Connect with us

Kolom & Opini

TAN GINDO NAMAKU – siarminang.net

TAN GINDO NAMAKU – Beritasumbar.com


“Lanjutkan perjuangan hingga ajal menjemput,
meski sedikit yang penting berarti,
selebihnya berarti mati…”

Pagi itu, seorang lelaki kurus berambut lujur, bercelana levis dan berkaos biru duduk disebuah pojok Cafe Asbuy favoritnya. Kala itu suasana Café tidak kelihatan begitu rame, lelaki ini ditemani oleh seorang pemuda desa separuh baya, dari raut wajahnya pemuda desa ini sepertinya berumur seperempat umurnya. Cocoknya seperti anak dan bapak yang sedang berdiskusi ringat tapi serius, kelihatan bak seorang teman akrab saja. Pemuda ini bertanya banyak hal tentang lelaki itu dengan penuh antusias untuk ingin lebih mengenal lebih dalam.

Pemuda desa itu bernama Hafiz, dia memulai pertanyaanya tentang identitas lelaki yang tepat berada di depannya dan bermulalah bercakapan ringan. “Panggilanku Gindo, lengkapnya Tan Gindo” ujar lelaki tua itu. Lelaki tua itu boleh dikatakan tua tanggung, muda lewat tua pun belum, lebih kurang sekitar 42 tahunan. “Asli namaku bukan begitu sebenarnya” lanjut lelaki itu sambil mengusap kepala, meminum seteguk kopi pahit kesukaannya dan menghisap sebatang rokok Dji Sam Soe favoritnya semenjak umur berkepala berkepala empat.

Layaknya lelaki minang pada umumnya kecil punya nama kalau sudah besar akan mendapat gelar kehormatan khususnya bagi yang sudah menikah (ketek banamo gadang bagala). “Kecilku bernama Fandi, lengkapnya Gus Afandi, kebetulan KTP saya masih tertulis seperti itu adanya, kalau gak percaya saya bisa buka dompet lusuh dipantat saya, he.he.he” ujarnya bicara sedikit berbahasa gaul dan ketawa-ketiwi. “Tapi jangan harap nama Gus Afandi kamu temukan di alam Maya sana, mbah Googel tak akan pernah mengetahuinya, ha.ha.ha” ungkap Gindo terpingkal.

Hafiz semakin penasaran “Lho… kok begitu ?, misteri sekali identitas abang memancing diskusi”.

“ya.. iyalah masak intel ngaku intel seperti intel benaran yang sekarang banyak beredar” ujar Gindo sambil pura-pura serius. “bro… di zaman edan ini semua sudah terbalik-balik yang benar dibikin salah, yang salah dibikin benar, semua orang bepacu dengan dirinya sendiri, ingin ketenaran dan pura-pura mengerti dan hebat, sementara dia sebenarnya berjalan tampa kepala, ujung-ujungnya hanya mikirkan perut sejengkal saja” ungkap Gindo kali ini benar-benar serius.

“benar bang, kami muda-muda yang ingin lurus ini bingung hidup di saat ini” ujar Hafiz membenarkan.

“Lantas apa istimewanya sebuah nama Tan Gindo” Tanya Hafiz lebih lanjut. Gindo kemudian menjawab santai apa adanya “gak ada istimewanya bro.. apalah arti sebuah nama, itu hanya perjalanan hidup yang mesti dihargai saja”. Sambil beberapa kali menghisap dua kali hembusan rokok Gindo kembali berujar “itu hanya sejarah hidup, orang tua kita bilang harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama” uangkap Gindo tersenyum.

Kali ini Gindo menambah penasaran baru Hafiz “namun layaknya nama tentu menjadi sebuah harpan dan do`a, tak mungkin ibu bapakmu bikin nama sembarangan, dalam Islam malah sengaja dicari waktu yang baik untuk menetapkan semua nama anaknya, biasanya dimassa Aqiqah 40 hari umur anaknya yang baru lahir, yak kan?” ujar Gindo menegaskan. “Seperti namamu Hafiz, itu mungkin ibu bapakmu dulu mengharapkan semoga dapat seperti orang-orang penghafal Al-quran, kalau yang sebenarnya tanya saja nanti..he.he.he”.

“Kalau begitu apa pula makna yang terkandung dalam Tan Gido bang?” Tanya Hafiz lebih menggali lebih dalam. Akhirnya target kecil Gindo dalam mengeluarkan pernyataan tidak sia-sia karena sejak awal dia sudah bermaksud menggiring Hafiz agar bisa beretanya lebih dalam biar bisa saling mengenal lebih jauh untuk sebuah maksud dan tujuan sepesial dimassa akan datang serta sudah menduga ada pertanyaan begitu sambil membathin “berhasil juga saya giring ini bocah ini bertanya lebih dalam, tak sia-sia dapatkan ilmu bagaimana memancing lawan bicara..he.he.he”.

“Ya..iyalah pasti ada” ujar Gindo sambil menanggapi serius dan bercerita panjang lebar

……

Tan Gindo itu ada lagi aslinya, jadi nama dibalik nama lagi kayak sebuah kemasan kado istimewa lah, nama itu saya penggal lagi dari sebuah nama besar dan kuat yakni Tuanku Bagindo Ali, kalau diterjemahkan cukup berat untuk disampaikan karena gelar Tuanku itu setingkat dengan nama pangkat seorang Khiyai, Syeikh di Jawa atau seorang paling Alim gagah perkasa di Sumatera serta kemungkinan berketurunan pangilma, sultan, raja, ningrat atau semacam itulah. Sementara Bagindo itu kata lain dari panggilan terhormat Baginda atau tuan besar dan Ali adalah singkatan dari seorang sahabat muda Rasulullah yang pintar, gagah berani Ali bin Abuthalib R.A, Nama itu dilekatkan kepada saya saat sudah menikah dulu sehingga sejak itu nama kecil saya perlahan memudar dan menghilang, teringat ungkap film animasi anak-anak Ultra Men “berubah” ha.ha.ha.

Karena berat itu itulah gelar asli itu sengaja saya senyapkan lagi, belum pantas rasanya menyandang itu, rasanya perangai saya sampai hari ini masih jauh dari layaknya seorang Syeikh atau Alim; sholat saja masih banyak lalai, perilaku belum bisa mencerminkan orang baik-baik, bahasa saya masih kurang pas dan kadang terasa kasar serta menyakitkan banyak orang, keras dan tajam. Kalimat demi kalimat kritikan sering meluncur mulus tampa takut, tajam dan belas asih. Namun karena sudah di amanahkan bergelar itu saya coba pelesetkan dikit sambil berusaha perbaiki diri dari waktu ke waktu, apalagi kini sudah berkepala empat dimana kematian sudah mulai sangat mendekat..hixs.

Menurut orang tua atau datuk saya dulu, kebetulan beliau sudan mangkat sekitar 4 tahun lalu, Namanya Mansur Arifin Angku Bagindo; kemarin itu meninggal di Jakarta dan berkubur di Makam Tanah Kusir Kebayoran Lama Jakarta Selatan bersebelahan dengan makam Sang Proklamator kita Bung Hatta; semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau semasa hidup. Nanti ada cerita menarik tentang beliau yang bisa kita ceritakan di lain waktu…

Tuanku Bagindo Ali adalah gelar datuk moyangku dulu yang hidup semasa zaman perang Padri di Sumatera Barat, beliau menuturkan bahwa beliau adalah seorang panglima perang Padri untuk wilayah Luhak Limapuluh Kota, daerah dimana saya berasal atau dikenal nama lain “Luhak Nan Bungsu”. Sebuah negeri yang indah dan permai, banyak perbukitan dan pegunungan serta hutan. Gak tau kedepan sebentar lagi akan menjadi seperti apa, apakah juga akan tergadai bangsa asing dan pengusaha serakah seperti tanah-tanah di Jawa dan Kalimantan ini wallahu`alam. Situasi sangat susah ditebak dan dibaca hari ini, jika masyarakatnya tidak hati-hati habis sudah negeri ini, kita akan jadi tamu di negeri sendiri, sedih..

Gelar ini diturunkan kepada saya, katanya sang datuk dan sanak-saudara dikampung saya dianggap memiliki karakter atau perangai yang sama dengan saya, entah ya atau tidak saya juga tidak tau itu. Namun ketika saya coba kilas balik sejarah hidup saya semasa sekolah hingga kuliah yang penuh pernak pernik menjadi sorang aktivis hingga pernah memimpin sebuah demo besar-besaran dulu di Kampus dan berakhir dalam tahanan singkat di tahun 2004 dulu menjadi ya tak iya sajalah. Hingga saya menemukan jodoh dan saat ini akan dikarunia anak ke-7 Insya Allah masih terasa seperti itu.

Saya merasa untuk soal pandangan dan jalan hidup merasa tak pernah berobah, tak sedikit akhirnya sahabat, teman dan saudara saya yang menyayangkan potensi yang ada dalam diri saya meski banyak juga yang memujinya dimana masih suka “menantang matahari”. Mereka bilang harusnya massa depan saya bisa lebih gemilang, namun hari ini seperti meleleh saja, apa adanya dan dianggap pengalaman muda hanya sia-sia belaka. Tapi saya berfikir cukup Allah sajalah yang tau dengan apa yang bersarang dihati ini, peduli setan dengan pendapat orang lain yang tidakkan bisa mengerti dengan pikiran jalan hidup saya saat ini itu karena saya sudah memilih dan hari ini tak ada lagi waktu untuk memilih. “Lanjutkan perjuangan hingga ajal menjemput, biarlah sedikit tapi berarti dan setelah itu berarti mati”

…….

“Traaaang…..” sebuah piring gelas kopi tertumpah oleh seorang pelayan Café yang berdentang keras dari pojok tempat duduk lain, sekalian dengan teriakan histeris pelayan “alamaaak…tekor lagi saya, untung saja belum sudah pecahkan barang & hancurkan modal” sambil ketawa terpingkal-pingkah dan separuh kesal. Sejenak membuat suasana berubah riuh kaget se-ruangan Café. Hal tersebut juga menghentikan pembicaraan Gindo penuh serius dan membathin “sepertinya sudah cukup bercerita tentang hal serius ini, sebuah kode alam sudah muncul mengingatkan saya”. Ternyata Gindo adalah type pembicara penuh filosofis, sampai-sampai sebuah gelas jatuh ditengah pembicaraan serius menjadi sebuah ukuran untuk menghentikan dan melanjutkan pembicaraan.

“Saya pikir cukup itu dulu sejarah singkatnya Fiz, alam sudah menyuruh saya berhenti dulu dan tak usah bicara jauh tentang massa lampau, takut nanti berlebihan sehingga jadi ujub dan sombong, setidaknya ente sudah bisa mencerna, ada apa dibalik sebuah kisah nama Tan Gindo..he.he”, ungkap Gindo dengan penuh senyum dan berbahasa bak filosof. Tak sadar sebatang rokok pun sudah habis dimakan api hampir ke puntungnya karena keasyikan bercerita panjang “busyet dah.. rokok ku sudah ke puntung bak sedang bakar uang Rp. 2000/batangnya tak sebanding dengan kenikmatan kepulan asap yang ingin di sedot.ha.ha.ha” katawa cengengesan.

“Anggap sedang bakar kemenyan saja bang..ha.ha.ha” tambah hafiz juga ketawa terpingkal-pingkal. Cerita seriuspun berobah menjadi santai dan mengembirakan. Diam-diam ternyata cerita yang kelihatan remeh berhasil berdampak baginya dan menjadi buah buah pikiran baginya sambil membatin “luar biasa juga lelaki kurus ini, ternyata menyimpan misteri yang dalam, pengalamannya pasti banyak, menarik untuk digali lebih dalam”. Kemudian dia Hafiz melontarkan pujian singkat “luar biasa cerita abang, saya yakin masih banyak kisah bersambung yang mesti saya dengar, perkenankan saya lebih banyak tau dan berguru ya bang…?” ujarnya berharap.

Gindo kemudian mengelas “santai saja bro, itu hanya sedikit sejarah massa lalu, dia akan berarti kalau dibuat berarti tapi dia akan bermakna ketika ente berhasil menggali dan mengambil pelajarannya, layaknya cerita-cerita dalam Al-quran dan kisah nabi lainnya, siapa bisa mengambil hikmah dia dapatkan pelajarannya, orang Minangkabau mengatakan itulah Al-quran berjalan, alam terkembang jadi guru” mendadak Gindo bak bicara filosif lagi. “Sementara saya masih masih manusia biasa yang berlumuran dosa, banyak kelemahan dan kesalahan” ungkap Gindo merendah.

“Semoga saja nanti kita bisa benar-benar jadi seperti sahabat baru, meski umurmu masih muda dan jauh dari saya, mari sama-sama berharap ente bisa lebih sukses dan maju ketimbang saya, Insya Allah saya bersedia berbagi ilmu; gratis buat kamu, tak usah bayar, saya sedekahkan buat ente mah.., kalau dalam pelatihan motivasi ente pasti akan beli dengan biaya mahal..he.he.he” dengan nada agak sedikit merendah tapi terkesan meninggi. Begitulah watak Gindo yang seperti amper meter mobil; panasnya naik turun tak terkendali, kadang merendah, kadang terkesan meninggi. Mereka yang tidak mengenal lebih jauh pasti terkesan pongah dan sombong. Apalagi bagi mereka yang sudah punya pikiran negative pasti sudah menjadi buah bibir untuk dihembuskan kemana-mana buat amunisi pertempurannya dengan Gindo baik dalam bersaing atau berkompetisi secara tidak sehat.

“Alhamdl, boleh lah bang…, terimkasih” ujar Hafiz merasa girang. Begitulah sifat Hafiz yang baik, pemuda ini masih terkesan lugu dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Hafiz sosok pemuda yang juga tidak sombong, tidak suka merokok dan tidak pernah persoalkan orang-orang yang berbeda dengan sikap dan pilihan hidupnya. Dia juga sosok pemuda yang suka mengaji, menuntut ilmu apa saja serta masih menyimpan keinginan berkuliah melajutkan sekolahnya menjadi seorang sarjana, meski nanti hanya berpeluang bisa masuk Universitas Terbuka. Sementara kemahirannya dibidang IT dan Media belakangan ini sudah cukup bisa di andalkan untuk meraih cita-cita berikutnya.

“Okeh,..cukup dulu ngopian kita kali ini, sebelum pulang mari kita diskusikan sebentar agenda program pemberdayaan yang ingin kita wujudkan di desa Duri Dua ini” ujar Gindo ingin menutup pertemuan sejak pagi menjelang siang. “Okeh..asssiaaaap bang..” ujar Hafiz bertambah semangat. Ternyata Hafiz dan Gindo saat pertemuan itu merupakan tim kerja sebuah program pemberdayaan desa di Sungai Duri Dua Kecmatan Sui. Kunyit Mempawah Prov. Kalimantan Barat. Sebuah program yang di inisiasi oleh lembaga CSR professional bernama CFCiD Consulting bersama PT. Pelindo II dalam menghadapi proses pembangunan pelabuhan Internasional.

Konon kabar pelabuhan ini kelak akan menjadi pelabuhan terbesar di Indonesia dimassa akan datang. Entah bagaimana nasib desa-desa terdampak dimassa akan datang merupakan misteri yang harus segera dijawab saat ini sebelum terjadi dimassa akan datang “sedia payung sebelum hujan, siapkan bekal untuk perjalanan berat dan jauh kedepan, mestinya kehadiran Pembangunan apapun bisa bermanfaat bagi siapa saja, tidak pilih pangkat, status dan jabatan” kemudian diskusi berakhir yang ditutup dengan rumusan agenda kegiatan bersama melalui Forum Desa Sui. Duri Dua yang sudah terbentuk beberapa bulan lalu.

Bersambung ke Bag II



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom & Opini

CURHAT NYI BLORO; RATU LAUT KIJING – siarminang.net

CURHAT NYI BLORO; RATU LAUT KIJING – Beritasumbar.com

“Berani karena benar, takut karena salah,
Rajin pangkal pandai (pintar), bisa karena biasa,
Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin,
Maka pelajarilah sebab musababnya itu,
& berharaplah takdir bisa lebih baik
Agar menjadi sebuah karunia”

Suatu pagi menjelang siang, Tan Gindo punya agenda mengundang panitia pelatihan vokasi menjahit yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat ketika dalam survey dan disepakati oleh lima forum desa terdampak di cafe Asbuy langggannya. Sebagai pendamping, RBK dan PMLI Pelindo sebagai sponsor kegiatan hanya mencoba sebagai fasilitasi kegiatan. Sebelumnya, tercatat dalam laporan sudah berlangsung beberapa kegiatan seperti pelatihan IT dan Media, Pelatihan Boga, Sablon dan Pertanian; namun mendapat tanggapan negative dari beberapa masyarakat dampingan, tokoh penting di forum desa dan aparatur lainnya.

Cukup panas informasi ini di kepala Tan Gindo ketika ada masalah kegiatan tersebut tidak sesuai harapan, bahkan sebagian masyarakat dampingan ada yang berniat membatalkan kegiatan yang sudah disusun bersama. “Lucu, kegiatan ini sudah disurvey menjadi kebutuhan dan disepakati bersama, kok jadi masalah, ada apa ini?” ungkap Tan Gindo bertanya-tanya. Persoalan ini kemudian sempat jadi pembahasan alot dalam rapat manajemen di RBK sehingga acara nya dibilang kegiatan “ecek-ecek” dan menganggap acara ini tampa Pelindo-pun bisa diadakan oleh pihak desa dan oleh masyarakat lain.

“Benarkah demikian adanya, apa persamaanya dan apa perbedaannya, sehingga bisa disbanding-bandingkan dengan begitu mudah?” ujar Tan Gindo melontarkan pertanyaan dalam sebuah diskusi kritis. Kemudian menjadi pembahasan internal tim pendamping dan pihak manajemen RBK. “Jangan-jangan ada sesatu yang tidak pas pada tempatnya atau karena sebuah kebiasaan yang sudah terjadi, ketika ada pelatihan yang sama juga tidak begitu terasa manfaatnya bagi masyarakat dampingan” ungkap Tan Gindo lebih lanjut.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 8; Bangkitkan Kesadaran !

Hasil diskusi kemudian menyimpulkan bahwa untuk kegiatan berikutnya harus pertimbangkan kembali banyak hal, termasuk urusan remeh temeh yang tidak boleh di anggap enteng. Seperti kata orang bijak “betapa banyak orang dijalanan mudah jatuh oleh kerikil yang halus, ketimbang batu besar yang terang dimatanya” ungkap Tan Gindo merenung. Maka dari itu dalam pelaksanaan pelatihan vokasi menjahit yang akan segera dilaksanakan termasuk pelatihan-pelatihan berikutnya berharap ada sedikit perbaikan, kebetulan Tan Gindo dapat jatah sebagai koordinator kegiatan kala itu “harus bisa lebih antusias, nih…” ujarnya penuh harap.

Rapat evaluasi kali ini dilakukan untuk mempertimbangkan dan mensepakati kegiatan tetap bisa berlangsung atau harus diundur kembali. Yang jelas semua orang atau berbagai pihak terkait sangat berharap tetap bisa berlanjut karena sebelum ini lebih kurang dua bulan sudah tertunda-tunda pelaksanaanya, “sungguh sebuah kesabaran yang tidak sedikit” ujar para pendamping sesekali menggerutu.

Begitu juga masyarakat dampingan dan pihak manajemen RBK sendiri. Padahal kegiatan tersebut sudah sangat biasa dilakukan di tengah-tengah masyarakat apalagi bagi PMLI yang dikenal sebagai sebuah pusat pelatihan penyiapan Sumber Daya Manusia untuk pelabuhan. Semua orang apalagi pejabat penting mungkin sudah mengetahui sekali sepak terjangnya PMLI, “masak pelatihan yang beginian saja bisa repot urusannya, aneh” ujar Tan Gindo sedikit kesal.

Sejuruh demi sejuruh evaluasi persiapan kegiatan kemudian berlangsung, dengan semangat bersama bak pasukan perang siap bertempur Tan Gindo membicarakan segala kemungkinan.”Man-teman mari kita lihat bagaimana skenario dan strategi kegiatan kedepan, apa yang menjadi kendala, apa yang dibutuhkan agar kegiatan tetap berlangsung dan tidak terundur-undur lagi pelaksanaanya” ujar Tan Gindo membuka rapat kali itu.

Fokus pembahasan tetap pada tugas dan tanggung jawab diberikan, “mari kita lakukan pada batas tanggung jawab yang dimiliki, urusan yang kecil-kecil dalam pelatihan kali ini mari kita selesaikan, urusan yang besar-besar itu kita serahkan pada RBK dan PMLI sebagai atasan kita” ujar Tan Gindo tegas. “Sebagai pelaksana teknis dan ujung tombak di masyarakat tentu kita harus siap dengan segala resiko, kalau gagal pasti kita yang menanggung akibatnya, kalau berhasil jangan berharap dapat nama” ujar Tan Gindo memberikan tantangan pada tim pelaksana.

Berdasarkan berbagai pengalaman yang dilalui, Tan Gindo berupaya menggiring tim pelaksana bagaimana memanfaatkan potensi dan kekuatan yang ada agar tetap menjadi lebih baik. Tan Gindo yang juga ternyata suka menonton film Kungfu Cina ternama itu, mencoba membuat ilustrasi ”Ibarat jurus Tai Chi Master, mari kita serap energy alam yang disekitar kita sebaik mungkin ketika sudah menjadi kekuatan besar kita akan lempar kepada lawan (masalah) yang ada didepan mata kita dengan cantik, agar semua terpental, doaaaar…ha.ha.ha” ujar Tan Gindo tertawa sambil serius.

Demikian rapat evaluasi finalisasi tersebut selesai tak begitu lama, meski dipertangahan diskusi sebagian tim harus segera berangkat ke Pontianak untuk segera menyelesaikan kebutuhan peralatan kegiatan yang sudah mendesak. Namun rapat tetap berlangsung baik dan lancar, “Alhamdulillah, tim ini luar biasa sekali, jika masih dalam semangat yang sama; insya Allah acara bisa dilakukan dengan sukses” ujar Tan Gindo membatin. Begitu lah harapan ditumpangkan, semoga menjadi pengalaman terbaru kembali untuk menjawab berbagai persoalan yang dianggap remeh temeh oleh berbagai orang dan tokoh.

Selepas menutup rapat Tan Gindo bersama beberapa orang tim santai sejenak menghabiskan konsumsi rapat yang masih tesisa sambil berbincang santai dan bergembira. Seorang ibu panita lokal bernama Leni jadi topik gurauan Tan Gindo, diperkirakan masih berumur 35-an, cukup cantik, karena berjiblab jadi tidak bisa melihat warna kulit yang sebenarnya, hanya terlihat seperti sedikit kuning langsat, mungkin karena pengalaman dan bergaulan ibu Leni cukup mudah akrab dalam pertemuan tersebut. Namun ketika dilihat nama di WhatsApp-nya terlihat ber-inisial “Nyai”, sambil pura-pura bertanya “Nama ibu sebenarnya siapa sih, kok berinisal Nyai?” ujar Tan Gindo memancing pertanyaan. Ibu tersebut menjawab “orang-orang memanggil saya nyai karena dapat suami orang Subang Jawa Barat, padahal saya orang asli Kijing-Mempawah” ujarnya lugas.

“Lha sejauh itu dapat suami, dapat dari mana, apa dulu pernah nyasar atau gimana?” ujar Tan Gindo cengengesan, bergurau “Bukan pak, dulu saya pernah merantau yang sama dengan suami ketika di Malaysia, kami kerja dalam satu pabrik, kebetulan si Akang dulu sering berjumpa dan bertemu dengan saya dalam bertugas, jadi tik tok begitulah” ujar si Nyai tersenyum mengingat nostalgianya. Tan Gindo kemudian melanjutkan pertanyaan lebih mendalam dan mengupas pengalaman nostalgianya si Nyai tersebut. “Lho, udah bisa sukses dan ketemua jodoh di rantau kok malah pulang, kenapa?” ujar Tan Gindo. “Ya, begitulah pak e, tidak mudah hidup dirantau dan tak semudah di inginkan, jadi kita putuskan berkembang dikampung sajalah, sayang karena tak ada modal juga akhirnya sulit berkembang” ujar Nyai setengah curhat.

Tan Gindo akhirnya ketawa-ketiwi mendengar curhatan si-Nyai, sambil celoteh “Nah ini menarik lagi untuk kita bahas, dapat kita kasih judul kisah Nyai si Ratu Kijing” ungkap Tan Gindo kelakar. Tiba-tiba ada teman di sebelah Tan Gindo kebetulan beliau admin pendamping Sungai Kunyit Dalam, namanya Adit; ganteng, berambut sedikit ikal, bertubuh jangkung dan berwajah serius tapi suka juga bercanda, kemudian menyalib pembicaraan “tanggung pak, bikin saja si Nyai Blorong Ratu Laut Kijing” ujarnya terpingkal-pingkal. “Okeh, sepakat kita buat kisahnya dengan “Nyi Bloro; Ratu Laut Kijing”, karena cinta dan harapannya tertumpang di Memapawah khususnya daerah Kijing kita nisabahkan saja” ungkap Tan Gindo bertambah semangat dan kembali bersama ketawa-ketiwi.

Seperti kebiasaanya Tan Gindo bercanda dalam hal ini bukan sekedar bercanda saja, tapi ada maksud dan tujuan untuk membongkar masalahnya karena curhatan si Nyai hanya satu dari fakta keluhan masyarakat yang telah ditemui di sepanjang desa. Sejuruh kemudian Tan Gindo melanjutkan pertanyaan menusuk “modal apa yang Nyai butuhkan, bukannya sudah banyak pengalaman di rantau dan sudah bisa membuat usaha kecil-kecilan seperti menjahit itu” ujar Tan Gindo mendesak. “Modal uang lah pak, tampa uang mana mungkin kita bisa bergerak saat ini, kalau adapun tidak cukup” ungkap si Nyai menjawab serius. Kemudian Tan Gindo kembali bertanya mendesak “apakah uang adalah masalah utama, ada masalah lain yang kira-kira harus dibenahi dulu?’ ujar Tan Gindo tersenyum.

Si Nyai akhirnya menjawab agak separuh ragu, “ya ngak jugalah pak, masih ada yang mesti saya pelajari, mungkin saja belum punya ilmu dalam membuat pola desain pakaian, sehingga belum sanggup dan berani membuat baju sendiri, yang bisa hari ini hanya tukang tambal baju saja dengan upah secukupnya dan tergantung pesanan” ujar si-Nyai. “Nah kan jelas, bukan hanya persoalan uang ternyata, pengakuan ini yang penting” ujar Tan Gindo kembali tersenyum. Kemudian Tan Gindo mengulas beberapa contoh kejadian dan tuntutan masyarakat dampingan yang serupa dengan pertanyaan si Nyai. “Tapi ini tidak sama dengan kasus Nyai ya.., agak bedalah, Nyai Leni; wanita hebat” ujar Tan Gindo mengelak. Karena Nyi Leni sudah ada muatan kesadarannya dan ingin belajar lebih jauh sehingga sudah sering aktif dalam kegiatan forum desanya.

……….

“Rata-rata masyarakat umumnya memang berkeluh tentang masalah yang sama bahkan ada yang ngotot dalam menghadapi masalah hari ini dan malah dikait-kaitkan langsung dengan kehadiran Pelindo II, padahal jauh hari sebelum kehadiran Pelindo II sebenarnya masyarakat sudah mengalami hal yang serupa, masih sulit untuk berkembang dan tak kunjung dapat maju dengan baik, bahkan berbagai kesempatan dan bantuan modal serta berbagai pelatihan sudah banyak dilakukan; namun tak juga berobah nasibnya” ungkap Tan Gindo tegas. “Anehnya tiba-tiba Pelindo II menjadi tumbal atau si-kambing hitam atas segala persaoalan hari ini, jadi kita terkesan tidak adil juga menghakimi kehadiran perusahaan ini, justru harusnya kehadiran perusahaan harus bisa kita jadikan peluang” Ungkap Tan Gindo kembali menimpal pembicaraanya.

“Bin salabin ala kadabra” begitulah sebuah kejadian, peristiwa dan masalah sangat mudah dilempar dan digelindingkan di depan publik dan menjadi pembicaraan panas ditengah-tengan masayarakat tampa bisa menyelami masalahnya lebih jauh. ”Apakah kita yang tidak siap menghadapi kenyataan, apakah pemerintahan yang sudah semena-mena, atau perusahaan yang dengan kuasa modal bisa jual beli kebijakan untuk kepentingan usahanya?” ujar Tan Gindo melempar pertanyaan. Beberapa pertanyaan diatas jelas menjadi sebuah tantangan bahkan ancaman baru jika kita uraikan sebab akibatnya. Bak “menantang matahari”, siapa tidak siap akan hangus terbakar, siapa bisa memanfaatkannya akan dapat keberkahan.

Kemudian Tan Gindo bertambah ber api-api menjelaskan temuan dan keanehan dilapangan, dimana setiap bantuan yang diberikan banyak terbentur dan kegagalan. Bahkan sebagian masyarakat menolak akan bantuan yang bersifat kelompok. “Saya pesimis dengan kegiatan dan bantuan kelompok karena belum ada yang berhasil dan yakin masyarakat tidak mau” ujar Tan Gindo mengutip pembicaraan seorang tokoh yang sedikit terlihat ngotot. Waktu itu Tan Gindo sempat sedikit emosional juga mendengar ucapanitu dan berbalik bertanya “maaf bapak, coba sebutkan satu contoh bantuan yang bersifat pribadi juga berhasil” ujar Tan Gindo penasaran. Pertanyaan tersebut juga tak mampu dijawab oleh tokoh tersebut, karena faktanya juga begitu fatal lagi yang ditemukan.

Persoalan aneka bantuan dan support pihak luar, desa dan manapun sepertinya semakin diperparah oleh system yang juga telah berkembang. Terutama dari pihak pemerintah sendiri, betapa banyak bantuan modal dan dampingan yang telah diberikan selama ini tak kunjung ada kepuasan dan mengalami kebuntuan. Program sudah berjalan, proyek sudah menghabiskan dana ratusan bahkan miliaran tapi sedikitpun tidak dirasakan manfaatnya, malah masalah baru yang kemudian muncul. Banyak masalah akhirnya juga diredam dan tidak ada penyelesaian sama sekali, kemudian yang gampang tertuduh lagi-lagi adalah pada kesiapan masyarakat. “Tak jarang akhirnya pemerintah setempat terutama kepala desa yang lama terkesan hanya bisa mengotori piring dan melemparkan kepada kepala desa pengganti yang baru untuk cuci piring” ujar Tan Gindo kesal dalam sebuah pertemuan.

Menurut pandangan Tan Gindo, apapun yang direncanakan, sekecil apapun dan bagaimana-pun sebuah kegiatan harus dapat berarti dan bermakna dapat dilakukan. Terkait kehadiran pembangunan Pelindo II banyak masyarakat dampingan yang menuntut lebih jauh dari proses pendampingan ini; yang dilihat hanya sekedar materi belaka bahkan seolah-olah dengan uang, bantuan modal yang cukup atau ganti rugi saja semua persoalan selesai. Padahal ketika ada modal uang berapapun jumlahnya jika tidak terkelola secara baik dan benar semua banyak yang hancur dan berkhir sia-sia belaka.

Pernah terucap oleh Tan Gindo kepada beberapa orang, masyarakat dampingan bahkan tokoh pending desa “maaf, dalam program pendampingan saat ini uang tidaklah sangat berarti bahkan kecil bagi pihak perusahaan, berapapun nanti yang kita butuhkan cepat atau lambat pasti akan bisa terpenuhi dan terfikirkan, persoalannya adalah seberapa mampu kita pertanggung jawabkan kegiatan ini dengan baik secara prosedur dan tata kelolanya; bayangkan saja uang yang baru kita kelola dalam hitungan jutaan saja sudah menjadi biang keributan dan merusak mental masyarakat; apalagi sudah terhitung ratusan dan miliaran juta; apa yang akan terjadi” ujar Tan Gindo berikan logika sederhananya.

“Sebagai orang yang sedikit berpengalaman, saya berani mengatakan ketika kita semua belum bisa dipercaya orang, pemodal atau siapapun secara publik; jangan harap mereka mau membantu kita untuk dapat berkembang” ujar Tan Gindo kembali tegaskan. “Maka dari itu dengan peluang kegiatan hari ini sekecil apapun modalnya kita harus mampu buktikan bahwa kita mampu kelola kegiatan ini dengan baik dan benar bahkan jauh lebih bermanfaat, ketika berhasil berarti untuk urusan berikutnya kita dapat dipercaya lagi bahkan siap untuk mengurus dana sebesar apapun, mari kita bantah bahwa masyarakat bukan makhluk bodoh yang tidak mampu kelola uang bantuan dan modal besar manapun, kelak suatu hari” ujar Tan Gindo berucap lebih semangat.

Sikap positif ini lah yang dikembangkan oleh Tan Gindo selama dilapangan, karena menurut hematnya persoalan masyarakat kita bukan pada persoalan kebutuhan modal uang atau materi belaka tapi lebih pada keterampilan dan sikap bagai mana memperbaiki tata kelola. “Coba kita perhatikan bukan hanya di desa-desa kita, hampir semua desa di Indonesia yang pernah kami jalani saat ini tata kelolanya hancur, padahal setiap tahun dana yang dikucurkan tidak lah sedikit, rata-rata hampir 2 Milyar tiap tahunnya tapi sudah berapa desa-desa yang berhasil dalam menata diri dalam pembangunan” ujar Tan Gindo membuka pengetahuan pada berbagai momen kesempatan diskusi.

Dalam sebuah diskusi pengurus forum desa Tan Gindo juga pernah membandingkan persoalan materi, uang dan hutang dalam berbagai kegiatan atau usaha masyarakat dengan system pemberdayaan Masjid Munzalan-Pontianak ketika beberapa hari lalu pernah mendampingi pengurus masjid (DKM) se-Sungai Kunyit. “Betapa sebenarnya untuk sebuah modal pembangunan sebenarnya kitapun, bangsa ini sebenarnya tak perlu berhutang ke negera manapun, seperti ummat Islam misalnya punya potensi Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf, begitu juga ummat agama lainnya juga punya system ekonomi keummatan tersendiri” ujar Tan Gindo membuka wawasan.

“Bayangkan, melalui kekuatan ummat atau masyarakat sebuah Masjid Muzalan dapat menggerakkan ekonomi hingga 9 milyar tiap bulannya dengan berbagai cabang kegiatan ekonomi, bahkan sekarang sedang membangun gedung berlantai 6, murni tampa hutang dan pinajaman bank atau pengusaha manapun” ujar Tan Gindo menginformasikan keberhasilan pemberdayaan Masjid tersebut. Lantas bagaimana kondisi kebanyakan masyarakat kita hari ini, yang setiap saat mengeluhkan “sedikit-sedikit mengeluh tak ada modal uang untuk bergerak, bahkan sedikit sedikit doyan berhutang, sedikit-sedikit hanya menuntut ini dan itu untuk dapat berbuat dan berkembang” ujar Tan Gindo membuat sindiran.

“Maka dari itu mari kita belajar kembali melihat potensi diri dan belajar pada mereka yang sudah berhasil untuk mandiri dan maju dengan kaki sendiri” ujar Tan Gindo. Sepertinya ditengah-tengah masyarakat sudah menyebar penyakit sebuah ketergantungan bahkan tidak mengenali lagi potensi yang adalam dirinya sendiri, cendrung hanya banyak menuntut sejenih bantuan-bantuan apalagi yang bersifat modal tunai tampa ada pendampingan yang terukur.

Parahnya hampir setiap kegiatan desa atau dimanapun banyak kejadian kalau tidak ada “amplop” semua tidak akan dapat berjalan bahkan sebagian besar mau terlibat mengikuti kegiatan apapaun hanya memang karena sebuah amplop tersebut ketimbang kesempatan ilmu yang telah diraihnya. Apalagi selama issue Covid-19 bantuan-bantuan tunai seperti itu hampir 80% sudah menghabiskan anggaran-anggaran desa dimanapun di Indonesia,” pestalah dengan uang-uang pembagian” ujar Tan Gindo kembali terkesan sinis.

………………

Begitulah masyarakat Indonesia akhirnya menjadi masyarakat yang “naif’ dalam kehidupan sehari-hari. “Akan seperti apa masyarakat generasi Indonesia dimassa akan datang” ujar Tan Gindo menggerutu. Parahnya Negara Indonesia juga terkesan doyan berhutang, terkasan boros dalam anggaran bahkan tak sedikit berita kebocoran tingkat tinggi terjadi dari pusat pemerintahan “masyarakat sibuk mengurus uang amplop dan recehan sementara para pejabat dan penguasa yang lain sibuk merampok uang rakyat dengan uang trilliunan dan jarang serius diproses serta tak kapok-kapoknya” ungkap Tan Gindo tambah sinis lagi dalam sebuah diskusi kritis.

Demikian akhirnya curhat “Nyi Bloro” berujung pada terbongkarnya borok bangsa kita-Indonesia. “Hari ini kita mesti bersedih, namun tak ada jalan lain bagi kita berpangku tangan terutama pada generasi muda, kita harus bangkit setapak demi setapak untuk negeri ini, agar semua bisa diperbaiki, minimal untuk diri kita sendiri dan dimulai dari lingkungan terkecil, maka mari belajar dari mereka yang sudah berpengalaman, dari segala kegagalan dan nilai-nilai luhur massa lalu bangsa ini; sampai tuntas setuntas-tuntasnya dan jangan sekedarnya saja jika ingin merobah sesuatu” ujar Tan Gindo menutup sebuah pembicaraan penuh makna, teringat pituah ranah Minang;

“Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi. Kalau tali kaia panjang sajangka, lauik dalam usah didugo, Pandai karano batanyo, tahu karano baguru. Sadang baguru kapalang aja, lai bak bungo kambang tak jadi. Kunun kok dapek dek mandangga, indak dalam dihalusi”.

Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi. Kalau pengetahuan baru sedikit jangan dicoba mengurus pekerjaan yang sulit namun kerjakan apa yang bisa dilakukan. Pengetahuan dan pengalaman diperoleh karena belajar dan banyak bertanya kepada orang yang tahu. Setiap menuntut pengetahuan jangan putus ditengah atau harus mendalam, dan kurang mamfaatnya jika hanya dengan mendengarkan saja, lebih baik belajar untuk melakukan sesuatu secara sungguh-sungguh.

Bersambung ke bag. 10



Sumber

Baca Selengkapnya

hmi

BANGKITKAN KESADARAN !!! – siarminang.net

BANGKITKAN KESADARAN !!! – Beritasumbar.com

“Dunia pasti berobah dan Kiamat pasti kan terjadi jua
Kebangkitan dan keruntuhan sebuah bangsa pasti silih berganti
Begitu juga bergulir para penguasa, atas nama jabatan dan harta
Jumlah manusia akan bertambah dan berkembnag, begitu juga dengan pemikirannya
Namun sebuah perubahan tak akan dimulai dari banyak orang
Hanya mereka yang golongan sedikitlah, orang-orang beruntung”

Pagi itu Tan Gindo agak sedikit terlambat bangun pagi karena sedikit begadang semalam karena banyak pekerjaan pendapingannya yang menumpuk dan harus dikerjakan. Ketimbang desa lain bagindo bersyukur dapat peluang kerjasama yang baik antar tokoh, dampingan dan pemerintahan desa setepat, meski konsekuensinya harus sedikit kerja ekstra untuk sebuah tujuan dan cita-cita. Sampai-sampai Tan Gindo berfikir mitra kerjanya Robby tidak akan siap menghadapi gelombang kegiatan yang akan berlangsung semakin membesar pada tiga bulan kedepan. “Kami harus bisa, kita pasti bisa berbuat lebih baik dan akan usahakan target minimal dapat tercapai” ujar Tan Gindo membatin.

Seperti biasa Tan Gindo mulai berfikir keras bagaimana membuat sebuah rumusan dan strategi meramu program dengan sumber daya manusia yang terbatas “bak panglima yang mempersiapkan diri dimedan tempur, berfikir keras agar bagaimana tidak ada satupun pasukannya yang menjadi korban dan gugur di medan juang, semua harus selamat dan berhasil memenangkan pertempuran”. Dari sekian sumber daya manusia yang terserap dalam program “gak masuk akal, jika gagal semuanya; setidaknya 60% keberhasilan bisa diraih” ujar Tan Gindo membatin.

Sejurus demi jurus kemudian seperti untaian kata melayang-layang dalam benak Tan Gindo, jauh ke massa lalu kemudian melompat lagi dari pengalaman ke pengalaman yang telah dilalui hingga menghantarkan Tan Gindo ditempat pengabdian pendampingan yang sedang dia lalui. Teringat awal mula ketika Tan Gindo tercerahkan semasa masih belia, ketika pertama kali menjadi kader Pelajar Islam Indonesia (PII) ketika masih di sekolah menengah pertama, dimana ketika anak-anak seusianya masih sedang asyik bermain dan masih banyak yang belum berfikir sesuatu tentang dirinya dimassa depan. Sungguh tidak masuk akal memang anak sebelia itu sudah bisa mendapatkan pencerahan luar biasa dari lingkungan yang tidak terduga.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 7; Seberkas Cahaya Di Bumi Mempawah

Barangkali itulah salah satu kelebihan pengkaderan PII yang, bisa mencerahkan para pelajar ketika masih usia dini, rata-rata mereka menjadi kader-kader militan dan tangguh serta bermental baja serta bisa hidup dengan semangat ideologisasi yang kuat dan berani hingga dewasa. Tak heran rata-rata anak PII kritis dan sangat vokal dimanapun dia berada bahkan saking kuatnya akhirnya juga terkesan sangat individualis. Ketika masih dibawah tanah ada idiom yang sering dipakai dalam pengkaderan “tandang ke gelanggang meski seorang, student to day leader tomorrow (jika dibutuhkan akan maju sendirian di medan juang tampa berharap bantuan siapapun, pelajar hari ini adalah pemimpin massa depan)” sambil di ucapkan teriak takbir penuh semangat dalam setiap pelatihan.

Idiom tersebut jadi motto anak-anak PII dimanapun dia berada dalam sebuah kegiatan organisasi dan aktivitas hidupnya. Dia tidak mudah tergantung bersama siapapun, dia selalu sanggup menerima tantangan apapun bahkan jiak diminta mati di medan tempur mereka seolah-olah siap menghadapi tantangan. Bahkan Jendral Sudirman sebagai salah seorang Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang pertama ketika itu masih bernama masih bernama TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sangat mempercayai laskar Brigade anak-anak PII yang tergabung dalam “Laskar Tentara Pelajar”.

Tak heran dulu dimassa itu anak-anak PII adalah salah satu organisasi yang disegani dan ditakuti oleh anak-anak kiri dan menjadi salah satu organisasi Islam yang menjadi target “ganyang” atau dibubarkan oleh gerakan komunis. Apalagi ketika itu gerakan komunis telah merasa dekat dan menguasai pemerintahan Indonesia di era bung Karno yang dikenal juga dengan gagasan yang memadukan berbagai pandangan dan aliran kebangsaan terutama Nasionalisme, Agama & Komunisme. Kemudian dikenal dengan gagasan Nasakom dan menjadi ciri khas era Demokrasi Terpimpin yang berlangsung pada 1959 hingga 1965. Akhirnya Tan Gindo membuka kembali lembaran sejara PII yang begitu dalam dari massa terang dan kelam; seperti terasing di negeri sendiri.

………………………….

PII didirikan di kota perjuangan Yogyakarta pada tanggal 4 Mei 1947. Para pendirinya adalah Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji. Salah satu faktor pendorong terbentuknya PII adalah dualisme sistem pendidikan di kalangan umat Islam Indonesia yang merupakan warisan kolonialisme Belanda, yakni pondok pesantren dan sekolah umum.

Masing-masing (baik ponpes maupun sekolah umum) dinilai memiliki orientasi yang berbeda. Pondok pesantren berorientasi ke akhirat sementara sekolah umum berorientasi ke dunia. Akibatnya pelajar Islam juga terbelah menjadi dua kekuatan yang satu sama lain saling menjatuhkan. Santri pondok pesantren menganggap sekolah umum merupakan sistem pendidikan orang kafir karena produk kolonial Belanda. Hal ini membuat para santri menjuluki pelajar sekolah umum de-ngan “pelajar kafir”. Sementara pelajar sekolah umum menilai santri pondok pesantren kolot dan tradisional; mereka menjulukinya dengan sebutan “santri kolot” atau santri “teklekan”.

Pada masa itu sebenarnya sudah ada organisasi pelajar, yakni Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Namun organisasi tersebut dinilai belum bisa menampung aspirasi santri pondok pesantren. Merenungi kondisi tersebut, pada tanggal 25 Februari 1947 ketika Yoesdi Ghozali sedang beri’tikaf di Masjid Besar Kauman Yogyakarta, terlintas dalam pikirannya, gagasan untuk membentuk suatu organisasi bagi para pelajar Islam yang dapat mewadahi segenap lapisan pelajar Islam. Gagasan terse-but kemudian disampaikan dalam pertemuan di gedung SMP Negeri 2 Secodining-ratan, Yogyakarta. Kawan-kawannya yang hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain: Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji, dan semua yang hadir kemudian sepakat untuk mendirikan organisasi pelajar Islam.

Hasil kesepakatan tersebut kemudian disampaikan Yoesdi Ghozali dalam Kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), 30 Maret-1April 1947. Karena banyak peserta kongres yang menyetujui gagasan tersebut, maka kongres kemudian memutuskan melepas GPII Bagian Pelajar untuk bergabung dengan organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk. Utusan kongres GPII yang kembali ke daerah-daerah juga diminta untuk memudahkan berdirinya organisasi khusus pelajar Islam di daerah masing-masing.

Menindaklanjuti keputusan kongres, pada Ahad, 4 Mei 1947, diadakanlah pertemuan di kantor GPII, Jalan Margomulyo 8 Yogyakarta. Pertemuan itu dihadiri Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani dan Amien Syahri mewakili Bagian Pelajar GPII yang siap dilebur di organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk, Ibrahim Zarkasji, Yahya Ubeid dari Persatuan Pelajar Islam Surakarta (PPIS), Multazam dan Shawabi dari Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERKISEM) Surakarta serta Dida Gursida dan Supomo NA dari Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) Yogyakarta. Rapat yang dipimpin oleh Yoesdi Ghozali itu kemudian memutuskan berdirinya PII tepat pada pukul 10.00, 4 Mei 1947. Untuk memperingati momen pembentukan PII, maka setiap tanggal 4 Mei di-peringati sebagai Hari Bangkit PII (HARBA PII).

Hal ini karena hari itu dianggap sebagai momen kebangkitan dari gagasan yang sebelumnya sudah terakumulasi, sehingga tidak digunakan istilah hari lahir atau hari ulang tahun. Semula tujuan lahirnya PII adalah, “Kesempurnaan pendidikan dan pengajaran bagi seluruh anggotanya.” Dalam Kongres I PII, 14-16 Juli 1947 di Solo tujuan tersebut diperluas menjadi “Kesempurnaan pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan Islam bagi Republik Indonesia.” Akhirnya tujuan tersebut semakin universal dengan perubahan lagi pada Kongres VII tahun 1958 di Palembang menjadi “Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia.” Rumusan tujuan PII hasil Kongres VII tersebut yang digunakan sampai sekarang ini sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) PII Bab IV pasal 4.

Tugas Pokok, Fungsi dan Usaha Pelajar Islam Indonesia mempunyai tugas pokok melaksanakan pelatihan, taklim dan kursus bagi para pelajar Islam guna menumbuhkan kader umat dan kader bangsa yang berkepribadian muslim, cendekia dan memiliki jiwa kepemimpinan (AD Bab V Pasal 5). Sementara itu, organisasi ini berfungsi sebagai wadah pembinaan kepribadian muslim, penghantar sukses studi, sarana berlatih dan alat perjuangan bagi pelajar Islam (AD Pasal 6). Untuk mewujudkan tujuannya, PII bergerak secara independen di bidang pen-didikan, kebudayaan dan dakwah.

Adapun usaha yang dilakukan PII –sesuai dengan Bab VI Pasal 7, adalah :

  1. Mendidik anggotanya untuk menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
  2. Mengembangkan kecerdasan, kreativitas, ketrampilan, minat dan bakat anggo-tanya.
  3. Mendidik anggotanya untuk memiliki dan memelihara jiwa independen/mandiri dan kesanggupan berdiri sendiri tanpa ketergantungan kepada orang lain.
  4. Membina mental dan menumbuhkan apresiasi keilmuan serta kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi anggotanya.
  5. Membina anggota menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dan cakap dalam mengelola arus informasi global dunia serta menangkal dampak negatif produk-produk budaya asing dan arus informasi global tersebut.
  6. Membantu dalam pemenuhan minat dan kebutuhan serta mengatasi problematika pelajar.
  7. Menyelenggarakan kegiatan sosial untuk kepentingan Islam dan umat Islam, serta umat manusia pada umumnya.
  8. Menumbuhkembangkan semangat dan kemampuan anggota untuk menguasai, memanfaatkan serta mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan umat manusia.
  9. Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan anggota untuk memahami, mengkaji, mengapresiasi dan melaksanakan ajaran serta tuntunan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
  10. Mencetak kader-kader pemimpin yang memiliki pandangan hidup Islami, keluasan pandangan dunia global dan kepribadian muslim dalam segala bidang kehidupan.

Ketika berdirinya PII, muncul reaksi dari IPI yang menilai kehadiran PII bisa menimbulkan perpecahan di kalangan pelajar. Untuk menghindari terjadinya konflik, diadakanlah pertemuan PII dengan IPI pada tanggal 9 Juni 1947 di Gedung Asrama Teknik Jalan Malioboro, Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut kemudian ditandatangani Piagam Malioboro oleh Sekjen PB IPI Busono Wiwoho dan Sekjen PB PII Ibrahim Zarkasji. Salah satu butir penting dari piagam tersebut adalah hak hidup PII oleh IPI. Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan piagam tersebut maka dimana ada IPI akan didirikan PII. Saat itu IPI sudah ada di hampir seluruh wilayah Indonesia yanga da sekolah menengahnya.

Para pelajar Islam yang menjadi anggota IPI pun ikut membantu berdirinya PII. Sebaliknya PII bersedia bekerja sama dengan IPI dalam masalah yang bisa dikerjakan bersama dan bersifat nasional. Dalam perjalanan selanjutnya perkembangan PII ternyata jauh lebih pesat dari IPI. Hal itu ditunjang dengan bergabungnya organisasi-organisasi pelajar Islam lokal ke tubuh PII. Selain PPII (Yogyakarta), PPIS dan PERKISEM (Surakarta) yang ikut mendirikan PII, pada saat penyelenggaraan Kongres I PII, 14-16 Juli di Solo, Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PERPINDO) dari Aceh juga memfusikan diri ke dalam tubuh PII.

Perkembangan anggota semakin pesat pada tahun 1960-an setelah Masyumi (1960) dan GPII (1963) dibubarkan oleh pemerintah. Hal itu mendorong PII membuat penafsiran sendiri terhadap kata pelajar. Kalau sebelumnya pelajar adalah mereka yang di pesantren dan sekolah, kemudian diperluas menjadi minal mahdi ilal lahdi (dari ayunan sampai ke liang lahat), sesuai dengan hadits nabi tentang perintah mencari ilmu. Sehingga PII juga menjadi penampung aspirasi mantan-mantan anggota Masyumi dan GPII.

Jumlah anggota PII mulai menyusut di tahun 1980-an seiring dengan menguatnya nuansa politis dalam aktifitas PII, sementara pemerintah saat itu justru berkesan tengah mendepolitisir umat Islam. Puncak dari penyusutan itu adalah ketika PII tidak mau menyesuaikan diri dengan UU Keormasan yang disahkan 17 Juni 1985 dan mulai diberlakukan 17 Juni 1987. Akibatnya kemudian Mendagri mengeluarkan SK Mendagri No. 120/1987 tertanggal 10 Desember 1987 yang menganggap PII telah membubarkan diri dan selanjutnya melarang kegiatan yang mengatasnamakan PII.

Ketika SK itu keluar, menurut Ketua Umum PB PII saat itu Chalidin Yacobs, jumlah anggota PII mencapai 4 juta orang. Namun delapan tahun kemudian, 1995, jumlah anggota PII aktif sepertinya tidak mencapai 100.000 orang. Meski demikian, PII tidak pernah mati. Sadar penyusutan anggota tidak bisa dibiarkan begitu saja, maka ihtiar untuk bangkit kembali pun dicanangkan.

Momentumnya adalah pada Muktamar Nasional XX PII tahun 1995 di Cisalopa, Bogor. Setelah melalui perdebatan sengit, diputuskan PII akan melakukan reformalisasi dengan melakukan registrasi ke Depdagri. Sejak itu jumlah anggota PII kembali terdongkrak. Hanya karena sistem administrasi yang belum rapi sesuai standard administrasi sebuah organisasi formal, jumlah secara pasti seluruh anggota PII belum bisa diketahui. Untuk penataan kembali administrasi keanggotaan PII, maka ditentukan persyaratan keanggotaan di PII yang meliputi anggota tunas, anggota muda, anggota biasa, anggota luar biasa dan anggota kehormatan.

Anggota tunas, mereka yang duduk dijenjang pendidikan dasar (SD/MI), anggota muda, mereka yang duduk di jenjang pendidikan menengah pertama (SLTP/MTs), anggota biasa, mereka yang duduk di jenjang pendidikan menengah atas (SMU/SMK/MA), anggota luar biasa warga negara asing yang sedang belajar di Indonesia atau sebaliknya, dan anggota kehormatan adalah mereka yang memiliki jasa terhadap PII. Masa keanggotaan PII akan berakhir secara otomatis, bila yang bersangkutan telah dua tahun menyelesaikan pendidikan formalnya

…………………..

Begitulah Tan Gindo kembali merenung memikirkan persoalan-persoalan pendampingan yang dia sedang hadapi ditengah-tengah masyarakat. “Berdasarkan fakta sejarah tak mungkin saya akan berharap pada banyak orang, hanya Allah jualah tempat bersandar dan harapan” ungkap Tan Gindo kembali membatin. “Jangankan seorang Tan Gindo, seorang Rasul saja tugasnya hanya mengingatkan dan memberikan jalan kebaikan, sementara segala taufik dan hidayah itu adalah hak Allah semata” ungkap Tan Gindo merenung, berhikmah.

“Sebesar apapun masalah masyarakat di depan mata, sekuat apapun modal perusahaan yang sedang mengucurkan dananya, sehebat apapun politik pemerintahan saat ini berkuasa, semua hanya sementara, jika Allah berkehendak cepat atau lambat semua akan musnah ditelan massa; begitulah hukum Allah berlaku” pikir Tan Gindo penuh hikmah. Tinggal bagaimana daya dan upaya atau ikhtiar manusia dalam memperbaiki kualitas dirinya.

“Harapan perbaikan dan perubahan saya akan tumpangkan pada generasi-generasi muda Mempawah, mereka mau apa dan kemana, tugas saya hanya membuka pandangan dan cakra walau mereka untuk bisa siap menghadapi massa depan” ujar Tan Gindo meyakin dirinya. Seperti kata orang-orang bijak “betapa banyak mereka yang berjumlah banyak dapat dikalahkan oleh sekelompok orang yang berjumlah sedikit tapi bisa berbaris rapi dalam berjuang”. Seperti yang yang terjadi dalam perang Badr, salah satu pertempuran yang paling fonomenal dalam perkembangan Islam di muka bumi dan Allah membuktikan janji-nya.

Perang Badar merupakan pertempuran besar (ghazwah) pertama antara umat Islam dan musuh-musuhnya. Momen ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Total 313 orang Muslim melawan 1.000 orang Quraisy yang memiliki persenjataan lengkap, keahlian militer, dan pengalaman bertempur. Nyatalah bahwa secara kuantitas, para pemeluk tauhid tidak unggul. Akan tetapi, mereka justru memperoleh kemenangan besar berkat pertolongan dari sisi Allah SWT. Hanya orang-orang terpilih dan berkualitaslah yang akan menjadi pemenang, dapat dikatakan itu sudah menjadi Sunnatullah-hukum Allah yang tidak terbantahkan.

Persoalannya hari ini, “siapakan yang terpilih dalam program pendampingan saya ini” ujar Tan Gindo kembali menukilkan strateginya. Semua pemetaan harus dilakukan “kita tak butuh banyak orang, tapi butuh mereka yang memiliki kemauan” ujar Tan Gindo menegaskan. “Bak seorang pendaki gunung; dia sudah tahu untuk mencapai puncak pendakian harus menghadapi tanjakan, jurang, semak belukar, binatang buas dan segala sesuatu yang ada di dalam hutan serta ditengah pegunungan, mereka yang punya tekad yang kuat setapak demi setapak akan sampai pada titik puncak, sementara mereka yang tidak kuat akan kembali turun dari lagi dipertengahan jalan” ungkap Tan Gindo meyakinkan dirinya.

“Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua bayang-bayang maso. Dimano kain kabaju, diguntiang indaklah sadang, lah takanak mangko diungkai, dimano nagari namuah maju, Adat sajati nanlah hilang, dahan jo rantiang nan dipakai. Maliang cilok taluang dinding, tikam bunuah padang badarah. Ibo di adat katagiliang turuikkan putaran roda. Nan mudo pambimbiang dunia, nan capek kaki ringan tangan, acang-acang dalam nagari, Talantuang dek kanaik, ta taruang dek ka turun, sakali aia gadang sakali tapiang barubah, Tuah nagari dek nan tuo, rami nagari dek na mudo. Ta kalang dek nan rami, bajalan sajo jo badang surang, iduik baraka mati baiman”

(Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia. Kamajuan suatu negri di Minangkabau atau dimanapun juga, tidak akan dapat dicapai dengan baik jika ajaran Adat diamalkan tidak sepenuh hati, atau tinggal sebutan. Kebudayaan asli jangan sampai hilang, sesuaikan diri dan aturan adat beradat serta istiadat dengan kemajuan. Pemuda harapan bangsa ditangan pemuda terletak maju mundurnya bangsa dimasa depan. Hati-hatilah apa yang akan menimpa kita dimassa akan datang karena perubahan zaman pasti akan terjadi, jika terhambat karena orang banyak maka mulailah dengan diri sendiri karena hidup dikarunia akal dan keyakinan terhadap kebenaran)

Bersambung ke bag. 9



Sumber

Baca Selengkapnya

Cerpen

SEBERKAS CAHAYA DI BUMI MEMPAWAH – siarminang.net

SEBERKAS CAHAYA DI BUMI MEMPAWAH – Beritasumbar.com

“Segelap apapun dunia ini, pasti ada cahaya
Tergantung bagaimana kita menerimanya
Karena kita manusia dibekali akal fikiran
Orang bijak kata; jika tak ada kayu rotanpun jadi
Maka, setelah memegang setetes ilmu & kebenaran
Gunakanlah sebaik mungkin untuk mencapai tujuan”

Pada suatu malam, sekitar bakda Isya Tan Gindo sengaja mengundang ngopian mitra pendamping di Desa Suingai Duri II Sungai Kunyit, Mempawah – Kalimantan Barat. Kegiatan ini sejak semula sudah seperti menjadi tradisi bagi Tan Gindo jika ada hal yang personal perlu dibicarakan, terumata jika ada hal yang bersifat pribadi dan spesifik terkait mengenai hal yang dianggap agak prinsipil, minimal yang bersifat motivasi terhadap mitranya. Bisa terkait langsung dengan agenda pendampingan di desa atau tidak sama sekali, apapun persoalan biasanya dapat dianggap sudah dipahami dan selesai serta tidak dibicarakan lagi di tempat lain.

Sohib mitra itu beranama Robby, berperawakan sedang, berkulit sawo matang, bermata sedang, berwajah tampan dan bertipikal santai. Ketika dilihat photo massa remajanya berambut lebat dan sedikit gaul namun seiring usia dan tanggung jawab rambutnya seperti menipis seperti seorang professor sehingga kemana-mana akhirnya sering memakai topi kesukaanya biar tak begitu terlihat orang “terkesan tidak pede-an” ujar Tan Gindo sambil sesekali kelakar. Namun tidak demikian adanya Robby, orangnya cukup optimis dan mudah bergaul serta cukup berpengalaman.

Ketika dulu pertama kami melamar dalam program ini dan sempat diwawancari, bagi Tan Gindo melihat pengalaman dan sifat gaulnya itu sudah kelihatan, apalagi sempat berjalan sana-sini bersamanya keliling Mempawah. Kemanapun pergi sepertinya tak ada yang tidak kenal Robby, apalagi dulu menurut infonya dia adalah salah satu “anak motor” ketika remaja hingga memutuskan berhenti sejak ada tabrakan berat yang menimpanya dan membuat motonya hancur. Pantas sudah Robby sudah banyak dikenal orang di Sungai Kunyit hingga pada akhirnya berkuliah ke Pontianak disebuah Perguruan Tinggi Kelautan di kota Pontianak dan lagi bertambah banyak pergaulannya.

Dalam profile-nya Robby sempat bekerja dibeberapa perusahaan hingga resain disebuah Bank. Padahal dikala itu sempat hampir naik daun dan ditawarkan jadi kepala cabang ke pulau Jawa dan Papua. Namun dia menolaknya “tak mungkin saya keluar dari Pontianak dan Kalbar, karena lebih sayang keluarga dan anak-anaknya” ujarnya Robby menegaskan. Terlihat beliau adalah type seorang sangat setia dan sayang pada keluarga serta kampungnya dan lebih pilih tidak mau jauh-jauh dari mereka. Sehingga memutuskan untuk membuat bisnis batu bata dirumah orang tuanya dan sudah terbilang lumayan sukses dijalani.

Baca juga “Menantang Matahari” bag. 6 Keranjingan Jadi Pejabat

“Kagum juga melihat Robby menjadi pengusa mandiri dan banyak pergaulan, apalagi melihat caranya berkomunisi dengan bapaknya” ungkap Tan Gindo membatin. Mereka tidak terlihat seperti bapak dan anak tapi seperti orang yang berteman saja. Tan Gindo dulu sempat merasakan hal yang sama meski itu dirasakan ketika sudah mulai kuliah dan beranjak dewasa, sayang sang Ayah begitu cepat meninggalkan Tan Gindo untuk selamanya sehingga tidak sempat menikamati massa-massa dewasa bersama sang Ayah. “Sesekali akhirnya sang Ayah datang dan berkunjung lewat mimpi jika sudah merindukan beliau dan mendo`akannya di alam kubur sana, hixs” ujar Tan Gindo bersedih.

Ketika kecil tidak demikian adanya, sang Ayah sedikit ketat dan seperti orang yang jaga jarak dan wibawa sehingga kalau sang Ayah sudah bicara Tan Gindo nyaris seperti atasan dan bawahan. Sedari dulu mungkin begitu adanya tradisi orang Minang diantara ayah dan anak, apalagi antara mamak dan ponakan “kalau mereka sudah berdeham saja, ehemmm… atau melototkan matanya, sang anak atau sebagai ponakan pasti sudah mulai tunduk dan diam ketakuatan, sambil memikirkan sesuatu ada apa gerangan; penuh sangsi dan segan” ujar Tan Gindo berkesan.

Terkait usaha batu bata yang dijalankan Robby, meski menganggap sudah aman; Robyy megakui masih banyak hal-hal yang harus dibenahi dan diperbaikinya dalam manajemen usaha. Terbukti masih banyak curhat dia mengenai persoalan-persoalan yang harus dihadapinya. Disaat wawancara dulu Tan Gindo pernah bertanya “bro, kenapa mau ambil program pendampingan ini, bagaimana dengan usahamu kedepan” ujar Tan Gindo. Dengan sangat simple Robby menjawab “usaha saya sudah bisa sedikit bisa saya tinggalkan dan ingin mencari pengalaman dan wawasan baru kedepannya” ujar Robby lugas.

Kemudian inilah yang menjadi pegangan Tan Gindo hingga akhirnya bisa melihat seberkas cahaya untuk sukses program kedepan. Besar sekali harapan Tan Gindo kepada sohib dan mitra utamanya dilapangan, berharap Robby akan menjadi pilar utama paling depan sebagai agen perubahan khususnya bagi gengerasi Sungai Kunyit di massa akan datang. “Harapan adalah pintu semangat untuk para pejuang, bak mengharapkan kematian syahid di medan perang, karena itulah manusia bisa bertahan hidup apapun rintangan dan hambatan yang akan dilalui” ungkap serorang motivator. Karena itulah akhirnya Tan Gindo kemudian menerima Robby sebagai mitra kerjanya dalam mendampi desa Sungai Duri II.

Namun Tan Gindo sadar, kalimat sederhana dan simple yang telah diucapkan Robby tidaklah sesederhana itu dalam realitasnya, pasti persoalan demi persoalan akan muncul. Mulai dari kesiapan pribadi secara mental, pengetahuan dasar, dan bagaimana menghadapi masyarakat Sungai Duri II yang juga majemuk, tentu tidaklah akan mudah. Benturan atar sesama pasti akan terjadi apalagi benturan dengan masyarakat lain disekitar desa dan Sungai Kunyit pada umumnya, baik secara emosial, pemikiran bahkan bisa saja secara fisik. “Semua akan teruji dalam proses dan perjalanannya untuk sampai pada tujuan atau justru Robby akan gugur di medan juang dan harus dimakamkan menjadi seorang pahlwan; tampa tanda jasa atau tidak sama sekali, atau bisa sukses sebagai pemenang, semua tergantung pada orangnya” ujar Tan Gindo menelisik.

Dapat dikatakan dalam pelaksanaan dilapangan Tan Gindo memberikan porsi sedikit istimewa kepada Robby ketimbang pendamping desa yang lain dan ia cukup menyadarinya. Baik dari segi strategi pengaturan kerja dan tanggung jawab serta support khusus dari Tan Gindo tidak berjalan sebagaimana kontrak yang ia tanda tangani sendiri dengan pihak RBK CFCiD Consulting. Bahkan lebih dari pada itu Tan Gindo menganggp Robby sebagai seorang sahabat tempat berbagi fikiran dan perasaan negative sedikitpun, dilapangan juga Tan Gindo tidak mengangap Robby anak buah tapi mitra kerja bahkan diminta jadi pimpinan. “Bro di RBK mungkin saya atasanmu tapi di desa kamu adalah atasanku, jika kamu suruh diam saya akan diam tapi jika kamu suruh bergerak saya akan bergerak” ujar Tan Gindo sesekali ketawa berkelakar.

Barangkali sudah menjadi pengalaman Tan Gindo bahwa apa yang sudah direncanakan dalam setiap kali program belum tentu dapat berjalan mudah sebagaimana mestinya, bahkan tak jarang ternyata lebih besar muatan kerjanya yang akan terjadi dilapangan. Sebagaimana adanya di desa  Sungai Duri II yang sedang di dampingi, bisa dikatakan 2 x lipat dari rencana program harus bisa dilaksanakan tampa mengurangi arti sebuah amanah. Apalagi bagi Tan Gindo “kerja bukan hanya sekedar gaji-uang, tapi apa yang dikerjakan harus dapat bermakna dan lebih bermanfaat, agar dapat keberkahan” ungkap Tan Gindo dalam pertemuan ngopian tersebut dengan mitranya Robby.

Ini jugalah barangkali sebagian besar para tokoh-tokoh penting di Sungai Duri II, terutama Kepala Desa yang juga dapat memberikan kepercayaan kepada Tan Gindo, apalagi program yang sedang dijalankan memang atas lembaga independen, bukan langsung dibawah unit perusahaan besar sebesar PT. Pelindo II yang sedang menjalankan proses pembangunan disekitar Sungai Kunyit-Mempawah. Sehingga program-program yang dijalankan Tan Gindo dapat dukungan kuat dari pihak dan desa, para tokoh dan pengurus forum desa yang telah dibentuk dalam kerangka program CFCiD Counsulting.

Beruntung lagi Tan Gindo mendapatkan dukungan kuat dari salah seorang tokoh berpengaruh di Sungai Duri II yang kemudian seperti menjadi bapak sendiri, apalagi tinggal dekat bersama beliau tak jauh dari rumah intinya di Kelapa 4 Sungai Duri II. Namanya Bapak Syarif, sebagian besar tokoh-tokoh Sungai Kunyit pasti tahu siapa beliau, namun masyarakat biasa mungkin masih ada yang belum mengetahuinya. Bahkan sebagian tentang identitas beliau memang sengaja tidak dikedepankan sebagai sebab ada hal yang mulia dan kerendahan diri beliau ditengah-tengah masyarakat.

Bertemu pak Syarief juga seperti bertemu guru baru dalam kehidupan, teringat ketika di awal berjumpa dengan beliau di saat bertamu kerumahnya, beliau seperti orang yang sudah lama bersua dalam hidup Tan Gindo dan penuh ke-ajaiban. Bahkan keanehan tersebut belum bisa sepenuhnya dipahami dan dimengerti betul oleh Tan Gindo, sesaat sehabis perkenalan nama dan berbicara panjang lebar sebelum diminta masuk keruang tamu, dengan santainya beliau berucap “apa yang hendak kau cari, jawabannya ada disini” ujar beliau polos tampa beban, melayang seperti ucapakan guru tarikah. Sontak Tan Gindo kaget, ada apa gerangan kenapa beliau berucap demikian.

Setelah masuk keurang tamu, barulah Tan Gindo sedikit tersadar beliau bukanlah orang sembarangan dan bukan tidak punya alasan untuk berucap demikian. Disebuah sudut dinding utama ruang tamu beliau, berjejer foto para Habaib yang pernah Tan Gindo lihat semenjak dari Lamongan Jawa Timur lalu ketika masih merantau 2014 silam. Ketika itu Tan Gindo baru saja mengenal dan bersentuhan dengan para Habaib di Nusantara, bahkan setelah mendapatkan informasi dari para Habib yang ada Tan Gindo pernah berdoa membatin “ya Allah, dimanapun aku berada dan kemanapun aku pergi, pertemukanlah aku dengan jiran-jiran Nabi Muhammad SAW, Rasul-Mu pembawa rahmat bagi seluruh alam, Allahumma Sholli ala Muhammad”.

Semenjak itu Tan Gindo selalu seperti berpindah dari satu Habaib ke Habaib lainnya sehingga seperti selalu mendapatkan cahaya; petunjuk atau jalan dari Allah untuk dipertemukan kembali dengan orang-orang berdarah mulia dan masih mengalir dalam tubuh sesorang bersama doa-doa Rasulullah. “Aku tinggalkan dua perkara yang sangat berharga pada kalian, yang pertama adalah kitab Allah, yang kedua adalah Ahlul Baitku (riwayat Imam Muslim)”. Keanehan tersebut kembali menguat ketika ditanya lagi oleh Tan Gindo kenapa beliau berucap demikian dan beliaupun mengatakan “entahlah, mulut sayapun meluncur tak sengaja, seperti ada dorongan yang menyuruh saya untuk mengucapkannya tampa berfikir” ungkap beliau seperti orang keheranan juga.

Kalau melihat fisik beliau Tan Gindo langsung ingat Ayahnya “Kardiman”; berbadan pendek kekar, gagah dan bersahaja namun mudah akrab dengan siapapun, bedanya Ayah Kardiman agak pendiam dan tidak banyak berbicara baik dilingkungan keluarga dan dimasyarakat. Barangkali karena Pak Syarief disamping sebagai salah seorang Wakil Ketua Badan Permusayaratan di desa Sungai Duri II beliau juga seorang pegawai negeri sipil di dinas pendidikan Kabupaten Bengkayang, sehingga sudah terbiasa mengahadapi orang banyak.

Kalau diluar forum beliau terlihat biasa-biasa saja, namun kalau sudah dalam forum resmi jangan coba-coba dengan beliau, bahasa dan kata-kata beliau mengalir seperti singa dipadang pasir, hal tersebut sudah sering Tan Gindo perhatihan dan hampir semua orang di desa mengetahuinya. Kalau sudah benar adanya dia akan bela habis-habisan untuk mendukung, kalau salah juga tak tanggung-tanggung dilibasnya, sehingga banyak yang tak berani berhadapan dengan beliau “face to face” apalagi di depan forum manapun.

Bahkan kalau beliau mau sesatu mungkin segala urusan di tingkat pemerintahan bisa bak “pencet tombol enter saja, jika diperlukan” ujarnya Tan Gindo mengutip dengan nada meninggi. Itu karena beliau memang telah banyak membantu meringankan masalah para aparatur pemerintahan dan membantu menyelamatkan warga ketika mengalami berbagai kesulitan ditingkat desa dan pemerintahan di Mempawah, apalagi banyak sohib-sohib seperjuangan beliau serta jaringan lainnya di Kabupaten tersbut. Salah satu prestasi beliau, semasa musim pemilu lalu pernah berhasil menyelamatkan dapil pemilihan umum di Kecamatan Sungai Kunyit sebagai ketua PPK dengan aman dan lancar tampa masalah yang berarti serta bikin puas banyak pihak.

Pada akhirnya pendampingan yang dilakukan Tan Gindo bersama tim lainnya diketahui juga oleh masyarakat umum bahwa program pendampingan yang sedang dijalankan merupakan salah satu support yang berasal dari PT. Pelindo II yang sedang berusaha keras meneruskan pembangunannya yang terbengkalai, terkendala oleh berbagai sebab sosial-politik serta jadi pergunjingan kritis warga. Dimana ketika sesaat sebelum dan sesudah masuk pendampingan pembangunan pelabuhan internasional Kijing ini masih jadi pembicaraan paling panas, aksi demonstrasi dan tuntutan warga masih sering terjadi khususnya berasal dari persatuan masyarakat nelayan. Mereka masih menuntut ganti rugi atas lahan laut yang sudah tidak aman dan nyaman lagi digunakan, padahal segala urusan tersebut sudah dianggap selesai oleh perusahaan dan pemerintahan setempat.

“Syukur, kehadiran saya tidak dikait-kaitkan secara langsung dengan situasi kusut yang masih terjadi ditengah-tengah masyarakat” ujar Tan Gindo dalam sebuah diskusi khusus. Semua agenda dilapangan dapat diselesaikan dengan baik dan cepat oleh Tan Gindo bahkan bisa buka kulit dan langsung kelihatan isi. Meskipun demikian masih ada beberapa orang tokoh yang masih dirasa menyimpan kecurigaan; sampai-sampai ada yang berkata “program ini hanya pengobat luka dan sekedar permen dikala pahit lidah” ujar tokoh tersebut di ruang publik. Namun, tokoh tersebut masih memberikan pandangan positif  bahwa memang “yang paling penting adalah kesadaran masyarakat, apakah butuh perbaikan dan kesiapan dalam menghadapi perkembangan hari ini” ujarnya meng-arifi.

Bagi Tan Gindo, persoalan proses pembangunan yang sedang dihadapi masyarakat terkait perusahaan, pemeritahan dan siapapun yang punya kepentingan atas project besar yang di depan mata; tidaklah terlalu sulit dan berat karena sudah begitu porsi dan kenyataannya dan harus di hadapi. Yang terberat adalah bagaimana membangun kesadaran setiap orang mulai dari mitra pendamping, para dampingan, para tokoh, aparatur pemerintahan hingga masyarakat luasnya lainnya untuk dapat melihat dan memotret dampak atau sebab-akibat yang akan terjadi dimasa depan dan bagaimana menyiapkan diri untuk mengantisipasinya jika semua hal terjadi.

Tan Gindo sudah membayangkan bagaimana perusahaan serupa telah berjalan lama di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Sunda Kelapa yang ternama itu; jadi apa dan bagaimana masyarakatnya, bagaimana aktivitas perusahaan dan pemerintahan setempat dalam mengelola semua kegiatan bisnis di wilayah mereka. Berbagai kemungkinan pasti akan terjadi disuatu hari nanti, kebetulan Tan Gindo sendiri memang sudah merasakan dua tempat pelabuhan tersebut ketika sempat merantau ke Surabaya 2014 lalu dan terakhir sempat tinggal di Kampung Bandan Jakarta Utara 2019 dimana keduanya merupakan wilayah inti dari garapan perusahaan PT. Pelindo tersebut.

“Ya Allah, apakah mereka benar-benar sudah tahu apa yang sedang mereka hadapi hari ini dan di massa akan datang, atau kalaupun sudah tahu apakah mereka sudah mengerti dan siap untuk menghadapinya” ujar Tan Gindo suatu waktu merenung. Terutama para pemuda dan generasi yang hari ini yang akan jadi pelanjut perjuangan massa depan di negeri Mempawah – negeri bertuah “dimanakah pemuda-pemudi Sungai Kunyit ini, kemanakah mereka dan apa yang telah mereka persiapkan” ujar Tan Gindo bimbang.

Ternyata pada bulan pertama menjadi pendamping desa dan semenjak ikut terjun melakukan penelitian sosial hal ini telah menjadi pemikiran dan kerisauan Tan Gindo sehingga sempat melahirkan sebuah puisi dan wall facebook-nya; kebetulan dari pusat gegara saat itu sedang terjadi polemik politik yang mengatas namakan dirinya “Kita adalah Indonesia dan Kami selamatkan Indonesia”

…………………

JEJAK MEMPAWAH

Dibawah terik mentari
Beratapkan langit
Berteman burung-burung laut
Dihamparan bumi Mempawah
Kala itu…
Hawa panas mulai berdatangan
Jejak langkah pertemuan dan perpisahan
Seiring dengan naik-turunnya degupan jantung
Begitu sesak oleh nafas-nafas pencari karunia
Kelak, pasti tersisa rasa takjub dan keheranan
Diantara mereka; sebuah metropolis akan hadir
Ditengah kusutnya perkampungan.
Siapa tanggap akan dapat
Siapa cermat akan siap
Siapa lengah akan disikat
Sipa lupa akan kehilangan
Barangkali jejak itu bisa terhapus dari negeri ini
Namun, asa dan rasa akan terasa nyeri dalam penyesalan
Bumi Mempawah juga bagian dari Kami & Kita
Yang sedang dirundung kegalauan dalam ruang kebangsaan;
Rebut berebut tahta dan kehormatan, sementara…
Tak lama lagi semua akan begeser dengan senyap
Bahkan lenyap…
Semua pasti kan terjadi jika tak pernah dimengerti
Kehilangan pundi-pundi sejati di negeri ini
Maka, bukalah matamu wahai anak bangsa
& bersiaplah…

Kuasa dan dilema masyarakat, perusahaan dan pemerintahan di Kabupaten Mempawah adalah matahari baru yang akan dihadapi Tan Gindo dalam pengabdiannya sebagai seorang yang di anggap ahli pemberdayaan, profesi yang sedang digelutinya. Sekali lagi Tan Gindo dalam hidupnya merasa akan “menantang matahari” baru disamping matahari-matahari lain yang selama ini telah dihadapinya. Salah dalam menghadapinya akan hangus terbakar, pandai menghadapinya akan selamat dan bermanfaat.

Melalui berbagai pengalaman massa lalu yang lebih kurang telah 15 tahun dijalaninya bagi Tan Gindo tentu menjadi hal yang semakin menarik dan menantang hidupnya. Biasanya hanya perlu menghadapi satu matahari, sekarang akan menghadapi beragam matahari dalam satu tempat, waktu dan kesempatan. Tampa ragu akhirnya Tan Gindo meyakinkan diri “insya Allah pasti saya bisa menghadapinya, jangankan dicaci, dihina, dicecar, dikerjain atau selevel dari itu oleh berbagai orang dan kepentingan, di ancam dibunuhpun ; saya sudah pernah melaluinya” ujar Tan Gindo dengan tatapan yakin dan membangkitkan diri.

“Hidup adalah perjuangan dan hari ini perjuangan saya adalah di bumi Mempawah, jika ini adalah sebuah pertempuran maka saya adalah pasukan sekaligus bisa jadi panglimanya, hidup mulia atau mati syahid” ujar Tan Gindo penuh ghairah sambil mengenang sejarah massa lalunya penuh optimis. “Seandainya ini adalah sebuah kegelapan saya masih punya sebuah lilin yang telah dibawa semenjak massa lampau, sementara seberkas cahaya dibumi Mempawah masih terlihat-menyebar luas untuk dimanfaatkan” ujar Tan Gindo puitis.

Begitulah Tan Gindo memadukan inspirasi dan motivasi hidupnya dalam pengabdian di Mempawah dimalam ngopian bersama mitranya Robby sembari bercerita tentang massa lalu satu persatu agar dapat saling memahami kelemahan dan kelibahan antara sesama tim kerja. “Saya masih seperti dulu, Tan Gindo belum merasa berubah untuk sebuah prinsip dan perjuangan yang telah dilalui semenjak kecil, remaja, hingga dibangku perkuliahan menjadi tokoh dianggap fonomenal bahkan dibilang sinting oleh sebagian sahabat dan sanak saudara kampong sana” ujar Tan Gindo tersenyum simpul.

Sembari banyak menyimpan rasa dan harapan sambil berdoa pada Allah yang kuasa “ya Allah inilah jalan hidup yang telah engkau amanahkan padaku, maka berikanlah aku kekuatan, taufik dan ridha-Mu agar semua jadi keberkahan serta ampunan-Mu jika aku berlebihan” ujar Tan Gindo penuh khidmat. Sambil mengutip sebuah pituah nenek moyang dari ranah Minang;

“Karano indak mambao galah, mananti takadia kasamonyo, mudarat mufaat tak dikana, alamaik binaso kasudahannyo. Kalau ketek dibari namo, urang gadang dibari gala, nak tapek adaik jo limbago, faham adaik nak nyato bana. Mancaliak tuah ka nan manang, maliek contoh ka nan sudah, manuladan ka nan baik. Sakalam kalam hari sabuah bintang bacahayo juo. tabujua lalu tabalintang patah, adat lamo pusako usang bak baro api dipagang juo”

(Senantiasalah kita dalam hidup bergaul memikirkan mudarat dan mamfaat, agar sentosa hidup bersama. Kalau tidak dipikirkan alamat hidup akan sengsara. Kalau dapat mendalami ajaran adat-budaya kita akan mendapatkan mutiara yang berharga didalamnya yang berguna untuk hidup bergaul dalam masyarakat. Selalulah kita melihat hasil yang baik dan dapat pula kita laksanakan hal yang positif. Tidak seluruh orang keluar dari garis kebenaran, sekurang-kurangnya satu orang ada yang menegakkannya, ketika kebenaran sudah terima menjadi pegangan apapun resikonya harus dipegang dengan teguh pendirian)

Bersambung ke Bag. 8



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer