Connect with us

Kolom & Opini

Mahyeldi Audy Dan Sumpah Pemuda – siarminang.net

Mahyeldi Audy Dan Sumpah Pemuda – Beritasumbar.com

Oleh Reido Deskumar

Peringatan sumpah pemuda tahun 2020 begitu berbeda dari biasanya. Peringatan sumpah pemuda kali ini bersamaan dengan kontestasi Pilkada serentak dihelat di 270 daerah yang tersebar di wilayah Indonesia. Dua momentum yang bertemu secara bersamaan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan pemuda khususnya.

Disetiap peringatan sumpah pemuda, narasi-narasi tentang pemuda begitu ramai disuarakan. Sejarah panjang perjuangan pemuda yang telah berkontribusi untuk Indonesia kembali dibuka dan menjadi pembahasan dimana-mana. Bahkan sampai detik ini, perubahan zaman dan kepemimpinan nasional, pemuda tetap menjadi tumpuan terpenting bagi bangsa ini. Maka wajar saja, peran pemuda tidak bisa dipisahkan dalam pembangunan negeri.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Ya, sederhananya pemuda itu adaptif, sangat cepat beradaptasi dengan zaman. Selain itu pemuda memiliki jiwa kreatif, inovatif dan responsif. Sehingga ide dan narasi yang dimiliki selalu tercurahkan dengan baik. Tanpa disadari hal itu yang membuat pemuda selalu terdepan menghadapi tantangan zaman.

Sebelum kemerdekaan dan saat kemerdekaan pemuda dihadapkan dengan perjuangan yang sangat sulit. Mencurahkan pemikiran bahkan jiwa dan raga untuk berkontribusi agar Indonesia merdeka. Berbeda dengan pasca kemerdekaan pemuda berkontribusi dengan inovasi dan kreativitas, bahkan ikut terlibat mengisi pos-pos strategis kepemimpinan di tingkat nasional maupun daerah. Jadi tidak perlu diragukan lagi, jika pemuda ambil bagian dalam segmen apapun, apalagi terkait kepemimpinan. Karena Bung Karno sebagai tokoh proklamator mengatakan, berikan aku sepuluh pemuda maka akan ku guncang dunia. Begitulah jiwa optimis Bung Karno terhadap pemuda, kekuatanya dan energi yang dimiliki memberikan pengaruh besar bagi siapapun.

Dalam kontek kepemimpinan, saat ini sedang berlangsung kontestasi pemilihan kepala daerah di Indonesia. Tidak sedikit pemuda yang ambil bagian ikut serta dalam pesta demokrasi terbesar ini. Salah satunya Mahyeldi Audy. Maju sebagai pasangan calon (paslon) termuda dari semua kandidiat yang berlaga pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar periode 2021-2026.

Mahyedi Audy hadir sebagai representatif pemuda hadir dalam gelanggang membuktikan bahwa pemuda masih ada, pemuda masih memiliki nilai tawar berkompetisi dimata masyarakat. Majunya Mahyeldi Audy sebagai pasangan termuda bukan hanya sekedar ikut meramaikan helatan lima tahunan ini atau hanya sebatas ambisi merebut kekuasaan. Mahyeldi Audy berangkat jelas latar belakangnya. Mahyeldi Audy memiliki kapasitas, kapabilitas dan kompetensi diri untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat. Mahyeldi Audy adalah intelektual muda yang lahir dari kampus ternama yang ada di Indonesia. Bahkan salah satu dari mereka Audy menamatkan studi dari kampus Wageningen Belanda. Mahyeldi Audy perpaduan birokrat dan pengusaha muda. Dan Mahyeldi Audy hadir membawa visi misi serta program unggulan yang terukur dan terstruktur dan berdampak besar bagi Sumatera Barat. Jadi tidak kaleng-kaleng hanya sebatas mengikutsertakan diri akan tetapi Mahyeldi Audy memiliki value dan nilai tawar untuk hadir di masyarakat.

Menjadi bagian dari pemuda tentu keberpihakan Mahyeldi Audy tidak diragukan lagi. Dari awal Mahyeldi Audy membawa tagline Millenial Manang sebagai bentuk semangat juang bahwa pemuda (millenial) itu harus menang. Menang dengan menjadi pemimpin di Sumatera Barat dan menang dari tantangan zaman hari ini. Agar semua itu bisa direalisasikan Mahyeldi Audy membuat program unggulan yang berpihak kepada pemuda menciptakan 100 ribu entrepreneur dengan konsepan Digital Creative Enterpreneur Scholarship yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi pemuda Sumatera Barat untuk berkarya, berinovasi dan berkreasi.

Maka sudah saatnya masyarakat dan pemuda yang ada di Sumatera Barat, menyatukan tekat dan suara pada peringatan sumpah pemuda yang berlangsung hari ini Rabu 28 Oktober 2020. Mendukung penuh Mahyeldi Audy sebagai gubernur dan wakil gubernur Sumbar pada tanggal 9 Desember 2020. Momentum sumpah pemuda merupakan waktu yang tepat memberikan kepercayaan, tempat dan ruang bagi pemuda menjadi pemimpin. Karena Mahyeldi Audy adalah representatif pemuda dan sudah jelas keberpihakan kepada pemuda tidak diragukan lagi.



Sumber

Kolom & Opini

Etika Politik Koalisi PKS dan PAN Dalam Menentukan Wakil Walikota Padang – siarminang.net

Etika Politik Koalisi PKS dan PAN Dalam Menentukan Wakil Walikota Padang – Beritasumbar.com

Oleh: Reido Deskumar (Ketua DPW Gema Keadilan Sumbar)

Kota Padang sudah resmi memiliki walikota. Sejak dilantiknya Hendri Septa pada tanggal 7 April 2021. Dimana sebelumnya Hendri Septa menjabat sebagai wakil walikota dan selanjutnya pelaksana tugas Walikota Padang. Posisi tersebut ditempatinya untuk mengisi kekosongan setelah Buya Mahyeldi Ansharullah dilantik sebagai Gubernur Sumbar.

Sekarang kota yang memiliki penduduk 909 ribu penduduk itu sudah memiliki walikota baru. Sebenarnya tidak baru juga. Wajah lama, akan tetapi posisi saja yang berganti.

Banyak tugas-tugas yang menunggu yang harus dilanjutkan oleh Hendri Septa. Pembangunan dan kesejahteraan warga kota. Apalagi pemerintahan Kota Padang memiliki fokusan pada peningkatan dan pengembangan bidang perdagangan, pariwisata dan pendidikan.

Selain itu sebagai ibu kota provinsi, Kota Padang memiliki potensi yang sangat besar sebagai pusat pertumbuhan perekonomian Sumatera Barat. Sehingga diperlukan sinergisitas semua pihak dalam mewujudkannya.

Naik kelasnya Hendri Septa sebagai Walikota Padang, tentu meninggalkan kekosongan pada posisi wakil walikota. Sehingga perlu dipilih segera penggantinya agar roda pemerintahan Kota Padang bisa berjalan dengan seimbang. Selain itu visi misi yang telah dituangkan dalam RPJMD Kota Padang bisa direalisasikan dengan cepat.

Pemerintahan Kota Padang periode 2019-2024 merupakan koalisi klasik antara PKS dan PAN. Buya Mahyeldi Ansharullah sebagai walikota dan Hendri Septa wakil walikota. Koalisi PKS dan PAN juga pernah terjalin pada periode 2009 – 2014 menempatkan Fauzi Bahar sebagai walikota dan Buya Mahyeldi Ansharullah wakil walikota. Tidak asing lagi bagi PKS dan PAN dalam berkomunikasi dan membicarakan hal-hal strategis. Termasuk posisi wakil walikota.

Dalam perjalan pemerintahan, koalisi PKS dan PAN bisa dikatakan sangat berjalan harmonis. Tidak ada keretakan apalagi pecah kongsi. Walikota dan wakil walikota sangat sinergis, saling menguatkan dan saling melengkapi. Buya Mahyeldi Ansharullah selama menjabat sebagai walikota, sangat memberikan ruang kepada Hendri Septa untuk berkontribusi. Bahkan Buya Mahyeldi Ansharullah tidak segan-segan berbagi pengalaman kepada Hendri Septa. Begitupun sebaliknya, Hendri Septa mampu berkoordinasi dan selalu siap menerima dan menjalankan arahan dari walikota.

Hubungan yang sangat harmonis ini, menjadi modal yang baik dalam menentukan siapa yang akan mengisi posisi Wakil Walikota Padang. Tak begitu rumit sebenarnya apa lagi sampai berkerut pula kening dibuatnya. Cukup duduk bersama PKS dan PAN, selesai itu barang.

Secara koalisi politik, PKS dan PAN merupakan partai yang memiliki peran strartegis dalam menentukan siapa yang akan mengisi posisi Wakil Walikota Padang. Akan tetapi secara etika politik koalisi, sudah mutlak posisi Wakil Walikota Padang milik PKS. Kenapa demikian? Sederhana saja konsepnya. Hendri Septa sebagai kader PAN sudah menjadi walikota. Sangat tidak logis jika wakil walikota juga dari PAN. Namanya juga koalisi, jika PAN sudah mendapatkan posisi, PKS juga harus mendapatkan posisi. Posisi kosong adalah wakil walikota, maka posisi tersebutlah yang harus diisi oleh PKS.

Maka dari itu PAN harus legowo dan menahan diri. Jangan sampai PAN pula yang begitu agresif mengejar-mengejar apalagi bertarung dangan PKS memperebutkan posisi Wakil Walikota Padang. Tak elok dan tak memperlihatkan profesionalitas dan etika berkoalisi yang baik.

Seharusnya PAN menyerahkan dan mempercayai ke PKS untuk memilih sosok di internalnya. Kalaupun ingin ikut terlibat paling tidak PAN cukup memberikan rekomendasi kreteria yang bisa dipadukan dan disinergiskan dengan Hendri Septa untuk melanjutkan kepemimpinan di Kota Padang.

Soal kapasitas dan kapabilitas kandidat dari PKS, tak usah diragukan lagi. Percayalah, PKS merupakan partai yang memiliki kader-kader terbaik. Dan itu sudah terbukti keberdaannya baik di pemerintahan provinsi, maupun kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Hal ini dapat dilihat, enam kandidat yang akan mengisi posisi Wakil Walikota Padang sudah dimunculkan PKS ke Publik. Ini membuktikan PKS sangat produktif dan memiliki kader internal yang siap ditempatkan di posisi strategis pemerintahan untuk melayani masyarakat.

Kalaupun ingin dikerucutkan menjadi dua kandidat yang akan diajukan untuk dipilih di DPRD sepertinya tidak begitu sulit. Enam saja bisa dicarikan apalagi hanya dua. Begitulah kira-kira.

Kandidat yang diusulkan oleh PKS itu bukan orang-orang sembarangan. Semuanya sudah memiliki track record yang sangat jelas. Ada yang menjabat sebagai legislator provinsi maupun kota dan ada tokoh muda yang sudah mendapatkan gelar doktor.

Seharusnya tidak ada keraguan dan kekhawatiran lagi dari PAN. Apalagi ketakutan jika nanti sosok yang akan mengisi posisi wakil walikota dari PKS tidak bisa berkolaborasi dan bersinergis dengan Hendri Septa. Yakinlah, PKS sangat profesional. Dan mampu menempatan diri serta siap berkontribusi menyukseskan program-program yang akan direalisasikan kepada masyarakat.

Sekarang tinggal bagaimana PKS dan PAN segera mendorong agar kekosongan posisi Wakil Walikota Padang bisa dipenuhi segera. Jangan sampai berlarut-larut sehingga muncul spekulasi dan opini liar yang tak elok. Apalagi Hendri Septa butuh partner untuk membantunya dalam melanjutkan pembangunan di Kota Padang.
Saat ini warga kota masih menunggu-nunggu sosok yang akan mengisi posisi wakil walikota. Jangan sampai kepentingan masyarakat kalah dengan kepentingan politis.

PKS dan PAN bukanlah partai baru. Tentu pengalaman dan rekam jejak yang sudah dijalani menjadi landasan sikap profesional dalam mengeluarkan kesepakatan. Apalagi koalisi sudah lama dibangun. Tinggal bagaimana mengedepankan etika berkoalisi yang baik sehingga tidak ada yang dirugikan



Sumber

Baca Selengkapnya

Kolom & Opini

MARI EFEKTIFKAN LAGI LIMBAGO USALI DI SETIAP NAGARI…! – siarminang.net

MARI EFEKTIFKAN LAGI LIMBAGO USALI DI SETIAP NAGARI...! – Beritasumbar.com

Oleh: Yulfian Azrial

Budayawan, Kolumnis, Pejuang ABS-SBK

“SEBAGAI salah seorang yang pertama menggulirkan wacana gagasan “Baliak Banagari”di tahun 1990-an silam (waktu itu beberapa kali saya tulis di Skh. Singgalang yang kemudian direspon banyak pihak sehingga bergulir menjadi polemik konstruktif-pen), menurut Mak Yum apa pangka bala (sumber utama malapetaka atau yang menyebabkan) gagalnya agenda Baliak Banagari yang telah dijalankan sejak tahun 2000?” tanya seorang peserta seminar nasional tentang Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Museum Adityawarman Padang, tahun 2016 lalu.

“Pertama saya luruskan dulu. Menurut saya, Gerakan Baliak Banagari tidak sepenuhnya gagal. Setidaknya telah membangunkan kesadaran sejumlah anak Minangkabau dari tidur panjangnya, tentang adanya suatu warisan yang sangat mahal, berupa software-software mumpuni untuk menyikapi persoalan kehidupan. Bahkan di beberapa nagari gerakan ini telah dijadikan momentum untuk recovery, bangkit dari keterpurukan kualitas peradaban akibat menjadi korban sistem jahiliyah SEPILIS (sekuleris, pluralis, liberalis, dan komunis),” jawab saya ketika itu.

Tapi saya mengakui kalau secara umum, gerakan Kembali ke Nagari (kalau istilah saya Baliak Banagari) sejak awalnya memang telah sangat fatal, terutama karena ‘indak di barih makan paek, indak nan baukua nan bakabuang. Sabab dek karuak indak sahabih gauang, awai indak sahabih raso, banyak paham nan indak langsuang, lari dari mukasuiknyo…….’

IBARAT LOKOMOTIF YANG TELAH KE LUAR DARI RELNYA.

Jadi ibarat lokomotif yang membawa gerbong, bahwa sejak awalnya secara umum memang telah ke luar dari rel-nya. Bisa jadi mungkin karena eforia dan grasa-grusu, dan juga mungkin akibat para penentu kebijakan belum memahami konsep idealnya, sehingga lebih terpengaruh format yang ditawarkan dalam kajian akademis pihak tertentu yang juga mungkin kajiannya jauh daripada matang, serta juga giringan kepentingan politik pihak tertentu, ketimbang mengembalikan pondasi gerakan baliak banagari itu sesuai aslinya sebagaimana diamanatkan UUD 1945.

Padahal yang punya payung hukum untuk ini adalah tatanan asli dari masyarakat hukum adat yang diwariskan secara turun temurun. Bukan tatanan bentuk baru yang dibuat-buat sebagaimana tertuang dalam Perda Propinsi Sumatera Barat sejak Perda No 09 Tahun 2000 sampai dengan Perda yang terakhir terkait nagari. Karena boleh dikatakan, bahwa sesungguhnya Gerakan Baliak Banagari ini sejatinya adalah untuk menjalankan  amanat UUD 1945 khususnya Pasal 18.

MARI AKTIFKAN LIMBAGO USOLI DI SETIAP NAGARI

Maka menurut saya, kalau kita masyarakat Minangkabau benar-benar ingin mengembalikan kedaulatan dan kemakmurannya di segala bidang dengan melakukan Gerakan Baliak Banagari itu, . kunci dari suksesnya adalah adanya kemuan serius untuk melakukan upaya mambaliakkan siriah ka gagangnyo, mamulangkan pinang ka tampuaknyo.  Artinya harus ada upaya serius untuk mengembalikan rel atau pondasinya pada rel atau pondasinya yang paling pas, yaitu  LIMBAGO USOLI yang telah ada di setiap nagari secara balanggo-langgi di dalam kehidupan bernagari hingga ke tingkat Alam Minangkabau.

KENAPA? Karena nenek moyang kita telah mewariskan sistem yang sangat luar biasa, sistem yang dengan software-softwarenya telah teruji berabad-abad lamanya dan tentu akan dapat menjawab tantangan zaman secara efektif. Sebab Limbago Usali juga adalah potensi Social Capital yang dibangun atas dasar muatan kejujuran (honesty) dan berkeadilan (equty) yang sangat kental…..

Maka sebagai jawaban dari inti pertanyaan peserta seminar di atas, menurut saya, bahwa pangka bala (sumber utama malapetaka atau yang menyebabkan) gagalnya agenda Baliak Banagari yang telah dijalankan sejak tahun 2000 itu adalah, karena kita belum mengembalikan el atau rpondasinya pada LIMBAGO USALI.

Akibatnya UNTUAK INDAK DIAMBIAK DEK NAN BERHAK, BOKEH INDAK DIHUNI DEK NAN PATUIK, sehingga kebijakan yang dilahirkan akan tetap cacat dan lemah, karena TIDAK DIRUMUSKAN SECARA BERADAT ; dalam arti tidak dirumuskan oleh pihak yang punya legitimasi kuat dalam kehidupan masyarakat adat.

Karena itu, bila kita ingin kehidupan bernagari kita benar-benar bermakna dan berarti, sehingga terwujudnya kembali kehidupan yang berkedaulatan dan berkemakmuran dari masyarakat ABS-SBK,   maka MARI EFEKTIFKAN LAGI LIMBAGO NAN USALI DI SETIAP NAGARI…!

Yulfian Azrial adalah Budayawan, Kolumnis, Pejuang ABS-SBK, Kepala Balai Kajian Konsultansi dan Pemberdayaan (BKKP) Nagari Adat Alam Minangkabau.



Sumber

Baca Selengkapnya

Kolom & Opini

DIBALIK DILEMATIKA BADAI KEHIDUPAN – siarminang.net

DIBALIK DILEMATIKA BADAI KEHIDUPAN – Beritasumbar.com

“Sudah jatuh tertimpa tangga,
dibunuh anak mati induknya, dibunuh induk mati anaknya,
begitulah masalah kehidupan mejadi dilema
maka ambil lah hikamah dan kebijksanaan
karena dia hanya seperti dua sisi mata uang
ketika kita pandai mensyukurinya
dia pasti menjadi sebuah kemuliaan
jadi, tak usah risau karena dilema
karena pasti ada maksud dari sang pencipta”

Salah satu hari yang paling menyenangkan disaat kesibukan bekerja jauh adalah “betapa indahnya bertemu keluarga di musim cuti” meski kenyataanya Tan Gindo mesti masih harus membawa separuh pekerjaan dan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan setiba dirumah. Ternyata waktu 10 hari yang telah disepakati belum terasa cukup untuk berlibur dikampung halaman yang begitu jauh “diantara Pontianak – Jakarta – Padang daku harus berlabuh” ungkap Tan Gindo dengan nada syair. Apalagi berbagai tanggung jawab selaku anak, ponakan bahkan sudah dianggap seorang mamak dalam keluarga besar dipesukuan Melayu di Minangkabau juga harus dilakukan. Itulah kenyataan yang tak bisa dihindari dalam hidup ini “begitu banyak persoalan kehidupan bak tumpukan sampah yang berserakan ditengah perkarangan rumah” ungkap Tan Gindo merenung.

Ditengah cuti tiba-tiba dikejutkan oleh pesan WhatsApp Kang Sukma seorang rekan kerja “Tan, mohon maaf kita mungkin tidak bertemu lagi jika ente kembali kelapangan karena saya harus undur diri dari kontrak kerja” begitu bunyi pesan singkat seperti petir disiang bolong. Untungnya saja Tan Gindo sudah siap menutup gendang telinganya dan tak begitu terkejut mendengar dentumannya. “Oke kang, saya sudah mendengar gelagat tak enak kemarin dari info lapangan, hanya saja tidak menyangka secepat itu kenyataanya” ujar Tan Gindo menenangkan hati. Sambil berkelakar Tan Gindo hanya berpesan “Yah, setidaknya saya kehilangan teman untuk ngudut dan ngopi bareng” ujar Tan Gindo dengan icon ketawaan di pesan WhatsAppnya.

Jauh dari lubuk hati Tan Gindo, seperti ada sebuah sesal, meski tanggung jawab adalah di wilayah desa masing-masing namun secara tim kerja bisa memiliki pengaruh yang kuat atas pencapaian target pekerjaan “saya mungkin turut andil atas kondisi ini, meski tidak secara langsung, setidaknya mungkin selama ini si Akang kurang merasa dapat dukungan rekan yang bisa saling mendukung” ujar Tan Gindo membathin. Begitu jualah realitas menjadi seorang mitra yang sama punya atasan yang sama, ada sebuah pilihan dan kewenangan yang diluar kendali meski kadang merasa dalam kondisi tertentu juga mendapatkan keputusan seperti tampa ruang pengadilan. Ibarat “menantang matahari” dalam perusahaan memang jika tidak kuat melawan harus segera menunduk dari langit-langit kebijakan.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 10; Ustadz Guru; Sang Komandan

Seperti biasa jika sebuah semangat sudah mulai terpukul lagi, biasanya akan ada pukulan lain selain dari pada kejadian tersebut. Berturut-turut dalam keluarga inti dan masalah sanak saudara dikampung halaman juga harus hadapi, sampai-sampai bocah kelima dari enam saudara berkata “ayah, janganlah kerja jauh-jauh lagi, sinilah sama kami” ujar Naira, si cewek kecil yang paling cerewet. Betapa terhenyak Tan Gindo mendengar ucapan itu, namun karena sebuah keputusan Tan Gindo hanya berdoa membathin “ya Allah, jangan biarkan anak-anak ku marah dan dendam pada ayahnya yang jarang bersama mereka”. Semoga ini seperti jalan Nabi Ibrahim kepada Ismail yang juga lama meninggalkan anak-istrinya di gurun pasir tanah Arab dulunya.

Musim cuti yang terasa pendek habis sudah, dan sempat tertahan dalam perjalanan 4 hari 3  malam di perjalanan karena urusan prosedur Covid-19 yang mengharuskan persyaratan khusus untuk masuk ke Kota Pontianak “entah sampai kapan kita menjadi tuan dinegeri sendiri wahai Indonesiaku” ujar bathin Tan Gindo menggugat. Ketika sampai di lapangan ternyata benar adanya, dilangit-langit Mempawah terasa mendung dan sudah menunggu setumpuk persoalan membuat Tan Gindo sedikit melamun panjang hingga melahirkan puisi barunya;

….……………………………..

Mendung lagi di Mempawah

kala itu..
dibumi Mempawah, bumi Borneo
sebuah mentari baru saja naik
seberkas cahaya bersinar terang
sayang, sepertinya tak terasa lama
awan gelap itu kembali datang
mendung seolah sebentar lagi hujan
dari arah yang tak terduga
padahal…
aku baru saja hadir
membawa setumpuk gelora
membara, bak penunggang kuda perang
berkilau, tak pernah padam
itu karena aku adalah emas
bukan besi yang berkarat
tak takut hujan bahkan bergaram
aku melebur bukan terlebur
aku mewarnai bukan diwarnai
aku merasakan bukan perasa
aku bekehendak bukan kehendak
semua hanya karena kuasa Allah
aku berada dan ada disini
tak peduli, apapun yang akan terjadi
hingga pada waktunya
pulang, pergi, datang dan kembali..

……………………………….

Akhirnya Tan Gindo kembali teringat massa lalu yang penuh dilema dalam menghadapi masalah massa lalunya, terutama ketika harus menghadapi aksi demonstrasi besar-besaran mengahadapi kebijakan sang Rektornya ditahun 2004 silam. Pada mulanya tak tahu apa sikap apa yang harus diambil ketika dihadapkan pada beberapa persoalan sekaligus dalam hidup. Mungkin itu juga hikmahnya pembelajaran massa lalu yang telah terjadi dan tak boleh dianggap remeh dalam kehidupan berikutnya sehingga selalu siap dalam menghadapi persoalan yang kurang lebih serupa tapi tak sama dalam berbagai tantangan. Saat itu Tan Gindo adalah sebagai pimpinan Unit Kegiatan Kampus WP2SosPol (Wadah Pusat Pengkajian Sosial Politik) yang memiliki fungsi sebagai sebuah lembaga kontrol dan pengawasan sekaligus pemberdayaan bagi berbagai aktivitas kebijakan mahasiswa dan kampus dalam menjalankan “trias politika” dari dalam kampus Universitas Negeri Padang.

Kala itu Prof. Mestika Zed (alm) masih sehat wal-afiat dan energik; disamping beliau sebagai Direktur PKSBE Unversitas Negeri Padang juga merangkap sebagai Pembina WP2SosPol dan salah seorang tokoh senator yang idealis, cerdas, berani dan disegani. Tak heran Tan Gindo selalu konsultasi dengan Pembina ketika banyak persoalan kampus yang ditemui. Sebagai salah satu wadah yang dilahirkan oleh para tokoh Reformasi mahasiswa 1998; advokasi terhadap kebijakan sosial pilitik mahasiswa dan kampus memang selalu menjadi sorotan serta issue seksi WP2SosPol semenjak berdirinya.

Mulai dari statuta perguruan tinggi hingga ruang hukum dalam pemerintahan sudah pasti menjadi rujukan dan acuan dalam berbuat. Ketika masalah aksi mahasiswa “menggugat keputusan rektor” terjadi; Tan Gindo dihadapkan pada posisi dilema, apakah diam atau mesti begerak maju untuk melangkah jauh melawan ketidak-adilan. Sungguh sebuah keputusan yang berat. Tan Gindo harus menjalankan amanah selaku pimpinan atau hanya menjadi seorang pemimpin yang pecundang, penjilat dan “lebay” saja dengan situasi yang terjadi.

Sebenarnya pemicu peristiwa aksi memang karena persoalan politis saja yakni “adanya proses pengangkatan pembantu Rektor 1, 2 dan 3 pasca pelantikan bapak Prof. Z. Mawardi Efendi sebagai Rektor Universitas Negeri Padang yang beberapa bulan terpilih dan dilantik melalui musyawarah di senat perguruan tinggi”. Namun kebijakan tersebut menurut kajian WP2SosPol UNP yang dipimpinan Tan Gindo sudah tidak etis dan mengorbankan nilai-nilai moral selaku insan akademis.

Menurut statuta Perguruan Tinggi yang berlaku pada tahun 2004 itu adalah memang otoritas selaku Rektor untuk mengangkat para pembantunya sehingga dikeluarkanlah 2 paket calon Pembantu Rektor 1, 2 dan 3, kemudian 2 paket tersebut kembali diserahkan kepada Senat Perguruan Tinggi untuk segera diputuskan melalui suara terbanyak. Intinya siapapun yang terpilih pada etiknya tidak menjadi persoalan bagi sang Rektor karena sudah merupakan pilihan beliau sendiri. Paket satu adalah atas nama bapak Dr. Phil. Yanuar Kiram dkk  dari Fakultas Olah Raga (FPOK) dan satu lagi atas  nama bapak Dr. R Candra dkk dari Fakultas Teknik (FKT) Universitas Negeri Padang.

Dalam prosesnya di senat perguruan tinggi akhirnya memenangkan pihak bapak Dr. R Candra dkk, namun kenyataanya yang di angkat oleh Rektor kemudian adalah pihak yang kalah setelah dipilih oleh Senat Perguruan Tinggi yakni an. Bapak Dr. Phil. Yanuar Kiram dkk. Dalam proses tersebut WP2SosPol selaku lembaga mahasiswa dan unsur yang tidak terpisahkan dalam perguruan tinggi jelas adalah dalam posisi dalam mengamati dan mengawasi proses berjalannya pemilihan tersebut hingga akhir membuat dunia kampus geger dan bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.

Kajian demi kajian kemudian dilakukan dari pintu ke pintu hingga dalam diskusi kecil dan besar serta mendatangi para pihak. Sengketapun mulai terjadi di Senat Perguruan Tinggi sebagai aktor utama, ketegangan terjadi dari setiap jurusan dan fakultas hingga dosen dan mahasiswa. Para senior senator kampus mulai dari paling senior hingga senator baru dibuat terkejut dan bersiteru sampai diruang terbuka dan mulai memperlihatkan cara-cara yang tidak sehat selaku insan pendidikan.

Issue demi issue mulai seleweran tidak menentu, para pemain politik kampus yang berkepentingan tidak mau kalah serta ingin mendapatkan pengaruh dan keuntungan pribadi mulai mencari kekuatan hingga pada tingkat aktivis mahasiswa. Fitnah, ancaman hingga iming-iming jatah Dosen bagi sebagian aktivis penggerak pun mulai menjadi fakta yang tidak terbantahkan ditemukan; bahkan Tan Gindo sendiri mendapatkan tawaran dan kondisi serupa, “Tan, kalau kamu mau jadi dosen berhenti untuk demo saat sekarang juga” ujar seorang Dosen. Info serupa juga diterima Tan Gindo dari beberapa Senator senior dan terbukti beberapa orang aktivis bahkan Ketua BEM-UNP aktif semasa itu akhirnya tak lama pasca kejadian memang menjadi Dosen dan menjilat komitmenya akan menyelesaikan massa jabatannya ternyata mundur ditengah periode kepengengurusan.

Satu-persatu aktivis nasi bungkus dan pragmatis mulai ambil kesempatan dan kesempitan, wajar sebagian ada yang banting stir dalam memperjuangkan kebenaran dan ambil peluang pragmatis serta sebagian lain tetap bertahan dalam idealismenya. Sementara kelompok aktivis “kiri”pun mulai ambil bagian dengan berbagai issue yang menurut mereka harus digoreng dan dimakan dalam setiap kesempatan. Bersyukur Tan Gindo bersama tim ada yang bertahan tetap bergerak secara sistematis dan terukur hingga akhirnya aksi besar-besaran terjadi diakhir Februari 2004.

Lalu, terjadilah tindakan anarkis yang tidak dapat terhelakkan dan memutarbalikkan gerakan yang demikian bermoral, harmonis dan tersusun rapi. Aksi tersebut dinodai dengan tindakan anarkis yang katanya pejuang demokrasi; dalam aksi tersebut menghancurkan seluruh kaca bangunan utama Rektorat UNP dan disenyalir rugi dua ratusan juta lebih. Aksi besar pertamapun di akhir Februari 2004 tersebut berjalan tampa ada korban mahasiswa dan belum ada aktor yang tertuduh, namun jelas Tan Gindo sebagai penggerak utama menjadi sorotan tajam selaku pemimpin aksi dan digiring tertuduh berbuat anarkis.

Beruntung Tan Gindo dan tim yang menamakan barisan Froum Aksi Demokrasi Arus Bawah Universitas Negeri Padang (FDAB-UNP) waktu itu bisa cepat mendapatkan fakta bahkan bukan biang pelaku dan tidak bisa diproses karena semua hanya skenario dari pihak pendukung Rekotrat terutama pihak yang diuntungkan. Dengan cara memancing kemarahan mahasiswa dan ada pihak yang bermain dari dalam rekorat sendiri. Pihak tersebut jelas telah didukung oleh sebagian kecil aktivis Mahasiswa yang dalam posisinya juga memihak koleganya yang mencari keuntungan “ibarat menangguk ikan di air keruh”. Pasca kejadian tersebut malah Tan Gindo dan tim berhasil mendapatkan pengakuan aktivis pembela rekotor bahwa mereka diperalat dan diminta untuk melangsungkan niat kotor untuk merusak pergerakan FPDAB-UNP yang awalnya berjalan damai.

Pada mulanya dilema berasal dari tubuh interal WP2SosPol selaku aktor gerakan dikalangan mahasiswa, seorang senior dalam WP2SosPol mulai melakukan maneuver karena kebetulan dia adalah aktivis yang berasal dari FPOK dimana pihak yang dianggap yang menjadi pemicu terjadinya persoalan perebutan kekuasaan di dalam kampus UNP. Dari dalam unit kegiatan kampus sendiri dia mulai mencari pengaruh dan memecah gerakan FPDAB-UNP dengan menebarkan pemahaman yang tidak semestinya dia lakukan selaku senior dan harusnya menjadi contoh bagi para junior.

Gerakan pragmatis dan melemahkan semangat kritis para aktivis mahasiswa mulai dilakukan mereka bahkan setiap gerakan FPAB-UNP dimata-matai dan kemudian disampaikan kepada pihak Senator pendukung kebijakan dan tampa malu-malu mulai melakukan permainan “bermuka dua” dengan pihak penguasa kampus. Tepatnya tanggal 4 Maret 2004 terjadi aksi tandingan dari Mahasiswa pendukung Rektorat yang menamakan diri mereka Mahasiswa Pendukung Rektor; jumlah mereka tidak terlalu banyak seolah menjadi pihak yang mendukung Rektorat dan mendukung kebijakan yang telah dinilai tidak etis dan mempertontonkan kebobrokan perguruan tinggi di depan publik serta memperlihatkan permainan politik kotor.

Aktivis pendukung Rektorat ini adalah mereka yang telah mengaku ditekan dan diminta untuk memainkan peran sebagaimana yang telah di infestigasi tim FPDAB-UNP. Dalam aksi tersebut FPDAB-UNP dan para pendukung rekotorat, mulanya tim FPDAB-UNP tidak begitu mempersoalkan mereka yang bertentangan karena itu adalah juga bagian dari hak teman-teman aktivis mahasiswa untuk berpendapat berbeda meski sangat disesalkan mereka berpihak dalam posisi yang salah dan hanya mencoba menyelamatkan diri disebabkan oleh karena tekanan pihak Rektorat.

Melalui konsolidasi antar aktivis mahasiswa baik dan yang pro dan kontra; Tan Gindo semula berhasil menggiring kesepakatan aksi agar berjalan damai antar para demostran serta tidak ingin bentrok  atau diadu domba oleh pihak Rektorat sehingga sama sekali tidak ada niatan untuk berhadapan dilapangan. Kebetulan aktivis FPDAB-UNP ditanggal yang sama bersepakat juga akan melanjutkan aksi serupa berharap bapak Rektor sadar dan mengakui kesalahannya serta kembali pada jalan yang benar sebagaimana tuntutan aksi yang telah dilayangkan. Kekuatan massa FPDAB-UNP jelas mendapat dukungan yang luas dari pada senator dan para dosen yang menjungjung tinggi nilai-nilai moral dan akademis bukan memihak permainan politik yang tidak etis bahkan terkesan kotor.

Sampailah pada akhirnya ketika itu aksi FPDAB-UNP berhadapan dengan gerakan pendukung Rektor di halaman kantor rekotrat UNP. Namun fakta dilapangan akhirnya berbeda, pendukung Rektor kembali mencoba memancing kerusuhan di depat rektorat UNP serta diketahui ternyata mereka sudah tidak dalam keadaan waras dan normal. Sebagian besar tim pendukung Rektor bau mulut mereka sudah tercium alkhol dan berkemungkinan juga menggunakan obat penenang lainnya serta bertindak diluar kendali.

Sontak Tan Gindo bersama tim aksi FPDAB-UNP juga terpancing emosi dan tidak terima dengan keadaan tersebut. Dibelakangan hari diceritakan oleh para teman-teman mata Tan Gindo berwarna merah padam dan tidak seperti Tan Gindo yang tenang dalam menghadapi aksi-aksi sebelumnya “bak kesetanan dan kehilangan kendali”. Jelas, Tan Gindo seperti sudah digerakan oleh kekuatan lain, namun pada dasarnya kemarahan Tan Gindo bukan pada rekan-rekan mahasiswa tandingan pembela Rektor tapi sudah menghujam pada para Senator dan Dosen pendukung Rektor yang sudah terang-terangan memperalat mahasiswa untuk kepentingan politik mereka.

“Kurang ajar kalian wahai guru bangsa, kalian tidak punya otak dan martabat” ujar Tan Gindo menggila. Mahasiswa seolah hanya dijadikan senjata atau tumbal kekuasaan serta membiarkan aktivis mahasiwa dengan minuman keras dan kerusakan mental lainnya. Seketika terjadilah keributan besar dan anarkis kembali tampa kendali “traaaang, doaaar…” sebuah kaca rekorat kembali pecah melampiaskan kemarahannya pada kaca rekotrat yang baru saja diganti tak lama setelah pasca aksi besar-besaran sebelumnya telah terjadi.

Dihari naas tersebut akhirnya Tan Gindo dengan 2 orang rekannya “Doni” dan “Eka” yang secara faktual terlihat langsung di amankan oleh pihak yang berwajib dan langsung digiring ke kantor polisi dan ditahan disana selama seminggu dan kemudian akhirnya terpaksa di titipkan di ruang tahanan Muara Padang selama lebih kurang 3 bulan kurang 5 hari karena alasan Pemilu 2004. Kemudian aksi bukannya terhenti oleh karena tertangkapnya 3 orang aktivis tim FPDAB-UNP, tapi semakin menggila dan entah kenapa kembali mengambil jalan yang naif kembali; berturut-turut setelah peristiwa naas tersebut aksi anarkis kembali berulang dan berulang sampai berjumlah 20 orang terpaksa ditahan dipenjara.

Dari dalam sel tahanan Tan Gindo sempat juga mendengar target panglima FPDAB-UNP yang baru adalah 100 aktivis mahasiswa akan siap mengorbankan diri mereka untuk menyusul rekan-rekan mereka yang tertahan di kepolisian. Namun kemudian hanya terhenti dan mereka bertemu kembali di Lapas Muara Padang dalam satu ruangan yang sama pada hari 2 minggu kemudian. Akhirnya satu ruangan khusus di lapas Muara Padang hanya ditempatkan bagi aktivis mahasiswa yang terduga anarkis berada dalam ruang dan waktu yang sama. Belakangan mereka menamakan diri mereka sebagai aktivis lingkar 20 untuk mengenang massa-massa sulit disaat itu sebagai sebuah rasa senasib dan sepenanggungan akibat aksi tersebut.

Begitulah kejadian tersebut membesar dan berlalu hingga akhirnya para Senator FPDAB-UNP ternyata terpaksa mengendorkan dan memilih jalan mundur untuk sebuah kemenangan kelompok Rektorat yang berkuasa. Diketahui karena akibat 20 mahasiswa yang tertahan dan harus di adili diruang persidangan menjadi alat pemukul yang efektif bagi pihak rektorat untuk mempertahankan kekuasaanya hingga kasus tersebut ditetapkan oleh Mentri Pendidikan Abdul Malik Fadjar (10 Agustus 2001 s/d 20 Oktober 2004) melegitimasi kebijakan rekotrat yang telah dinilai merusak nilai-nilai etis dan akademis di unversitas.

Belakangan Tan Gindo mendapatkan informasi resmi memang skenario yang dimainkan pihak rekotrat memang demikian adanya “jauh hari foto Tan Gindo dan beberapa tim inti FPDAB-UNP memang sudah terpajang di meja salah satu petinggi pembantu rektor terpilih untuk menjadi target dibully, ditekan, diadu domba, difitnah dan dipenjarakan jika diperlukan melalui berbagai praktik licik kekuasaan yang telah mereka kendalikan. Apalagi perjuangan FPDAB-UNP dari dalam penjara sempat melakukan “cap darah” agar perjuangan menegakkan kebenaran terus bisa dilajutkan dari dalam kampus (26 April 2004) sehingga menjadikan aksi tersebut semakin memanas.

Secara langsung memang aksi FDPAB-UNP tak ada hubungan dengan proses perkuliahan Tan Gindo dan rekan aktivis, begitu juga untuk kepentingan pribadinya. Hanya semata-mata terkait dengan semangat dan moralitas terhadap perubahan yang sedang diusung pada pasca Reformasi. Sebagai produk keluaran demonstran 1998 tentu kridibilitas Tan Gindo sangat dipertanyakan jika persoalan tersebut ditindak lanjuti. Apalagi selaku kader Pelajar Islam Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Islam; kebenaran harus selalu dijunjung tinggi sebagai pilihan utama. Itulah akhirnya yang menjadi dasar pijakan berfikir Tan Gindo kemudian berani maju digaris depan untuk mengorganisir massa yang akhirnya mencapai dua ribuan pendukung turut aksi didepan rektorat silam sekaligus harus menerima kenyataan yang ada.

Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang telah dilatih oleh para senior, Tan Gindo dan tim FPDAB-UNP bergerak melakukan pengorganisasian issue mulai dari kajian-kajian khusus secara teori, empiris berdasarkan peraturan dan perundangan, aksi-aksi secara strategis dan taktis dari orang ke orang, aktivis ke akvitis, dari satu wadah Unit kegiatan kampus ke wadah lainnya hingga turun ke fakultas-jurusan di Univesitas Negeri Padang secara simultan. Pergerakan FPDAB-UNP begitu terlihat rapi dan apik sehingga sempat mendapat dukungan berbagai pihak bahkan sampai mengidentifikasi kekuatan sampai ketingkat Senat Perguruan Tinggi selaku pengambil kebijakan utama.

Pada mulanya dalam menata aksi tersebut tim inti Tan Gindo tak begitu banyak jumlahnya; hanya 5 orang aktivis saja dan akhirnya sampai berhasil mengumpulkan ribuan massa aksi, bukan saja dari kalangan mahasiswa tapi juga dari kalangan dosen dan senator juga turut bergabung. Tim inti dalam aksi bukan lagi dari kalangan aktivis WP2SosPol saja karena terbukti juga terdapat anggota yang menjadi kacung dan penjilat kekuasaan ketimbang ideologi kebenaran yang harusnya dijunjung tinggi. Begitulah kenyataan hidup, jangankan dengan orang lain, dalam satu keluarga sedarah saja sering terjadi perbedaan pandangan dan pendapat sehingga mau tak mau akhirnya mesti berhadapan dalam sebuah masalah. Ketika sebuah “tekad” sudah bulat direnungkan dan dipikirkan serta diputuskan Tan Gindo terus melangkah jauh bahkan ketika itu sempat mendapatkan restu sang Ayah Kardiman dipuncak peristiwa.

Masih terngiang di telinga Tan Gindo Ayah Kardiman berkata “jika sudah begitu pertimbanganmu silahkan maju berjuang, jika berhasil itu sebuah keberuntungan, ketika tidak maka akan menjadi ujian (tabujua lalu tabalintang patang)” ujar beliau sambil membacakan sebuah do`a bak sebuah mantra yang berkomat kamit sambil menghembuskan nafas keberanian kepada Tan Gindo sebagai anaknya. Meski belakangan diketahui di saat yang sama ternyata ayah Kardiman ternyata juga berhadapan dengan sebuah dilema keluarga dan anaknya “Nofri” sang adik Tan Gindo ditempat yang lain.

Berat sudah ternyata beban bathin sang ayah dan akhirnya cukup menguncang mental dan fisik beliau sehingga menjadi penyebab sakit serta menjemput ajal beliau tanggal 4 Mei 2004 sementara Tan Gindo masih tertahan di dalam sel tahanan Muara Kota Padang dan tak sempat mensholatkan jenzah sang ayah karena terdapat diskomunikasi dan sebuah kealpaan pihak sipir penjara. Hampir saja Lapas Muara Padang dikepung dan diobrak-abrik oleh para mahasiswa pendukung FPDAB-UNP karena persitiwa tersebut dan lagi-lagi menjadi berita paling viral dimedia massa.

Inilah pelajaran yang sangat berat Tan Gindo dalam hidupnya, padahal masih dalam status sebagai mahasiswa yang belum selesai menjadi sarjana ketika itu. Parahnya, ketika itu telah direncanakan tanggal 8 Maret 2004 akan berlangsung pernikahan dengan calon Istri dan kemudian batal akibat peristiwa itu terjadi. Bahkan sempat disaat itu sang calon Istri menyatakan “Siap untuk menikah di Penjara jika diperkenankan”. Disamping menjadi kesan yang sangat istimewa dalam hidup Tan Gindo terhadap calon istri, fonomena tersebut juga menjadi topik panas dan menguncang peristiwa diberbagai halaman depan beberapa media cetak di Sumatera Barat.

“Nasi sudah menjadi bubur dan tak perlu di sesali, semua pasti banyak hikmahnya” ujar Tan Gindo kembali membathin tampa perlu penyesalan karena keputusan sudah diambil dan mesti siap dengan segala resiko sebagaimana pesan sang Ayah yang penuh semangat juang. Dalam setiap doa dan kesempatan Tan Gindo selalu mengenang dan mendoakan sang Ayah semoga beliau selamat dalam kubur dan di akhirat kelak, “beliau adalah ayah yang hebat” ungkap bagi Tan Gindo membathin. “Semoga cucu-cucunya juga akan meneruskan idealisme sang Kakek dikemudian hari” begitu Tan Gindo selalu mengenang.

Dilema demi dilema semenjak hari naas tersebut kemudian beranak pinak dengan beragam bentuk persoalan dalam kehidupan Tan Gindo “bak makanan sehari-hari”. Hanya dalam waktu dalam sebulan; mulai dari diskusi kecil hingga menjadi lingkaran aksi, mulai dari aksi negosiasi secara diam-diam hingga terpaksa terang-terangan dilakukan melalui leflet, media cetak, secara formal dan informal dilakukan Tan Gindo bersam tim FPDAB-UNP hingga aksi demostrasi kecil-kecilkan sampai membesar seperti bola salju. Boleh dikatakan hampir tidak ada waktu Tan Gindo dan tim untuk berisirahat dalam memikirkan langkah demi langkah, kala itu Tan Gindo jadi susah tidur setiap harinya karena terpaksa harus bergadang dan bergerak 24 jam siang dan malam. Semua komponen dan instrument aksi tidak pernah menghadapi ruang kosong bahkan pihak yang digugatpun diajak berdiskusi tampa perlu curiga dan takut hingga pada akhirnya masuk dalam perangkap anarkisme.

Setelah diluar tahanan, persidangan demi persidangan mesti dilaksanakan oleh Tan Gindo bersama tim 20 sepanjang tahun 2004-2005, dari Pengadilan Tinggi Negeri hingga Pengadilan Tinggi Negara hingga dinyatakan terhukum dengan hukuman yang tak lebih dari 1 Tahun dan bersifat tahanan kota serta wajib lapor karena kasusnya dianggap delik biasa. Sementara perkuliahan Tan Gindo dan tim masih bisa berlanjut dan masih dapat menyeselesaikan perkuliahan pada pertengahan 2006 silam. Dalam massa persidangan akhirnya tanggal 8 September 2004 Tan Gindo dengan calon istri kemudian baru dapat kembali melanjutkan agenda pernikahan yang tertunda. Disaat yang sama Tan Gindo sudah kembali beraktivitas sebagai aktivis LSM P3SD Padang sebagai fasilitator lokal dalam Program Balai Mediasi Desa bersama P3SD-LP3ES Jakarta dan NZAID serta program JEMBATAN Pemilu – UNDP 2004

Selama dalam proses persidangan 20 aktivis mahasiswa mendapat support dari tim Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang dan banyak dukungan dari berbagai pihak sehingga mendapatkan berbagai pembelajaran proses dipersidangan serta berbagai pemahaman ilmu hukum secara langsung dan tidak langsung dari para pengacara. Sebuah ilmu dan pengalaman yang tidak akan dapat dirasakan mahasiswa lain selain mereka yang berkuliah di ilmu hukum, kelak proses ini pasti akan sangat berarti dan berguna dalam berbagai tindakan Tan Gindo dan teman-teman lainnya dalam berbagai gerakan. Bagi mereka yang tidak mengerti tentu hal ini akan menjadi penyesalan tersendiri namun tidak bagi Tan Gindo dan teman-teman seperjuangan, hal ini tentu menjadi hikmah yang berharga.

Jika kita perhatikan kondisi kekinian di negeri Indonesia saat ini, tentu akan menjadi fakta bahwa betapa sebuah kekuasaan, politik dan perebutan aset menjadi sebuah menjadi petaruhan dalam menjawab rasa keadilan masyarakat. Demi harta, tahta dan wanita mereka yang berkuasa rela mengorbankan nilai-nilai kebenaran dan moral, dalam meraihnya mereka berani menggunakan jalan licik atau menghalalkan segala cara. Padahal sepatutnya mereka yang sudah terdidik; bergelar profesor, doktoral, master dan sarjana seperti tidak malu-malu lagi berbuat diluar etika bahkan sudah berani menjual agama atau ayat-ayat Allah melebihi peristiwa diatas. Inilah dilema bagi para pemimpin atau siapa saja dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan; mereka akan dihadapkan oleh sebuah pilihan-pilihan yang tidak mudah serta jalan berduri, menanjak tinggi, menurun tajam dan curam. Tak sedikit mereka terjatuh dan menerima pil pahit kehidupan, tapi tidak sedikit juga bermuka badak dan menjual harga diri mereka untuk sebuah kebutuhan duniawi semata.

Pikiran Tan Gindo kembali pada persoalan pekerjaanya di Mempawah-Kalbar, persoalan-persoalan yang terjadi kembali seperti dilema. Setidaknya perlu 3 hari bagi Tan Gindo merenung apa dan mengapa yang sedang telah terjadi dalam keluarga, dikampung halaman dan dengan berbagai informasi serta kebijakan program saat ini. Beruntung dilema tersebut merasa belumlah seberat massa lalu Tan Gindo, sembari berucap “Insya Allah masalah yang ada akan dapat dilalui meski harus segera memutar kepala, apa dan bagaimana tindakan segera mesti dilakukan dimassa datang”, tampa harus melupakan berbagai urusan dan kepentingan.

Kajian demi kajian harus dituangkan dalam sebuah analisis dan pemikiran yang matang, identifikasi persoalan harus kembali dilakukan hingga menemukan akar persoalan. Sebuah kebijakan dan tindakan harus berlandaskan pada pada realitas dan kebenaran yang abadi bukan terpancing oleh sebuah emosi yang akan menyesatkan keputusan yang akan diambil. Ada kalanya kita harus menurunkan “tensi” pemikiran hingga tidak jauh dari harapan yang ingin dicapai.

Proses demi proses harus kembali menjadi ukuran keberhasilan karena untuk berbuat baik tidak cukup dengan niat baik tapi juga butuh proses yang benar dan tidak salah sasaran. Selanjutnya Jika sudah pada tahap keyakinan maka bergerakklah membangun kekuatan sendiri tampa harus melihat orang kebanyakan tapi teruslah berjuang hingga dapat meyakinkan berbagai orang lain agar harapan yang dibangun berbuah manis dan meraih dukungan banyak orang.

Sementara jauh dalam pemikiran Tan Gindo peristiwa dan peristiwa di jagat maya yang sama sekali tidak ada kaitan dengan aktivitas saat ini, juga turut menggores keprihatinan Tan Gindo terutama terkait issue Covid-19 yang tak kunjung usai, korupsi pejabat disaat pandemi, undang-undang omnibuslaw, issue terorisme yang kebablasan, presekusi ulama, pembubaran HTI, nasib Habibana Muhammad Rizeq dan nasib Laskar Front Pembela Islam yang ditembak secara keji serta berbagai kegelisahan lainnya menambah rasa bahwa semakin “ngaur-ngidul dan ngibul”-nya tokoh bangsa dan penguasa kita hari ini. Dalam keyakinan Tan Gindo “sejarah pasti akan selalu bergulir dan berulang, hingga pada batas waktunya semua akan kembali terjadi”, sembari merenungkan pesan nenek moyang di Minangkabau dalam mengarifi masalah kehidupan;

Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati. Tarandam randam indak basah, tarapuang apuang indak hanyuik. Anyuik labu dek manyauak, hilang kabau dek kubalo. Anguak anggak geleng amuah, unjuak nan tidak babarikan. Alua samo dituruik, limbago samo dituang. Alat baalua jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik iringkan bathin nan baliku. Alang tukang binaso kayu, alang cadiak binaso Adat, alang ari binaso tubuah. Habih tahun baganti musim sandi Adat jan dianjak. Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang. Tibo di dado dikambangkan tibo diparuik samo dikampihkan, tabujua lalu tabalintang patah

(Sifat seseorang dalam bertindak harus selalu berhati-hati atas landasan kebenaran dan kebijaksanaan, Suatu persoalan yang tidak didudukan pada tempatnya akan berakibat fatal Karena mengutamakan suatu urusan yang kurang penting hingga yang prinsip tertinggal karenanya. Sifat seseorang yang tidak curang atau tidak jujur sesuai nurani dan tidak suka ketegasan dalam melakukan sesuatu akan menanggung resiko, dan ketika tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mental seseorang atau sekolompok orang telah rusak, walaupun tahun silih berganti musim selalu beredar, pegangan hidup jangan dilepas, yang baik sama dipakai, yang buruk sama ditinggalkan, salah ya salah, benar ya benar dan pertahankan kebenaran yang diyakini mesti nyawapun harus dikorbankan, hidup untuk sebuah kemuliaan)

Bersambung ke bag. 12



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer