Connect with us

dr.jerry massie MA.Ph.D

Jerry Massie, Nasdem Ngambek Politik

Jerry Massie, Nasdem Ngambek Politik


Jakarta,-Rabu 30/10, Ketua Umum Partai Nasdem bertemu dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Sohibul Imam. Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies Jerry Massie menengarai adanya permintaan Partai Nasdem yang tidak bisa dipenuhi oleh Presiden Joko Widodo terkait penyusunan kabinet. Hal ini membuat Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bermanuver dengan menggelar pertemuan dengan PKS.

Dalam pertemuan tersebut, keduanya sepakat untuk memperkuat check and balance atau fungsi pengawasan terhadap pemerintah di DPR. “Saya perhatikan sepertinya ada permintaan secara spesifik Nasdem yang tak bisa terpenuhi,” ujar Jerry melalui pesan WA ke redaksi beritasumbar, pada jumat  (01/11).

Menurut Jerry, tak menutup kemungkinan Partai Nasdem tidak merasa puas dengan susunan Kabinet Indonesia Maju. Sebab, ada sejumlah jabatan menteri yang saat ini tidak lagi dipegang oleh kader Partai Nasdem, yakni Menteri Perdagangan dan Jaksa Agung. Pada periode lalu, Menteri Perdagangan dijabat oleh Enggartiasto Lukita dan Jaksa Agung oleh Muhammad Prasetyo.

Keduanya merupakan politisi Partai Nasdem. Indikator lain yakni bergabungnya Partai Gerindra dalam koalisi pendukung pemerintah. Bahkan, setelah pelantikan Presiden Jokowi pada Minggu (20/11/2019) lalu, Surya Paloh sempat melontarkan sinyal menjadi oposisi. Saat itu, kabar Partai Gerindra akan masuk ke dalam kabinet juga tengah menguat.

Kabar ini terbukti benar ketika Presiden Jokowi akhirnya menunjuk Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Apakah Kementerian Perdagangan dan Jaksa Agung bukan lagi dari internal partai Nasdem ataukah masuknya Prabowo, itu memengaruhi sudut pandang Surya Paloh,” kata Jerry. “Saya istilahkan Nasdem ‘ngambek politik’. Padahal, mereka punya tiga menteri di kabinet yakni Menteri Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pertanian Yasin Limpo, dan Menkominfo Johnny G. Plate,” tutur Jerry yang juga konsultan news di BeritaSumbar.com .(*)

Artikel ini juga telah tayang di Kompas.com dengan judul “Pengamat: Nasdem Ngambek Politik, Tak Puas terhadap Susunan Kabinet”, https://nasional.kompas.com/read/2019/11/01/09230921/pengamat-nasdem-ngambek-politik-tak-puas-terhadap-susunan-kabinet?page=2.

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘1410885915625287’,
xfbml : true,
version : ‘v2.10’
});
FB.AppEvents.logPageView();
};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘1410885915625287’,
xfbml : true,
version : ‘v2.10’
});
FB.AppEvents.logPageView();
};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));
(function(d, s, id) {
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&appId=322156664622039&version=v2.3”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));(function(d, s, id) {
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_GB/sdk.js#xfbml=1&version=v2.7&appId=322156664622039”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

cak imin

Pengamat : Fatal, Cak Imin tak Undang Abdul Karding dan Lukman Edi di Muktamar PKB

Pengamat : Fatal, Cak Imin tak Undang Abdul Karding dan Lukman Edi di Muktamar PKB


Jakarta,-Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dinilai bakal mengalami gempa politik dengan tak diundangnya Abdul Karding dan Lukman Edi pada Muktamar di Bali.

Menurut Direktur Eksekutif Polical and Public Policy Studies (P3S) DR.Jerry Massie MA, PhD, persoalan ini akan sangat berperngaruh bagi kelangsungan PKB.

Betapa tidak kata Jerry, Abdul dan Lukman dua tokoh muda yang sangat ptensial dan begitu penting bagi perkembangan PKB ke depan.

“Saya nilai secara halus, Cak Imin bakal menendang keduanya, ini dibuktikan dengan tak diundang ke Muktamar PKB di Bali,” kata dia.

Cak Imin menurut Jerry, membuat kesalahan fatal. Dia menyebut, bisa saja terjadi kegaduhan politik apalagi selama ini Abdul Karding dan Lukman Edi memiliki kedekatan dengan Jokowi.

“Mereka kan pentolan PKB jadi setidaknya harus di undang. Cak Imin bikin kesalahan fatal. Keduanya banyak followers juga di internal PKB. Kalau ada masukan baik kenapa harus ditolak. Ini menunjukan kepemimpinan Cak Imin lemah.

Keluarga besar Gus Dur tokoh penting PKB tak dilibatkan ini bisa jadi bumerang bagi PKB sendiri.

“Saya prediksi ke depan akan ada dualisme di tubuh PKB. Barangkali Cak Imin melihat keduanya merupakan ancaman bagi dia. Jadi sengaja tak dilibatkan. Kendati keduanya mantan Sekjen PKB,” ucap Jerry.

Apalagi keluarga Gus Dur tak dilibatkan dan ini bisa berdampak buruk bagi kepemimpinan Cak Imin ke depan.(*)

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘1410885915625287’,
xfbml : true,
version : ‘v2.10’
});
FB.AppEvents.logPageView();
};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘1410885915625287’,
xfbml : true,
version : ‘v2.10’
});
FB.AppEvents.logPageView();
};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));
(function(d, s, id) {
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&appId=322156664622039&version=v2.3”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));(function(d, s, id) {
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_GB/sdk.js#xfbml=1&version=v2.7&appId=322156664622039”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));



Sumber

Baca Selengkapnya

dr.jerry massie MA.Ph.D

IPI : Hanya ada 7 Partai yang Lolos Pemilu 2019

IPI : Hanya ada 7 Partai yang Lolos Pemilu 2019


Jakarta,BeritaSumbar.com,-Berkaca dari ambang parlementary threshold (ambang batas) 4 persen yang ditentukan pada pileg nanti, otomatis hanya ada 7 partai yang bertahan, lainya bisa terlempar di parlemen 2019.

Siapa Saja Partai yang Lolos?

Kendati pada pilgub lalu PDIP hanya meraih 4 kemenangan cagubnya seperti; Jateng, Bali, Sulsel dan tapi magnet atau daya pikat partai moncong putih ini masih kuat survei LIPI pun mereka masih dominan PDIP merupakan partai dengan elektablitas tertinggi sebesar 24,1 persen. Menyusul Partai Golkar menempati posisi kedua dengan elektablitas 10,2 persen. Urutan ketiga Partai Gerindra sebesar 9,1 persen.

Dalam hal ini menurut saya melihat 3 partai ini PDI-P, Golkar dan Gerindra masih bertengker di posisi teratas. Ini kalau dalam sepak bola Inggris bagaikan Manchester United, Liverpool dan Chelsea maupun Manchester City.

Kekuatan 3 partai ini memang masih unggul. Diparlemen PDI Perjuangan meraih 107 kursi, Golkar 91 kursi dan Gerindra 73 kursi.

4 Ini Partai Bersaing Ketat

Sedangkan 4 partai lainnya, masing-masing PKB, Demokrat, Nasdem, PPP. Kemenangan dan keunggulan PKB tak lepas dari imaging (pencitraan) selama hampir 6 bulan, nama Cak Imin meroket saat dirinya mendeklarasikan sebagai cawapres Jokowi. Branding serta popularity mereka menjadi kuat.

Untuk partai berlambang Ka’bah PPP sendiri, terdongkrak dari pemilih milenael khususnya santri dan abangan juga. Branding dan marketing politik lewat TV dari Rommy sang ketum ikut mendongkrak partai ini.

Jika mengacu pada survei LSI maka PPP mendapatkan 3,5 persen, PKS 3,8 persen, PAN 2,0 persen, dan Hanura 0,7 persen. Hanya Nasdem yang perolehan suaranya sedikit di atas ambang batas, yakni 4,2 persen.

Jadi PPP belum terlalu aman lantaran masih ada selisih 0,5 persen. Tinggal bagaimana mereka mengejar di pileg nanti. Partai Demokrat sendiri pada pileg lalu meraih 64 kursi atau sekitar 10,8 persen.

Hengkangnya Sejumlah Kader Bisa Berdampak Buruk

Nah! dengan hijrahnya kader kader mereka seperti Sukarwo, Tuan Guru Bajang bahkan Lukas Enembe Gubernur terpilih Papua maka bisa tergerus suara mereka. Jadi lumbung suara mereka bisa hilang seperti Papua, Jatim, Sulsel dan NTB.

Begitu pula, Yasin Limpo di Sulsel. Mantan Gubernur ini hijrah ke Partai Nasdem akan mengurangi amunisi demokrat itu sendiri.

PKB sendiri yang didukung oleh 90 juta (2014) saya prediksi akan mulus dan masih bertahan.

Sementara untuk partai baru, dari 5 partai yang masuk yaitu ; Partai Garuda, PSI, Partai Berkarya, Perindo dan PBB maka peluang untuk lolos hanya ada pada Perindo. Sedangkan partai lainnya bersama PKPI diprediksi akan tumbang.

Nah! bisa jadi koalisi dan afiliasi akan terjadi. Misalkan PKS, PBB dan PAN membuat koalisi baru (koalisi agama) sedangkan Perindo berpeluang afiliasi politik dengan PDI-P atau Golkar. PKPI ke Golkar karena awalnya partai ini pecahan golkar yang didirikan mantan wapres era mendiang Presiden Soeharto yaitu, Try Sutrisno adapula Edy Sudrajat dan Hayono Isman yang kini berlabuh di Nasdem.

Sebetulnya kalau koalisi golkar bergabung atau anak-anak politik PG seperti, Hanura, Gerindra, PKPI dan Nasdem mereka sulit terkalahkan.

Oleh : DR Jerry Massie MA, PhD peneliti politik Indonesian Public Institute (IPI)

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘1410885915625287’,
xfbml : true,
version : ‘v2.10’
});
FB.AppEvents.logPageView();
};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘1410885915625287’,
xfbml : true,
version : ‘v2.10’
});
FB.AppEvents.logPageView();
};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));
(function(d, s, id) {
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&appId=322156664622039&version=v2.3”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));(function(d, s, id) {
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_GB/sdk.js#xfbml=1&version=v2.7&appId=322156664622039”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));



Sumber

Baca Selengkapnya

airlangga

Menyingkap Tabir Di Balik Pertemuan Jokowi – Airlangga Di Istana Bogor

Menyingkap Tabir Di Balik Pertemuan Jokowi – Airlangga Di Istana Bogor


Jakarta, Berita Sumbar.com ,-Pertemuan Presiden Jokowi dengan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto di istana Bogor nampaknya tidak sekadar lari pagi dan tidak sekadar berbicang soal sepeda motor yang menjadi kesayangan Jokowi. Pertemuan tersebut telah membahas berbagai hal termasuk soal pilpres 2019. Seperti diakui oleh Jokowi sendiri, pertemuannya dengan Airlangga Hartarto termasuk membahas posisi cawapres 2019.

Lantas apakah pertemuan tersebut merupakan sinyal bahwa Airlangga akan dipinang menjadi cawapres mendampingi Jokowi? Menurut saya belum tentu. Bisa iyaa bisa tidak. Pertemuan tersebut memang menimbulkan persepsi publik seolah Jokowi sedang meminang Airlangga menjadi cawapres mendampingi dirinya di pilpres 2019 nanti.

Persepsi tersebut tidak salah tapi jangan terburu-buru membuat kesimpulan. Pertemuan tersebut baru menjadi salah satu indikator belum merupakan kesimpulan akhir. Pertemuan tersebut jangan dimaknai sebagai final decision, meskipun saya tak menyangkal bahwa Airlangga Hartarto adalah salah satu tokoh yang memiliki potensi untuk mendampingi Jokowi pada pilpres 2019 karena dia merupakan sosok yang bisa disebut mewakili dua sisi yaitu tokoh dari kalangan parpol dan profesional karena latar belakangnya yang berasal dari kalangan profesional yang kini menjadi ketua umum partai. Namun, bukan berarti Airlangga sudah pasti menjadi calon pendamping Jokowi di pilpres nanti.

Perlu dipahami bahwa pertemuan Jokowi dengan Airlangga adalah bagian dari rangkain pertemuan Jokowi dengan sejumlah tokoh lainnya. Ketahuilah, Jokowi sejatinya tengah memainkan komunikasi politik dengan menggunakan pendekatan politik simbolis dengan berbagai visualisasi untuk menyampaikan pesan kepada publik.

Namun tergantung publik mempersepsikan atau menilainya. Tapi buat saya, pesan yang bisa tangkap adalah Jokowi sedang melakukan komunikasi politik untuk menjajaki berbagai kemungkinan yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum mengambil keputusan, baik dalam membangun koalisi partai maupun dalam menentukan cawapres.

Karena Jokowi harus menghitung berbagai resiko politik sebelum mengambil keputusan. Hal itu bisa dlsimak berbagai rangkaian pertemuan sebelum bertemu dengan ketua umum partai Golkar Airlangga Hartarto, Jokowi telah melakukan komunikasi dalam bentuk visualisasi politik, seperti diantaranya dia mengajak Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dalam satu kunjungan, tapi di sisi lain dia mengajak Ketua Umum PPP Romahurmuzy (Romi). Selain itu, Jokowi juga mengajak Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Dalam kesempatan yang berbeda, Jokowi juga bertemu bebeeapa kali dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Oleh karena itu, menurut saya, sejumlah rangkaian pertemuan Jokowi dengan sejumlah tokoh termasuk pertemuannya dengan Airlangga Hartarto di istana Bogor baru sekadar merupakan bentuk visualisasi politik yang dilakukan Jokowi dalam rangka melakukan penjajakan sebelum mengambil keputusan.

Rangkaian peristiwa pertemuan Jokowi dengan sejumlah tokoh politik masih menjadi teka-teki, seperti sebuah puzzle bergambar calon wakil presiden yang.belum tersusun lengkap hingga membentuk sebuah gambar yang utuh.

Lalu siapa kira-kita wajah calon wakil presiden dalam puzzle tersebut? Sabar, kita masih perlu menunggu potongan-potongan puzzle yang lain sampai terlihat jelas wajah siapa yang ada dalam teka teki puzzle tersebut.

27 Maret 2018

Direktur Indonesian Public Institute (IPI)





Sumber

Baca Selengkapnya

Populer