritik yang ditujukan ke pemerintah dibahas dalam tulisan “Pak Prabowo”.

“Kritisnya Bang Fadli terhadap tekanan rezim yg terus menerus dialamatkan ke HRS & FPI, jadi kek gak ada artinya ketika dihadapkan pada kenyataan buta tulinya Pak Prabowo yg mestinya bisa bersikap lebih signifikan,” tulis akun @a22gung yang dikutip Sabtu (2/1/2021).

“Biar sampe ke pak @prabowo @Dahnilanzar agar tau apa yg harus mereka perbuat karena hidup cuma sekali maka hiduplah yg berarti,” sambung amun @Adhei17

“Pak Prabowo kader anda @fadlizon mengatakan pemerintahan jokowi berantakan, padahal anda dan pak sandi bagian dari pemerintahan jokowi,” cuit akun @hanahanifahlagi

“Kita simak saja perkembangan selanjutnya….

Berharap ke depan pak @prabowo akan bisa bersikap sbg negarawan, tdk sekedar mengedepankan keinginan pribadi / kelompoknya. Melihat fakta yg ada plus manfaat yg lbh besar utk NKRI,” harap akun @AimanJudakusum 1.

Prabowo sendiri merupakan Calon Presiden 2019 bersama wakilnya Sandiaga Uno. Saat itu mereka melawan Joko Widodo dan wakilnya Ma’ruf Amin. Namun, Prabowo-Sandi kalah dan kini menjadi Menteri dalam kabinet Indonesia Maju dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi.(okezone)


window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘{your-app-id}’,
cookie : true,
xfbml : true,
version : ‘{api-version}’
});

FB.AppEvents.logPageView();

};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer