Connect with us

News

Sentuhan kearifan lokal, cara Ritno “melawan” pembalakan liar

Sentuhan kearifan lokal, cara Ritno "melawan" pembalakan liar


Padang (ANTARA) – Menyuruh orang berbuat baik tidak terlalu sulit, tapi mengubah kebiasaan lama yang sudah turun temurun dan melekat di masyarakat agar dihentikan, jelas sarat perjuangan. Bukan persoalan mudah, bisa saja nyawa taruhannya. Apalagi seperti aksi pembalakan liar yang berkaitan dengan masalah pendapatan atau kelangsungan hidup.

Bahkan, aparat pun yang turun menghalau aksi ilegal di dalam hutan itu, belum tentu bisa berhenti secara total pembalakan tersebut. Jikapun ada yang sempat berhenti hanya seketika ada razia aparat saja.

Bila berharap berhenti untuk selamanya dengan razia aparat sangat tak mungkin. Jauh dari akal sehat, kecuali kalau kayu yang akan diambil atau ditebangi sudah habis dalam hutan dan lahan telah gundul.Akan tetapi, pada kenyataan memungkinkan pula dapat untuk dihentikan tindakan pembalakan liar selamanya, tentu bila tepat pendekatannya.

Sudah ada bukti, dan berhasil hingga kini aksi pembalak berhenti dan beralih profesi baru. Tanpa aparat dan tidak ada pengejaran serta razia, hanya melawan dengan “senjata” pendekatan kearifan lokal.

Hal ini yang dipelopori oleh Ritno Kurniawan mulai pada awalnya 2012 di Kampung kelahirannya yang kini bernama Nagari SalibutanLubuk Alung setelah pemekaran dari Nagari Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat.

Ritno menceritakan awalnya setelah dirinya menyelesaikan studi di di UGM Yogjakarta pada 2011. Lalu, minta izin kepada kedua orangtuanya, bahwa ia ingin kembali ke kampung halaman.Sesampai di kampung, dirinya tidak pernah melamar pekerjaan, termasuk ikut tes CPNS meski ada dorongan orangtua. “Saya sangat mengerti harapan orangtua, tapi saya tidak minat jadi pegawai negeri maupun di swasta,” ujarnya.

Terkait punya dasar pengalaman pramuka waktu sekolah, sehingga aktivitas sering masuk keluar hutan yang ada di sekitar kampung.Keprihatinan kian menusuk batin melihat kayu-kayu besar dalam hutan telah tumbang. Sebagian besar ketika berjalan dalam hutan hanya yang ditemukan tunggul kayunya saja. Begitu juga kayu gelondongan dihanyutkan melalui aliran Sungai Batang Salibutan dalam kawasan hutan itu.

Hampir setiap hari suara mesin chain saw(mesin pemotong kayu) terdengar di kawasan hutan dekat kampung. Perkampungan ini termasuk terisolir karena jauh dari akses jalan utama.Suatu ketika saat masuk kawasan hutan dekat Bukit Barisan itu, ditemukan titik Nyarai dengan air terjun yang begitu indah dan menakjubkan.

“Saya, tercengang. Bahkan berpikir, andaikan obyek Nyarai ini di tempat orang lain, kawasan ini sudah jadi obyek wisata andalan,” kata Ritno.

Sejak ditemukan tirik kawasan Air Terjun Nyarai itu, Ritno melakukan sharing dan diskusi denganpemuda kampung untuk menyamakan pandangan. Begitu pula pendekatan kepada pemuka masyarakat dan tokoh adat di nagari (desa adat, red). Meminta pendapat dan ingin ada pandangan dari para tetua kampung.

Sebab, dalam hidup bermasyarakat di kampung atau nagari, tak lepas dari sistem adat yang telah digariskan termasuk soal sopan santun dan tata kerama.Dimana sistem adat menggaris, bahwa orang yang sebaya atau seusia mesti dijadikan teman atau tempat diskusi. Sedangkan orang termasuk tua atau pemuka masyarakat harus dihormati. Yang kecil disayangi, itulah sistem pergaulan dalam nagari.

Jadi, kata Ritno, pendekatan ke berbagai elemen masyarakat itu, tujuannya agar mendapatkan dukungan dalam pengembangan kawasan Air Terjun Nyarai dalam kawasan hutan tersebut.

Gagasan yang dipelopori Ritno membutuhkan keterlibatan banyak elemen masyarakat. Upaya itu, satu cara untuk menjaga lingkungan dan desa yang tertinggal di pelosok ini punya sesuatu yang bisa dikenal banyak orang.Niat baik yang dijalankan, kata Ritno bukan berarti berjalan mulus saja. Mulai dari penolakan sebagian masyarakat, termasuk pihak keluarga sendiri.

“Mengapa kuliah jauh-jauh kalau kerja hanya masuk hutan tanpa jelas pendapatan,” kira-kira demikian ungkapan orangtua waktu awal-awal itu, kata Ritno.

Ia tidak menyangga apa yang disampaikan orangtuanya, faktanya memang demikian. Namun, tak mengendurkan semangatnya pula untuk terus mengembangkan Nyarai menjadi salah satu obyek pilihan wisatawan pada satu saat nanti.

Masih ada energi untuk menguatkan diri Ritno, karena istrinya (Sukmaweti) dan pihak keluarga istri tidak memperlihat penolakan. Kendatipun kala itu, Ritno belum punya pekerjaan tetap dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

“Waktu awal saya mulai bergerak mempelopori Nyarai itu, istri saya sedang hamil anak pertama kami. Aktivitas istri sebagai tenaga pengajar taman pendidikan Alquran dan menulis juga,”ungkapnya.

Kendati hidup masih pas-pasan, namun misi ingin membuka kawasan Nyarai menuju kawasan ekowisata tetap berjalan. Arus perlawanan masih terus dihadapi, bukan dengan fisik tetapi dalam bentuk tindakan kerja nyata.

“Bentuk penolakan dan perlawanan, ya.. ada berupa fitnah, ada juga ancaman dan teror pernah juga dialami,” kata Ritno mengingat kenangan awal menemukan destinasi minat khusus itu.Bahkan, tambah dia, ada yang ingin mengusir dirinya dari kampung. Betapa tidak, banyak orang yang terusik ketika awal dimulainya gagasan itu.

Kemudian, malahan ada yang menilai apa yang digagas Ritno adalah bagian dari mata-mata atau informan dari aparat keamanan.”Mata pencarian masyarakat banyak dari hasil hutan, tapi cara yang ilegal dengan aksi pembalakan. Hal itu sudah berlangsung secara puluhan tahun,”ujarnya.

Sebab, sudah terparti dalam pandangan masyarakat, bahwa di kawasan hutan hanyalah kayu satu-satu yang dianggap sebagai sumber pendapatan. Tanpa melihat flora dan fauna serta potensi lainnya yang bisa membawa berkah.

Mindset masyarakat itu, kata Ritno, sangat disadari pula, karena faktor masih terbatas Sumber Daya Manusia (SDM) di nagarinya tentang pelestarian lingkungan.Masyarakat kampung menyadari pembalakan kayu secara liar punya risiko, tapi sulit untuk keluar dari lingkaran usaha itu. Karena tak ada pilihan usaha lain sebagai mata pencaharian.

Ritno terus menjalankan gagasanuntuk merintis keelokan alam karunia sang Khaliq itu, tanpa menghiraukan banyak penghalang tersebut.

Pria kelahiran 3 Mei 1986 itu, menguburkan dan menaklukkan ego dalam diri dan menguatkan tekadnya.Kendatipun sebagai sarjana Pertanian di perguruan tinggi ternama, demi menjalankan gagasan untuk kemaslahatan jangka panjang tak ada kata putus asa.

Sosialisasi demi sosialisasi termasuk ke perangkat nagari dan berbagai kalangan mulai mendapatkan respon positif, beberapa pemuda mulai sepaham dan sama pandangan dengan dirinya.

“Sekitar tiga sampai lima orang awalnya kawan-kawan pemuda sudah sama pandangan. Secara adat sudah diizinkan, baru berlahan mulai dibuka kawasan Nyarai, dibuat jalur tracking sepanjang 5,5 kilometer pada 2013,” katanya.

Waktu terus berjalan, aktivitas pembukaan jalur tracking dan pembersihan kawasan Nyarai terus pula berlangsung. Termasuk upaya untuk mengajak masyarakat yang selama ini aktivitasnya sebagai pembalak liar ikut terlibat.

Namun, tuntulah tidak mudah merangkul mereka, tapi berlahan satu bersatu mulai sepaham dan ikut berperan.Obyek Air Terjun Nyarai itu, ternyata berada dalam kawasan yang statusnya Hutan Lindung (HL) luasnya lebih kurang 1.800 hektare.

Lulusan Pertanian UGM Yogyakarta itu, terus mencari celah denganmendatangi Dinas Kehutanan di Kabupaten Padang Pariaman untuk mendapatkan izin.Setelah mendapat dukungan instansi terkait dan dilanjutkan pengurusan izin oleh dinas ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI agar kawasan hutan tersebut bisa turun status menjadi Hutan Nagari.

Sembari proses pengurusan izin untuk peralihan status hutan terus berjalan, aktivitas pembukaan dan pembersihan terus berlangsung.Jumlah anggota terus bertambah juga melihat keseriusan dan obyek ini mulai diketahui dan pengunjung sudah berdatangan.

Selain itu, Ritno juga mencari informasi dari instansi di Kabupaten Padang Pariaman untuk pengelolaan obyek wisata berbasis masyarakat.Ketika itu, mendapatkan saran dan masukan dari Dinas Pariwisata dan Olahraga Kabupaten Padang agar membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) pada 2013.

Mereka sepakati Pokdarwis diberi nama LA Adventure, yang melekatkan nama daerah (Lubuk Alung/LA) dan Adventure adalah bentuk wisatanya sendiri yang petualangan.Menuju destinasi satu ini dari Pos Utama berjalan kaki lebih kurang 5,5 km hingga ke titik Air Terjun Nyarai, kata Ritno.

Masih Eksis dan Berkelanjutan

Pria punya dua anak (Fatiha dan Nabhan) itu, sejak awal sudah berembuk tentang sistem pengelolaan obyek wisata Nyarai. Begitu pula dengan hasil dari pemasukan yang diterima dan honor bagi pemandu.

Ritno menjelaskan, sejak awal sudah dibuat sistemnya dalam bentuk bagi hasil. Mulai dari hak pemilik tanah, hak nagari (desa adat, red) hak posyandu, hak pengurus dan hak pemandu.Jadi, sudah ditentukan persentasenya dan khusus untuk pemandu honor bagi yang pemula Rp80.000 per hari, sedangkan pemandu yang senior lebih besar sedikit dari pemula.

“Kalau sejakawalnya sudah berjelas-jelas, enak dalam perjalanannya dan tidak saling mencurigai sehingga bisa berkelanjutan,” ujarnya.

Ritnopun mengungkapkan, mulanya para pemandu belajar secara otodidak saja dan belum pernah mendapatkan pembekalan dan pelatihan khusus.Bahkan, dirinya sendiri belajar melihat pada youtube, dan teman-temannya belajar otodidak, artinya melihat ke pemandu yang sudah lebih awal.

Destinasi minat khusus ini makinbooming dua tahun kemudian atau sekitar tahun 2014, tak hanya di Sumbar, tapi di provinsi tetangga. Dampaknya pengunjung bisa sampai 1.000 orang dalam sepekan, bahkan lebih.

Justru itu, pemandu dibutuhkan keprofesionalan, maka para pemandu perlu dibekali dan mendapatkan lisensi dari organisasi resmi.Kini jumlah pemandu pada Pokdarwis LA Adventure sebanyak 168 orang, terdapat 55 orang sudah mengantongi lisensi atau sertifikat dari Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI).Juga sudah ada 10 di antaranya memegang sertifikat internasional untuk extreme adventure dari National Geographic.

“Ya, benar hampir 80 persen dari para pemandu di LA Adventure masyarakat yang awalnya sebagai pembalak kayu secara liar,” ujarnya.

Perkembangan destinasi obyek wisata minat khusus ini terus berlanjut, sehingga dengan kesadaran sendiri dan sukarela masyarakat turut bergabung dan mendukung.Apalagi pembagian dari hasil pengembangan wisata alam ini jelas dan ada sumber pendapatan disana.

Eksisnya pengelolaan dan pengurus Pokdarwis, menurut Ritno, tidak terlepas dengan dirumuskan sistemnya sejak awal.Kemudian masyarakat baik yang terlibat langsung dalam pengelolaan maupun tidak, kian merasakan dampaknya.

Bahkan dengan pengembangan destinasi obyek wisata Air Terjun Nyarai, sedikitnya sudah Rp5 miliar dari pemerintah yang dikucurkan hingga kini ke Nagari SalibutanLubuk Alung.Pokdarwis yang dipelopori Ritno, meraih penghargaan dari Kementerian Pariwisata RI pada 2014 karena pengembangan wisata berbasis masyarakat dan membawa perubahan signifikan.

Ritno pun tidak ingin selamanya masyarakat tergantung pada gerakannya, maka Pokdarwis LA Adventure sudah diarahkan untuk mandiri.Pada 2016 Ritno melepaskan diri sebagai pengurus, dan pembagian persentase untuk kepengurusan dan nagari ditiadakan.Meskipun Ritno mendorong Pokdarwis untuk mandiri, tapi usaha sendiri yang dijalaninya tetap mendukung destinasi minat khusus itu.

“Saya sudah buat usaha sendiri, yakni jasa untuk sarana atau fasilitas arung jeram,” ujar suami mantan jurnalis itu.

Dengan membuka usaha sendiri itu, juga bisa melibatkan tenaga kerja lainnya dari pemuda kampung.Kemudian, suatu kepuasan tersendiri juga bagi Ritno, kini kawasan hutan yang berstatus HL sudah turun statusnya menjadi Hutan Nagari, karena telah disetujui Kementerian LHK.

Prestasi dan Berbagi Pengalaman

Tanpa membayangkan rewarddari aktivitas “melawan” aksi pembalakan liar untukpengembangan obyek wisata minat khusus dan pelestarian lingkungan itu pada mulanya.Namun, aksi nyata yang dilakukan Ritno Kurniawan bersama masyarakat tetap dilirik banyak pihak termasuk di luar Sumatera Barat.

Ternyata bisa meraih penghargaan dari Kementerian Pariwisata RI pada 2014, dan Pokdarwis LA Adventur kembali meraih prestasi pada 2016, juara 1 Asosiasi Outdoor Eropa (EOCA).

Ritno Kurniawan menerima penghargaan sebagai pemuda inspirasi bidang lingkungan dalam program SATU Indonesia Awards 2017. (Istimewa)

Kemudian Ritno mendapatkan informasi adanya program Semangat AstraTerpadu UntukIndonesia Awards pada 2017. Program SIA merupakan inisiasi Astra Internasional Tbk, yang menjaring generasi muda Indonesia di bidang kesehatan, lingkungan, pendidikan dan kewirausahaan serta teknologi.

Pemuda yang di jaring dalam program SATU Indonesia Awardsdengan batas umur 30 tahun itu, bagi yang memiliki program atau gagasan dilaksanakan dapat menginspirasi banyak orang. Bukan yang biasa-biasa saja.

Ritno masuk jadi pemenang pada kategori lingkungan pada 2017. Persaingan cukup ketat karena ribuan peserta ikut dari Sabang hingga Meroke. Dewi fortuna berpihak pada Ritno sehingga bisa terpilih dan menyisihkan peserta lain dalam kategori yang sama. Akhirnya Ritno mendapat rewads dari Astra Internasional.

Bagi calon peserta SIA untuk mendaftar tidak sulit, cukup nama lengkap disertai tanggal, bulan dan tahun lahir. Lalu dilengkapi dengan ringkasan kegiatan yang dilakukan, tambah beberapa foto kegiatan untuk pendukung dalam formulir.#KitaSATUIndonesia #IndonesiaBicaraBaik

Namun, bila masuk tahap berikutnya, maka tim panitia akan meninjau langsung ke lapangan. Setelah hasil kunjungan lapangan tim penilai, dan kalau layak masuk tahap berikutnya, maka harus presentasi dihadapan para juri profesional dibidangnya.

Prestasi demi prestasi baik untuk Pokdarwis maupun secara individu diraih Ritno, telah melenyapkan prasangka elemen masyarakat. Namun, beralih dipuja dan menjadi sang inspirasi bagi kaum muda, bukan saja di kampung dan kabupatennya serta provinsinya.Sejak dinobatkan sebagai pemuda inspiratif dalam Program SIA Astra 2017, Ritno banyak mendapatkan undangan untuk berbagi pengalaman.

Ritno diminta berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pelestarian lingkungan dengan pengembangan wisata alam berbasis masyarakat.

“Saya sering dapat undangan untuk kasih materi ke Pekanbaru, Jambi, Sumatera Utara dan juga ke sejumlah provinsi lainnya,”sebutnya.

Kerja keras, kerja ikhlas dan kerja cerdas serta niat baik dan tanpa putus asa, tiada rasa dendam sehingga pada akhirnya berbuah manis untuk kemaslahatan masyarakat banyak.Mengandalkan kekuatan pendekatan kearifan lokal diiringi dengan tindakan nyata, dan melawan dengan tanpa senjata, tak setetes pun darah menetes. ***

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘491803547646366’,
xfbml : true,
version : ‘v2.5’
});
};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));

window.fbAsyncInit = function() {
FB.init({
appId : ‘558190404243031’,
xfbml : true,
version : ‘v2.5’
});
};

(function(d, s, id){
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) {return;}
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));
(function(d, s, id) {
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “http://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.8&appId=558190404243031”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Semoga Bisa Juga Temukan Harun Masiku yang Hilang Seperti Ditelan Bumi – Fadli Zon

Apresiasi Kinerja KPK, Fadli Zon: Semoga Bisa Juga Temukan Harun Masiku yang Hilang Seperti Ditelan Bumi


Politis Partai gerindra Fadli Zon merespons penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Edhy Prabowo diketahui sudah menyatakan mundur dari posisi sebagai Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra dan dari jabatan sebagai Menteri.

Fadli juga mengapresiasi kinerja KPK dalam penangkapan ini.

Namun, meskipun ia mengapresiasi kinerja KPK, Fadli berharap agar KPK juga bisa menemukan Harun Masiku yang menurutnya hingga kini masih hilang bagai ditelan bumi.

Stlh penetapan tersangka tengah malam ini, EP mundur dr Partai n Men KKP. Langkah bijak. Apresiasi kerja @KPK_RI. Smg bisa jg temukan Harun Masiku yg msh “hilang” spt ditelan bumi,” tulis Fadli Zon, Kamis (26/11/2020).

Dikutip dari detiknews, Usai jumpa pers penetapan tersangka, Edhy Prabowo meminta maaf ke sejumlah pihak termasuk ke Partai Gerindra dan menyatakan mengundurkan diri dari partai tersebut.

“Saya mohon maaf kepada seluruh keluarga besar partai saya. Saya dengan ini akan mengundurkan diri sebagai wakil ketua umum,” kata Edhy kepada wartawan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (26/11/2020) dini hari.Edhy Prabowo juga mundur dari jabatannya sebagai menteri. Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menunjuk Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan menjadi Menteri KKP ad interim sejak Edhy ditangkap KPK.

“Juga nanti saya akan mohon diri untuk tidak lagi menjabat sebagai menteri dan saya yakin prosesnya sudah berjalan,” ucapnya.

“Saya bertanggung jawab penuh dan saya akan hadapi dengan jiwa besar,” sambung Edhy Prabowo.

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Bela Anies Baswedan, Fadli Zon Ungkit Guyon Menteri Jokowi di ILC – Fadli Zon

Bela Anies Baswedan, Fadli Zon Ungkit Guyon Menteri Jokowi di ILC


Politisi Gerindra Fadli Zon kembali mengungkit guyonan  Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi yang pernah bercanda soal Covid-19. Menhub Budi pernah bilang warga Indonesia kebal wabah mematikan itu lantaran setiap hari mengkonsumsi nasi kucing. 

Guyonan menhub Budi  diungkit Fadli dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang tayang di TVOne  pada Selasa (24/11/2020) malam. Menurutnya guyonan itu adalah sebuah pembiaran terhadap penularan wabah  mematikan itu di Jakarta  dan Indonesia.

Hal ini disampaikan  Fadli menanggapi pernyataan pembawa acara ILC Karni Ilyas yang  menyatakan isu pembiaran pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan oleh Gubernur DKI  Jakarta Anies Baswedan terkait acara  pernikahan anak Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq  Shihab pada Sabtu (14/11/2020) lalu.

“Siapa yang membiarkan? Menteri kesehatan yang membiarkan bahkan sampai ke presiden. Kita tahu 23 Januari 2020 Wuhan sudah lockdown kita masih bercerita nasi kucing  ini pembiaran,” tegasnya.

Fadli mengaku Anies Baswedan merupakan salah satu kepala daerah yang paling tegas dalam penanganan wabah mematikan itu. Buktinya, Provinsi DKI Jakarta menjadi daerah pertama yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total setelah wabah  corona mulai masuk ke Jakarta. 

“Justru yang paling pertama (melakukan karantina wilayah) adalah Gubernur DKI dan saat itu terjadi perdebatan antara pusat terkesan  ada persaingan,” tegasnya 

Tidak hanya itu, keseriusan Anies dalam menekan penularan wabah ni juga terlihat dari sejumlah regulasi yang diambil setelah PSBB total,yakni PSBB masa transisi. Yakni membuka berbagai kegiatan di Jakarta  secara bertahap ketika penularan wabah mulai melandai 

“Selain PSBB (total) ada PSBB transisi, dan kalau kita lihat ini banyak yang menentang  adalah menteri  dalam kabinet pak Jokowi,” pungkasnya. 

Lebih dari itu dia menilai, Gubernur Anies Baswedan tidak bisa didepak dari jabatannya saat ini lantaran pelanggaran protokol kesehatan pada pernikahan Syarifah Najwa Shihab.

Menurutnya, Anies tidak bisa dicopot lantaran kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat. Kemudian sudah ada ketentuan yang mengatur sanksi kepada seorang kepala daerah yang dianggap melanggar etik.

“(Anies) tidak bisa dicopot hanya karena adanya instruksi dari kemendagri. Kedaulatan ada ditangan rakyat,” tuturnya. 

Menurutnya, Instruksi Nomor 6 Tahun 2020 tentang Penegakan Protokol Kesehatan untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) tidak cukup kuat untuk melengserkan seorang kepala daerah 

Adapun instruksi  dari Tito karnavian itu dikeluarkan saat masalah protokol kesehatan di Jakarta tengah menjadi  sorotan publik. 

“Menurut saya diskusi ini aja udah salah apakah Anies bisa dicopot? gubernur DKI tidak melanggar dia berusaha menegakan aturan, bahkan ada  sanksi RP50 juta,” tuntasnya.

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Berita

Ulama yang Jadi Panutan – Fadli Zon

Sarankan Pemerintah Rangkul Habib Rizieq, Fadli Zon: Ulama yang Jadi Panutan


Nama Habib Rizieq masih hangat untuk diperbincangkan, berawal dari kepulangannya hingga kerumunan massa dalam beberapa acaranya.

Kedatangannya kembali ke Indonesia disambut hirup para simpatisannya hingga membuat lalu linta sekitar Bandara Seokarno Hatta lumpuh.

Namun, kepulangannya ke Tanah Air justru menyita perhatian publik, hingga beberapa acara yang didatanginya membuat kerumunan massa di tengah pandemi Covid-19.

Hal itu membuat sebagian kalangan memberikan kritik bagi sang pimpinan FPI tersebut.

Berbeda dengan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra,Fadli Zon. Ia justru menganggap pemerintah terlihat seperti memusuhi Habib Rizieq Shihab.

Hal itu disampaikan lewat tayangan di kanal YouTube Fadli Zon Official yang diunggah pada Senin, 23 November 2020.

Fadli Zon mengungkapkan, seharusnya pemerintah dapat merangkul Habib Rizieq Shihab yang dinilai sosok yang sangat berpengaruh di Indonesia.

“Habib Rizieq adalah seorang habib, seorang habaib, seorang sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW,” ucapnya.

Dia pun mengatakan, informasi yang mengatakan Habib Rizieq Shihab seorang keturunan Nabi Muhammad SAW didapat dari sumber yang memiliki data valid.

“Itu juga dikonfirmasi oleh sebuah institusi Rabithah ‘Alawiyyin yang memang mempunyai data tentang kekerabatan keturunan Nabi Muhammad,” terangnya.

Dia menjelaskan, Habib Rizieq merupakan pemimpin organisasi yang cukup banyak pengikutnya di Negara Indonesia.

“Habib Rizieq memimpin sebuah organisasi FPI, sebuah organisasi yang secara de facto mempunyai pengikut yang cukup banyak di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Sumber



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer