Connect with us

Sijunjung

Ashelfine-Sarikal Dengan Rasa Satu Langkah Menuju Kemenangan Pilkada 2020 – siarminang.net

Ashelfine-Sarikal Dengan Rasa Satu Langkah Menuju Kemenangan Pilkada 2020 – Beritasumbar.com

Bermodalkan Asa dan Rasa untuk perubahan Sijunjung, mereka bekerja sebagai relawan yang benar-benar sukarela, dan itu sangatlah berat. Tidak semua Paslon bisa memiliki Relawan yang hanya bermodalkan Asa dan Rasa. Hanya ada di Paslon nomor urut 1 Ashlefine – Sarikal.

Pelak semua hal itu, berdasarkan keinginan hati untuk satu rasa menuju perubahan Sijunjung lebih baik. Dengan kasamaan prinsip dan kesamaan harapan Ashelfine bisa melenggang dengan sangat mudah tanpa beban. Pasalnya pendewasaan politik hari ini semakin jernih dan terang benderang untuk Perubahan masa depan.

Menyigi saat Pilkada 2015 dengan catatan setiap TPS Ashelfine terbilang merata unggul di 7 Kecamatan dari 8 Kecamatan di Kabupaten Sijunjung. Latar belakanh itu, malah memberikan kesimpulan bahwa Ashelfine sampai detik ini Ashelfine memiliki kekuatan nyata untuk menang. Artinya ia memiliki kekuatan besar disetiap nagari, dan meiliki relawan yang siap berjuang penuh prinsip untuk Perubahan Sijunjung akan datang.

Salah seorang Relawan Asa Mantan Ketua KPU Kabupaten Sijunjung dua Periode menjelaskan dengan jujur, bawa bersama Ashlefine para Relawan merasakan hal yang sangat berharga yang tak bisa dinilai dengan pundi-pundi recehan kertas merah maupun hijau. Ditambah dengan pola geopolitik Kabupaten Sijunjung Utara Selatan. Apalagi sebagian besar dari mereka pola edukasi politik sangat mudah diterima masyarakat dan para relawanpun bekerja dengan sangat santun sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Kami sadar, bahwa bersama Ashelfine tumbuh sebuah harapan besar yang melahirkan kekuatan besar pada diri relawan yang tidak tergoda dengan pola politik receh. Hingga para relawan menemukan jati diri dan prinsip tahan banting, tidak mudah termakan isu, apalagi propaganda politik dimedsos, malah semakin mendekati hari pencoblosan insyallah semua akan semakin ber-Satu” ucapnya dengan semangat

Alzam Deri yang berpengalaman kurang lebih sepuluh tahun sebagai lembaga konsultan politik di Sumatera Barat, mamahami betul cara cara kerja yang tepat dan cepat. Apalagi relawan Ashelfine ini sudah terjalin begitu lama diantara para relawan Ashelfine sejak tahun 2014, ditambahkan kekuatan Relawan H. Sarikal yang notabene geopolitiknya asbab dari kekalahanya pada tahun 2015 lalu.

” Inilah waktunya untuk membuktikan kekuatan besar sebuah perubahan. Dan hari ini Ashelfine dengan baik mengorganisir kekuatan yang ada hinga asbab dari kelemahan itu telah di tutupinya. Sampai hari relawan semakin bertambah” paparnya

Sosok muda yang bersahabat yang acap dipanggil Ketua tak sungkan untuk memperlihatkan data atau catatan Pilkada pada tahun 2015, di mana Perolehan suara Ashlfine mencapai 26.053 (30,53%) dengan kata lain Ashelfine peringkat kedua. Jangan heran hasil porelahan itu, murni kerjanya para relawan tidak dibayar, bergerak tanpa digerak dan murni tertanam rasa perjuangan untuk Sijunjung yang lebih baik. Ini menandakan Ashelfine Sarikal dengan kekuatan Relawan Ashelfine Sarikal (Rasa) sudah satu langkah menuju kemenangan 2020.

“Dengan modal para Relawan Asa dan juga menguasai geopolitik Kabupaten Sijunjung serta keberuntungan dengan Nomor urut 1. Ashelfine-Sarikal telah memiliki makna satu langkah menuju kemenangan dalam Pilkada 2020 yang akan digelar pada 9 Desember mendatang” pungkasnya sambil menikmati kopi hitam. (Rezar)



Sumber

Baca Selengkapnya
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Politik

Melihat Kondisi Jalan Memprihatinkan, Warga Tanam Batang Pisang – siarminang.net

Melihat Kondisi Jalan Memprihatinkan, Warga Tanam Batang Pisang – Beritasumbar.com

Sijunjung,siarminang.net, –Sungguh memprihatinkan jalan negara lintas sumatera disimpang Simanjung Nagari Padang Sibusuk kecamatan Kupitan kabupaten Sijunjung ditanami Batang Pisang oleh masyarakat pada pagi Jumat (20/11)

Kondisi jalan lintas sumatera yang baru beberapa bulan di perbaiki, sekarang sudah rusah parah dan sering makan korban.

Begitu juga jalan lintas sumatera yang berada depan sop/soto Penghulu sutan, baru sekitar 3 (tiga) bulan di perbaiki, sekarang sudah berlubang-lubang lagi yang mengancam nyawa manusia. Jalan lintas sumatera dari Simpang Tanah Badantung sampai perbatasan Kota Sawahlunto banyak yang berlubang besar – besar membuat kendaraan yang terguling dan kendaraan kecil sulit melewatinya.

sedangkan yang lubangnya sudah dalam dan besar ada disekitar kupitan, kata Anwar yang sering mekewati jalur tersebut. Sepanjang jalan lintas yang berlubang ini, karena drainasenya tidak berfungsi.kalau hari hujan, air tergenang ditengah-tengah jalan tersebut, kemudian dilewat kendaraan yang bermuatan berat. Kondisi ini mempercepat rusaknya jalan negara ini , kata Anwar.

Jalan lintas ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Kalau dibiarkan terlalu lama, kondisinya semakin membahayakan keselamatan masyarakat yang melewatinya. Sebetulnya jalan ini sudah diperbaiki sekitar dua bulan yang lalu. Sayang, mutu pekerjaannya asal jadi, baru beberapa bulan sudah rusak lagi, tambah Anwar..(alim)



Sumber

Baca Selengkapnya

Politik

Kak Seto Hadir di Acara Seminar Peringatan HUT PGRI Dan HGN Sijunjung – siarminang.net

Kak Seto Hadir di Acara Seminar Peringatan HUT PGRI Dan HGN Sijunjung – Beritasumbar.com

Sijunjung, Berita Sumbar–Memeriahkan HUT PGRI ke 75 dan Hari Guru Nasional (HGN) 2020, di Kabupaten Sijunjung, ditandai dengan Workshop dan Seminar Nasional bertajuk 10 Strategi Mengajar Terbaik New Normal dan Mendidik Anak dengan Cinta. Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari (Selasa – Kamis, 17- 19/11) di Gedung Pancasila, menghadirkan nara sumber, tokoh nasional Kak Seto.

Kegiatan yang bekerja sama dengan Indonesia Millennial Teacher Center (IMTC) diawali dengan wawancara Bupati Sijunjung, Drs.H. Yuswir Arifin, MM. Dt. Indo Marajo yang dipandu Mr. Hendrinalsky.

Seperti yang disebutkan Ketua PGRI Sijunjung, Syaiful Husein, didampingi Sekretaris Witriadi dan Bendahara Purwani, mengatakan, dimasa new normal PGRI memandang para guru harus dapat mencari inovasi inovasi baru dalam menjalankan Proses Belajar Mengajar (PBM)

Untuk menjawab tantangan itu, melalui IMTC, menghadirkan Pembicara Nasional Dr. Seto Mulyadi, M.Psi. Psikolog yang  akrab dipanggil Kak Seto. Selama dua jam pencipta nyanyisi Komo lewat ini mengisi Seminar dengan materi Mendidik Anak Dengan Cinta. Kak Seto menyampaikan bahwa dalam mendidik, yang diperlukan adalah cinta dan hubungan batin dengan peserta didik. Guru tidak bisa memaksakan materi harus tuntas, namun disesuaikan dengan kondisi sang anak.

Dimasa new normal, menurut Pakar pendidikan anak usia dini ini, guru harus dapat mencari inovasi inovasi baru dan menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Dibeberapa wilayah yang sudah mendapatkan fasilitas dimasa pandemi akan berbeda dengan daerah yang penuh keterbatasan,” Disinilah peran guru yang harus bisa mengikuti arus kemajuan reknologi,” ujarnya dengan suara ke bapakan.

Dikatakan guru saat ini harus hebat,milliennial dan berprestasi. Namun semua guru tidak boleh meninggalkan dan.menanamkan rasa cinta dan menciptakan suasana yang penuh gembira. Salah satu dicontohkan bagaimana proses mendidik dengan lagu, atau kalimat kalimat yang di lagukan sehingga dapat diterima dengan senang dan menyenangkan hati anak.

Suasana sangat mencair, karena dalam acara dari guru untuk guru itu dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada beberapa guru penggerak literasi. Setidaknya ada 109 buku yang sudah diterbitkan oleh para guru dan di launching dihadapan Kak Seto, serta dihadiri oleh unsur Forkopimda, Kakan Menag, undangan lainnya Kadis Pendidikan Limapuluh Kota, Kota Sawahlunto dan Kadis Pendidikan Darmasraya. Selain pengurus PGRI Kabupaten dan Cabang, juga hadir pengurus PGRI Sumbar, Pengurus PGRI Sawhlunto, Pengurus MKKS SMP/MTs, K,3 S. SD.

Usai Kak Seto memaparkan materi, juga tampil Profesor Ganefri, Ph.D , rektor Univesitas Negeri Padang, Dra. Ernelia, M.Pd., seorang praktisi pendidikan dam Abdul Hakim El Hamidi, seorang motivator dan pengarang buku nasional. Materi yang disajikan disiarkan langsung dari Gedung Pancasila dengan menggunakan teknologi tingkat tinggi ke sekitar 4000 guru untuk semua je jang. ” Bahkan ada juga bergabung sekitar 280 guru dari Sawahlunto dan seratusan dari Darmasraya.(alim)



Sumber

Baca Selengkapnya

bpnb sumbar

Zusneli Zubir Saat Seminar BPNB Sumbar Angkat Keberadaan Kerajaan Jambu Lipo di Sijunjung – siarminang.net

Zusneli Zubir Saat Seminar BPNB Sumbar Angkat Keberadaan Kerajaan Jambu Lipo di Sijunjung – Beritasumbar.com

PADANG (siarminang.net) – Berdasarkan memori kolektif dan tradisi yang masih lestari di tengah masyarakat Kanagarian Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, terungkap, bahwa pernah berdiri Kerajaan Jambu Lipo di daerah tersebut. Dra. Zusneli Zubir, M.Hum., Ketua Tim Peneliti bersama para anggotanya: Efrianto, SS., dan Rismadona, S.Sos. melaporkan hasil kajian mereka tentang keberadaan Kerajaan Jambu Lipo pada Seminar Hasil Kajian Nilai Budaya, digelar oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat (BPNB Sumbar) pada Senin 16 – 17 November 2020 di Kyriad Bumiminang Hotel, Jalan Bundo Kanduang No. 20 – 28, Padang.

BPNB Sumbar di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia membedah 10 laporan penelitian pada seminar tersebut. Acara dibuka oleh Kepala Tata Usaha BPNB Sumbar Dra. Titit Lestari. 

Zusneli Zubir bersama Tim melaporkan hasil kajian berjudul ‘Eksistensi Tradisi Kerajaan Jambu Lipo dalam Perkembangan Masyarakat di Kabupaten Sijunjung (1980 – 2000)’, mereka tampil pertama di hari pertama seminar tersebut dari pukul 9.10 – 10.40 WIB. Kajian mereka dibedah oleh Dr. Nopriyasman, M.Hum., Ketua Pasca Sarjana Sejarah Universitas Andalas dihadapan 30 orang peserta seminar yang antusias menanggapi penelitian tersebut.

Pada seminar tersebut, Zusneli Zubir mengatakan, “Eksistensi Kerajaan Jambu Lipo hingga hari ini masih terlihat dalam tingkatan upacara, keindahan dan keagungan peninggalan-peninggalan budaya, seni yang dipagelarkan, serta lingkungan alam daerah kawasan kerajaannya. Berbagai tradisi mereka warisi secara turun temurun yang masih dilaksanakan sampai sekarang, terkait dengan keberadaan Kerajaan Jambu Lipo antara lain adalah acara: bakaua (merupakan upacara syukuran), ziarah ke kubur Rajo, dan manjalang rantau.”

“Saat ini telah terjadi perpaduan antara modernitas dan tradisionalitas, yang sejalan dengan upaya pemerintah daerah menjadikan peninggalan sejarah budaya sebagai salah satu aset berharga untuk menunjang pariwisata di daerah. Dalam konteks seperti ini, warisan budaya Kerajaan Jambu Lipo muncul sebagai andalan memakmurkan negeri. Bila dikaitkan dengan gerakan lintas keraton nusantara, maka era otonomi daerah sejalan pula dengan lahirnya wacana kembalinya para Sultan. Fenemona ini juga terjadi di Kerajaan Jambu Lipo. Jambu Lipo sebagai kerajaan baru terletak di Kenagarian Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, yang berjarak sekitar 23 km dari kota Sijunjung. Wilayah kerajaannya meliputi lima puluhan desa, koto, dan atau 12 buah nagari yang tersebar dalam lima kecamatan di dua kabupaten,” kata Zusneli Zubir.

Zusneli Zubir juga mengatakan, kemunculan dunia kerajaan sebagai salah satu identitas Minangkabau berkaitan dengan strategi harga diri Harun Al Rasyid Zein (Gubernur Sumatera Barat) dalam mengangkat kembali kebudayaan Minangkabau yang disimbolkan melalui pembangunan Istana Basa. Istana dan segala bentuk peninggalan kerajaan pada akhirnya menjadi simbol par excellence dari identitas daerah di Indonesia dalam era otonomi.

Kini lembaga raja dan kerajaan lebih berfungsi sebagai sumber informasi tentang sejarah dan atau upacara-upacara yang patut. Dalam pandangan teori integrasi, Minangkabau mempunyai kemampuan khusus mengintegrasikan antara yang lama dengan yang baru, antara Islam dengan adat, serta antara dunia raja dan penghulu. Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut maka penelitian ini dilakukan, untuk melihat sejauh mana eksistensi unsur-unsur tradisional tersebut masih bertahan di Kerajaan Jambu Lipo hari ini. Penelitian ini berada di bawah payung penelitian sejarah budaya. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan arsip dan wawancara.

Nopriyasman saat membedah hasil kajian tersebut, mengatakan ,”’Eksistensi’ suatu kata yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai keberadaan. Tentu saja yang dimaksudkan penulis adalah suatu hal yang ada dan berkembang dalam hubungan tradisi kerajaan Jambu Lipo dewasa ini, yaitu dalam kerangka perkembangan masyarakat era globalisasi. Mungkin itu pula, yang menyebabkan tim peneliti membatasi tulisannya pada tahun 1980-2000 (lihat Bab I: 5), ketika era praktik kehidupan telah “berbau” moderen dan “posmoderen”. Meskipun batasan ini, secara temporal masih kurang menunjukkan ketegasan, yang jelas tim penulis sudahmendasari cara berpikirnya pada proses perubahan waktu (change over times).”

“Kehadiran laporan penelitiannya berjudul “Eksistensi Tradisi Kerajaan Jambu Lipo dalam Perkembangan Masyarakat di Kabupaten Sijunjung 1980-2000” di pentas sejarah memberi makna bagi masyarakat, penelitian, dan dunia tulis menulis. Makna itu tidak saja bagi Kerajaan Jambu Lipo, tetapi juga bagi pemerintah yang mempunyai kepentingan tersendiri dalam memajukan kebudayaan di Sumatera Barat, khususnya Sijunjung,” kata Nopriyasman.

Nopriyasman juga mengatakan, “Laporan penelitian ini merupakan salah satu hasil upaya dari para peneliti di BPNB. Ketiganya peneliti dan penulis buku yang produktif, sehingga laporan ini pun menjadi bukti tingkat keproduktifan dari para penulisnya. Bagaimana pun Tim Peneliti sudah mengupayakan “mementaskan historisitas Budaya Kerajaan Jambu Lipo” sebagai bukti dari perkembangan peradaban di Sumatera Barat, dan Sijunjung pada khususnya. Pendekatan yang dipakai secara metodis pun berdasarkan metode sejarah, sehingga hasilnya sedapatnya juga bersifat ilmiah. Bagaimanapun, laporan penelitian karya Zusneli Zubir, Efrianto, dan Rismadona ini, terlepas dari kekuatan dan kelemahannya, menjadi penyemarak bagi kehadiran berbagai penelitian sejarah dalam bidang budaya (sejarah budaya). Karya ini tidak saja berguna dalam memberi apresiasi kepada sejarah budaya, tetapi tentunya dapat memantik diskusi dan penelitian lebih lanjut terkait dinamika dan eksistensi kerajaan di Minangkabau (Sumatera Barat).”

“Karya Zusneli Zubir, Efrianto, dan Rismadona bertolak dari ilmu Sejarah, sedikit banyaknya menambah terang informasi tentang keadaan sejarah Kerajaan Jambu Lipo. Pendekatan yang diambil pengarang memberikan petunjuk bagi kisah sejarah di sekitar praktik budaya yang pernah dan terus berlanjut dalam sejarah. Mudah-mudahan sesuai harapan penulisnya, karya mereka bermanfaat bagi pengetahuan, bermanfaat bagi pembuat kebijakan dalam mengembangkan pariwisata di tingkat lokal, dan bermanfaat bagi masyarakat dalam mengembangkan diri dalam mengolah potensi diri dan masyarakatnya. Semoga,” kata Nopriyasman.



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer