Connect with us

Khazanah

Pocket Book Panduan Penilaian Melalui E-Learning Platforms Bagi Guru IPA Tingkat SMP Di Kota Padang – siarminang.net

Pocket Book Panduan Penilaian Melalui E-Learning Platforms Bagi Guru IPA Tingkat SMP Di Kota Padang – Beritasumbar.com

Sejak wabah Covid-19 mulai muncul di Kota Padang, nasional hingga mancanegara, kegiatan pembelajaran di sekolah yang biasanya dilaksanakan secara tatap muka terpaksa dialihkan menjadi kegiatan belajar dari rumah yang disebut juga School from Home (SFH). Untuk menjaga agar kegiatan belajar dari rumah ini berlangsung sesuai harapan, diperlukan adanya dukungan penuh dari berbagai pihak, diantaranya sekolah (pimpinan dan guru di sekolah), keluarga, dan dari siswa  sendiri. Penyediaan sarana pendukung dan komitmen yang kuat dari seluruh pihak menjadi dasar bagi lancarnya pelaksanaan SFH ini.

Berdasarkan wawancara dengan guru di beberapa sekolah menengah pertama di Kota Padang dan Kabupaten Solok yang dilakukan pada bulan Oktober 2020, ditemukan beberapa kendala terkait pelaksanaan SFH ini dari pihak guru. Kendala yang ditemui antara lain: sulitnya mengontrol siswa yang belajar di rumah masing-masing, masih ada siswa yang tidak memiliki smartphone sendiri sehingga harus bergantian dengan anggota keluarga di rumah, keterbatasan akses siswa ke jaringan internet dan kesulitan membeli kuota internet. Di sisi lain, guru sendiri pun tentu mengalami kendala tertentu dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru sekaligus orang tua yang harus membimbing kegiatan anaknya belajar dari rumah.

Transisi pembelajaran dari tatap muka ke pembelajaran daring menuntut penyesuaian dalam banyak hal agar dapat berjalan dengan baik. Guru harus memiliki laptop/PC dan smartphone dengan spesifikasi yang mendukung, menguasai IT dan memiliki akses terhadap jaringan internet yang baik. Dinas Pendidikan telah berupaya memfasilitasi guru agar menguasai IT untuk melaksanakan pembelajaran daring dengan baik. Berbagai pelatihan dan bimtek telah beberapa kali dilakukan baik berbasis kegiatan MGMP maupun internal sekolah. Namun, perkembangan kasus Covid-19 yang masih menanjak di kota Padang mengakibatkan pelatihan online menjadi pilihan utama. Berdasarkan hasil survei di beberapa sekolah, ditemukan bahwa mayoritas guru IPA adalah perempuan dan usianya rata-rata sudah melebihi 45 tahun. Seluruh guru yang kami wawancarai adalah perempuan, dan semua guru mengeluhkan sulitnya fokus berada di depan laptop mengikuti pelatihan dari rumah, kualitas koneksi internet yang tidak stabil dan tidak adanya waktu untuk mengulang kembali materi pelatihan di malam harinya karena sudah harus mengurus keluarga di rumah.  Intinya, banyak guru perempuan yang terkendala mengikuti pelatihan untuk membekali diri dengan pengetahuan berbasis IT untuk pembelajaran daring. Kami juga menemukan beberapa guru yang sudah “menyerah” untuk belajar kembali karena sudah akan pensiun dalam waktu dekat, yang merasa tidak perlu atau tidak sanggup lagi mempelajari hal baru.

Untuk menjembatani masalah keterbatasan waktu bagi guru perempuan ini, tim dosen pelaksana pengabdian dari Jurusan Pendidikan IPA FMIPA Universitas Negeri Padang yang diketuai Monica Prima Sari, M.Pd., dan beranggotakan Rahmah Evita Putri, M.Pd dan Rani Oktavia, M.Pd., menyusun pocket book berisi panduan melaksanakan penilaian untuk pembelajaran IPA yang dilaksanakan melalui online learning platforms.

Ada tiga aplikasi yang dibahas dalam buku saku ini, yaitu Kahoot, Quizizz, dan Mentimeter.com. Meski dimaksudkan untuk mendukung penilaian melalui pembelajaran daring, ketiga aplikasi ini juga dapat digunakan saat pembelajaran tatap muka. Guru dapat menggunakan ketiga aplikasi ini untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan interaktif dengan meningkatkan partisipasi siswa. Buku saku ini diharapkan dapat memfasilitasi guru dalam mengenal aspek teknis dari ketiga aplikasi tersebut terlebih dulu, agar lebih mudah saat menccoba dengan laptop/PC masing-masing. Cara seperti ini kami rasa lebih cocok untuk mayoritas guru IPA yang sudah berusia di atas 40 tahun atau yang kesulitan berlama-lama di depan laptop di rumah karena harus mengurus keluarga. Langkah-langkah dalam buku saku ini disusun dengan sangat jelas, menggunakan bahasa yang komunikatif dan sederhana hingga mudah untuk diikuti.

Idealnya, bimtek adalah cara paling efektif untuk mengenalkan ketiga aplikasi ini kepada guru. Namun, dengan belum dicabutnya kebijakan untuk SFH dan WFH bagi siswa, guru, dan dosen, maka tim pelakasana pengabdian memutuskan untuk menyusun buku saku ini terlebih dahulu kemudian didiseminasikan ke pada guru IPA di sekolah melalui kegiatan Focus Group Discussion.  Sebagai bentuk follow up dari FGD ini, tim pelaksana pengabdian dan guru IPA di beberapa sekolah telah sepakat untuk mengadakan bimtek tatap muka pada awal tahun 2021 sebagai bentuk persiapan menyambut pembelajaran tatap muka di semester baru.



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

beritasumbar

Padang Panjang Siap Laksanakan Belajar Tatap Muka – siarminang.net

Padang Panjang Siap Laksanakan Belajar Tatap Muka – Beritasumbar.com

Padang Panjang, siarminang.net– Wakil Walikota Padang Panjang  Asrul menyatakan daerah tersebut siap menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang akan dimulai Senin, 11 Januari.

“Kami meninjau sejumlah sekolah dari semua tingkatan yang dibagi dua tim.  Alhamdullilah kesiapan cukup bagus. Insya Allah tetap muka bisa dilaksanakan Senin depan,” ungkap Asrul seusai memonitor persiapan sekolah di seluruh tingkatan bersama Forkopimda, Jumat (8/1).

Ia mengatakan kesiapan sudah dimulai dengan melakukan test swab kepada  guru. Kemudian dari pengamatan di sejumlah sekolah,  sudah menerapkan protokol kesehatan seperti menyediakan tempat cuci tangan, thermogun, kelas dengan jarak dan jumlah yang diatur.

“Murid yang mengikuti PTM, mendapat izin orang tua, ini  telah dilaksanakan oleh sekolah. Memang ada beberapa orang tua yang tidak mengizinkan tatap muka. Kita tidak memaksa, siswa bisa belajar secara daring,” lanjut wawako.

Terkait sekolah asrama, siswa yang akan masuk harus disertai dengan surat keterangan bebas Covid-19. “Bila belum memiliki surat keterangan, bisa menghubungi pihak sekolah. Pemko akan memfasilitasi dengan swab gratis. Sampai hasilnya keluar, murid diisolasi sementara di ruangan tertentu di asrama,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Drs. M. Ali Thabrani, M.Pd  mengatakan, menyikapi SKB menteri perihal PTM di semester  genap, pihaknya langsung membentuk tim yang memastikan semua sekolah siap dari segi sarana dan prasarana.

“Semua sudah memenuhi syarat. Guru sudah diswab, kesiapan administrasi, persetujuan orang tua dan komite sekolah. Siswa tidak dipaksa PTM, bila tidak berkenan bisa dengan pembelajaran jarak jauh,” katanya.

Ali Thabrani turut menjelaskan jumlah swab bagi guru dan tenaga pendidik (tendik) seluruh tingkatan di Kota Padang Panjang. Yakni, guru dan tendik di bawah naungan Disdikbud sejumlah 1.249 orang, di bawah naungan Kemenag 707 orang. Di bawah naungan Provinsi Sumbar, SLTA sebanyak 264 guru , SMK sebanyak 362 guru, dan SLB 47 guru.

“Bila guru dinyatakan positif, akan diisolasi. Hasilnya sudah keluar sebelum PTM,” katanya. Tim satu yang dipimpin Asrul, meninjau SMPN 3, SD 11 Ekor Lubuk, SMAN 1 dan SMPN 5. Sementara Tim dua yang dipimpin Ketua DPRD Mardiansyah, A.Md memonitor ke SMPN I, SD kompleks di Kelurahan Gumala , SMAN II, dan SMA I Sumbar. (Ben)



Sumber

Baca Selengkapnya

Khazanah

Militer Ottoman Mulai Memakai Meriam pada 1420-an – siarminang.net

Militer Ottoman Mulai Memakai Meriam pada 1420-an – Beritasumbar.com

Perkembangan militer yang paling penting selama periode bangkitnya Kerajaan Ottoman adalah pengenalan meriam dan senjata api lainnya. Senjata-senjata ini digunakan di Eropa Barat selama abad ke-14 dan dari sana berkembang ke Semenanjung Balkan.

Pada 1378, meriam ditempatkan di dinding dinding kota di Dubrovnik. Selama dekade berikutnya, menjadi barang yang biasa digunakan di Kerajaan Bosnia dan Serbia.

Pasukan-pasukan Ottoman telah menghadapi mereka untuk pertama kalinya selama penyerangan dan gerakan di Balkan bagian barat selama tahun 1380-an. Namun, Ottoman sendiri tidak mengadopsi meriam dalam satu skala yang besar sampai dengan abad berikutnya.

Colin Imber dalam bukunya Kerajaan Ottoman: Struktur Kekuasaan Sebuah Kerajaan Islam Terkuat dalam Sejarah mengatakan referensi-referensi untuk penggunaan bubuk senjata selama masa Bayezid I tidak dapat dipercaya. Namun pada 1420-an, mereka mulai menggunakan meriam dalam pengepungan.

Kananos dalam catatannya mengenai pengepungan Konstantinopel pada 1422 mengisahkan “bombardir besar-besaran”, yang ia laporkan tidak memberikan efek apa-apa. Terdapat referensi-referensi terbatas lainnya mengenai penggunaan meriam oleh Ottoman di tiga dekade awal abad ke-15.

Namun, tetap masih belum menjadi faktor penting peperangan. Selama gerakan pada 1443-1444, pasukan sultan tidak mempunyai artileri lapangan.

Sebaliknya, Hungaria telah mengembangkan taktik pertempuran yang mereka dasarkan pada “benteng berjalan”. Ini adalah sebuah benteng yang dapat berpindah, terdiri atas kereta-kereta yang dirantaikan bersama yang membentuk dinding perlindungan bagi pasukan yang membawa senjata tangan, dengan meriam yang ditempatkan di atas kereta yang ditarik kuda atau di antara kendaraan itu.

Ketidakmampuan kavaleri Ottoman mengatasi kubu pertahanan ini hampir menyebabkan kekalahan. Efektivitas taktik ini diketahui dari Holy Wars of Sultan Murad (Perang Suci Sultan Murad), sebuah catatan Turki saat itu yang tidak diketahui penulisnya mengenai gerakan yang dilaksanakan.

Di sini, penulis membuat Turahan memberikan saran kepada Sultan: “Wahai Padishah. perintahkanlah pasukan-pasukan Islam menarik diri dari benteng berjalan karena jika tidak, orang-orang kafir ini akan menembakkan meriam-meriam mereka dan arquebus mereka, lalu pasukan Islam akan mengalami kekalahan”.



Sumber

Baca Selengkapnya

covid-19

Terapkan Prokes Secara Ketat – siarminang.net

Terapkan Prokes Secara Ketat – Beritasumbar.com

Payakumbuh, siarminang.net – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Payakumbuh, mendukung rencana pemerintah kota setempat yang akan melaksanakan Proses Belajar Mengajar (PBM) tatap muka di sekolah setelah sekian lama belajar secara daring akibat Pandemi Covid-19.

Baca Juga: https://siarminang.net/sudah-zona-kuning-kegiatan-pbm-tatap-muka-di-payakumbuh-mulai-rabu-ini/

Anggota DPRD Kota Payakumbuh YB Dt. Parmato Alam mendukung rencana tersebut selama dapat dipastikan protokol kesehatan dijalankan dengan ketat saat PBM.

“Memang aspirasi di masyarakat tentang ini ada pro dan ada kontra. Namun, secara pembelajaran, jika terus dilaksanakan daring akan berdampak kepada anak itu sendiri,” kata dia.

Mantan Ketua DPRD Payakumbuh 2014-2019 itu mengatakan suksesnya pembelajaran tatap muka di Payakumbuh tidak akan terlepas dari kerja sama antara tim penegak protokol kesehatan, tim kesehatan, pihak sekolah dan orang tua. “Ini yang penting, tidak ada jalan sendiri-sendiri. Terus berkoordinasi dan saling mendukung. Ini sudah waktunya untuk kembali pelaksanaan sekolah tatap muka,” ujarnya.

Sebelumnya Pemerintah Kota Payakumbuh akan kembali melaksanakan PBM tatap muka di sekolah akan dimulai pada Rabu, 25/11 setelah ditetapkan kembali sebagai daerah zona kuning atau daerah dengan zona penyebaran rendah,



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer