Connect with us

Kolom & Opini

Politik Dinasti dan Gerbang Meritokrasi – siarminang.net

Politik Dinasti dan Gerbang Meritokrasi – Beritasumbar.com

Oleh : Bima Putra
Wakil Ketua Senat Mahasiswa
STIT SB Pariaman

Bagi banyak individual, tata aturan kekerabatan tidaklah secara teoritis mengesampingkan aturan politik. Menurut definisi morgan terdahulu, kekerabatan megatur keadaan socitas dan yang kedua mengatur civitas. Atau menggunakan terminologi yang sering digunakan sekarang ini yang pertama merujuk pada struktur-struktur respositas dan kedua merujuk pada dikotomi yang jelas.

Dalam kasus ini, ada dikotomi yang jelas yang dikotomi inipun tampil dalam teori marxis dimana masyarakat berkelas dan negara adalah hasil dari terpecahnya komunitas-momunitas primitif, serta politik muncul dengan menghilangnya ikatan-ikatan hubungan darah personal.

Hal ini sering ditemukan dalam tradisi filsafat, terutama fenomenologi Hegel yang membuat oposisi paralel antara yang universal dengan yang paralel yaitu antara negara dan keluarga, wilayah maskulin dengan wilayah femini dan lain sebagainya.Jauh dari memandang kekerabatan dan kekuasaan itu sebagai pengertian yang saling meniadakan, antropologi politik telah memperlihatkan ikatan-ikatan kompleks antara dua sistem itu, menganalisanya, serta mengembangkan teori-teori mengenai hubungan- hubungan itu dengan berlandaskan kepada karya lapangan.

Meskipun demikian, tidaklah mudah untuk membedakan antara hubungan antara kekerabatan dan kekuasaan dengan menimbang begitu eratnya hubungan antara keduanya.Dibanyak masyarakat-masyarakat primitif misalnya banyak ditemui adanya kekuasaan yang selalu disandingkan dengan kekerabatan. Hal ini dapat dilihat dari kriteria masyarakat primitif khususnya dalam keanggotaan suatu komunitas politik. Seperti halnya metode keturunan baik dari garis keturunan patrilineal maupun matrilineal terutama mengkondisikan kewarganegaraan dalam masyarakat-masyarakatnya serta didasarkan atas hubungan-hubungan dan kelompok-kelompok yang disusunnya secara tajam yang akan berbeda dengan kekerabatan dalam pengertian ketatnya.

Sedangkan dalam masyarakat segmenter yang menarik sebuah sistem perbudakan domestik, status para budaknya didefinisikan terutama dalam pengertian pengucilan dari sebuah garis keturunan dan mengambil bagian sebagai kontrol atas kehidupan masyarakat. Kekerabatan biasanya selalu berdampingan dengan kekuasaan sehingga kekuasaan dipandang sebagai suatu gejala yang selalu terdapat dalam proses politik, namun para ilmuwan politik tidak ada yang sepakat mengenai perumusan pengertian kekuasaan. Bahkan beberapa diantaranya menyarankan agar konsep kekuasaan ditinggalkan dengan alasan bersifat kabur dan selalu berkonotasi emosional.Namun tampaknya politik tanpa kekuasaan apalagi yang sekarang muncul adalah fenomena politik kekerabatan ibarat agama tanpa moral.Karena modern ini banyak para aktor politik yang selalu melibatkan keluarganya untuk berkecimpung juga dalam dunia politik hal ini terlihat diberbagai daerah menjelang pemilihan kepala daerah yang serentak dilakukan pada akhir-akhir ini.

Politik kekerabatan atau keluarga politik memang dapat dijumpai dihampir semua negara. Di AS misalnya keluarga Cannedy masih dianggap sebagai kekuatan politik berpengaruh atau dihormati, baik di Massachussedts maupun ditingkat negara federal. Di indonesia politik kekerabatan identik dengan kekuasaan dikeluarga atau dikerabat politik tertentu. Menguatnya politik kekerabatan seperti ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Jika kecenderungan ini semakin meluas, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat politik indonesia akan seperti yang terjadi di Filipina dimana Bossism berbasis teritorial menguasai politik. Negara dijalankan oleh segelintir elit dari beberapa keluarga, kaln, atau dinasti politik yang kuat diwiliyah-wilayah tertentu dan karenanya sangat sulit untuk mengharapkan adanya perluasan akses kekuasaan maupun proses demokrasi yang sehat dan substansial.

Gerbang Menuju Meritokrasi

Meritokrasi berasal dari kata “merit”yang berarti “kualitas bagus yang pantas untuk dihargai” (a good quality which is deserve to be praised). Istilah meritokrasi dipakai pertama kali oleh Michael Young pada tahun 1958 dalam bukunya “Rise of the Meritocracy”. Dalam definisi praktisnya, sistem merit adalah proses promosi dan rekruitmen pejabat pemerintahan berdasarkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas, bukan berdasarkan koneksi politis.Dengan kata lain, inti merit systemadalah profesionalisme(baca: kinerja dan prestasi).Stephen J. McNamee mengidentifikasi empat syarat kunci dalam meritokrasi: bakat (talent), sikap yang benar (right attitude), kerja keras (hard work) dan moralitas tinggi (high moral character).

Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menganut demokrasi, seharusnya meritokrasi bisa dipakai untuk memberangus Korupsi,Kolusi dan Nepotime yang marak di birokrasi. Idealnya, karena demokrasi menghendaki kepemimpinan oleh banyak orang, proses perekrutannya tak bisa mengandalkan popularitas sebagaimana afiliasi beberapa artis tanah air ke beberapa partai politik. Tidak juga berdasarkan keturunan seperti aristokrasi atau pada kekayaan seperti plutokrasi; melainkan harus berpijak pada prestasi (merit).

Dalam lanskap perpolitikan Indonesia, setidaknya republik ini pernah dipimpin oleh perdana menteri yang menerapkan zaken cabinet. Dia adalah Ir. Juanda, yang mengangkat menteri-menterinya berdasarkan keahlian mereka. Sebelum Juanda, Kabinet Sjahrir juga menerapkan sistem meritokrasi. Ketika itu, semua pos kementerian diisi orang-orang hebat dari berbagai latar belakang. Selain Sutan Sjahrir yang menjadi perdana menteri, dalam kabinet duduk pula Agus Salim, Natsir, Amir Sjarifuddin, Mohammad Roem, dan Johanes Leimena. Meski telah menerapkan merit system, namun kabinet ini hanya bertahan kurang dari dua tahun.

Nihilnya meritokrasi pada sistem pemerintahan Indonesia, dikarenakan gagalnya partai politik melahirkan tokoh-tokoh yang mumpuni. Salah satu penyebabnya adalah format partai politik yang menyandarkan eksistensinya kepada figur tertentu. Sehingga orang-orang yang duduk di kepengurusan partai, banyak yang dipilih berdasarkan kedekatan dengan sang figur, bukan karena ide atau prestasi yang dihasilkan. Dengan cara seperti ini, alih-alih ingin menumbuhkan negarawan terpandang, partai malah menjadi tempat pembiakan politik dinasti. Seperti yang terjadi belakangan ini, dimana banyak anggota parlemen, gubernur, walikota dan bupati, yang berasal dari keluarga tertentu.

Jika saja bangsa Indonesia mau melaksanakan meritokrasi sepenuh hati, maka tentu meritokrasi bukan menjadi istilah atau mitos politik belaka. Karena meritokrasi, memungkinkan seseorang bisa maju ke tingkat tertinggi, bahkan menjadi presiden sekalipun tanpa perlu khawatir terhadap pertimbangan politik.



Sumber

Brigade PII

USTAD GURU; SANG KOMANDAN – siarminang.net

USTAD GURU; SANG KOMANDAN – Beritasumbar.com

“Pandai mengeluh sudah bawaan manusia
Tak dipelajari sepertinya dia datang sendiri
Tapi jiwa optimis harus dilatih dan ditumbuhkan
Sebab alam mengajarkan semua makluk bisa bertahan
Bahkan manusia bisa melampaui batas kemampuannya di muka bumi
Makanya jangan jera berjuang dan berkata optimis
Agar menjadi kekuatan untuk bisa melakukan sesuatu dalam hidup ini”

Suatu sore, tim marketing UMKM Sui. Duri II yang baru terbentuk duduk santai sambil menyelesaikan packingan produk usaha kelompok yang sudah di dampingi Tan Gindo bersama forum desa. Segelas kopi manis dan sebungkus rokok Djie Sam Soe jelas sudah seperti teman setia disetiap perbincangan asyik dimanapun berada. Seperti biasa Tan Gindo mulai bergurau sambil mencari celah tetap meng-evaluasi kegiatan yang ada”gimana bro, aman dan lancarkah jualannya” ujar Tan Gindo penuh senyum. “Amanlah pak, tapi sepertinya sulit bagi kita untuk jualan seperti ini, susah sekali kita dapat memasukkan produk kewarung-warung, apalagi produknya seperti ini, gimana mau berkembang” keluh Rozi selaku salah seorang anggota tim.

Rozi, seorang anak muda penuh semangat yang baru saja bergabung dalam kegiatan forum desa, kebetulan anak salah seorang ketua RT di Dusun Karya Desa Sui. Duri II. Rozi sepertinya anak rajin dan berbakat untuk jualan, bertubuh sedang, berkaca mata dan berambung lurus, faktanya sebelum di ajak bergabung dia sudah punya dagangan sendiri. Bagi Tan Gindo jawaban yang baru saja didengar sepertinya sudah tak asing lagi dalam gendang telinga. Nadanya seperti orang mengeluh dan berputus asa, bak tidak mendapatkan harapan hidup, seolah ada tembok dinding yang selalu jadi penghambat kemajuan, perobahan dan perbaikan.

Padahal dari kenyataan tidak begitu juga adanya, Rozi dan bersama salah satu rekannya Angga, sejak bergabung selalu tidak berhenti mencoba abdikan dirinya dalam kegiatan yang sudah dimulainya. Meski kegiatan baru dirancang dan minus dukungan, ketimbang teman-teman yang lain mereka telah menunjukkan itikad baik untuk dapat berubah dan ingin maju berkembang. Sayang antar perbuatan dan ucapan seperti bertolak belakang, begitulah akhirnya antara kegiatan dan kata-kata selalu menjadi jurang pemisah, Tan Gindo mulai berfikir “kalau begini, cepat atau lambat kata-kata mereka akan menghancurkan mereka sendiri” ujar Tan Gindo membatin. Menurut pengalaman Tan Gindo “kata dan ungkapan adalah kalimat sakti yang dapat merobah segala hal dalam kehidupan dan minimal dalam berkegiatan”

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 9; Curhat Nyi Bloro; Ratu Laut Kijing

Ketika kita menyakatan “bisa” pasti bisa, kalau kita sudah mengeluh pasti sudah menjadi awal dari sebuah kegagalan. Menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud, pikiran bawah sadar didefinisikan sebagai kumpulan perasaan, pikiran, dorongan, dan ingatan yang berada di luar kesadaran. Freud percaya bahwa ketidaksadaran terus memengaruhi perilaku meskipun orang tidak menyadarinya. Freud mengibaratkan hal-hal yang mewakili kesadaran kita hanyalah “puncak gunung es” dari setiap kata-kata yang diucapkan. Begitu besar akhirnya pengaruh sebuah kesukesan dan kegagalan dalam diri seseorang. Teori-teori sudah banyak dibukukan oleh berbagai pakar psikoloagi dan pelatih motivasi, “searching saja om google” ujar Tan Gindo sambil kelakar.

Pengalaman Tan Gindo kembali melayang ke massa lalu, sejak pertama kali aktiv di Pelajar Islam Indonesia. Kala itu Tan Gindo direkrut dan bergabung dalam satuan Brigade Pelajar Islam Indonesia, “sungguh mentereng juga rasanya ketika itu, apalagi sempat berfoto berseragam hijau dan pake baret hijau bak tentara betulan” ungkap Tan Gindo menjelaskan. Tan Gindo merasa bersemangat lagi, karena sedari kecil memang bercita-cita jadi Pilot Pesawat Tempur, atau tepatnya tentara Angkatan Udara. Dulu foto-foto tersebut sempat tersimpan rapi tapi karena sudah sering pindah-pindah rumah sudah jarang ditemui entah dimana letaknya; sedikit sejarah apa dan bagaimana sejarah Brigade Pelajar Islam Indonesia Tan Gindo kembali menganang.

…………

Pada awal pembentukannya, badan otonom ini ditujukan untuk menyalurkan bakat-bakat kemiliteran anggota-anggota PII. Tujuan ini berkaitan dengan kondisi bangsa Indonesia yang sedang berusaha mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya kolonialisme belanda. Untuk itu bangsa Indonesia perlu memobilisasi semua komponen bangsa untuk menghadapi agresi militer Belanda I (21 Juli 1947)

PII sebagai sebuah organisasi yang berbasis pelajar tidak tinggal diam dan ikut serta memanggul senjata, bahu-membahu mempertahankan kedaulatan Indonesia. Kemudian, dalam langkah nyatanya mengorganisasikan diri menjadi salah satu dari pasukan rakyat yang berjuang melawan penjajah, sehingga terbentuk laskar-laskar dari rakyat banyak yang turut membantu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) antara lain TRI Hizbullah, BPRI (Baris dan Pemberontakan RI), TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur), Sabilillah, Tentara Pelajar IPPI, TPI (Tentara Pelajar Islam Aceh), CM Corps – Mahasiswa, CP (Corps Pelajar Solo) dan lain sebagainya. Masa ini, visi dan misi Brigade Siaga adalah bersifat ketentaraan/kelaskaran.

Walaupun baru diresmikan pada 1947, dengan Komandannya Abdul Fattah Permana, sebenarnya, sebelumnya telah ada aktivitas ke-brigade-an di PII. Satuan yang telah ada sebelum peresmian Brigade PII adalah TPI (Tentara Pelajar Islam Aceh) dibawah pimpinan Hasan Bin Sulaiman, Hamzah, dan Ismail Hasan Metareum. Terdapat sebanyak 12.000 orang anggotanya yang langsung dikoordinir di bawah komando Komandan Koordinator Pusat Brigade PII saat itu.

Selain itu, PII telah berpartisipasi dalam operasi militer di Magelang, khususnya tentara pelajar. Pasukan PII dan HMI pada bulan Oktober 1947 bergabung dalam Batalyon 17 dengan nama Batalyon Corps Pelajar Islam dipimpin Chalil Badawi dan Corps Mahasiswa Islam dipimpin oleh Ahmad Tirto Sudiro. Pada masa ini, pembinaan terhadap anggota dilakukan oleh dan di masing-masing laskar dimana mereka bergabung. Tak heran akhirnya Jendral Sudirman sangat mempercayai Brigade PII dalam mendampingi beliau ketika perjuangan gerilya.

Secara khusus Jenderal Sudirman mengapresiasi peran PII dalam pidatonya pada peringatan Hari Bangkit I PII tahun 1948 di Yogyakarta. “Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada anak-anakku di PII, sebab saya tahu bahwa telah banyak korban yang telah diberikan oleh PII kepada negara. Teruskan perjuanganmu. Hai anak-anakku Pelajar Islam Indonesia. “Negara di dalam penuh onak dan duri, kesukaran dan rintangan banyak kita hadapi. Negara membutuhkan pengorbanan pemuda dan segenap bangsa Indonesia.” Ujar sang Jendral penuh haru waktu itu.

Disetiap manapun ada cabang PII se-Indonesia pasti ada Brigade PII-nya sebagai sebuah mata rantai perjuangan yang tidak bisa diputus. Kehadiran Brigade PII juga kemudian berjasa ketika harus menghadapi gerakan Komunisme dan berbagai pemberontakan yang terjadi di Indonesia. Setalah kemudian orde baru bercokol, lagi-lagi PII harus berhadapan dengan pemerintah karena dipaksa merobah azaz organisasi dengan memaksakan Pancasila sebagai satu-satu azaz (prinsip) organisasi dan lebih memilih jalan untuk tiarap dalam melanjutkan visi dan misinya.

Banyak data fakta bicara undang-undang keormasan ini lahir sebelumnya diakibatkan banyaknya bentrok pemikiran dan fisik antar aktivis islam dan non Islam sendiri dalam memandang semangat kebangsaan, yang kemudian di picu oleh bentrok fisik antara massa pendukung PPP dengan Golkar di Lapangan Banteng Jakarta, sebagaimana yang ditulis Fikrul Hanif Sufyan dalam Sang Penjaga Tauhid: Studi Protes Tirani Kekuasaan 1982-1985. Melalui UU Nomor 3/1985 azaz tunggal kemudian keluarkan dan disahkan pada 19 Februari 1985 yang mengharuskan Pancasila menjadi asas tunggal dalam setiap organisasi,  

Pelajar Islam Indonesia (PII) dan tokoh-tokoh Islam macam Deliar Noer, A.M. Fatwa, dan Sjafrudin Prawiranegara sang ketua PDRI. PII harus mengalami hal pahit. “Mereka harus membubarkan diri sebab pada kongres tahun 1985 yang tidak mendapat izin pemerintah pada 17 April 1987 PII akhirnya di anggap membubarkan diri. HMI kemudian pecah jadi dua kubu HMI Dipo yang mendukung Azaz Tunggal dan HMI MPO menolak azas tunggal Pancasila. Sebelumnya sudah diketahui bahwa Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) sebagai kakak HMI & PII sudah lebih duluan di bubarkan karena dianggap organisasi keras dan teroris, karena selalu bersebrangan dengan pemerintah terutama mengahadapi ideologi komunis yang menjadi anak kandung Bung Karno dalam menjalankan kebijakannya.

Pembubaran GPII dipicu oleh sebuah kasus yang disebut dengan “Peristiwa Cikini” dan Idhul Adha di Lapangan IKADA, tepatnya tanggal 10 Juli 1963 Presiden Sukarno menerbitkan Keputusan Presiden No.139 Tahun 1963. Kemudian setelah itu berubah nama menjadi Gerakan Pemuda Islam (GPI) dalam menjalan visi dan misi eksistensinya. Diketahui sebagian anak-anak GPII juga merayap dibawah tanah bersama PII yang telah dinyatakan bubar. GPII, HMI MPO dan PII se-Indonesia akhirnya bergerak dengan strategi “pasang Jaket”. Memakai nama lain kemudian menjalankan misi dan eksistensi mereka secara diam-diam diberbagai propinsi dan daerah.

Strategi ini dilakukan semata-mata hanya untuk menjalankan prinsip untuk taat pada Allah, dimana Al-quran dan Hadist tetap menjadi rujukan utama organisasi, sementara Pancasila tetap dihargai menjadi dasar Negara. Inilah kemudian yang membuat kader-kader PII tetap bisa bertahan meski selalu dalam bayang-bayang kekuasaan selama orde baru berlangsung. Kader-kadernya tetap ada meski dengan jumlah dan ruang gerak yang tebatas, hanya mereka yang beruntung dan kuatlah yang bisa bertahan untuk selalu melanjutkan perjuangan organisasi, tak sedikit akhirnya yang di “bui” dan hilang tampa nama.

Ketika dibawah tanah Brigade PII kemudian menjelma menjadi Brigade Pembangunan, yang bertujuan selalu menjadi garda terdepan sebagai “pengawal eksistensi” disetiap kegiatan organisasi meski tidak membawa nama PII tapi membawa organisasi sempalan-sempalan yang beragam disetiap daerah garapan namun saling tetap kontak satu dengan yang lain se-Indonesia. Sungguh menjadi sebuah kenangan bagi kader-kader PII untuk dapat bertahan dan berkembang dimassa-massa pahit itu. Mereka bisa bertahan dengan situasi sulit dan tidak diakui bahkan dikejar-kejar oleh intel-intel orde baru dalam setiap kegiatan. Inilah juga lah yang menyebabkan anak-anak PII bermental baja dan tidak pernah takut dalam membela kebenaran dan mengakkan kebatilan.

Pendek kata apa yang telah terjadi saat itu hingga di era pasca Reformasi, bagi anak-anak PII semua peristiwa hanya sejarah yang berulang dimana ada sekolompok masyarakat Islam yang selalu dikejar-kejar dengan cara yang menyedihkan, ditangkapi dan dikebiri dalam mempertahankan prinsip hidup dan organisasi mereka. Jika dirunut peristiwa demi peristiwa, sebut saja sejarah konflik berdarah Tanjung Priok, Talang Sari, Lampung Berdarah, Konflik Poso, Ambon hingga berbagai konflik Front Pembela Islam yang saat ini merebak tak lebih sebuah fonomena yang pulang pergi se-iring pertarungan zaman. Hanya Allah SWT yang tahu siapa yang benar dan salah atau berhak menghakimi mereka yang berbuat kezaliman suatu saat kelak di akhirat nanti.

……………

Lantas, bagaimana proses yang pelatihan demi pelatihan yang telah Tan Gindo dapatkan di Brigade PII sehingga menjadi catatan penting kisah saat ini, khususnya ketika di Kota Payakumbuh, sebuah basis gerakan yang selalu hidup dan berkembang dalam sejarahnya.

Waktu itu pasca mengikuti pelatihan dasar PII yang dikenal dengan “Basic Tarining PII” Tan Gindo direkrut oleh seorang Komandan, bernama Ustadz Dedi, tapi teman-teman aktivis PII sering memanggil beliau Ustadz Guru “Sang Komandan”. Hampir rata-rata panggilan semua aktivis PII yang kala itu bernama Forum Komunikasi Remaja Masjid (FKRM) semacam organisasi “Jaketnya PII” di panggil ustadz; sebuah panggilangan kehormatan khusus yang selalu disematkan pada setiap aktivis PII kota Payakumbuh yang telah mengikuti kegiatan latihan kader tunas. Padahal kata “Ustadz” bukanlah kata sembarangan, di beberapa tempat kata tersebut itu merupakan panggilan sakral untuk sebuah guru yang tidak mudah sembarang di sematkan. Tapi di FKRM panggilan “ustadz” bisa bak kacang goreng saja, khususnya bagi para aktivis tentunya.

Suatu hari Tan Gindo dan para aktivis baru tersadar betapa besar dampaknya panggilan tersebut terhadap para aktivis. Ternyata bisa jadi sebuah “sugesti” atau semacam dorongan agar mereka dapat berubah seperti seorang ustadz yang sesungguhnya, menjadi tauladan, menjadi seorang senior sekaligus guru yang dapat di gugu dan di tiru oleh banyak orang, minimal orang-orang yang sebaya dan para kader baru lainnya. Setidaknya dalam lingkungan keluarga, sadar tidak sadar akhirnya para kader, menjadi doyan mengaji, dekat ke Masjid dan bergaul dengan para-para ustadz lainnya.

Fakta bahwa kata-kata adalah sakti untuk sebuah perubahan pernah Tan Gindo rasakan ketika suatu hari mengikuti pelatihan Intensif Brigade, semacam pelatihan khusus bagi para kader-kader anggota Brigade lanjutan ketika masih kelas 2 Sekolah Menengah Pertama lebih kurang di tahun 1993 silam. Setelah sebelumnya mengikut Up-grading Brigade PII barulah bisa mengikuti Intensif Brigade, jika tidak di iktui bisa salah kaprah karena hampir materi-materi pelatihan di Intensif Brigade merupakan materi lanjutan yang dasar-dasarnya harus dimiliki terlebih dahulu.

Kegiatan Intensif Brigade lebih pada peningkatan nalar, mentalitas dan pemikiran untuk melaksanakan strategi kegiatan dilapangan baik fisik dan non fisik; belajar bagaimana bersikap tegas dan kuat dalam menghadapi serangan bahkan belajar bagaimana formasi tempur. Tak terbayangkan bagaimana dulu senior-seniro Brigade PII di zaman dulu langsung harus berhadapan dengan situasi yang sebenarnya dalam mengadapi penjajah yang ingin bercokol kembali di Indonesia.

Kala itu kegiatan Intensif Brigade PII tersebut berlangsung di Balubuih, sebuah daerah unik di daerah Kabupaten Limapuluh kota, disekililingnya ada perbukitan, semak belukar dan lapangan layaknya sebuah arena pelatihan pertempuran. Uniknya disana ada sebuah sungai berpasir yang ketika itu jika seseorang berdiri di atas sungai tersebut akan bisa menghisap tubuh dan ditenggelamkannya seperti pasir hidup yang pernah dijumpai dibeberapa tempat di dunia.

Sebenarnya dikarenakan karena adanya muatan pasir gunung yang sangat halus dan banyak serta ada aliran air sungai yang deras membuat pasir tersebut seperti hidup. Jadi siapapun yang berdiri di dasar sungai tidak bisa berdiri dalam jangka waktu yang lama, dalam hitungan detik harus bisa menggerakkan kakinya segera untuk berpindah dari satu tempat ke ketempat lain, jika terlambat dan waktu lama pasti akan terhisap dan diseret lumpur pasir. “Terlihat mengerikan bagi mereka yang belum pernah mencobanya” ujar Tan Gindo mengingat kenangan tersebut.

Jumlah peserta tak begitu banyak, karena hanya mereka-mereka yang terpilih dan berkemauan kuat hanya bisa mengikuti kegiatan tersebut. Tan Gindo termasuk peserta paling kecil dari para peserta lainnya, “lebih kurang hanya 12 s/d 15 orang dan hanya terdiri dari 3 tenda perkemahan” ujar Tan Gindo mengingat. Meski pesertanya sedikit kegiatan berjalan lancar, aman dan sukses tampa ada yang mencurigainya karena memang sudah di setting sedemikian rupa seperti anak-anak yang ikut pelatihan Pramuka saja, bisa mendapatkan izin dan diketahui oleh pihak pemerintahan setempat.

Dalam pelatihan tersebut, banyak hal yang telah dipelajari mulai dari persoalan prinsip kesatria muslim, sejarah pergerakan Indonesia dan bagaimana berlatih membela diri, seperti aneka keterampilan silat dan sebagainya. Sambil bernyanyi dan bergembira layaknya tentara yang sedang berlatih di medan latihan yang sebnarnya, “ayo-ayo Brigade, singsingkan lengan baju, ummat Islam menunggu, biar kami hancur, biar binasa asalkan ummat Islam dapat kemenangannya” begitu menggema di arena pelatihan. Sesekali kalau ada warga yang menyaksikan kegiatan tersebut kata-kata ungkapan yang sensitif langsung dirobah menjadi kata-kata umum agar tidak di curigai publik. Demikian kuatnya anak-anak PII menjaga privasi gerakan dimanapun berada.

Ustadz Guru – Sang Komandan menjadi figur yang kuat dan menakutkan dalam kegiatan tersebut, selaku komandan juga sebagai penanggung jawab medan pelatihan secara umum memang sangat lihai dan hebat dalam mengelola kegiatan. Padahal beliau waktu itu masih terhitung pelajar dan baru akan menyelesaikan sekolahnya di Sekolah Teknik Menengah di Kota Payakumbuh. Jadi anak-anak PII sejatinya sudah saling berbaur antar sekolah karena berasal dari berbagai sekolah dan pelajar se-Kota Payakumbuh.

Sehingga segala issue pelajar, perkelahian antar sekolah dan lain sebagainya anak-anak PII sudah lebih dahulu mengetahui peristiwa yang terjadi. Begitu kuatnya anak-anak PII menjadi banteng pemersatu antar pelajar. Rata-rata mereka menguasai sekolah disetiap sekolanya, jika tidak ketua OSIS setidaknya jadi pengurus inti disetiap sekolah yang ada, mulai dari Sekolah Menengah Pertama dan Tingkat Atas, sekolah umum atau kejuruan. Dapat dikatakan ketika ada masalah aksi pelajar di Kota itu pasti dibelakangnya ada anak-anak PII yang menjadi pemikir dan penggeraknya serta di ikuti dari pelajar lain seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan organisasi lainnya.

Ada sebuha kisah unik yang dirasakan Tan Gindo terkait pemebentukan watak dan perobahan sikap, kebetulan dalam satu peserta pelatihan agak-agak rada banci sehingga menjadi pekerjaan tersendiri dari Ustad Guru dalam menghadapinya. Bagaimana merobah seorang banci dapat menjadi seperti lelaki tegas dan kuat sebagaimana lelaki pada umumnya, apalagi harus bersikap seperti tentara,bukan bersikap lebay di lapangan. “Namanya tak salah Hendara “ ujar Tan Gindo mencoba mengingat-ngingatkanya karena sudah begitu lama massa berlalu dan sedikit lupa. Bertubuh semampai, berlambut lujur dan berwajah tampan tapi kelihatan kemayu, apalagi ketika dia berbicara.

Setiap diperintahkan Komandan dalam barisan “Siap grak…” gaya Hendra dalam merespon sering jadi bahan ketawaan peserta sehingga bagi yang mereka yang ketawa selalu mendapatkan hukuman tambahan dari komandan, “ tak boleh menghina teman seperjuangan, push-up atau merayap bagi yang ketawa” ujar komandan dengan wajah membentak. Akhirnya suka tidak suka banyak peserta lain yang tidak tahan ketawa akhirnya sering mendapatkan jatah hukuman. Berbagai kata-kata motivasi dan ungkapan semangat untuk bisa berubah dan bertahan serta memiliki sifat keberanian; tiap sebentar dipompa sedemikian rupa sehingga membuat pesera siap untuk berperang dan berjuang “hidup mulia atau mati syahid”.

Pernah suatu ketika dalam materi pertempuran Hendra dapat jatah sebagai komandan tempur, dimana setiap komando yang dikeluarkannya harus dipatuhi anggotanya tampa sanggahan. Dalam sebuah teriakan untuk menyerbu Hendra mengeluarkan perintah pada anggotanya “Tembaak komandaaan, doaaar mati komandan” ujarnya, bak seorang banci apa adanya di luar pelatihan. Sontak semua orang anggota yang mendengar tertawa terbahak-bahak tak bisa menahan ketawa sejadi-jadinya termasuk Ustadz Guru-Sang Komandan-pun tak bisa menahan ketawa. Akhirnya setiap orang termasuk komandan sendiri akhirnya ikut melaksanakan hukuman tambahan dalam pelatihan tersebut. Begitu pelatihan berjalan terus berlalu dengan serius tapi juga riang gembira.

Sesuatu aneh sepertinya terjadi di akhir-akhir sesi pelatihan yang berlangsung hampir seminggu lamanya, kebetulan memang lagi musim liburan sekolah. Hendra yang tadinya orang banci sepertinya kena sulap, yang tadinya kelihatan banci tulen bisa seperti berubah wujud menjadi seperti lelaki yang sempurna, bahkan seperti tentara pada umumnya. Sikapnya berubah drastis meksi masih ada terlihat sisa-sisa kebanciannya, betapa takjub seluruh peserta akan hal itu. Ustadz Guru-Sang Komandan seperti menyimpan sebuah senjata rahasia bagaimana bisa merubah seseorang dalam waktu dekat seperti itu, “luar biasa ujar sekali keahlian Ustadz Guru-sang komandan” ungkap Tan Gindo mengenang.

Ustadz Guru; Sang Komandan, kemudian hari memang menunjukkan kalibernya sebagai kader mempuni, meski tidak punya basic ilmu akademik seperti gelar master, doktor apalagi profesor bahkan dengan banyak keterbatasan mampu jadi orang berpengaruh di Sumatera Barat terutama dalam bidang politik. Sejak aktiv di partai politik dan menjadi anggota perwakilan rakyat daerah tak pernah kalah, bahkan hingga jadi ketua dewan perwakilan rakyat di propinsi Sumatera Barat. Padahal kampanye politik yang dilakukan tidak seperti kader politik lainnya, gerakannya tidak terbaca bahkan terlihat senyap oleh lawan politiknya, disenggol kanan-kiri tapi masih tetap bertahan. Watak keras dan idealisnya masih terlihat menonjol bahkan sempat jadi perbincangan negatif teman sejawat aktivisnya.

Semenjak dilatih Ustad Guru; sang komandan, Tan Gindo terus aktif di ke Brigadean PII hingga selesai di Sekolah Menangah Atas mengikuti kegiatan dari periode ke periode. Pengalaman ke-Brigadean ini jualah yang juga menjadi modal Tan Gindo ketika memimpin Pramuka di Sekolah Menangah Atas, meski terkesan sedikit rancu. Ketika di organisasi PII, Tan Gindo seolah anti terhadap Pancasila sementara di Pramuka Tan Gindo sering mengucapka Sumpah Setia Dasar Darma Pramuka, “saya seperti orang yang hidup di dua alam” ujar Tan Gindo kembali mengenang.

Namun, bukan tidak ada dasar berfikirnya anak-anak PII bersikap seperti itu, prinsip keyakinan dalam beragama adalah sesuatu yang hak dasar yang dimiliki manusia, sebagaimana yang telah tertuang dalam konstitusi HAM internasional; setiap orang memiliki pandangan hidup sesuai keyakinan dan kepercayaannya. “Khusunya dalam berbangsa anak-anak PII tetap mengutamakan Pancasila sebagai dasar Negara menjadi konstitusi resmi, bukan menjadikan dia bertolak belakang” ujar Tan Gindo sambil mengenang kembali sejarah berdirinya PII dimassa-massa pasca kemerdekaan.

Bagaimanapun anak-anak PII telah membuktikan diri sebagai pembela bangsa digaris depan bersama para pejuang kemerdekaan ketika dulu dimassa pasca Kemerdekaan. Hanya karena bangsa Indonesia sendirilah yang akhirnya mengkebirikan kehadiran anak-anak PII yang pernah berjasa dalam perjuangan bangsa, seperti ditenggelamkan oleh Bapak-Ibu sendiri dan harus meng-ikhlaskan diri sejarah massa lampaunya di”haram”kan dalam buku-buku pelajaran sejarah bangsa karena pernah menolak kehadiran azas tunggal Pancasila sebagai landasan berjuang oranisasi.

Begitulah karakter para kader PII terbentuk dan bisa berubah menjadi watak-watak pemberani dan kritis. Seandainya PII, HMI dan GPII tidak dianggap anak haram di negeri sendiri bahkan di fasilitasi sedimikian rupa di Indonesia “entah seperti apa bangsa Indonesia ini dipandangan dunia, mungkin akan jauh lebih hebat dan disegani karena memiliki prinsip dan tekad yang kuat untuk bisa memerdekakan diri menjadi manusia se-utuhnya, berdaulat dan merdeka 100% sebagaimana tekad para pendiri bangsa terdahulu” ungkap Tan Gindo menutup pembicaraannya.

Sikap optimis inilah yang berurat dan berakar dalam hidup Tan Gindo untuk menggapai massa depan, tidak pernah rasa takut untuk “menantang matahari” dalam menjalani hidupnya. Ketika seseorang tetap berkata positif (optimis) dan memiliki tekad yang kuat untuk dapat terus belajar dengan berbagai kesalahan dan kegagalan dalam mencapai tujuan dan cita-cita, cepat atau lambat pasti akan bisa terwujud jua. Semua penderitaan dan pengorbanan pasti akan membuahkan hasil, setidaknya untuk diri sendiri, keluarga dan generasi massa depan. Maka jangan tanggung-tanggung untuk mendapatkan sesuatu jika ingin berdaya-guna, sebagaimana pituah Minang.

“Kato dibaok raso, bahaso dibaok badan, alun takilek alah takalam, ikan di aia alah tau jantan jo batino. Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi. Kalau dek pandang sapinteh lalu, banyak pahamnyo tagaliciak, pandai tak rago dek ba guru, salam tak sampai pado kasiah. Kato guru kato batuah, kato saudaro paringatan, kuncilah bathin jan taruah, budi nan jan sampai nampak. Kito nan bukan cadiak pandai, hanyo manjawek pituah dari guru. Pituah guru nan dipakai, nak jadi paham jo ukuran. Pusek jalo kumpulan ikan, pucuak usah tarateh, urek ijan taganjak. ”

(Kata-kata menunjukkan emosi dan ucapan menunjukkan perilaku seseorang, semua perilaku tersebut akan terlihat atau mudah dipahami dengan cepat. Suatu pengetahuan yang tanggung dipelajari tidak lengkap dan cukup, kurang bisa dimanfaatkan atau befaedah. Dalam mempelajari sesuatu jangan setengah-setengah harus sampai setuntas-tuntasnya agar tidak salah melangkah. Keteguhan bathin menyimpan rahasia seseorang, menjadikan orang yang teguh dan mulia budinya. Nasehat guru dan pelajaran yang diajarkannya kepada murid atau generasi mendatang, adalah menjadi pedoman dalam kehidupan. Pimpinan seperti ibu-bapak, senior, teman dan guru, merupakan tumpukan dari segala kebaikan untuk generasi mendatang untuk merobah perilaku dan perbuatan agar jangan salah melangkah)

Bersambung ke bag. 11



Sumber

Baca Selengkapnya

Kolom & Opini

CURHAT NYI BLORO; RATU LAUT KIJING – siarminang.net

CURHAT NYI BLORO; RATU LAUT KIJING – Beritasumbar.com

“Berani karena benar, takut karena salah,
Rajin pangkal pandai (pintar), bisa karena biasa,
Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin,
Maka pelajarilah sebab musababnya itu,
& berharaplah takdir bisa lebih baik
Agar menjadi sebuah karunia”

Suatu pagi menjelang siang, Tan Gindo punya agenda mengundang panitia pelatihan vokasi menjahit yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat ketika dalam survey dan disepakati oleh lima forum desa terdampak di cafe Asbuy langggannya. Sebagai pendamping, RBK dan PMLI Pelindo sebagai sponsor kegiatan hanya mencoba sebagai fasilitasi kegiatan. Sebelumnya, tercatat dalam laporan sudah berlangsung beberapa kegiatan seperti pelatihan IT dan Media, Pelatihan Boga, Sablon dan Pertanian; namun mendapat tanggapan negative dari beberapa masyarakat dampingan, tokoh penting di forum desa dan aparatur lainnya.

Cukup panas informasi ini di kepala Tan Gindo ketika ada masalah kegiatan tersebut tidak sesuai harapan, bahkan sebagian masyarakat dampingan ada yang berniat membatalkan kegiatan yang sudah disusun bersama. “Lucu, kegiatan ini sudah disurvey menjadi kebutuhan dan disepakati bersama, kok jadi masalah, ada apa ini?” ungkap Tan Gindo bertanya-tanya. Persoalan ini kemudian sempat jadi pembahasan alot dalam rapat manajemen di RBK sehingga acara nya dibilang kegiatan “ecek-ecek” dan menganggap acara ini tampa Pelindo-pun bisa diadakan oleh pihak desa dan oleh masyarakat lain.

“Benarkah demikian adanya, apa persamaanya dan apa perbedaannya, sehingga bisa disbanding-bandingkan dengan begitu mudah?” ujar Tan Gindo melontarkan pertanyaan dalam sebuah diskusi kritis. Kemudian menjadi pembahasan internal tim pendamping dan pihak manajemen RBK. “Jangan-jangan ada sesatu yang tidak pas pada tempatnya atau karena sebuah kebiasaan yang sudah terjadi, ketika ada pelatihan yang sama juga tidak begitu terasa manfaatnya bagi masyarakat dampingan” ungkap Tan Gindo lebih lanjut.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 8; Bangkitkan Kesadaran !

Hasil diskusi kemudian menyimpulkan bahwa untuk kegiatan berikutnya harus pertimbangkan kembali banyak hal, termasuk urusan remeh temeh yang tidak boleh di anggap enteng. Seperti kata orang bijak “betapa banyak orang dijalanan mudah jatuh oleh kerikil yang halus, ketimbang batu besar yang terang dimatanya” ungkap Tan Gindo merenung. Maka dari itu dalam pelaksanaan pelatihan vokasi menjahit yang akan segera dilaksanakan termasuk pelatihan-pelatihan berikutnya berharap ada sedikit perbaikan, kebetulan Tan Gindo dapat jatah sebagai koordinator kegiatan kala itu “harus bisa lebih antusias, nih…” ujarnya penuh harap.

Rapat evaluasi kali ini dilakukan untuk mempertimbangkan dan mensepakati kegiatan tetap bisa berlangsung atau harus diundur kembali. Yang jelas semua orang atau berbagai pihak terkait sangat berharap tetap bisa berlanjut karena sebelum ini lebih kurang dua bulan sudah tertunda-tunda pelaksanaanya, “sungguh sebuah kesabaran yang tidak sedikit” ujar para pendamping sesekali menggerutu.

Begitu juga masyarakat dampingan dan pihak manajemen RBK sendiri. Padahal kegiatan tersebut sudah sangat biasa dilakukan di tengah-tengah masyarakat apalagi bagi PMLI yang dikenal sebagai sebuah pusat pelatihan penyiapan Sumber Daya Manusia untuk pelabuhan. Semua orang apalagi pejabat penting mungkin sudah mengetahui sekali sepak terjangnya PMLI, “masak pelatihan yang beginian saja bisa repot urusannya, aneh” ujar Tan Gindo sedikit kesal.

Sejuruh demi sejuruh evaluasi persiapan kegiatan kemudian berlangsung, dengan semangat bersama bak pasukan perang siap bertempur Tan Gindo membicarakan segala kemungkinan.”Man-teman mari kita lihat bagaimana skenario dan strategi kegiatan kedepan, apa yang menjadi kendala, apa yang dibutuhkan agar kegiatan tetap berlangsung dan tidak terundur-undur lagi pelaksanaanya” ujar Tan Gindo membuka rapat kali itu.

Fokus pembahasan tetap pada tugas dan tanggung jawab diberikan, “mari kita lakukan pada batas tanggung jawab yang dimiliki, urusan yang kecil-kecil dalam pelatihan kali ini mari kita selesaikan, urusan yang besar-besar itu kita serahkan pada RBK dan PMLI sebagai atasan kita” ujar Tan Gindo tegas. “Sebagai pelaksana teknis dan ujung tombak di masyarakat tentu kita harus siap dengan segala resiko, kalau gagal pasti kita yang menanggung akibatnya, kalau berhasil jangan berharap dapat nama” ujar Tan Gindo memberikan tantangan pada tim pelaksana.

Berdasarkan berbagai pengalaman yang dilalui, Tan Gindo berupaya menggiring tim pelaksana bagaimana memanfaatkan potensi dan kekuatan yang ada agar tetap menjadi lebih baik. Tan Gindo yang juga ternyata suka menonton film Kungfu Cina ternama itu, mencoba membuat ilustrasi ”Ibarat jurus Tai Chi Master, mari kita serap energy alam yang disekitar kita sebaik mungkin ketika sudah menjadi kekuatan besar kita akan lempar kepada lawan (masalah) yang ada didepan mata kita dengan cantik, agar semua terpental, doaaaar…ha.ha.ha” ujar Tan Gindo tertawa sambil serius.

Demikian rapat evaluasi finalisasi tersebut selesai tak begitu lama, meski dipertangahan diskusi sebagian tim harus segera berangkat ke Pontianak untuk segera menyelesaikan kebutuhan peralatan kegiatan yang sudah mendesak. Namun rapat tetap berlangsung baik dan lancar, “Alhamdulillah, tim ini luar biasa sekali, jika masih dalam semangat yang sama; insya Allah acara bisa dilakukan dengan sukses” ujar Tan Gindo membatin. Begitu lah harapan ditumpangkan, semoga menjadi pengalaman terbaru kembali untuk menjawab berbagai persoalan yang dianggap remeh temeh oleh berbagai orang dan tokoh.

Selepas menutup rapat Tan Gindo bersama beberapa orang tim santai sejenak menghabiskan konsumsi rapat yang masih tesisa sambil berbincang santai dan bergembira. Seorang ibu panita lokal bernama Leni jadi topik gurauan Tan Gindo, diperkirakan masih berumur 35-an, cukup cantik, karena berjiblab jadi tidak bisa melihat warna kulit yang sebenarnya, hanya terlihat seperti sedikit kuning langsat, mungkin karena pengalaman dan bergaulan ibu Leni cukup mudah akrab dalam pertemuan tersebut. Namun ketika dilihat nama di WhatsApp-nya terlihat ber-inisial “Nyai”, sambil pura-pura bertanya “Nama ibu sebenarnya siapa sih, kok berinisal Nyai?” ujar Tan Gindo memancing pertanyaan. Ibu tersebut menjawab “orang-orang memanggil saya nyai karena dapat suami orang Subang Jawa Barat, padahal saya orang asli Kijing-Mempawah” ujarnya lugas.

“Lha sejauh itu dapat suami, dapat dari mana, apa dulu pernah nyasar atau gimana?” ujar Tan Gindo cengengesan, bergurau “Bukan pak, dulu saya pernah merantau yang sama dengan suami ketika di Malaysia, kami kerja dalam satu pabrik, kebetulan si Akang dulu sering berjumpa dan bertemu dengan saya dalam bertugas, jadi tik tok begitulah” ujar si Nyai tersenyum mengingat nostalgianya. Tan Gindo kemudian melanjutkan pertanyaan lebih mendalam dan mengupas pengalaman nostalgianya si Nyai tersebut. “Lho, udah bisa sukses dan ketemua jodoh di rantau kok malah pulang, kenapa?” ujar Tan Gindo. “Ya, begitulah pak e, tidak mudah hidup dirantau dan tak semudah di inginkan, jadi kita putuskan berkembang dikampung sajalah, sayang karena tak ada modal juga akhirnya sulit berkembang” ujar Nyai setengah curhat.

Tan Gindo akhirnya ketawa-ketiwi mendengar curhatan si-Nyai, sambil celoteh “Nah ini menarik lagi untuk kita bahas, dapat kita kasih judul kisah Nyai si Ratu Kijing” ungkap Tan Gindo kelakar. Tiba-tiba ada teman di sebelah Tan Gindo kebetulan beliau admin pendamping Sungai Kunyit Dalam, namanya Adit; ganteng, berambut sedikit ikal, bertubuh jangkung dan berwajah serius tapi suka juga bercanda, kemudian menyalib pembicaraan “tanggung pak, bikin saja si Nyai Blorong Ratu Laut Kijing” ujarnya terpingkal-pingkal. “Okeh, sepakat kita buat kisahnya dengan “Nyi Bloro; Ratu Laut Kijing”, karena cinta dan harapannya tertumpang di Memapawah khususnya daerah Kijing kita nisabahkan saja” ungkap Tan Gindo bertambah semangat dan kembali bersama ketawa-ketiwi.

Seperti kebiasaanya Tan Gindo bercanda dalam hal ini bukan sekedar bercanda saja, tapi ada maksud dan tujuan untuk membongkar masalahnya karena curhatan si Nyai hanya satu dari fakta keluhan masyarakat yang telah ditemui di sepanjang desa. Sejuruh kemudian Tan Gindo melanjutkan pertanyaan menusuk “modal apa yang Nyai butuhkan, bukannya sudah banyak pengalaman di rantau dan sudah bisa membuat usaha kecil-kecilan seperti menjahit itu” ujar Tan Gindo mendesak. “Modal uang lah pak, tampa uang mana mungkin kita bisa bergerak saat ini, kalau adapun tidak cukup” ungkap si Nyai menjawab serius. Kemudian Tan Gindo kembali bertanya mendesak “apakah uang adalah masalah utama, ada masalah lain yang kira-kira harus dibenahi dulu?’ ujar Tan Gindo tersenyum.

Si Nyai akhirnya menjawab agak separuh ragu, “ya ngak jugalah pak, masih ada yang mesti saya pelajari, mungkin saja belum punya ilmu dalam membuat pola desain pakaian, sehingga belum sanggup dan berani membuat baju sendiri, yang bisa hari ini hanya tukang tambal baju saja dengan upah secukupnya dan tergantung pesanan” ujar si-Nyai. “Nah kan jelas, bukan hanya persoalan uang ternyata, pengakuan ini yang penting” ujar Tan Gindo kembali tersenyum. Kemudian Tan Gindo mengulas beberapa contoh kejadian dan tuntutan masyarakat dampingan yang serupa dengan pertanyaan si Nyai. “Tapi ini tidak sama dengan kasus Nyai ya.., agak bedalah, Nyai Leni; wanita hebat” ujar Tan Gindo mengelak. Karena Nyi Leni sudah ada muatan kesadarannya dan ingin belajar lebih jauh sehingga sudah sering aktif dalam kegiatan forum desanya.

……….

“Rata-rata masyarakat umumnya memang berkeluh tentang masalah yang sama bahkan ada yang ngotot dalam menghadapi masalah hari ini dan malah dikait-kaitkan langsung dengan kehadiran Pelindo II, padahal jauh hari sebelum kehadiran Pelindo II sebenarnya masyarakat sudah mengalami hal yang serupa, masih sulit untuk berkembang dan tak kunjung dapat maju dengan baik, bahkan berbagai kesempatan dan bantuan modal serta berbagai pelatihan sudah banyak dilakukan; namun tak juga berobah nasibnya” ungkap Tan Gindo tegas. “Anehnya tiba-tiba Pelindo II menjadi tumbal atau si-kambing hitam atas segala persaoalan hari ini, jadi kita terkesan tidak adil juga menghakimi kehadiran perusahaan ini, justru harusnya kehadiran perusahaan harus bisa kita jadikan peluang” Ungkap Tan Gindo kembali menimpal pembicaraanya.

“Bin salabin ala kadabra” begitulah sebuah kejadian, peristiwa dan masalah sangat mudah dilempar dan digelindingkan di depan publik dan menjadi pembicaraan panas ditengah-tengan masayarakat tampa bisa menyelami masalahnya lebih jauh. ”Apakah kita yang tidak siap menghadapi kenyataan, apakah pemerintahan yang sudah semena-mena, atau perusahaan yang dengan kuasa modal bisa jual beli kebijakan untuk kepentingan usahanya?” ujar Tan Gindo melempar pertanyaan. Beberapa pertanyaan diatas jelas menjadi sebuah tantangan bahkan ancaman baru jika kita uraikan sebab akibatnya. Bak “menantang matahari”, siapa tidak siap akan hangus terbakar, siapa bisa memanfaatkannya akan dapat keberkahan.

Kemudian Tan Gindo bertambah ber api-api menjelaskan temuan dan keanehan dilapangan, dimana setiap bantuan yang diberikan banyak terbentur dan kegagalan. Bahkan sebagian masyarakat menolak akan bantuan yang bersifat kelompok. “Saya pesimis dengan kegiatan dan bantuan kelompok karena belum ada yang berhasil dan yakin masyarakat tidak mau” ujar Tan Gindo mengutip pembicaraan seorang tokoh yang sedikit terlihat ngotot. Waktu itu Tan Gindo sempat sedikit emosional juga mendengar ucapanitu dan berbalik bertanya “maaf bapak, coba sebutkan satu contoh bantuan yang bersifat pribadi juga berhasil” ujar Tan Gindo penasaran. Pertanyaan tersebut juga tak mampu dijawab oleh tokoh tersebut, karena faktanya juga begitu fatal lagi yang ditemukan.

Persoalan aneka bantuan dan support pihak luar, desa dan manapun sepertinya semakin diperparah oleh system yang juga telah berkembang. Terutama dari pihak pemerintah sendiri, betapa banyak bantuan modal dan dampingan yang telah diberikan selama ini tak kunjung ada kepuasan dan mengalami kebuntuan. Program sudah berjalan, proyek sudah menghabiskan dana ratusan bahkan miliaran tapi sedikitpun tidak dirasakan manfaatnya, malah masalah baru yang kemudian muncul. Banyak masalah akhirnya juga diredam dan tidak ada penyelesaian sama sekali, kemudian yang gampang tertuduh lagi-lagi adalah pada kesiapan masyarakat. “Tak jarang akhirnya pemerintah setempat terutama kepala desa yang lama terkesan hanya bisa mengotori piring dan melemparkan kepada kepala desa pengganti yang baru untuk cuci piring” ujar Tan Gindo kesal dalam sebuah pertemuan.

Menurut pandangan Tan Gindo, apapun yang direncanakan, sekecil apapun dan bagaimana-pun sebuah kegiatan harus dapat berarti dan bermakna dapat dilakukan. Terkait kehadiran pembangunan Pelindo II banyak masyarakat dampingan yang menuntut lebih jauh dari proses pendampingan ini; yang dilihat hanya sekedar materi belaka bahkan seolah-olah dengan uang, bantuan modal yang cukup atau ganti rugi saja semua persoalan selesai. Padahal ketika ada modal uang berapapun jumlahnya jika tidak terkelola secara baik dan benar semua banyak yang hancur dan berkhir sia-sia belaka.

Pernah terucap oleh Tan Gindo kepada beberapa orang, masyarakat dampingan bahkan tokoh pending desa “maaf, dalam program pendampingan saat ini uang tidaklah sangat berarti bahkan kecil bagi pihak perusahaan, berapapun nanti yang kita butuhkan cepat atau lambat pasti akan bisa terpenuhi dan terfikirkan, persoalannya adalah seberapa mampu kita pertanggung jawabkan kegiatan ini dengan baik secara prosedur dan tata kelolanya; bayangkan saja uang yang baru kita kelola dalam hitungan jutaan saja sudah menjadi biang keributan dan merusak mental masyarakat; apalagi sudah terhitung ratusan dan miliaran juta; apa yang akan terjadi” ujar Tan Gindo berikan logika sederhananya.

“Sebagai orang yang sedikit berpengalaman, saya berani mengatakan ketika kita semua belum bisa dipercaya orang, pemodal atau siapapun secara publik; jangan harap mereka mau membantu kita untuk dapat berkembang” ujar Tan Gindo kembali tegaskan. “Maka dari itu dengan peluang kegiatan hari ini sekecil apapun modalnya kita harus mampu buktikan bahwa kita mampu kelola kegiatan ini dengan baik dan benar bahkan jauh lebih bermanfaat, ketika berhasil berarti untuk urusan berikutnya kita dapat dipercaya lagi bahkan siap untuk mengurus dana sebesar apapun, mari kita bantah bahwa masyarakat bukan makhluk bodoh yang tidak mampu kelola uang bantuan dan modal besar manapun, kelak suatu hari” ujar Tan Gindo berucap lebih semangat.

Sikap positif ini lah yang dikembangkan oleh Tan Gindo selama dilapangan, karena menurut hematnya persoalan masyarakat kita bukan pada persoalan kebutuhan modal uang atau materi belaka tapi lebih pada keterampilan dan sikap bagai mana memperbaiki tata kelola. “Coba kita perhatikan bukan hanya di desa-desa kita, hampir semua desa di Indonesia yang pernah kami jalani saat ini tata kelolanya hancur, padahal setiap tahun dana yang dikucurkan tidak lah sedikit, rata-rata hampir 2 Milyar tiap tahunnya tapi sudah berapa desa-desa yang berhasil dalam menata diri dalam pembangunan” ujar Tan Gindo membuka pengetahuan pada berbagai momen kesempatan diskusi.

Dalam sebuah diskusi pengurus forum desa Tan Gindo juga pernah membandingkan persoalan materi, uang dan hutang dalam berbagai kegiatan atau usaha masyarakat dengan system pemberdayaan Masjid Munzalan-Pontianak ketika beberapa hari lalu pernah mendampingi pengurus masjid (DKM) se-Sungai Kunyit. “Betapa sebenarnya untuk sebuah modal pembangunan sebenarnya kitapun, bangsa ini sebenarnya tak perlu berhutang ke negera manapun, seperti ummat Islam misalnya punya potensi Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf, begitu juga ummat agama lainnya juga punya system ekonomi keummatan tersendiri” ujar Tan Gindo membuka wawasan.

“Bayangkan, melalui kekuatan ummat atau masyarakat sebuah Masjid Muzalan dapat menggerakkan ekonomi hingga 9 milyar tiap bulannya dengan berbagai cabang kegiatan ekonomi, bahkan sekarang sedang membangun gedung berlantai 6, murni tampa hutang dan pinajaman bank atau pengusaha manapun” ujar Tan Gindo menginformasikan keberhasilan pemberdayaan Masjid tersebut. Lantas bagaimana kondisi kebanyakan masyarakat kita hari ini, yang setiap saat mengeluhkan “sedikit-sedikit mengeluh tak ada modal uang untuk bergerak, bahkan sedikit sedikit doyan berhutang, sedikit-sedikit hanya menuntut ini dan itu untuk dapat berbuat dan berkembang” ujar Tan Gindo membuat sindiran.

“Maka dari itu mari kita belajar kembali melihat potensi diri dan belajar pada mereka yang sudah berhasil untuk mandiri dan maju dengan kaki sendiri” ujar Tan Gindo. Sepertinya ditengah-tengah masyarakat sudah menyebar penyakit sebuah ketergantungan bahkan tidak mengenali lagi potensi yang adalam dirinya sendiri, cendrung hanya banyak menuntut sejenih bantuan-bantuan apalagi yang bersifat modal tunai tampa ada pendampingan yang terukur.

Parahnya hampir setiap kegiatan desa atau dimanapun banyak kejadian kalau tidak ada “amplop” semua tidak akan dapat berjalan bahkan sebagian besar mau terlibat mengikuti kegiatan apapaun hanya memang karena sebuah amplop tersebut ketimbang kesempatan ilmu yang telah diraihnya. Apalagi selama issue Covid-19 bantuan-bantuan tunai seperti itu hampir 80% sudah menghabiskan anggaran-anggaran desa dimanapun di Indonesia,” pestalah dengan uang-uang pembagian” ujar Tan Gindo kembali terkesan sinis.

………………

Begitulah masyarakat Indonesia akhirnya menjadi masyarakat yang “naif’ dalam kehidupan sehari-hari. “Akan seperti apa masyarakat generasi Indonesia dimassa akan datang” ujar Tan Gindo menggerutu. Parahnya Negara Indonesia juga terkesan doyan berhutang, terkasan boros dalam anggaran bahkan tak sedikit berita kebocoran tingkat tinggi terjadi dari pusat pemerintahan “masyarakat sibuk mengurus uang amplop dan recehan sementara para pejabat dan penguasa yang lain sibuk merampok uang rakyat dengan uang trilliunan dan jarang serius diproses serta tak kapok-kapoknya” ungkap Tan Gindo tambah sinis lagi dalam sebuah diskusi kritis.

Demikian akhirnya curhat “Nyi Bloro” berujung pada terbongkarnya borok bangsa kita-Indonesia. “Hari ini kita mesti bersedih, namun tak ada jalan lain bagi kita berpangku tangan terutama pada generasi muda, kita harus bangkit setapak demi setapak untuk negeri ini, agar semua bisa diperbaiki, minimal untuk diri kita sendiri dan dimulai dari lingkungan terkecil, maka mari belajar dari mereka yang sudah berpengalaman, dari segala kegagalan dan nilai-nilai luhur massa lalu bangsa ini; sampai tuntas setuntas-tuntasnya dan jangan sekedarnya saja jika ingin merobah sesuatu” ujar Tan Gindo menutup sebuah pembicaraan penuh makna, teringat pituah ranah Minang;

“Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi. Kalau tali kaia panjang sajangka, lauik dalam usah didugo, Pandai karano batanyo, tahu karano baguru. Sadang baguru kapalang aja, lai bak bungo kambang tak jadi. Kunun kok dapek dek mandangga, indak dalam dihalusi”.

Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi. Kalau pengetahuan baru sedikit jangan dicoba mengurus pekerjaan yang sulit namun kerjakan apa yang bisa dilakukan. Pengetahuan dan pengalaman diperoleh karena belajar dan banyak bertanya kepada orang yang tahu. Setiap menuntut pengetahuan jangan putus ditengah atau harus mendalam, dan kurang mamfaatnya jika hanya dengan mendengarkan saja, lebih baik belajar untuk melakukan sesuatu secara sungguh-sungguh.

Bersambung ke bag. 10



Sumber

Baca Selengkapnya

hmi

BANGKITKAN KESADARAN !!! – siarminang.net

BANGKITKAN KESADARAN !!! – Beritasumbar.com

“Dunia pasti berobah dan Kiamat pasti kan terjadi jua
Kebangkitan dan keruntuhan sebuah bangsa pasti silih berganti
Begitu juga bergulir para penguasa, atas nama jabatan dan harta
Jumlah manusia akan bertambah dan berkembnag, begitu juga dengan pemikirannya
Namun sebuah perubahan tak akan dimulai dari banyak orang
Hanya mereka yang golongan sedikitlah, orang-orang beruntung”

Pagi itu Tan Gindo agak sedikit terlambat bangun pagi karena sedikit begadang semalam karena banyak pekerjaan pendapingannya yang menumpuk dan harus dikerjakan. Ketimbang desa lain bagindo bersyukur dapat peluang kerjasama yang baik antar tokoh, dampingan dan pemerintahan desa setepat, meski konsekuensinya harus sedikit kerja ekstra untuk sebuah tujuan dan cita-cita. Sampai-sampai Tan Gindo berfikir mitra kerjanya Robby tidak akan siap menghadapi gelombang kegiatan yang akan berlangsung semakin membesar pada tiga bulan kedepan. “Kami harus bisa, kita pasti bisa berbuat lebih baik dan akan usahakan target minimal dapat tercapai” ujar Tan Gindo membatin.

Seperti biasa Tan Gindo mulai berfikir keras bagaimana membuat sebuah rumusan dan strategi meramu program dengan sumber daya manusia yang terbatas “bak panglima yang mempersiapkan diri dimedan tempur, berfikir keras agar bagaimana tidak ada satupun pasukannya yang menjadi korban dan gugur di medan juang, semua harus selamat dan berhasil memenangkan pertempuran”. Dari sekian sumber daya manusia yang terserap dalam program “gak masuk akal, jika gagal semuanya; setidaknya 60% keberhasilan bisa diraih” ujar Tan Gindo membatin.

Sejurus demi jurus kemudian seperti untaian kata melayang-layang dalam benak Tan Gindo, jauh ke massa lalu kemudian melompat lagi dari pengalaman ke pengalaman yang telah dilalui hingga menghantarkan Tan Gindo ditempat pengabdian pendampingan yang sedang dia lalui. Teringat awal mula ketika Tan Gindo tercerahkan semasa masih belia, ketika pertama kali menjadi kader Pelajar Islam Indonesia (PII) ketika masih di sekolah menengah pertama, dimana ketika anak-anak seusianya masih sedang asyik bermain dan masih banyak yang belum berfikir sesuatu tentang dirinya dimassa depan. Sungguh tidak masuk akal memang anak sebelia itu sudah bisa mendapatkan pencerahan luar biasa dari lingkungan yang tidak terduga.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 7; Seberkas Cahaya Di Bumi Mempawah

Barangkali itulah salah satu kelebihan pengkaderan PII yang, bisa mencerahkan para pelajar ketika masih usia dini, rata-rata mereka menjadi kader-kader militan dan tangguh serta bermental baja serta bisa hidup dengan semangat ideologisasi yang kuat dan berani hingga dewasa. Tak heran rata-rata anak PII kritis dan sangat vokal dimanapun dia berada bahkan saking kuatnya akhirnya juga terkesan sangat individualis. Ketika masih dibawah tanah ada idiom yang sering dipakai dalam pengkaderan “tandang ke gelanggang meski seorang, student to day leader tomorrow (jika dibutuhkan akan maju sendirian di medan juang tampa berharap bantuan siapapun, pelajar hari ini adalah pemimpin massa depan)” sambil di ucapkan teriak takbir penuh semangat dalam setiap pelatihan.

Idiom tersebut jadi motto anak-anak PII dimanapun dia berada dalam sebuah kegiatan organisasi dan aktivitas hidupnya. Dia tidak mudah tergantung bersama siapapun, dia selalu sanggup menerima tantangan apapun bahkan jiak diminta mati di medan tempur mereka seolah-olah siap menghadapi tantangan. Bahkan Jendral Sudirman sebagai salah seorang Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang pertama ketika itu masih bernama masih bernama TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sangat mempercayai laskar Brigade anak-anak PII yang tergabung dalam “Laskar Tentara Pelajar”.

Tak heran dulu dimassa itu anak-anak PII adalah salah satu organisasi yang disegani dan ditakuti oleh anak-anak kiri dan menjadi salah satu organisasi Islam yang menjadi target “ganyang” atau dibubarkan oleh gerakan komunis. Apalagi ketika itu gerakan komunis telah merasa dekat dan menguasai pemerintahan Indonesia di era bung Karno yang dikenal juga dengan gagasan yang memadukan berbagai pandangan dan aliran kebangsaan terutama Nasionalisme, Agama & Komunisme. Kemudian dikenal dengan gagasan Nasakom dan menjadi ciri khas era Demokrasi Terpimpin yang berlangsung pada 1959 hingga 1965. Akhirnya Tan Gindo membuka kembali lembaran sejara PII yang begitu dalam dari massa terang dan kelam; seperti terasing di negeri sendiri.

………………………….

PII didirikan di kota perjuangan Yogyakarta pada tanggal 4 Mei 1947. Para pendirinya adalah Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji. Salah satu faktor pendorong terbentuknya PII adalah dualisme sistem pendidikan di kalangan umat Islam Indonesia yang merupakan warisan kolonialisme Belanda, yakni pondok pesantren dan sekolah umum.

Masing-masing (baik ponpes maupun sekolah umum) dinilai memiliki orientasi yang berbeda. Pondok pesantren berorientasi ke akhirat sementara sekolah umum berorientasi ke dunia. Akibatnya pelajar Islam juga terbelah menjadi dua kekuatan yang satu sama lain saling menjatuhkan. Santri pondok pesantren menganggap sekolah umum merupakan sistem pendidikan orang kafir karena produk kolonial Belanda. Hal ini membuat para santri menjuluki pelajar sekolah umum de-ngan “pelajar kafir”. Sementara pelajar sekolah umum menilai santri pondok pesantren kolot dan tradisional; mereka menjulukinya dengan sebutan “santri kolot” atau santri “teklekan”.

Pada masa itu sebenarnya sudah ada organisasi pelajar, yakni Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Namun organisasi tersebut dinilai belum bisa menampung aspirasi santri pondok pesantren. Merenungi kondisi tersebut, pada tanggal 25 Februari 1947 ketika Yoesdi Ghozali sedang beri’tikaf di Masjid Besar Kauman Yogyakarta, terlintas dalam pikirannya, gagasan untuk membentuk suatu organisasi bagi para pelajar Islam yang dapat mewadahi segenap lapisan pelajar Islam. Gagasan terse-but kemudian disampaikan dalam pertemuan di gedung SMP Negeri 2 Secodining-ratan, Yogyakarta. Kawan-kawannya yang hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain: Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji, dan semua yang hadir kemudian sepakat untuk mendirikan organisasi pelajar Islam.

Hasil kesepakatan tersebut kemudian disampaikan Yoesdi Ghozali dalam Kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), 30 Maret-1April 1947. Karena banyak peserta kongres yang menyetujui gagasan tersebut, maka kongres kemudian memutuskan melepas GPII Bagian Pelajar untuk bergabung dengan organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk. Utusan kongres GPII yang kembali ke daerah-daerah juga diminta untuk memudahkan berdirinya organisasi khusus pelajar Islam di daerah masing-masing.

Menindaklanjuti keputusan kongres, pada Ahad, 4 Mei 1947, diadakanlah pertemuan di kantor GPII, Jalan Margomulyo 8 Yogyakarta. Pertemuan itu dihadiri Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani dan Amien Syahri mewakili Bagian Pelajar GPII yang siap dilebur di organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk, Ibrahim Zarkasji, Yahya Ubeid dari Persatuan Pelajar Islam Surakarta (PPIS), Multazam dan Shawabi dari Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERKISEM) Surakarta serta Dida Gursida dan Supomo NA dari Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) Yogyakarta. Rapat yang dipimpin oleh Yoesdi Ghozali itu kemudian memutuskan berdirinya PII tepat pada pukul 10.00, 4 Mei 1947. Untuk memperingati momen pembentukan PII, maka setiap tanggal 4 Mei di-peringati sebagai Hari Bangkit PII (HARBA PII).

Hal ini karena hari itu dianggap sebagai momen kebangkitan dari gagasan yang sebelumnya sudah terakumulasi, sehingga tidak digunakan istilah hari lahir atau hari ulang tahun. Semula tujuan lahirnya PII adalah, “Kesempurnaan pendidikan dan pengajaran bagi seluruh anggotanya.” Dalam Kongres I PII, 14-16 Juli 1947 di Solo tujuan tersebut diperluas menjadi “Kesempurnaan pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan Islam bagi Republik Indonesia.” Akhirnya tujuan tersebut semakin universal dengan perubahan lagi pada Kongres VII tahun 1958 di Palembang menjadi “Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia.” Rumusan tujuan PII hasil Kongres VII tersebut yang digunakan sampai sekarang ini sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) PII Bab IV pasal 4.

Tugas Pokok, Fungsi dan Usaha Pelajar Islam Indonesia mempunyai tugas pokok melaksanakan pelatihan, taklim dan kursus bagi para pelajar Islam guna menumbuhkan kader umat dan kader bangsa yang berkepribadian muslim, cendekia dan memiliki jiwa kepemimpinan (AD Bab V Pasal 5). Sementara itu, organisasi ini berfungsi sebagai wadah pembinaan kepribadian muslim, penghantar sukses studi, sarana berlatih dan alat perjuangan bagi pelajar Islam (AD Pasal 6). Untuk mewujudkan tujuannya, PII bergerak secara independen di bidang pen-didikan, kebudayaan dan dakwah.

Adapun usaha yang dilakukan PII –sesuai dengan Bab VI Pasal 7, adalah :

  1. Mendidik anggotanya untuk menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
  2. Mengembangkan kecerdasan, kreativitas, ketrampilan, minat dan bakat anggo-tanya.
  3. Mendidik anggotanya untuk memiliki dan memelihara jiwa independen/mandiri dan kesanggupan berdiri sendiri tanpa ketergantungan kepada orang lain.
  4. Membina mental dan menumbuhkan apresiasi keilmuan serta kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi anggotanya.
  5. Membina anggota menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dan cakap dalam mengelola arus informasi global dunia serta menangkal dampak negatif produk-produk budaya asing dan arus informasi global tersebut.
  6. Membantu dalam pemenuhan minat dan kebutuhan serta mengatasi problematika pelajar.
  7. Menyelenggarakan kegiatan sosial untuk kepentingan Islam dan umat Islam, serta umat manusia pada umumnya.
  8. Menumbuhkembangkan semangat dan kemampuan anggota untuk menguasai, memanfaatkan serta mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan umat manusia.
  9. Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan anggota untuk memahami, mengkaji, mengapresiasi dan melaksanakan ajaran serta tuntunan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
  10. Mencetak kader-kader pemimpin yang memiliki pandangan hidup Islami, keluasan pandangan dunia global dan kepribadian muslim dalam segala bidang kehidupan.

Ketika berdirinya PII, muncul reaksi dari IPI yang menilai kehadiran PII bisa menimbulkan perpecahan di kalangan pelajar. Untuk menghindari terjadinya konflik, diadakanlah pertemuan PII dengan IPI pada tanggal 9 Juni 1947 di Gedung Asrama Teknik Jalan Malioboro, Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut kemudian ditandatangani Piagam Malioboro oleh Sekjen PB IPI Busono Wiwoho dan Sekjen PB PII Ibrahim Zarkasji. Salah satu butir penting dari piagam tersebut adalah hak hidup PII oleh IPI. Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan piagam tersebut maka dimana ada IPI akan didirikan PII. Saat itu IPI sudah ada di hampir seluruh wilayah Indonesia yanga da sekolah menengahnya.

Para pelajar Islam yang menjadi anggota IPI pun ikut membantu berdirinya PII. Sebaliknya PII bersedia bekerja sama dengan IPI dalam masalah yang bisa dikerjakan bersama dan bersifat nasional. Dalam perjalanan selanjutnya perkembangan PII ternyata jauh lebih pesat dari IPI. Hal itu ditunjang dengan bergabungnya organisasi-organisasi pelajar Islam lokal ke tubuh PII. Selain PPII (Yogyakarta), PPIS dan PERKISEM (Surakarta) yang ikut mendirikan PII, pada saat penyelenggaraan Kongres I PII, 14-16 Juli di Solo, Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PERPINDO) dari Aceh juga memfusikan diri ke dalam tubuh PII.

Perkembangan anggota semakin pesat pada tahun 1960-an setelah Masyumi (1960) dan GPII (1963) dibubarkan oleh pemerintah. Hal itu mendorong PII membuat penafsiran sendiri terhadap kata pelajar. Kalau sebelumnya pelajar adalah mereka yang di pesantren dan sekolah, kemudian diperluas menjadi minal mahdi ilal lahdi (dari ayunan sampai ke liang lahat), sesuai dengan hadits nabi tentang perintah mencari ilmu. Sehingga PII juga menjadi penampung aspirasi mantan-mantan anggota Masyumi dan GPII.

Jumlah anggota PII mulai menyusut di tahun 1980-an seiring dengan menguatnya nuansa politis dalam aktifitas PII, sementara pemerintah saat itu justru berkesan tengah mendepolitisir umat Islam. Puncak dari penyusutan itu adalah ketika PII tidak mau menyesuaikan diri dengan UU Keormasan yang disahkan 17 Juni 1985 dan mulai diberlakukan 17 Juni 1987. Akibatnya kemudian Mendagri mengeluarkan SK Mendagri No. 120/1987 tertanggal 10 Desember 1987 yang menganggap PII telah membubarkan diri dan selanjutnya melarang kegiatan yang mengatasnamakan PII.

Ketika SK itu keluar, menurut Ketua Umum PB PII saat itu Chalidin Yacobs, jumlah anggota PII mencapai 4 juta orang. Namun delapan tahun kemudian, 1995, jumlah anggota PII aktif sepertinya tidak mencapai 100.000 orang. Meski demikian, PII tidak pernah mati. Sadar penyusutan anggota tidak bisa dibiarkan begitu saja, maka ihtiar untuk bangkit kembali pun dicanangkan.

Momentumnya adalah pada Muktamar Nasional XX PII tahun 1995 di Cisalopa, Bogor. Setelah melalui perdebatan sengit, diputuskan PII akan melakukan reformalisasi dengan melakukan registrasi ke Depdagri. Sejak itu jumlah anggota PII kembali terdongkrak. Hanya karena sistem administrasi yang belum rapi sesuai standard administrasi sebuah organisasi formal, jumlah secara pasti seluruh anggota PII belum bisa diketahui. Untuk penataan kembali administrasi keanggotaan PII, maka ditentukan persyaratan keanggotaan di PII yang meliputi anggota tunas, anggota muda, anggota biasa, anggota luar biasa dan anggota kehormatan.

Anggota tunas, mereka yang duduk dijenjang pendidikan dasar (SD/MI), anggota muda, mereka yang duduk di jenjang pendidikan menengah pertama (SLTP/MTs), anggota biasa, mereka yang duduk di jenjang pendidikan menengah atas (SMU/SMK/MA), anggota luar biasa warga negara asing yang sedang belajar di Indonesia atau sebaliknya, dan anggota kehormatan adalah mereka yang memiliki jasa terhadap PII. Masa keanggotaan PII akan berakhir secara otomatis, bila yang bersangkutan telah dua tahun menyelesaikan pendidikan formalnya

…………………..

Begitulah Tan Gindo kembali merenung memikirkan persoalan-persoalan pendampingan yang dia sedang hadapi ditengah-tengah masyarakat. “Berdasarkan fakta sejarah tak mungkin saya akan berharap pada banyak orang, hanya Allah jualah tempat bersandar dan harapan” ungkap Tan Gindo kembali membatin. “Jangankan seorang Tan Gindo, seorang Rasul saja tugasnya hanya mengingatkan dan memberikan jalan kebaikan, sementara segala taufik dan hidayah itu adalah hak Allah semata” ungkap Tan Gindo merenung, berhikmah.

“Sebesar apapun masalah masyarakat di depan mata, sekuat apapun modal perusahaan yang sedang mengucurkan dananya, sehebat apapun politik pemerintahan saat ini berkuasa, semua hanya sementara, jika Allah berkehendak cepat atau lambat semua akan musnah ditelan massa; begitulah hukum Allah berlaku” pikir Tan Gindo penuh hikmah. Tinggal bagaimana daya dan upaya atau ikhtiar manusia dalam memperbaiki kualitas dirinya.

“Harapan perbaikan dan perubahan saya akan tumpangkan pada generasi-generasi muda Mempawah, mereka mau apa dan kemana, tugas saya hanya membuka pandangan dan cakra walau mereka untuk bisa siap menghadapi massa depan” ujar Tan Gindo meyakin dirinya. Seperti kata orang-orang bijak “betapa banyak mereka yang berjumlah banyak dapat dikalahkan oleh sekelompok orang yang berjumlah sedikit tapi bisa berbaris rapi dalam berjuang”. Seperti yang yang terjadi dalam perang Badr, salah satu pertempuran yang paling fonomenal dalam perkembangan Islam di muka bumi dan Allah membuktikan janji-nya.

Perang Badar merupakan pertempuran besar (ghazwah) pertama antara umat Islam dan musuh-musuhnya. Momen ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Total 313 orang Muslim melawan 1.000 orang Quraisy yang memiliki persenjataan lengkap, keahlian militer, dan pengalaman bertempur. Nyatalah bahwa secara kuantitas, para pemeluk tauhid tidak unggul. Akan tetapi, mereka justru memperoleh kemenangan besar berkat pertolongan dari sisi Allah SWT. Hanya orang-orang terpilih dan berkualitaslah yang akan menjadi pemenang, dapat dikatakan itu sudah menjadi Sunnatullah-hukum Allah yang tidak terbantahkan.

Persoalannya hari ini, “siapakan yang terpilih dalam program pendampingan saya ini” ujar Tan Gindo kembali menukilkan strateginya. Semua pemetaan harus dilakukan “kita tak butuh banyak orang, tapi butuh mereka yang memiliki kemauan” ujar Tan Gindo menegaskan. “Bak seorang pendaki gunung; dia sudah tahu untuk mencapai puncak pendakian harus menghadapi tanjakan, jurang, semak belukar, binatang buas dan segala sesuatu yang ada di dalam hutan serta ditengah pegunungan, mereka yang punya tekad yang kuat setapak demi setapak akan sampai pada titik puncak, sementara mereka yang tidak kuat akan kembali turun dari lagi dipertengahan jalan” ungkap Tan Gindo meyakinkan dirinya.

“Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua bayang-bayang maso. Dimano kain kabaju, diguntiang indaklah sadang, lah takanak mangko diungkai, dimano nagari namuah maju, Adat sajati nanlah hilang, dahan jo rantiang nan dipakai. Maliang cilok taluang dinding, tikam bunuah padang badarah. Ibo di adat katagiliang turuikkan putaran roda. Nan mudo pambimbiang dunia, nan capek kaki ringan tangan, acang-acang dalam nagari, Talantuang dek kanaik, ta taruang dek ka turun, sakali aia gadang sakali tapiang barubah, Tuah nagari dek nan tuo, rami nagari dek na mudo. Ta kalang dek nan rami, bajalan sajo jo badang surang, iduik baraka mati baiman”

(Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia. Kamajuan suatu negri di Minangkabau atau dimanapun juga, tidak akan dapat dicapai dengan baik jika ajaran Adat diamalkan tidak sepenuh hati, atau tinggal sebutan. Kebudayaan asli jangan sampai hilang, sesuaikan diri dan aturan adat beradat serta istiadat dengan kemajuan. Pemuda harapan bangsa ditangan pemuda terletak maju mundurnya bangsa dimasa depan. Hati-hatilah apa yang akan menimpa kita dimassa akan datang karena perubahan zaman pasti akan terjadi, jika terhambat karena orang banyak maka mulailah dengan diri sendiri karena hidup dikarunia akal dan keyakinan terhadap kebenaran)

Bersambung ke bag. 9



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer